Locita

Apakah Surga Bukan untuk Perempuan?

Ada keramaian kecil di rumah Kyai Saleh. Malam ini adalah malam ke-40 kepergian isteri Kyai Saleh untuk selamanya. Kyai Saleh mengundang santri-santri dan tetangganya untuk membaca Alquran dan memberikan doa terbaik kepada alm. Siti Fatimah agar mendapatkan tempat yang tenang dan nyaman di alam kubur sana.

Acara berlangsung ba’da salat Isa dan berakhir sekitar pukul 21.30. Seusai Kyai Saleh memimpin doa, satu per satu tamu pulang. Kecuali beberapa orang santri yang tetap tinggal untuk membantu membereskan rumah Kyai Saleh.

“Kyai, kira-kira ibu adami di surga ini di?” Tanya Ais sembari merapikan ruang tamu.

“Tidak! Beliau tidak masuk surga,” jawab Kyai Saleh singkat. Ais, Yusran, Tesa, Faris, dan Dani menghentikan aktivitas mereka. Mereka terkejut dengan jawaban Kyai Saleh. Bagaimana bisa Kyai Saleh berbicara buruk tentang istrinya.

“Kok… tidak masuk surga. Kenapaki bilang begitu?”

“Ibu tidak akan masuk surga karena pintu surga belum terbuka. Surga atau neraka nanti tersedia kalau sudah hari kiamat. Ibu masih harus menunggu satu tahapan  kehidupan lagi. Jadi, dalam kepercayaan kita,, belum ada orang yang dimasukkan ke dalam surga ataupun neraka. Masih di alam barzakh. Kalian masih ingatkan lima alam yang akan dilalui setiap manusia?”

“Ooo.. ah, hampir salah duga tadi saya Kyai!” sela Faris. Kyai Saleh hanya tersenyum kecil melihat reaksi para santrinya.

“Ngomong-ngomong, ada saya rasa aneh dari konsep surga yang biasa saya dengar baik di sekolah maupun di ceramah-ceramah,” Ais kembali berkata-kata.

“Aneh bagaimana maksudmu, Ais?”  Tanya Tesa.

“Katanya di surga disediakan bidadari yang cantik dan awet muda”

“Cocokmi to. Apanya yang aneh?” timpal Dani.

“Bagi kau laki-laki asyik. Bagi saya perempuan. Masa juga disediakan bidadari yang cantik. Kan saya perempuan? Memang saya lesbian!” Wajah Ais merungut.

“Betul juga tawwa, Ais. Bagaimana itu penjelasannya Kyai?” Yusran angkat suara.

“Apa yang masih kurang jelas!” Kata Kyai Saleh sembari meminum kopi dan membaca kitabnya.

“Kenapa konsep surga terlalu patriarki? Kyaimo yang jawab. Yang lain janganmi jawab. Pitikana-kanaiji[1]” Ais bertanya lagi. Kali ini dia berharap Kyai Saleh yang menjawabnya bukan teman-temannya.

“Kalau Alquran bilang begitu, maumi diapa?[2]Kyai Saleh menjawab sekenanya. Wajah Ais meringsut. Sedangkan yang lain tertawa melihat raut muka Ais.

“Berarti tidak adil dong, bagi perempuan”

“Allah tidak pernah tidak adil”

“Saya bingung, Kyai? Saya belum mendapatkan penjelasan yang bisa menenangkan batin”

“Ciieee…. Romantismu Ais. Kayak-kayaknya kamu sedang bermasalah dengan perasaan ini. Kenapa setiap pertanyaanmu mengandung rasa,” Faris menggoda Ais. Ais cuek dan berharap jawaban dari Kyai Saleh. Yang lain cengar-cengir. Mereka pun penasaran dengan jawaban Kyai Saleh.

“Begini. Kata itu mengandung dua muatan, ide dan tampilan. Penanda dan petanda. Makna pun ada dua, denotasi dan konotasi.. Dalam beberapa kasus, tampilan atau penanda tidak cukup komprehensif mewakili idea atau petanda. Surga pun demikian. Konsep yang kamu sebutkan Ais adalah sebuah sistem tanda yang sedang digunakan untuk merujuk pada satu ide tentang surga, yaitu kenikmatan”

“Belum mengertika, Kyai”

“Kenikmatan itu abstrak, kan? Tidak ada yang bisa menjelaskan secara lahiriah bagaimana bentuk kenikmatan itu. Ketika surga berkonotasi dengan kenikmatan, maka dibutuhkan tanda-tanda lain agar kenikmatan surgawi itu bisa dinalar oleh manusia. Maka, surga dijelaskan dengan cara yang seperti sekarang yang secara keseluruhan mengarah pada makna kenikmatan”

“Agak-agak terang, tapi masih bingung. Trus kenapa bernuansa lelaki?” Tanya Ais. Ruang tamu sudah selesai dirapikan. Seluruh santri merapat dan duduk melingkar di hadapan Kyai Saleh.

Kyai Saleh terdiam sejenak. Batuk kecil menginterupsi kalimatnya. Setelah meneguk kopi, Kyai Saleh melanjutkan.

