Locita

Film “Eiffel…I’m In Love” Sia-Sia Membuat Sekuel Review Film "Eiffel... I’m In Love 2" (Rizal Mantovani, 2018)

LIMA belas tahun lalu ketika film Eiffel… I’m In Love (Nasri Cheppy, 2003) tayang di bioskop, saya masih kelas 3 SD. Masa itu saya ingat betul, saya baru menontonnya setahun atau dua tahun kemudian setelah ditayangkan di salah satu televisi swasta. Itu pun di hari libur nasional.

Biasanya film ini akan ditayangkan secara bergantian dengan film Petualangan Sherina (Riri Riza, 2000) atau film dari Iran, Children of Heaven (Majid Majidi, 1997).

Akibat film Eiffel itulah, saya mengamini apa yang Andrei Tarkovsky katakan dalam Sculpting In Time: Reflections on The Cinema, “I think that what a person normally goes to the cinema for istime: for time lost or spent or not yet had.”

Penonton ingin, tidak sekadar hadir sebagai penonton, tetapi mereka ingin mengalami dan merasakan suatu kejadian yang belum pernah mereka tempuh sebelumnya. Kalau dalam bahasa Afrian Purnama dalam tulisannya berjudul, Jangkau, “mendapatkan pengalaman bathiniah yang belum pernah dicapai oleh penonton sebelumnya.”

Tiba-tiba hampir semua remaja ingin pergi ke Paris dan jatuh cinta. Tante saya––yang masih kelas 3 SMA pada saat itu ingin melanjutkan kuliah di Prancis. Kakak saya membeli banyak poster dan miniatur menara Eiffel akibat film ini kemudian memasangnya di tiap sudut rumah.

Film memang memiliki kuasa yang begitu dahsyat kepada penontonnya. Beberapa hari lalu, sekuel film ini dirilis dengan judul yang sama. Mesti diingat, dua tahun terakhir, ada beberapa film-film sekuel yang diproduksi, di antaranya, Comic 8: Casino Kings Part 2 (Anggy Umbara, 2016), Langit Terbelah di Langit Amerika 2 (Rizal Mantovani, 2016), Ada Apa Dengan Cinta? 2 (Riri Riza, 2016), Surga yang Tak Dirindukan 2 (Hanung Bramantyo,2017), Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 (Anggy Umbara, 2017), Filosofi Kopi 2: Ben &Jodi (Angga Dwimas Sasongko, 2017) dan Ayat-Ayat Cinta 2 (Guntur Soehardjanto, 2017).

Entah ada fenomena apa yang terjadi? Barangkali para pembuat film ingin mengembalikan nuansa-nuansa masa lalu kepada penonton.

Saya berkesempatan menonton film Eiffel… I’m In Love 2 (Rizal Mantovani, 2018). Saya tidak berekspektasi banyak sebelum menontonnya. Saya hanya berharap masuk ke dalam ruang gelap dan menikmati suguhan filmnya. Saya juga tidak berharap banyak pada cerita. Saya hanya ingin menyaksikan bagaimana cerita ini diceritakan.

Saya duduk bersama sekiranya tidak lebih dari tiga puluh orang. Hampir semuanya kisaran umur 22-40 tahunan. Saya hanya menduga, lagi-lagi, penonton ingin merasakan romansa masa lalu?

Sebetulnya saya sudah terganggu bagaimana film ini dibuka. Pada suatu pesta pernikahan, Tita (Shandy Aulia) sedang duduk dan disamper oleh beberapa orang (temannya?). Tiba-tiba salah satu dari mereka langsung meminta nomor telepon setelah saling menyapa. Apakah tidak perlu ada basa-basi yang santai sebelum langsung meminta nomor telepon?

Tentu saja informasi itu penting dalam memandu sekuen cerita ini, bahwa Tita belum punya ponsel sebab masih tidak
dibolehkan oleh Ibunya. Sementara itu, di suatu sudut kota Paris, Adit (Samuel Rizal) telah bekerja dan masih menjalani hubungan jarak jauhnya dengan Tita. Karena suatu alasan, keluarga Tita pindah ke Paris.

