Locita

Ada Apa dengan Stephen Hawking yang Ateis?

STEPHEN Hawking meninggal dunia. Tesa yang mengagumi Stephen Hawking turut berduka dan ikut memberikan belasungkawa melalui laman media sosialnya. Namun, Tesa sedikit terganggu dengan sikap Stephen Hawking yang tidak mempercayai Tuhan atau ateis.

Bagaimana bisa Hawking tidak mengenali berkah Tuhan dalam dirinya? Kecerdasan Hawking yang merupakan hadiah dari Tuhan justru membawanya ke dalam ketidakpercayaan kepada Sang Pemberi hadiah. Sungguh ironis! Tesa menggelengkan kepala.

“Bolehkah saya mengirimkan doa kepada Stephen Hawking, Kyai?” Tanya Tesa pada saat salat isya sudah selesai dan sebagian besar jemaah sudah pulang. Tesa sengaja tidak mengajukan pertanyaan ini pada saat pengajian karena khawatir para jamaah yang lain keliru memahami maksudnya.

Saat itu, yang tersisa Tesa,Yusran, dan Sampara yang sedang merapikan karpet masjid. “Boleh saja. Doa untuk kebaikan bisa dikirimkan kepada siapa saja. Jika niat kita tulus, Tuhan pasti akan mengabulkannya,” jawab Kyai Saleh.

“Tetapi, Hawking tidak mempercayai Tuhan, Kyai!” Yusran bersuara.

“Maksudnya dia tidak mempercayai Tuhan melalui agama? Atau meyakini Tuhan tidak ada?” Tanya Kyai Saleh.

“Sejauh yang saya tahu, Hawking tidak percaya Tuhan itu ada. Katanya, semesta ini tercipta melalui mekanismenya sendiri tanpa perlu bantuan Tuhan!”

“Ya, kalau begitu Hawking benar!” Seru Kyai Saleh.Yusran, Tesa, dan Sampara menegakkan kepala. Mereka terkejut dengan pernyataan Kyai Saleh.

“Maksudta, kita setuju dengan Hawking bahwa Tuhan itu tidak ada.” Kening Yusran berkerut. Dia tidak menyangka Kyai Saleh justeru mendukung pendapat Stephen Hawking.

“Lah, masa Kyai membenarkan seorang ateis.” Sampara ikut menimpali.

Kyai Saleh hanya tersenyum kecil melihat kerutan bingung di wajah para santrinya itu. “Bukan! Saya setuju bahwa kehadiran Tuhan dalam proses penciptaan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Tuhan hanya menyebut kun fa yakun. Jadi maka jadilah.Tuhan bisa jadi tidak menghadirkan eksistensi-Nya dalam penciptaan sehingga keberadaan-Nya sulit diketahui melalui kerja ilmiah. Itulah sebabnya Tuhan memilih manusia untuk menjadi penyampai kehadiran-Nya. Kita menyebutnya Nabi dan Rasul. Pendekatan para Rasul ini tidak melalui mekanisme rasio tetapi keyakinan. Cara kerja keyakinan berbeda dengan cara kerja rasio.”

“Apa tidak bisa dipadukan?”

“Bukannya Einsten sudah bilang, agama tanpa pengetahuan akan lumpuh dan pengetahuan tanpa agama akan buta?”

“Lalu mengapa Hawking sampai pada kesimpulan, Tuhan tidak ada? Apa seperti itu maksud Einsten, bahwa pengetahuan tanpa agama akan buta?”

“Ateis itu adalah cara beragama yang lain.” Kata Kyai Saleh.

“Deeh, semakin membingungkan bahasata, Kyai,” Yusran garuk-garuk kepala mendengar kalimat zig-zag Kyai Saleh.

“Dalam agama, keberadaan Tuhan sangat misterius. Saya sering menyebutkan bahwa Tuhan berada dalam ruang kekosongan dan untuk menemuinya kita perlu mengosongkan diri. Hawking boleh jadi sedang ingin mencari Tuhan tetapi gagal menemukan dengan cara yang dipilihnya, di tengah kegagalannya itu dia tiba pada satu kesimpulan bahwa Tuhan tidak ada.”

“Nah, ini namanya salah-salah jadi orang pintar.” Sampara menimpali.

