Locita

Andai Masih Belia, Kyai Jafar Pasti Mengidolakan Nikita Mirzani

Di suatu sore di teras rumah Kyai Saleh.

Seperti biasa, para santri datang bertanya tentang hal-hal kontemporer yang menarik perhatian mereka. Plus menikmati kopi dan pisang goreng.

Sore ini, Yusran bertanya tentang kabar Kyai Jafar, teman Kyai Saleh yang unik itu. Kyai Saleh hanya tersenyum dan mulai menceritakan sesuatu tentang Kyai Jafar di masa lalu.

*****

Dua bulan menghilang. Jafar kembali dan membuat seisi pesantren geger. Dengan santai dia memajang poster perempuan seksi di dinding kamarnya. Para santri protes, namun Jafar tidak menghiraukan. Hanya dalam hitungan beberapa menit, tiga poster itu terpasang.

Konon, tiga poster perempuan itu adalah artis Indonesia yang dikenal sebagai artis panas di tahun 1970an. Poster artis dengan pakaian terbuka ini membuat para santri berucap istigfar berkali-kali setiap melihatnya.

Jafar memang dikenal unik. Dia penyuka tasawwuf dan filsafat sekaligus. Dia adalah santri senior yang sangat dikagumi oleh para santri lainnya. Jafar sering melakukan hal-hal di luar dugaan tetapi punya penjelasan yang masuk akal.

Akan tetapi, yang dilakukannya kali ini sudah di luar akal para santri. Memandang tubuh perempuan seksi adalah hal tabu bagi kaum santri. Itu perbuatan yang mendekati perbuatan haram. Bagi santri, memandang wajah perempuan saja terlarang apalagi memandangi bagian tubuh lainnya. Itu bisa menghancurkan semua ilmu yang diperoleh.

“Eh, mas Jafar! Posternya tolong dicabut. Jangan dipasang. Itu terlarang bagi kita.” Tegur salah seorang santri.

“Ya… nggak usah dilihat to. Ini kan buat pengendali saya agar tetap menjadi manusia.” Kata Jafar santai sembari membaca kitab kuning. Saleh mengkerutkan dahi mendengar jawaban Jafar.

“Emang kamu bukan manusia?” Tanya Barak.

“Alaaah… ilmu kamu belum nyampe. Udah. Kalau memang kalian keberatan ya tutup mata. Jangan dilihat.”

Saleh hanya geleng-geleng kepala. Dia tahu Jafar punya alasan di balik semua ini. Tetapi baginya terlalu sumir dan rumit untuk dipahami.

“Ta’laporin sama Mbah Bisri sampiyan.” Imbuh santri lainnya.

“Silahkan. Ini juga karena perintah mbah Bisri kok.” Jawab Jafar dengan santai.

Para santri semakin kebingungan. Mereka terheran-heran atas sikap Jafar yang sangat santai melakukan hal yang makruh itu dan bahkan membawa-bawa nama Mbah Bisri.

Para santri akhirnya mengeluhkan sikap Jafar kepada Mbah Bisri, guru mereka. Mbah Bisri mengerutkan kening sejenak mendengar laporan para santri. Jafar segera diperintahkan untuk menghadap.

“Benarkah itu, Jafar?” Tanya Mbah Bisri.

“Benar, Yai.”

“Kenapa kamu melakukan itu, le?”

“Saya mengikuti saran Mbah Yai Bisri untuk berguru kepada Kyai Nun.”

Mbah Bisri mengkerutkan dahi. Dua bulan lalu dia memang menyarankan kepada Jafar untuk memperdalam ilmu tasawwuf kepada sahabatnya Kyai Dzun Nun.

“Dan ini hasil kamu berguru?”

Jafar mengangguk.

Dia lalu menceritakan pengalamannya. Selama hampir dua bulan dia belajar kitab Tasawwuf dan mendengar kisah-kisah para sufi di ruang pengajian Kyai Nun. Menjelang pulang, Kyai Nun mengajak Jafar masuk ke kamarnya. Jafar terkejut. Di dalam kamar Kyai Nun terpajang poster perempuan cantik dengan pose yang seksi.

“Kyai?????” Jafar menghentikan langkah dan bergumam. Dia merasa aneh dengan pemandangan ini. Bagaimana bisa seorang Kyai Nun yang disegani bahkan oleh gurunya Mbah Bisri bisa memajang poster seperti ini.

