Locita

Panggung dan Sorotan Kamera Pemegang Kartu Kuning Jokowi Review Film The Sea Inside (Alejandro Amenabar, 2004)

KETIKA mengantar Ibu saya menuju Sidrap dari Makassar untuk acara nikahan keluarga, ia bertanya dalam mobil.

“Kau tauji beritanya ketua BEM-nya UI kasi kartu kuning ke Jokowi?”

Saya mengangguk belaka. Ia bertanya kembali, sekadar menegaskan pertanyaannya sebelumnya.

“Kau tau betulanji kah? Kau lihatji videonya di Facebook?”

Saya mengiyakan. Lalu saya tanya kepadanya, “Bagaimana menurutta apa yang dia lakukan itu?” Ia kemudian berkata,

“Sebetulnya tidak mengapa. Berani juga dia ya.”

“Berani kenapa? Tanya saya menimpalinya. Ibu saya bilang.

“Berani cari mati.”

***

Pemilihan diksi Ibu saya di atas tak mengejutkan saya sama sekali. Ibu saya hidup lama di era orde baru. Ia tumbuh dan besar bersama kedapan dan bungkaman suara. Ia menduga ketika seorang mahasiswa dengan lantang mengambil sikap, akan dikejar dan diburu peluru.

Atas diksi itu pula, saya mengingat salah satu film yang rilis tahun 2004 berjudul The Sea Inside (Mar adentro) yang disutradarai oleh Alejandro Amenabar. Film The Sea Inside meraih penghargaan pada kategori Best Foreign Languange pada piala Oscar ke-77 dan Golden Globe pada tahun 2004.

Film yang diproduksi di Spanyol ini bercerita tentang seorang bernama Ramon Sampedro (Javier Bardem) lumpuh sebagian dari tubuhnya akibat kecelakaan sewaktu menyelam. Selama 20 tahun Ia melakukan negosiasi dengan keluarganya, pemerintah dan orang-orang yang ia temui untuk membunuh dirinya. Ia ingin mati. Ia ingin mengakhiri hidupnya sebab ia merasa bahwa hidupnya––yang cacat, hanya akan menghambat laju kehidupan orang-orang di sekitarnya. Ia memilih untuk menjadi tiada.

Ada begitu banyak narasi yang dapat dibingkai dalam sinema. Film ini juga memasukkan pergolakan cinta antara sepasang manusia, hak asasi manusia, agama, buruh yang disusun dengan epik dan simbolis. Representasi atas film ini dapat dilihat dari penggunaan tanda dan makna sebagai usaha membangun realitas yang sesungguhnya.

Saya kira yang paling penting bahwa film ini memiliki kemampuan menyulap penonton agar mendefinisikan ulang mengenai makna mati dan bunuh diri. Di akhir film, kita diajak untuk bertanya apakah hati nurani itu, apakah kebebasan itu, siapakah pemilik tubuh-yang-hidup ini serta bagaimanakah seharusnya kebebasan dipraktekkan?

Disebabkan komitmen Ramon untuk menutup usianya, media-media meliputnya. Kamera menjalankan tugasnya; memprovokasi agar Ramon bicara tentang keinginannya untuk mati. Ramon seringkali diajak untuk wawancara oleh media, apalagi sambil menunggu keputusan hakim, ia menerbitkan buku puisi tentang dirinya dan kematian yang ia inginkan. Singkatnya, Ia bahkan memberikan kartu merah pada dirinya sendiri.

Ramon sadar betul kehadiran media pada saat itu. Ketika putusannya dibacakan, orang-orang berkumpul di ruang sidang. Tapi film ini tidak berakhir di sana. Film ini berakhir dengan sangat manis. Ia merekam dirinya menggunakan kamera setelah meminta kekasihnya untuk membantunya melakukan bunuh diri. Sebelum ia menutup usia, ia membuat pernyataan personal. Ramon bersiap keluar dari tubuhnya melalui sedotan dan segelas air putih.