Tentu keputusan ini membuat Tita bahagia. Ia akan bertemu dengan Adit, kekasihnya yang lama tak ia temui. Ia berharap akan dilamar secepatnya. Tita merasa tertekan oleh banyak pertanyaan temannya perihal kapan menikah.

Halini menjadi problematis ketika Adit, rupanya belum siap menikahi Tita dalam waktu dekat. Tita rapuh dan meminta putus. Muncullah sosok Adam (Marthino Lio), pria serba baik dan rela memberika ipad kepada Tita secara cuma-cuma di hari ulang tahunnya.

Ketika Adam mengetahui bahwa Tita putus dengan Adit, Adam menyusul Tita ke Paris dan melamarnya. Sederhana saja ceritanya. Film ini tidak menarik. Dialog-dialog yang menampung banyak informasi tidak dikemas dengan baik.

Informasi-informasi selama 12 tahun seperti menyumbat kuping penonton. Hubungan Tita dengan keluarganya tidak terasa hangat, tampak seperti orang-orang asing yang baru dipertemukan kembali, lalu berpura-pura atau mengira diri mereka keluarga. Ketidak intiman ini tampak jelas terlihat pada suasana ketika Tita merayakan ulang tahunnya bersama keluarga.

Sebagai penonton, saya menikmati warna-warna yang ditawarkan film ini. Tampak manis dan segar. Tetapi sebagai penonton yang berpikir, saya menebak film ini, sekali lagi hanya menebak, film ini hanya mengambil adegan-adegan eksterior di Paris. Itupun tidak banyak.

Tentu sajauntuk menghemat budget produksi, tetapi struktur rumah Adit yang ditinggali keluarga Tita selama beberapa hari, tampak seperti struktur rumah Tita di Jakarta.Jikapun toh banyak interior juga yang dikerjakan di Paris, tapi kok yah rasanya masih rasa Jakarta.

Keluarga Tita sudah pindah ke Paris, tetapi baunya masih bau Jakarta. Belum lagi ketika keluarga Tita keluar dari pintu kedatangan, di sana sudah ada supir Adit menunggu.

Supir Adit yang dikenal baik oleh keluarga Tita masih butuh “papan nama” yang harus menutupi wajahnya. Jika Anda mengamati betul adegan ini, sangat tidak sehat dan tidak hangat. Kikuk.Krik. Krik.

Lalu apakah film ini masih bisa dinikmati? Tentu saja masih bisa. Bergantung apa yang Anda cari dalam film ini. Anda masih bisa melihat pertengkaran-pertengkaran kecil antara Adit dan Tita yang membuat banyak dari penonton cekikikan.

Anda masih bisa menikmati Adit dan Tita ciuman seperti di film pertamanya. Tetapi jika Anda menonton film ini hanya ingin menyaksikan sebuah ciuman, Anda bisa ke Youtube atau Instagram.Tak dipungkiri sejak perkembangannya, sinema, melalui anatomi-anatomi audio-visualnya, selalu punya kemampuan untuk berdialog dengan penontonnya.

Akbar Yumni dalam artikelnya, Performativitas atas Kehadiran dan Waktu, pada katalog Arkipel edisi Social/Kapital, bahwa, “sinema selalu memungkinkan ‘emansipasi’ intelektual karena selalu menghadirkan tegangan antara keaktifan dan kepasifan, penampakan dan realitas, penglihatan dan pengetahuan..”

Dugaan-dugaan yang saya sebutkan di atas tidak akan pernah terbesit di kepala saya jika tidak berangkat dari bidikan-bidikan kamera. Sebagai penonton, sebetulnya saya berdialog dengan hasil bidikan itu.