“Standarmu untuk menilai adalah fiqih. Ukurannya makruh, haram, halal, haram. Dunia tasawwuf melampau itu.” Kyai Nun menjelaskan sebelum Jafar bertanya. Dia sudah tahu Jafar pasti mempertanyakan anomali ini.

“Saya tidak mengerti Kyai?”

“Dunia tasawwuf adalah dunia yang sangat intim dengan Tuhan. Dunia yang sangat menggoda kemanusiaan. Puncak kenikmatan dan keindahan adalah ketika berada dalam pelukan Tuhan. Sungguh nikmat. Nah, keinginan manusia bersatu dengan Tuhan inilah adalah godaan terbesar dalam dunia sufi.

Al-Khallaj terlalu zauq dan akhirnya kehilangan kendali sebagai manusia. Dia terpenuhi dengan spirit ketuhanan yang membuatnya terlihat seperti orang gila. Rabiah menolak cinta manusia karena terpenuhi dengan rasa cinta kepada Tuhan.”

“Hubungannya dengan poster perempuan seksi ini?”

“Ini adalah pengendali saya, bahwa saya tetaplah manusia dan tidak akan bisa menyatu dengan Tuhan.” Kata Kyai Nun yang membuat Jafar terinspirasi.

Mbah Bisri tertawa mendengar cerita Jafar.

“Anakku. Kyai Nun telah melampaui manusia biasa. Boleh jadi dia sudah di level wali. Dia sudah mengenali dirinya. Poster seksi itu bisa jadi pengendalinya agar tidak terjebak dalam dunia sufisme yang menggairahkan dan menggodanya. Tetapi itu sangat personal dan karena itu disimpan di dalam kamar pribadi bukan di ruang tamu. Para sufi memang punya cara aneh-aneh, tetapi tidak bisa diikuti begitu saja. Kyai Nun telah sampai kepada tingkat ma’rifat tentu dia memiliki alasan yang kuat melakukan itu.

Jafar mengangguk-angguk.

“Jafar. Meski kamu tertarik di dunia sufi tetapi tingkatanmu masih syariat menuju tarikat. Pada tingkatan ini memajang poster perempuan seksi di kamarmu malah menjauhkanmu dari Tuhan dan bisa saja membuatmu bersatu dengan setan. Apalagi kamu pajang di kamar yang kamu tidak sendirian. Teman-temanmu merasa terganggu dengan itu. Kamu malah berdosa.

Likulli makan maqal wa li kulli maqal makan. Setiap tempat ada nalarnya dan setiap nalar ada tempatnya. Jika dikacaukan, maka akan terjadi chaos, protes. Seperti yang kamu lakukan hari ini.”

Jafar tertunduk malu. Sedangkan para santri lainnya tersenyum.

“Ah, itu cuma alasan saja Mbah. Jafar memang mengidolakan artis cantik itu. Dia menggunakan ajaran sufi sebagai alasan.” Celetuk seorang santri diikuti oleh tawa gemuruh para santri lainnya.

******

Yusran, Tesa, Ale, dan Ais tersenyum mendengar cerita tentang Kyai Jafar. Sore sudah semakin senja. Kopi dan pisang goreng sudah ludes. Para santri bersiap-siap menuju masjid.

“Andai sekarang, Kyai Jafar pasti mengidolakan dan pasang poster Nikita Mirzani!” Kata Yusran.

“Siapa Nikita Mirzani?” Tanya Kyai Saleh dengan dahi mengkerut. Nama yang disebut oleh Yusran asing baginya.

“ Anu kyai… artis idolanya Tesa, Kyai!” Yusran kembali berceloteh.

“Hmmm… sambarang tong. Pasti idolamu Yusran.” Sergah Tesa dengan wajah sedikit memerah.

“Sudah. Siap-siap ke masjid!” ujar Kyai Saleh.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

5 comments

  • This is really interesting, You’re a very skilled blogger.
    I have joined your rss feed and look forward to seeking more of your
    excellent post. Also, I’ve shared your site in my social networks!

  • Thank you for the auspicious writeup. It in fact used to be
    a leisure account it. Look complicated to far introduced agreeable from you!
    By the way, how could we communicate?

  • Its such as you learn my thoughts! You appear to know so
    much approximately this, like you wrote the ebook in it or something.
    I feel that you just could do with some p.c.
    to force the message home a little bit, but instead of that, this is wonderful blog.

    A great read. I will certainly be back.

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.