Locita

Dar El Mafasid

Hujan tiba-tiba mengguyur deras tanpa henti. Petir dan kilat bersahut-sahutan. Suasana terasa sangat horror. Ingatan Kyai Saleh tiba-tiba tertarik ke belakang, ke beberapa puluh tahun silam. Saat Kyai Saleh masih nyantri di pesantren Mbah Bisri.

*******

Hujan deras dan angin kencang menerjang wilayah pesantren.

Para santri berlarian menuju gedung yang berada di bagian tengah pesantren dekat masjid. Gedung ini adalah gedung pertemuan yang luasnya cukup untuk menampung seluruh santri.

Selain masjid, gedung ini dianggap aman sebagai tempat perlindungan karena terbuat dari semen. Asrama tempat tinggal santri masih terbuat dari kayu dan beratap rumbia. Dalam suasana hujan dan angin deras, asrama cukup berbahaya bagi para santri.

Para santri berkumpul dengan sedikit cemas. Badai kali ini terasa lebih besar. Angin kencang meniup asrama tempat tinggal mereka, hingga bergoyang. Para santri cemas jika tempat tinggal mereka akan roboh.

“Wadduh, gawat! Kitabku bisa basah kena hujan. Atap kamarku ada yang bocor” keluh salah seorang santri. Wajahnya terlihat panik tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Sabar.. berdoa pada Gusti Allah agar hujan dan badai angin ini cepat berlalu.” Hibur salah seorang santri lainnya.

Saleh pun tak kalah cemas. Dari tempatnya berdiri, tempat tinggalnya itu seperti menari terayun oleh angin. Untuk menenangkan hati, Saleh dan juga kawan santri lainnya berdoa dan berzikir.

Suasana mencekam tak kunjung surut. Hujan dan angin kencang masih setia menghujam wilayah pesantren. Dari kejauhan terdengar suara dentuman. Para santri kaget dan saling memandang satu sama lain.

“Itu suara apa?”

“Nggak tahu”

“Sepertinya ada pohon rubuh.”

Wajah para santri semakin pucat. Jumlah pepohonan besar di dekat asrama mereka cukup banyak. Para santri semakin memperbanyak zikir dan doa.

Dalam suasana itu, Mbah Bisri tiba-tiba muncul dari kegelapan. Semula para santri menduga, Mbah Bisri juga datang berlindung. Seperti halnya para santri, rumah Mbah Bisri pun terbuat dari kayu dan beratap rumbia. Para santri sedikit lega dengan kedatangan kyai mereka.

“Anak-anak, sekarang semua kembali ke kamar masing-masing!” titah Mbah Bisri.

Para santri mengernyitkan dahi. Perintah Mbah Bisri anomali. Hujan dan angin belum reda, mengapa Mbah Bisri menyuruh para santri kembali.

“Ayooo… kenapa pada bengong? Jalan! Semua kembali ke kamar.”

“Kyai……..” salah seorang santri seperti ingin menginterupsi.

“Sudah tidak usah banyak bicara.” Mbah Bisri seperti tahu isi interupsi santrinya itu.

Meski dengan rasa heran, para santri manut. Mereka segera berlari menembus derasnya hujan dan angin yang bertiup kencang menuju ke kamar mengikuti perintah sang Kyai yang sama sekali tidak masuk akal.

Saleh, Jafar, dan Barak tiba di kamar dengan perasaan was-was. Tiang kamar bergoyang dan berderit. Atap kamar pun terdengar riuh di tiup angin.

“Kenapa Kyai menyuruh kita ke kamar, ya?” Keluh Barak.

“Iya ya. Bukankah lebih aman kalau kita di gedung. Konstruksinya lebih kuat.” Saleh ikut bergumam.

“Percayalah. Beliau pasti punya maksud.”

Tak lama berselang, suasana dari asrama lain terdengar gaduh, beberapa kamar mengalami kerusakan. Atapnya terbang dibawa angin. Bahkan, tiga orang santri terluka kena balok rangka atap yang jatuh.

Para santri segera berlari menuju asrama Saleh yang masih aman. Santri yang terluka tadi segera diobati. Untungnya, lukanya tidak terlalu parah.

“Kenapa?”

“Wah, atapnya terbang. Semua kitab kena hujan.” Keluh santri yang baru saja datang.

“Duuuuh, kok mbah Bisri tega sama kita ya. Bukannya lebih aman kalau kita di gedung sana.” Santri lainnya mengomel.

“Jangan berburuk sangka dengan Kyai?”

“Buktinya….. ada yang terluka. Tentu kalau tadi kita tetap di gedung akan tidak ada yang terkena balok. Aneh sekali, Mbah Bisri.”
Jafar dan Saleh tidak bisa berkata apa-apa. Perkataan santri itu benar tetapi Jafar tetap percaya kalau Mbah Bisri punya tujuan yang belum diketahui oleh para santri.

Di tengah cuaca yang masih horror, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras.

“Buuukkkk!!!!”

Saleh dan santri lainnya terperanjat kaget. Kekagetan mereka bertambah ketika mlihat pohon yang berada di samping gedung tempat mereka berteduh tadi, tumbang. Seketika gedung tersebut luluh lantak.

“Inna lillah wa inna ilahi rajiun!” teriak para santri.

Sejurus kemudian, para santri terhenyak, diam, dan tidak bisa berkata apa-apa. Hati mereka bergidik. Sejam yang lalu mereka masih berkumpul di tempat itu. Oh, rupanya ini maksud Mbah Bisri. Beliau sudah punya firasat buruk.

“Subhanallah. Mbah Bisri telah menyelamatkan kita semua.” Ucap Jafar dengan haru. Saleh hanya terpana. Gurunya memang punya nurani yang jernih.

******

Suasana sudah membaik. Cuaca telah kembali pulih. Semburat fajar merekah di ufuk Timur. Para santri bergegas menuju masjid untuk menerima pengajian dari Mbah Bisri. Tak lupa mereka memandangi gedung yang hancur tertimpa pohon itu.
Seusai pengajian, Jafar langsung mengajukan pertanyaan perihal kejadian semalam.

“Darimana, mbah Yai tau gedung itu akan rubuh dan menyuruh kami kembali ke kamar.”

“Itu hanya perhitungan saya saja. Pohon di samping gedung itu sudah tua. Setelah mendengar beberapa pohon tumbang di perkampungan warga, saya khawatir pohon itu akan rubuh. Makanya, saya minta kalian semua untuk kembali ke kamar, meski itu juga beresiko. Kebetulan perhitungan saya benar” Jawab Mbah Bisri.

Tetapi Jafar, Saleh dan santri lainnya tidak percaya. Mereka tetap yakin gurunya memiliki karomah.

“Anakku. Kaidah ushul menyebutkan dar’ elmafasid muqaddamun ala jalbi el-masaleh. Menolak kerusakan didahulukan daripada melakukan kebaikan.

Saya tahu secara teori lebih aman kalau di gedung dan kalau kalian kembali ke kamar beresiko ada korban, tetapi untuk menghindari korban yang lebih banyak, saya harus melakukan itu. Memang, ada yang terluka di kamar, tetapi korban yang lebih banyak bisa dihidari” Mbah Bisri melanjutkan sembari menutup pengajian.

Para santri kemudian diajak untuk melihat suasana pesantren dan perkampungan warga setelah diamuk badai semalaman.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

5 comments

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.