Pada saat-saat menjelang kepergiannya itu, Ramon bicara dengan kamera seperti bicara dengan keluarganya, seperti bicara dengan pemilik hukum dan aturan, ia bicara tidak lagi pada dirinya sendiri. Ramon sudah lama selesai dengan dirinya. Ramon justru sudah mati ketika ia menyadari bahwa separuh tubuhnya lumpuh. Usaha untuk membunuh dirinya kini, hanyalah usaha untuk menuntaskan kematiannya sendiri.

Jika Anda belum punya pilihan film untuk ke bioskop dalam waktu dekat ini, temukanlah film ini. Ajak teman atau orang-orang terkasih. Diskusikan dan bicarakan pengalaman-pengalaman estetik yang terlihat maupun yang tidak terlihat di dalamnya. Saya selalu percaya bahwa film bisa memotret zaman. Meski Ramon memiliki visi untuk mati, film ini sama sekali tidak menuntun penontonnya untuk ikut bersama-sama melakukan aksi bunuh diri. Barangkali, film dan Ramon yang ada di dalamnya hanya ingin menyampaikan bahwa “jangan bahagia menyusahkan orang lain.”

Saya sangat terkejut selepas film ini berakhir, ketika saya mengetik namanya di pencarian google, rupanya Ramon adalah sosok nyata. Ia hidup di luar kamera dan film. Ia tidak hanya berupa karakter yang diciptakan untuk kebutuhan cerita. Ramon tidak direkayasa dan dibuat-buat untuk mengindahkan dramaturgi. Ramon ada atau pernah ada di permukaan tanah yang kita pijaki kini.

Tentu saja saya bicara mengenai film “The Sea Inside” ada kaitan yang mendalam dengan isu Ketua BEM UI (Zaadit Taqwa) yang sedang viral. Kita bisa melihat posisi kamera dan (sosial) media. Tiba-tiba kamera menyorotnya, ataukah sebetulnya justru Zaadit Taqwa sendiri yang menginginkan kamera itu membidiknya.

Sosial media menjadikan orang-orang, terutama generasi muda kini lebih mudah untuk mengobrak-abrik posisi internal dan eksternal kediriannya. Seperti dinding-dinding privasi tidak lagi diperlukan pada beranda sosial media. Mereka semua menganggap memiliki power untuk menghadirkan diri sendiri (self presentation) dan melakukan pengungkapan diri (self-disclosure). Mereka gelisah ketika tidak menjadi sorotan. Ada semacam tendensi untuk menarik perhatian orang-orang.

Apa yang saya dan mungkin banyak dari orang-orang yang mengikuti “Kartu Kuning untuk Jokowi” ini mengira bahwa Zaadit Taqwa hanya butuh panggung. Bedanya dengan Ramon dalam film “The Sea Inside”, Ramon yakin, mengerti, memahami dan menyadari betul apa yang ia lakukan. Tapi mengamati argumen-argumen yang Zaadit lontarkan di acara Mata Najwa pada 7 Februari lalu, masih goyah dalam menyikapi dirinya sendiri. Semacam belum punya kedalaman sikap dan tidak punya bobot ketika bersuara, meski tidak ada garis pengukur yang sesuai untuk menentukan hal ini.

Memang kamera masih terus menyala dan akan terus mencari subjek. Semoga Zaadit tidak hanya ingin menjadi subjek yang kosong, sebab ia mewakili keresahan banyak orang. Ia bisa berdiri sebagai alarm yang berdesing meruncing.

Seperti halnya ia bisa membuat Ibu saya mengakhiri percakapan saya dengannya di dalam mobil ketika ia berkata,

“Meskipun hanya kartu kuning. Tetap jangan disepelekan. Presiden dan pemerintah juga harus waspada. UI itu salah satu basis pergerakan hebat waktu reformasi dulu.”

Ya tapi kan itu dulu, Mak. Masalahnya, sekarang tidak sedikit juga mahasiswa yang bisa dibeli sama politikus.” Saya membatin. Tidak ada kalimat selanjutnya. Bukankah memilih untuk tidak berbicara juga merupakan suatu kebebasan?

Rachmat Hidayat Mustamin

Penyair dan film maker

1 comment

Tentang Penulis

Rachmat Hidayat Mustamin

Penyair dan film maker

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.