Sebagai penonton yang memiliki kuasa menimbang dan ‘mengemansipasi’, film ini tidak memiliki orientasi yang jelas. Jika film Eiffel… I’m In Love 2 ingin mengembalikan romansa-romansa masa lalu, saya rasa energi film ini tidak mencapai kesitu.

Jika film ini hanya sekadar melanjutkan cerita antara Tita dan Adit dan meraup sebanyak-banyaknya penonton, saya kok malah ragu. Suatu kali sutradara Joko Anwar pernah menulis di akun twitternya, “Mendukung film Indonesia tidak harus dengan menonton semua film Indonesia.” Saya setuju. Sangat setuju setelah menonton film ini.

Memang ada jenis film yang harusnya berakhir pada film pertama belaka.Tidak perlu ada sekuel. Kalau dipaksakan, jadinya malah terasa receh. Jika bisa menyimpulkan, film ini hanyalah respon dangkal mengenai jusktaposisi fenomena LDR dan kebelet nikah yang kian marak. Selebihnya tidak ada.

Rachmat Hidayat Mustamin

Penyair dan film maker

14 comments

  • Excellent post. I used to be checking constantly this weblog and I am
    impressed! Extremely useful info particularly the
    last phase 🙂 I deal with such info much. I used to be looking for this
    particular info for a very long time. Thank you and best of luck.

  • I absolutely love your blog.. Excellent colors &
    theme. Did you develop this amazing site yourself?
    Please reply back as I’m wanting to create my very
    own blog and want to learn where you got this from
    or exactly what the theme is called. Kudos!

  • Attractive section of content. I just stumbled upon your website and in accession capital to assert that I get actually enjoyed account your blog posts. Anyway I will be subscribing to your feeds and even I achievement you access consistently fast.

  • Please let me know if you’re looking for a author for your site. You have some really great articles and I feel I would be a good asset. If you ever want to take some of the load off, I’d absolutely love to write some content for your blog in exchange for a link back to mine. Please blast me an e-mail if interested. Thank you!

  • certainly like your web-site but you need to test the spelling on several of your posts. A number of them are rife with spelling issues and I in finding it very troublesome to inform the truth on the other hand I will definitely come again again.

  • Hey there! Someone in my Facebook group shared this site with us so I
    came to give it a look. I’m definitely loving the information. I’m
    bookmarking and will be tweeting this to my followers! Superb
    blog and superb style and design.

  • hey there and thank you in your information – I have definitely picked up anything new from right here. I did alternatively experience some technical points the usage of this web site, as I experienced to reload the website lots of times previous to I could get it to load properly. I had been puzzling over in case your hosting is OK? Not that I am complaining, however sluggish loading instances instances will very frequently affect your placement in google and could injury your quality rating if ads and ***********|advertising|advertising|advertising and *********** with Adwords. Anyway I’m adding this RSS to my e-mail and can glance out for much more of your respective intriguing content. Make sure you update this again soon..

  • Hi, I think your site might be having browser compatibility issues.
    When I look at your website in Firefox, it looks fine but when opening in Internet Explorer, it has some overlapping.
    I just wanted to give you a quick heads up! Other then that, fantastic blog!

  • It’s a pity you don’t have a donate button! I’d without a
    doubt donate to this fantastic blog! I suppose for now i’ll settle
    for bookmarking and adding your RSS feed to my Google account.
    I look forward to fresh updates and will share this
    blog with my Facebook group. Talk soon!

  • Hmm it seems like your website ate my first comment (it was
    extremely long) so I guess I’ll just sum it up what I submitted
    and say, I’m thoroughly enjoying your blog. I too am an aspiring blog blogger but I’m still new to the whole thing.
    Do you have any points for rookie blog writers? I’d definitely appreciate
    it.

  • Do you have a spam issue on this site; I also am a blogger, and I was curious about your situation; we have created some nice methods and we are looking to exchange solutions with others, be sure to shoot me an email if interested.

Tentang Penulis

Rachmat Hidayat Mustamin

Penyair dan film maker

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.