Locita

Awas, Ada Injil Berbahasa Arab

Ilustrasi: pixabay.com

ISU tak sedap tersebar. Konon, gerakan Kristenisasi sedang merebak dan mulai masuk di Kelurahan Kaimana. Gara-garanya, Yusran tanpa sengaja menemukan kitab Injil berbahasa Arab di rumah seorang warga Kristen.

Yusran curiga, baginya ini adalah modus baru yang digunakan oleh para penganut Kristen untuk menyusup ke dalam masyarakat Islam.

“Waspada! Ini bisa menjebak kita saudara-saudara,” kata Yusran menggebu-gebu.

“Injil berbahasa Arab ini bisa membuat kita tertipu. Mereka mulai menggunakan bahasa agama kita untuk menarik perhatian kita. Seolah-olah nanti kita membaca Alquran tetapi ternyata kita membaca injil. Naudzubillah!”

“Wah! Kita harus bertindak. Mereka sudah mulai kurang ajar” kata seorang warga.

“Ya.. kurang baik apa kita sebagai muslim. Kita tidak pernah mengusik mereka. Kita tidak pernah mengganggu mereka,” seorang warga lain ikut nimbrung.

“Kita harus melawan ini. Sebelum mereka bertindak dan menipu kita, kita usir saja dia dari wilayah kita! Jumlah mereka juga tidak banyak. Sekali gertak saja mereka pasti lari terbirit-birit,” suara warga lainnya yang lebih keras menimpali.

Yusran manggut-manggut, perasaan keagamaannya terusik. Sebagai muslim, dia harus bertindak cepat melindungi warga muslim di kelurahan ini dari pengaruh agama lain.

“Jangan buru-buru bertindak. Kita harus bicarakan dengan Kyai Saleh,” Tesa yang mulai resah dengan amarah warga ikut berbicara.

“Iya.. saya setuju dengan Tesa. Kita bicarakan dulu dengan Kyai Saleh. Minta petunjuk pada beliau.”

Mereka pun menuju ke rumah Kyai Saleh.

Kyai Saleh tampak sedang membaca di teras rumahnya ketika beberapa orang warga datang berkunjung ke rumahnya.

“Assalamualaikum Kyai”

“Waalaikumussalam….Eh, silahkan masuk,” Kyai Saleh menghentikan bacaannya dan mengajak warga masuk ke ruang tengah. Ruang teras rumahnya tidak cukup menampung jumlah warga yang datang.

“Ada apa ini ramai-ramai datang?” Kyai Saleh bertanya.

“Begini pak Kyai,” Yusran mulai angkat bicara mewakili para warga.

“Kami menemukan hal yang mencurigakan.”

“Oh, ya? Apa itu?” Kyai Saleh memperhatikan dengan mimik serius.

“Kami menemukan injil berbahasa Arab di rumah seorang warga Kristen, Kyai”

Kyai Saleh mengernyitkan dahi, “tahu darimana kalian kalau itu injil?”

“Begini-begini, Kyai. Saya juga bisa baca tulisan Arab. Di bagian depan buku itu tertulis kata injil dengan huruf Arab,” kata Yusran.

“Maksud kamu…. Buku ini?” Kyai Saleh memperlihatkan buku yang sedang dibacanya. Yusran dan warga lain terkesiap kaget. Injil berbahasa Arab yang mereka perbincangkan sedang dibaca oleh Kyai Saleh.

“Iya.. Kyai. Bagaimana bisa Kyai dapat buku itu.”

“Kemarin, seorang warga Kristen datang kepada saya dan menghadiahkan kitab ini kepada saya.”

“Loh… kok pak Kyai terima? Bukankah itu Injil? Kenapa Kyai membacanya?”

“Islam tidak pernah melarang kita membaca apa saja, untuk tujuan mengambil manfaat atau mengenali kemudharatan. Kalian kenal Zakir Naik kan? Dia itu tidak hanya membaca Injil tetapi mempelajari dan menghafal banyak sekali ayat-ayat Injil. Apa Zakir Naik menjadi Kristen?”

Warga terdiam. Kata-kata Kyai Saleh cukup masuk akal.

“Tapi bagaimana kalau ini cara mereka melakukan kristenisasi dengan membagi-bagikan kitab injil kepada warga muslim. Nah, warga kita bisa tertipu mengira itu alquran, hadits, atau kitab para ulama.”

Kyai Saleh tersenyum kecil. Perbincangan terhenti. Istri Kyai Saleh muncul dengan secerek kopi, beberapa buah gelas, dan dua piring pisang goreng. Pemandangan yang cukup menggoda di sore hari.

