Locita

Perempuan Bercerita Sebuah Review untuk Buku Terbaru Leila S. Chudori "Laut Bercerita"

Sumber Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum'ah

Pada mulanya saya berpikir “Laut Bercerita” (2017) berkisah cinta picisan. Sampulnya yang biru-putih, menggoda imajinasi saya tapi lekas terbuyarkan setelah membaca beberapa lembar halamannya.

Laut bercerita tentang laut dan keganasan rezim yang pernah berkuasa selama 32 tahun. Laut memang mengisahkan pembantaian, persahabatan, pengkhianatan, sakit, asmara dan perempuan. Bahwa Leila S.Chudori benar telah mempersiapkan buku ini selama lima tahun. Banyak narasi besar yang bisa kita bongkar dalam novel ini. Perempuan salah satunya.

Leila menawarkan kita pijakan baru, citra perempuan yang megah dan tidak sungkan mendominasi peran tokoh laki-laki dalam novel ini. Kita sebut saja perempuan-perempuan itu adalah Asmara, Ibu, Anjani, dan Kinanti (Kinan).

Keempat tokoh tersebut tampaknya sengaja diwujudkan Leila untuk menunjukkan perempuan yang selama ini masih dalam marginalisasi, subordinasi, stereotip, dan kekerasan. Kemudian Leila memutarbalikkannya.

Perempuan-perempuan “Laut Bercerita” menjadi ruh dalam narasi novel ini. Sepertinya kita sulit menjumpa Laut yang sesungguhnya tanpa Asmara yang berperan sebagai narator handal. Kita sulit merasakan pahit dan pelik perjuangan para aktivis tanpa Kinan. Seorang perempuan pemakan apa saja yang sekaligus pemimpin dalam kelompok diskusi tersebut. Sama sulitnya jika tokoh Ibu tidak hadir dalam novel Leila. Kita mungkin tidak akan menemukan laut dan Laut.

Leila S. Chudori pernah menulis pada majalah Tempo (4 Mei 1991) berjudul “Potret Perempuan dalam Novel Indonesia”. Leila memberikan informasi pada kita bagaimana cara membaca tokoh-tokoh perempuan dalam suatu novel.

Secara sederhana, cara memandang perempuan dalam novel-novel bisa dibagi dalam dua kategori. Kategori pertama adalah perempuan yang melihat perannya berdasarkan keadaan biologisnya (istri, ibu, obyek seks, perawan tua) atau berdasarkan tradisi lingkungannya. Sedangkan kategori lainnya adalah perempuan yang mencoba menembus batas stereotip kedudukan perempuan dan melihat dirinya sendiri sebagai individu dan bukan sekedar pendamping laki-laki.

Kategori perempuan yang menurut Leila mampu berpikir mandiri sangat lekat di tokoh-tokoh perempuan “Laut Bercerita”.

Asmara hadir sejak awal cerita, ia adalah sosok perempuan yang digambarkan narator dengan penggambaran perempuan yang hampir sempurna. Cantik, cerdas, baik, dan selalu mengambil peran dalam penyelesaian pergulatan masalah keluarga. Terutama saat kakaknya, Laut, bertentangan sikap dan pemikiran dengan orangtuanya.

Asmaralah yang selalu mengingatkan Laut untuk berhati-hati dengan agenda diskusi bukunya. Asmara visioner dan realistis dalam memandang kakaknya (Laut) yang tengah berjuang bersama kawan-kawannya (Sunu, Alex, Kinan, Anjani, Naratama, Gusti, Daniel, dan Sang Penyair).

Tatkala Laut hilang dan tak kunjung ada informasi mengenai keberadaannya selama dua tahun. Asmara ditampilkan sebagai sosok yang tegar.

Asmara menetralkan kondisi rumah di tengah kesedihan orangtuanya. Padahal, ia sama kehilangannya: kehilangan kakak terdekat dan satu-satunya, kehilangan Ayah, dan hampir kehilangan Ibunya.

Setelah kematian Laut, Asmara hadir menggantikannya sebagai narator. Ia berkisah kehidupan pasca runtuhnya Rezim Orde Baru dan periode hilangnya 13 aktivis. Ia juga berhasil melunasi kuliahnya untuk mendapatkan gelar dokter.

Asmara kemudian ikut mencari keberadaan Laut dan beberapa aktivis lainnya bersama Komisi Pencarian, begitu pun keterlibatannya dalam aksi Kamisan. Asmara adalah tokoh perempuan yang tidak hanya selesai pada ihwal tubuh, tapi juga sikap individual dan kemapanannya mengendalikan pikiran dan situasi.

Kita pantas bercuriga mengapa pemimpin dari kelompok mahasiswa yang senang mendiskusikan buku-buku Pram dan memimpin berbagai aksi adalah seorang perempuan. Ialah Kinan, mahasiswi yang berpikir realistis dan taktis. Kedua hal yang amat jauh dari citra perempuan hari ini atau mungkin beberapa abad lalu.

Perempuan kita kenal sebagai makhluk emosional dengan dominasi perasaan di setiap tindakannya. Namun, Leila justru menampilkan tokoh Kinan sebagai tokoh yang sangat tegas, memimpin aksi dan sekaligus menjadi orang yang mengantarkan Laut pada kelompok mahasiwa tersebut.

Selain Kinan, masih ada tokoh perempuan hebat lain di kelompok mahasiswa itu. Ia bernama Anjani, perempuan yang bikin Laut kesengsem bukan kepalang. Anjani adalah seniman, pelukis, dan Laut sangat mengagumi lukisannya yang menggambarkan Ramayana secara terbalik: Sita yang menyelamatkan Rama.

Anjani tak hanya dekat dengan Laut, tapi juga keluarganya. Asmara menarasikan, “aku memegang tangan Anjani, menenangkannya, menggenggamnya. Perlahan-lahan aku mencoba memperhatikan perbedaan kedua foto itu. Foto pertama memperlihatkan kain Mori yang masih polos dengan goret latar, dan yang kedua kain yang sama sudah terlukis seekor kupu-kupu.”

Anjani dan Asmara saling menguatkan, meski Anjani masih belum bisa melepaskan Laut. Namun kita tahu, di akhir cerita Anjani datang mengikuti aksi Kamisan. Begitu pula tokoh Ibu yang sejak awal tak mampu membendung kesedihan.

Tapi, toh tokoh perempuan dalam novel Leila sungguh sempurna dan superior. Bisa saja yang meninggal adalah Ibu bukan Bapak. Bisa saja yang dimatikan adalah Anjani, dan sangat mungkin Asmara yang bebannya jauh lebih berat, sebab harus mengurus diri, Alex, orangtua, dan masa depannya sebagai dokter.

Ibu lebih tegar sekalipun diceritakan sering menangis. Bapak Lautlah yang memiliki kedalaman rasa kehilangan yang akut. Itu terlihat setiap Bapak akan menyantap makan, ia selalu menyiapkan satu piring untuk Laut, memutar lagu-lagu kesukaannya, membersihkan buku-buku sastra di kamarnya, sampai ia meninggal dalam penantiannya.

Baik itu Anjani, Kinanti, Asmara, maupun Ibu, mereka adalah tokoh yang diciptakan sangat modern. Leila menciptakan mereka untuk menunjukkan bagaimana pembaca memahami perempuan di sastra dengan semestinya.

Meski “Laut Bercerita” dibangun dengan riset serius dan panjang. Namun Leila sebagai perempuan masih tidak bisa menghindarkan diri dari kecenderungan estetikanya: penceritaan tentang muara, laut, karang, dan tebing.

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.