Locita

Baca 1 juz, Gratis 2 Liter BBM

JIBI/Solopos/Ivanovich

Tanda fuel di mobil Kyai Saleh telah menunjuk ke baris terakhir menuju tanda merah. Ale yang pagi ini mengantar Kyai Saleh ke toko buku segera berbelok ke arah SPBU yang terdekat.

Suasana terlihat berbeda. Tidak banyak yang antri di tempat pengisian. Tetapi, di rest area dekat musala banyak anak muda duduk berjejeran. Perhatian Kyai Saleh teralihkan. Pemuda-pemudi yang sedang duduk itu sedang mengaji. Kyai Saleh mengernyitkan dahi.

“Kenapa banyak yang mengaji di sini?” tanya Kyai Saleh kepada petugas pengisian BBM.

“Oh, itu pak. Dua minggu lalu, pemilik SPBU ini membuat kebijakan baru. Pelanggan yang baca 1 juz akan diberikan BBM jenis premium gratis dua liter. Kalau hafal akan diberi pertalite gratis. Full tangki!” sang petugas menjelaskan dengan nada bangga.

“Mantap tawwa.” Celetuk Ale. Kyai Saleh hanya manggut-manggut.

“Siapa tahu bapak berminat?” Tanya petugas.

“Maaf. Saya lagi ada keperluan. Lain kali boleh dicoba.” Kata Kyai Saleh.

Ale segera berlalu setelah isian BBM sudah selesai.

“Kenapaki tidak ikut mengaji tadi Kyai?”

“Buat apa?”

“Supaya dapatki BBM gratis.”

“Masih adaji uangku Ale. Lagipula, saya mengaji untuk kenikmatan spiritual bukan iming-iming.”

Ale terdiam. Kalimat Kyai Saleh terucap dengan nada serius.

Dua minggu berselang, Kyai Saleh kali ini ditemani Tesa ke SPBU ini lagi untuk keperluan yang sama.

Suasana SPBU lebih ramai dibanding sebelumnya. Pelanggan yang berminat untuk mendapatkan BBM gratis semakin banyak.

Suara lantunan ayat suci terdengar ramai seperti yasinan dan tahlilan.

Kyai Saleh tertarik melihat fenomena ini.

“Wah, semakin ramai ya?”

“Alhamdulillah pak.” Kata petugas SPBU.

“Kamu kenapa tidak ikut mengaji?”

“Saya kan bertugas, pak. Kalau saya butuh bensin saya juga ikut mengaji.”

Kyai Saleh menganggukkan kepala. “Boleh saya bertemu dengan pimpinan yang punya ide ini.”
Seorang lelaki bertampang klimis, dengan janggut yang tumbuh rapi tersenyum menyambut Kyai Saleh.

“Wah, ahlan Kyai Saleh!” sapa lelaki itu dengan ramah.

“Kamu mengenal saya?” Kyai Saleh mengernyitkan dahi. Dia sedikit kikuk karena tidak mengenali lelaki yang mengenalnya ini.

“Siapa yang tak kenal kita di kota ini, kyai?”

Kyai Saleh menyambut pujian itu dengan senyum seadanya.

“Program mengaji yang bapak gagas ini boleh juga.” Kata Kyai Saleh.

“Iye, Kyai. Ini bagian dari cara saya memasyarakatkan Alquran dan meng-Alquran-kan masyarakat.”

“Bagaimana kalau semua yang datang mengaji saja. Apa kamu tidak takut bangkrut?” Tanya Kyai Saleh.

“Rezeki sudah diatur, Kyai. Bukankah itu pegangan kita semua? Saya yakin berkah orang-orang mengaji ini akan membuat rezeki saya semakin lancar dan yang paling penting orang bisa mengaji.”

Kyai Saleh semakin mengangguk.

Pimpinan SPBU itu lalu mengajak Kyai Saleh keluar. Sepertinya dia ingin Kyai Saleh melihat lebih dekat rombongan orang yang mengaji di dekat rest area itu. Dia dengan bangga memperlihatkan fenomena orang mengaji.

“Alhamdulillah Kyai. Saya berharap mendapatkan berkah dari semua ini.”

“Insya Allah. Orang yang mencintai Alquran pasti dicintai oleh Allah.” Kata Kyai Saleh yang membuat pimpinan SPBU itu semakin semringah.

Tiba-tiba, mata Kyai Saleh teralihkan.

Dari arah jalanan, tampak seorang pemuda berpenampilan awut-awutan mendorong sepeda motor butut. Dari arah belakang, seorang lelaki tua mengikutinya dengan langkah yang tertatih-tatih.