“Nah, disini sangat terkait erat dengan sistem kebudayaan dimana tanda itu diproduksi. Alquran diturunkan dalam masyarakat Arab di abad ke 6-7 M. atau 1500 tahun yang lalu. Jawaban atas pertanyaan Ais akan ketemu jika Ais mempelajari kebudayaan Arab di era Alquran diturunkan. Pasti ketemu. Misalnya konsep surga terkait dengan kebun yang rindang dengan air yang mudah didapatkan. Ini adalah cara Alquran untuk menjelaskan kenikmatan bagi penduduk bumi yang tinggal di daerah padang pasir dan sangat sulit mendapatkan air.”

“Maksud, Kyai. Surga yang sesungguhnya tidak seperti yang digambarkan?”

“Bukan begitu maksud saya. Itu hanya sebagian kecil dari gambaran surga yang mudah dipahami oleh manusia.”

“Tapi saya tidak bisa memahaminya? Sebagai perempuan, surga yang digambarkan tidak sesuai dengan konteks saya, Kyai”

“Maka Ais perlu bergeser ke ide tentang surga. Bahwa surga adalah kenikmatan. Jika Ais berada di surga kelak, maka Ais akan merasakan kenikmatan. Ais tidak perlu terganggu dengan konsep bidadari karena itu untuk kaum lelaki, bukan untuk perempuan”

“Tetapi kenapa tidak dibuatkan juga gambaran surga agar bisa dinalar oleh perempuan, Kyai?”

“Sesungguhnya semuanya ada tetapi Ais lebih tergoda untuk melihat bagian yang tidak sesuai dengan  pikiran Ais. Kode lain dari surga adalah semua yang kita inginkan akan terpenuhi. Disini jelas sudah tidak berbicara gender lagi. Ais akan mendapatkan yang Ais sukai. Atau kenikmatan apa yang Ais inginkan. Itulah surga!”

Kyai Saleh jeda sejenak dan menyeruput kopi yang mulai dingin.

“Bahkan para sufi tidak tertarik lagi dengan konsep surga yang materil. Mereka mengincar sesuatu yang jauh lebih tinggi kenikmatannya”

“Apa yang lebih tinggi kenikmatannya dari surga, Kyai”

“Bertemu dengan Allah! Itu tujuan tertinggi. Ingat Rabiah Al-Adawiah. Sufi ini demi cintanya kepada Tuhan, dia menolak surga dan neraka. Tak penting surga atau neraka, yang terpenting adalah Tuhan”

“Jadi tidak patriarkis ji, Kyai?” Tanya Tesa.

“Kalau kamu memahami kode subtantif dari agama, kamu tidak akan menemukan tirani, penindasan atau paksaan di dalamnya. Kecuali kalian berdebat pada teks-teks kebudayaan yang mau tidak mau ikut memengaruhi makna dalam teks-teks kitab suci ya berdebat panjang. Karena itulah, sembari membaca Alquran sangat dianjurkan membaca tafsir para ulama. Tafsir itu membantu kita untuk memahami muatan Alquran sesuai zaman kita hidup”

“Tapi ada juga orang yang pernah saya dengar orang bilang mari kita kembali kepada Alquran dan Hadis”

“Ya.. itu benar. Saya setuju!”

“Tapi tadi Kyai bilang, harus belajar tafsir”

Kyai Saleh tersenyum kecil, “Tafsir itulah jalan kita kembali kepada Alquran dan Hadits. Muara tafsir adalah Alquran dan Hadis. Siapa yang menelusuri tafsir para ulama maka akan menemukan Alquran dan Hadits”

“Jadi, maksudnya bukan kita sendiri baca Alquran dan Hadits”

“Boleh saja. Asal kemampuanmu memahami Alquran dan hadis bagus. Silahkan. Tetapi kalau tidak, kita pasti butuh pegangan dari guru dan ulama kita. Itulah cara kita kembali kepada Alquran dan Hadits. Semua orang di dunia tidak ada yang bisa kembali ke Alquran dan hadits kecuali dengan bantuan ulama. Yang berbeda-beda adalah ulama tempatnya mengambil pendapat. Itu biasa saja”

Suasana sudah larut. Cuaca semakin dingin. Waktu sudah menunjukkan jam 23.00. Para santri memohon pamit dan kembali ke rumah masing-masing. Mereka semua berdiri dan mencium tangan Kyai Saleh.

“Ngomong-ngomong, kalau memang Ais keberatan dengan konsep surga seperti itu. Ndak apa-apaji juga kalau tidak mau masuk surga,” canda Kyai Saleh. Santri lain tersenyum. Ais buru-buru menyela, “eeeeh… tidak dong Kyai. Siapa yang tidak mau masuk surga”

“Hahahaha… pesanku. Kalau kamu beribadah hanya karena mau masuk surga, saya khawatir kamu tidak akan masuk surga”

“Kenapa bisa, Kyai”

“Lain kalipi dibahas. Pulangmi sudah larut”

 

[1] Asal bicara

[2] Mau bagaimana lagi.

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Add comment

Tentang Penulis

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

<