Locita

Kisah Kesulitan dan Kekuatan Perempuan

poster film Marlina [istimewa]

TIDAK banyak film Indonesia yang memposisikan perempuan sebagai seorang tokoh utama yang berani dan punya peran sentral. Kalaupun ada, seringkali merupakan film-film yang diadaptasi dari kehidupan para tokoh-tokoh perempuan terkenal atau pahlawan. Di antaranya adalah Kartini, Cut Nyak Dhien atau Nyai Ahmad Dahlan. Persis di titik inilah mengapa film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak karya Mouly Surya menjadi lebih menarik untuk diperbincangkan.

Film ini terasa lebih segar dengan tokoh utama Marlina yang diperankan oleh Marsha Timothy. Marlina adalah perempuan biasa yang hidup di wilayah perdesaan yang masih terisolir. Film ini mampu mengungkapkan dengan apik bagaimana kekuatan dan berbagai kesulitan yang dihadapi oleh perempuan.

Film yang telah melanglang buana dalam berbagai ajang festival film internasional ini, tidak hanya memanjakan mata dengan latar pengambilan gambar di tanah Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), tetapi juga menunjukkan kepada kita betapa banyaknya kesulitan yang dihadapi perempuan.

Mulai dari stigma, kekerasan verbal, fisik, kekerasan dalam rumah tangga, hingga soal lemahnya perlindungan hukum terhadap perempuan yang menjadi korban perkosaan.

Semua hal ini terangkum dengan jernih dari babak ke babak. Film ini juga menyiratkan bagaimana kendala geografis pada dasarnya merupakan necessary condition ketika membincangkan  kesulitan  perempuan dalam hidup keseharianya.

Sebagai pembelajar di bidang geografi, saya semakin tergugah untuk kembali menyoal bagaimana lambannya perkembangan ilmu geografi di Indonesia yang masih beorientasi fisik. Bahkan diskursus yang berkaitan dengan feminisme geografi tidak masuk dalam arus utama pembicaraan. Ruang untuk tumbuh dan berkembangnya ilmu ini tampak segersang tanah-tanah Sumba di musim kemarau. Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak pada dasarnya memotret bagaimana soal geografis (ruang dan tempat) menentukan berlangsungnya kejadian dan jalannya cerita.

Bermula dari babak pertama, “Perampokan Setengah Jam Lagi”, ketika sang tokoh utama Marlina yang tinggal sendiri di rumahnya yang tidak punya satupun tetangga dekat kedatangan tujuh tamu lelaki. Tamu-tamu ini lalu mengintimidasi, memerintah, dan merampok. Marlina juga diperkosa dengan kejam.

Film ini hendak menunjukkan pada kita bahwa status janda, tubuh cantik dan kelamin bukan muasal segala bala bagi perempuan, tapi bisa jadi sumber kekuatan. Marlina tahu hal ini. Pada titik di mana dirinya mengalami luka yang paling dalam, ia bangkit dan membela martabat diri. Ia melakukan hal yang paling muskil untuk dibayangkan. Dalam film ini semisal memenggal kepala pemerkosa.

Pada bagian ini, saya berpikir apakah jika Marlina tidak tinggal di desa pegunungan maka ada kemungkinan baginya untuk lari dan memperoleh perlindungan? Ataukah akan ada tetangga yang datang membantu?

Babak selanjutnya, “Perjalanan Juang Wanita“, tetap menarik. Pada bagian ini, Marlina dan rekannya Novy, yang tengah hamil tua dan mencari suaminya, melakukan perjalanan. Mereka menghadapi kendala geografis, sulitnya transportasi, serta jarak kantor polisi yang jauh.

Bagian ini menampilkan keberanian Marlina tanpa tedeng aling-aling. Ia seorang perempuan yang berhitung lagi rasional. Ia menolak  ajakan Novy pergi geraja demi memberikan pengakuan dosa atas pembunuhan yang dia lakukan.

Bagi Marlina, tiada hal yang perlu  disesali. Apa yang dilakukannya bukan berasal dari hasrat untuk berbuat  dosa tapi murni bentuk pembelaan diri, serta perlawanan atas dirinya yang dilecehkan, dirampok, dan diperkosa.

Marlina perempuan tangguh yang bertanggung jawab lagi rasional ini memilih untuk ke kantor polisi dan melaporkan kasusnya. Sialnya, alih-alih memperoleh perlindungan, dilayani dengan benar saja tidak. Bahkan tiada sedikitpun empati dari pihak aparat atas korban pemerkosa yang datang mencari keadilan ini.

Pada dasarnya kita akrab dengan hal seperti ini, di antaranya adalah aparat yang cuek. Bahkan dalam film ini, aparat terlihat lebih mementingkan bermain bola pingpong daripada segara menangani kasus pemerkosaan. Aparat menggunakan alasan teknis untuk tidak segera memproses kasus dan menangkap pelaku.

Fenomena juga terjadi dalam dunia nyata. Kita tentu belum lupa pada seorang mahasiswa yang diperkosa oleh seorang penyair yang sampai kini masih melenggang bebas berkarya.

Bagian ini mengingatkan kita betapa masih lemahnya perlindungan hukum bagi perempuan serta bentuk penanganan yang seringkali lebih memojokkan korban daripada berupaya melindunginya.

***

Film ini memotret berbagai masalah yang dialami perempuan, mulai dari perkosaan yang dialami Marlina atau juga kekerasan rumah tangga yang dialami Novi. Film ini juga menyuguhkan kisah lain yang melawan tabu umum, semisal perempuan yang seringkali harus memendam perasaan dan pikiran atas nama norma dan sopan santun.

Di film ini, seorang mama penumpang truk yang digunakan oleh Novi dan Marlina menunjukkan pengetahuannya mengenai kehamilan dan aktivitas seks. Novi tampak terbuka membicarakan hasratnya. Dia tetaplah perempuan baik-baik, bukan seseorang yang jalang sebagaimana seringkali distigmakan kepada perempuan yang secara terbuka berbicara tentang seks.

Film ini juga ditutup dengan manis bagaimana soliditas di antara perempuan mampu menyelamatkan satu generasi satu kehidupan, yang bermula dari satu tangis bayi.

Kalaupun ada yang agak sedikit menganggu bagi saya dari film ini adalah  kenapa pilihan menu makannya harus soto, sop ayam, atau sate? Kenapa bukan menu makan yang sesuai dengan daerah Sumba yang menjadi latar pengambilan film ini?

Sebagai orang yang cukup akrab dengan dialek timur, saya merasakan beberapa potongan pembicaraan belum begitu halus. Namun secara keseluruhan, film ini layak bahkan perlu untuk ditonton.

Kasmiati Kasmiati

kasmiati kasmiati

Suka hujan, jalan kaki dan hutan serta peminat isu perempuan dan ruang.

Tentang Penulis

Kasmiati Kasmiati

kasmiati kasmiati

Suka hujan, jalan kaki dan hutan serta peminat isu perempuan dan ruang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.