Si pemuda itu kemudian antri di pengisian bensin. Setelah mengisi bensin, si pemuda menyerahkan sepeda motor kepada orang tua itu. Orang tua membungkukkan badan dan menyalami si pemuda, kemudian berlalu.

Sang pemuda itu tersenyum dan melangkah ke sudut di bawah pohon. Dia menyandarkan badan dan meminum air. Wajahnya tampak kelelahan.

Kyai Saleh tertarik. Dia mengajak Tesa dan pimpinan SPBU mendekati pemuda itu.

“Kenapa kamu di sini?” Tanya Kyai Saleh.

“Saya istrahat dulu, pak. Lumayan tadi jauh dorong motor, pak!”

“Trus, kenapa kamu tidak ikut naik motor.”

“Bukan motor saya pak. Saya tidak kenal orang tua tadi.” Lalu pemuda itu bercerita. Dalam perjalanan pulang ke rumah, dia melihat seorang lelaki tua yang sedang menangis. Setelah didekati, si lelaki tua kehabisan bensin dan dia tidak punya uang. Si pemuda berinisiatif untuk membantu mendorong dan membelikannya dua liter bensin.

“Kenapa kamu tidak ikut mengaji saja? Kamu bisa gratis dapat bensin. Kamu dapat pahala dan kamu bisa membantu orang tua itu.” kata pimpinan SPBU.

“Pak. Saya tidak terlalu lancar mengaji. Untuk membaca satu juz saja, saya butuh waktu hingga satu jam. Bapak yang tadi harus segera mengantar obat untuk anaknya yang sedang sakit. Dia sudah kehabisan uang. Kasian bapak itu!”

“Kamu sendiri ada uang?” tanya Kyai Saleh.

“Masih ada pak. Cukup untuk pulang. Rumah saya juga tidak terlalu jauh. Bisa jalan kaki.”

Kyai Saleh tersenyum mendengar jawaban si pemuda. Dia membuka dompet dan menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu. Si pemuda terkejut.

“Ini untuk apa, pak?”

“Karena kamu telah meresapi makna Alquran dan mempraktikkannya. Ambillah!” kata Kyai Saleh

“Tapi saya ikhlas membantu bapak tadi.”

“Saya juga ikhlas memberimu, nak!” Kata Kyai Saleh sembari menepuk pundak pemuda itu. Mata sang pemuda tampak berkaca-kaca. Setelah beberapa jenak, sang pemuda itu bergerak pulang.

“Saya tidak mengerti, Kyai?” tanya pimpinan SPBU.

“Jika kamu bisa memberi bensin gratis kepada orang yang bisa membaca 1 juz. Apa yang menghalangiku memberinya lebih banyak. Dia sudah mempraktikkan nilai Alquran. Itu masih belum sebanding dengan perilakunya tadi.”

“Tetapi dia kurang lancar mengaji Kyai. Alangkah indahnya kalau dia bisa menolong orang tua tadi dengan bacaan Alquran. Jadi bisa sambil memperlancar bacaannya.”

“Kamu sudah mendengar alasannya.”

“Maksud saya, dia bisa isi bensin dulu. lalu dia tinggal sejenak mengaji di sini. Kan, bisa begitu?”

“Anda betul. Tetapi pemuda tadi tampaknya sangat ikhlas membantu. Niatnya menolong. Dia ikhlas. Beda dengan orang yang datang mengaji di sini.”

“Kenapa, Kyai?”

“Coba besok kamu ubah. Siapa ngaji dua juz tetap bayar bensin.”

“Ya, tidak ada yang mau Kyai.”

“Nah.” Kata Kyai Saleh tersenyum. “Lagi pula, kalau pemuda tadi ikut mengaji untuk dapat bensin gratis. Dia rugi, pak.”

“Kenapa Kyai?”

“Dia hanya dapat dua liter. Tadi dia dapat 500 ribu. Dia bisa membeli ratusan liter.” Kyai Saleh tersenyum. Tesa tersenyum. Pimpinan SPBU pun ikut tersenyum kecil.

“Jadi, yang saya lakukan ini salah Kyai?” Tanya pimpinan SPBU.

“Tidak ada perbuatan baik yang tidak punya manfaat. Usahamu ini baik karena membuat orang mendekat kepada Alquran. Usaha anak muda tadi juga sangat baik karena mempraktikkan Alquran. Dua-duanya perbuatan baik. Lakukan apa yang menurutmu baik.”

Kyai Saleh beranjak ke dalam mobil.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.