“Bukan. Justru fenomena Hawking menunjukkan betapa Tuhan adalah misteri yang sangat sempurna. Untuk sampai ke Tuhan kita memang butuh agama, karena orang secerdas Hawking saja, gagal!”

“Tadi, kita bilang bahwa ateis adalah salah satu cara beragama, maksudnya bagaimana Kyai? Saya masih belum jelas.” Kata Tesa sembari menatap wajah Kyai Saleh dengan serius.

“Poros perbincangan dalam agama adalah Tuhan. Ateis itu juga menjadikan Tuhan sebagai poros perbincangannya. Jadi ini juga satu proto-tipe beragama.”

“Bukankah ateis menihilkan Tuhan. Tidak percaya akan adanya Tuhan! Seperti Stephen Hawking ini? Bagaimana disebut proto-tipe beragama?”

“Itulah ekspresinya. Para ateis biasanya lahir dari kelompok rasionalis yang mengandalkan cara kerja rasional dalam menentukan kebenaran. Segala yang tidak rasional hanya bisa dipercaya kebenarannya jika dia mendapatkan penjelasan rasional.”

“Lalu Tuhan?”

“Para rasionalis tidak akan bisa mengungkap kehadiran Tuhan karena keberadaannya di luar jangkauan manusia. Karena itu biasanya ilmuwan yang ingin mencari Tuhan biasanya jatuh pada dua pandangan, agnostisme atau ateisme.”

“Samaji kapang, Kyai.”

“Dalam pembacaan saya, para ateis mencoba mengungkap Tuhan dengan cara membuktikan ketiadaan-Nya seperti yang dilakukan Hawking. Dia mengkritik agama yang menghadirkan Tuhan dengan cara ‘membuktikan’ bahwa Tuhan tidak ada di balik penciptaan dunia ini, melalui pendekatan-pendekatan rasional. Surga dan neraka hanya ilusi. Dan, semua kata-kata agama adalah kebohongan. Sedangkan agnostik tidak terlalu penting Tuhan ada atau tidak ada.”

“Itu yang membuat saya tidak habis pikir, bagaimana bisa orang pintar seperti Hawking tidak bisa merasakan kehadiran Tuhan,” gumam Yusran.

“Kita tidak bisa menilai Hawking dengan sederhana. Hawking itu hidup 76tahun. Saya merasakan ada pergulatan yang cukup panjang ketika Hawking sampai pada kesimpulan Tuhan tidak ada. Ingat juga, Hawking ini hidup di Eropa dimana perdebatan tentang agama dan pengetahuan sangat kuat. Agama yang dikuasai oleh institusi dan otoritas agama kehilangan tempat. Dan, dalam sejarah Eropa, ilmu pengetahuan dan agama adalah dua sisi yang saling berperang. Dan, Hawking lahir dan hidup dalam pergulatan itu.”

“Maksud Kyai boleh jadi Hawking bukan ateis?” Tesa bertanya lagi.

“Dalam arti sesungguhnya sulit seseorang menjadi ateis. Seorang ateis hanya menjadi ateis ketika rasionalitasnya bekerja. Dan rasionalitas tidak selamanya bekerja. Kita tidak tahu apa yang terjadi di akhir kehidupan Hawking. Kita hanya bisa mengetahui yang terlihat tetapi yang tidak terlihat, kita sama sekali tidak menduganya.
Saran saya, ada baiknya jangan terlalu mudah menilai orang dari satu pendapat, apalagi hanya dari quote.”

“Apakah kita patut menghargai seorang ateis?”

“Ber-Tuhan atau tidak itu adalah hak pribadi. Nanti tongpi Tuhan yang menetapkan hukuman buat mereka. Hawking menunjukkan bahwa meski ateis, dia tetap dihormati oleh dunia karena manfaat yang dia berikan sepanjang hidupnya. Bukankah hadis Nabi menyatakan sebaik-baik manusia adalah yang berguna kepada sesama manusia?”

“Jadi, tidak apa-apa saya mendoakan Hawking.”

“Ya, tidak apa-apa. Kan cuma berdoa! Tuhanlah yang menentukan doamu diterima atau tidak.”

“Tidak sia-siaji, Kyai?”

“Tidak ada perbuatan baik yang sia-sia.

”Kyai Saleh memberi kode untuk pulang. Perutnya sudah terasa lapar. Waktu jam dinding masjid sudah menunjukkan pukul 21.00.

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Add comment

Tentang Penulis

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.