“Minum dulu lah kalian. Tenangkan otak dengan kopi. Biar pikiran kalian jernih dan tidak gegabah menilai.”

Tanpa canggung, warga mengerumuni cerek kopi yang masih mengepul.

“Apa yang kalian khawatirkan ketika orang Kristen punya injil berbahasa Arab? Itu kan kitab mereka.” Tanya Kyai Saleh, setelah semuanya mendapatkan segelas kopi.

“Bahasa Arab kan bahasa Alquran pak Kyai, bagaimana kalau ini sengaja mereka lakukan agar kita umat Islam tertipu?”

Kyai Saleh tersenyum, “saya menyukai semangat kalian menjaga kehormatan Islam. Tetapi semangat kalian itu juga membuat saya bersedih. Kalian seperti orang yang tidak mengenali Alquran.”

Para warga terdiam. Meski mereka belum mengerti kalimat Kyai Saleh, tetapi mereka tidak ingin menyela. Mereka lebih memilih menyeruput kopi dan mengunyah pisang goreng yang masih hangat itu.

“Terkait dengan Injil berbahasa Arab. Ada dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, bahasa Arab itu bahasa manusia. Orang Kristen di Arab pasti memiliki injil berbahasa Arab karena itu juga bahasa mereka. Nah, kebetulan  saudara kita yang beragama Kristen itu mendapatkan hadiah injil berbahasa Arab dari temannya di Mesir. Kristen Koptik. Dia mendapatkan dua eksamplar saja. Karena dia tidak tahu membaca huruf Arab. Injil itu tidak berguna bagi dirinya. Mungkin itu alasannya dia memberikan kepadaku sebagai hadiah satu eksamplar.”

Kyai Saleh jeda sejenak sembari menyeruput kopi. Warga masih terdiam menunggu kalimat-kalimat Kyai Saleh selanjutnya.

“Kedua, saya merasa sedih. Sikap kalian ini menunjukkan betapa kalian tidak akrab dengan alquran. Kalian tidak mengenali Alquran. Kalian asing dengan Alquran. Kalian memang mencintai alquran tetapi cinta kalian ini membuat kalian buta dengan yang kalian cintai itu.”

“Kami tidak mengerti Kyai,” seorang warga menyela.

Kyai Saleh lalu meminta Tesa memanggil Ibu Rita dan anak kembarnya yang tinggal tidak jauh dari rumah Kyai Saleh.

Tak lama berselang, Ibu Rita dan anak kembarnya datang. Para warga, ibu dan dua anak kembarnya itu kebingungan. Buat apa Kyai Saleh memanggil anak kembar dan ibunya itu?

“Nah… ini dia.  Yusran. Coba tunjuk yang mana Rizal dan mana Reza!”

Usran yang tidak terlalu mengenali dua bocah yang wajahnya persis sama ini kebingungan. Dia butuh waktu beberapa detik dengan melihat berulangkali dua bocah ini sebelum akhirnya menjawab. Dan dia salah.

“Sekarang… Bu Rita. Mana Rizal dan mana Reza!”

Dengan mudah dan tanpa berfikir, bu Rita langsung menunjuk kedua puteranya itu.

“Yusran! Kamu dan mungkin sebagian besar diantara kita kesulitan mengenali mana Rizal dan Reza karena kita tidak mengenalinya dengan baik. Kita tidak tiap hari bersamanya. Bagi kita, Rizal dan Reza adalah orang yang sama sehingga tidak sanggup membedakannya. Sedangkan bagi ibunya, yang setiap hari bersama, mengenalinya, menyanyanginya tahu bahwa dua anak yang berwajah sama ini adalah orang yang berbeda. Sehingga dia dengan cepat dapat mengenali perbedaan diantara keduanya. Begitulah juga dengan kekhawatiranmu terhadap Injil berbahasa Arab itu. Injil dan Alquran adalah dua kitab yang berbeda. Susunan bahasanya, langgamnya, bunyinya, iramanya. Meski dua-duanya ditulis dalam bahasa yang sama, bagi yang mengenali Alquran tidak akan tersesat dan terjebak dalam salah pilih, seperti yang kalian pikirkan. Jadi kemarahan kalian terhadap injil berbahasa Arab sesungguhnya tanda bahwa kalian tidak mengenali Alquran kalian sendiri.”

Warga terhenyak diam. Kata-kata Kyai Saleh terasa menampar wajah mereka.

“Ya sudah. Ini sudah menjelang magrib. Ayo siap-siap ke masjid” Kata Kyai Saleh. Warga pun bubar satu persatu.

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Tentang Penulis

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.