Locita

Ustaz itu Seorang To Balo

Aumber Foto: anneahira.com

KEHADIRANKU di dunia terancam. Aku harus dibunuh atau dibuang ke hutan menjadi hidangan binatang buas. Jika tidak, bencana akan menerpa keluargaku.

Batas waktu sudah berlaku esok. Bapak kian gusar. Bapak harus cepat memilih. Namun, waktu yang kunanti-nanti belum membuat Bapak memberi keputusan bulat mengenai nasibku. Hari ini, aku sendiri yang putuskan. Aku ingin hidup.

Sebenarnya hanya pamit mandi ke sumur belakang rumah, tapi aku meninggalkan gubuk. Sepasang kakiku berlari menjauhi pegunungan Bulu Pao.

Hanya satu tujuanku, menemui Pak Suardi, pelanggan Bapak yang ternyata memiliki hubungan erat dengan pendiri dan pemilik Pondok Pesantren Mangkoso di Barru ini. Tempatku disapa ustaz.

***

Cerita ini mengharu biru dalam hidupku. Aku ingin berterus terang kepada kalian,siapa aku sebenarnya. Namun, aku cemas air mataku jatuh berlinang. Semoga saja tidak,sebab aku sudah janji pada diriku sendiri untuk tidak menangis.

Hari ini, aku akan memberitahu sesuatu yang mengambang mengenai asalku. Kalian boleh memotong pembicaraanku untuk mengingatkan jika ceritanya sudah getir, agar aku tidak sampai menangis.

Aku tiba di tempat ini, karena keberanian yang tidak kusesali, begitu awalnya.Belakangan, ada rasa bersalah hinggap merapuhkanku jika terpikirkan kembali. Hanya satu keinginanku, aku ingin hidup.

Aku tak tahu, apakah aku yang meninggalkan atau semua ini sudah garis tangan memunggungi keluarga yang tinggal di sebuah gubuk di pedalaman Pujananting, desa terpencil di pegunungan Bulu Pao.Di sanalah, kehidupan manusia belang yang dikenal sebagai to balo hidup menepi.

Dikatakan to balo, karena kaki, tangan, dan badan melekat bercak putih seperti yang tampak pada kulitku. Berbeda dengan kulit kalian yang tanpa bercak aneh. Paling tampak yang mudah kalian lihat ada di tengah dahiku ini.

Bercak putih yang menyerupai bentuk segitiga. Kalian mungkin menduga selama ini, bahwa aku lolos dari bencana alam atau sempat terkena luka bakar.

Jika kalian menduga hal itu, tentu keliru. Sebagai to balo, sejak kecil aku sudah diterpa cobaan. Seorang anak yang biasa melihatku berjalan bersama Bapaknya tidak pernah berbisik mengenai kulitku yang belang. Padahal aku juga manusia bukan setan.

Anak itu sebaya denganku, selalu mengataiku seperti setan. Hari itu, ia mengenakan baju sekolah diantar oleh Bapaknya. Aku dan Bapakku menuju pulang ke rumah setelah mendatangi pasar Kamboti.

Aku berlari kencang memasuki hutan setelah mendengar makian anak itu yang menyesakkan dada. Lalu tiba di sebuah pohon tua dan memeluknya.

Tangisku pecah. Aku berteriak sekencang-kencangnya memanggil Ibuku, mengulang-ulang teriakan, berharap Ibuku mendengarnya dari gubuk.

Namun, aku tak sadar jarak rumahku masih jauh ke dalam hutan. Seminggu sekali aku pasti ikut sama Bapak ke pasar dan kerap bertemu anak itu. Aku selalu dinasihati Bapak untuk tidak gampang sedih mendengar makian.

Kata Bapak, aku harus tabah. Begitulah, aku dan Bapak butuh waktu sejam lebih bertelanjang kaki menempuh perjalanan untuk membawa pisang, ubi, jagung, atau kacang tanah ke pasar. Yang selalu ada, gula merah, ini yang diminta oleh pelanggan Bapak untuk terus diperadakan karena jika dijual kembali selalu laku.

Langganan Bapak itulah yang membuatku mengabdi di tempat ini, tentu atas izin Tuhan. Entah, apakah aku memang mendapat izin lisan yang tak pernah diputuskan oleh Bapak?

Dari pengalamanku bersama Bapak, aku merasakan kerja kerasnya tiada duanya. Kalian patut mengetahui harapanku ke depan. Kalian mesti berjanji dalam dirimasing-masing untuk taat menjalani yang benar-benar lurus.

Menghargai perbedaan pendapat, terlebih perbedaan kulit, maupun menghargai agama lain. Mari kita tunduk, bermunajat, berharap pertemuan hari ini berkah.

***

Jika tak di Pondok Pesantren Mangkoso ini, aku tak akan jadi manusia. Aku yakin itu. Dipertemukan dengan seorang anreguru, maha guru bagi orang Bugis. Begitulah Kyai Tajuddin terbuka menerimaku untuk menjadikannya anreguru.

Diberikan tempat berteduh dan makan sesuatu yang sudah sangat kusyukuri. Juga bisa membaca dan menulis karena dididik di pesantren ini. Semua itu kuperoleh cuma-cuma.

Hingga, yang paling tak kuduga dipercaya Kyai Tajuddin mendampingi anak semata wayangnya. Bahagia tak terkira kualami selama jadi santri dan sekarang menjadi guru bagi santri.

Tak tahan mendengar desas-desus dan cerita miring tentang Sabri mengenai kulit kaki dan tangannya yang semakin jelas bercak putihnya. Kekecewaan harus kutanggung. Farida, istriku mulai mengeluhkan Sabri, anak lelakiku yang sudah berusia tujuh tahun.

Sabri mewarisi kondisi fisikku sebagai manusia belang. Mula-mula Farida berterima dengan nasib yang mendera Sabri. Semakin tumbuh besarnya Sabri dalam pergaulan, keluhan Farida bertambah seolah sulit untuk ditahan.

Aku dijadikan tempat kekesalannya. Bahkan luapan amarahnya kadang terasa sesak. Kutanggung dengan dada bergetar. Hari demi hari, Farida makin keras memberontak kepadaku.

Amarahku sempat terpancing, tetapi aku selalu berusaha sesegera mungkin mengendalikan diri. Wajah Kyai Tajuddin selalu terpampang nyata di hadapanku, tak tertandingi pemberiannya selama ini, walau mungkin aku menyerahkan bongkahan emas kepadanya.

Kyai Tajuddin sudah menganggapku seperti anak sendiri, karena paling mampu menjaga Farida. Sejak Farida remaja, kulihat lelaki bergantian mendatangi Kyai Tajuddin untuk meminta restu menikahi anaknya.

Namun, akulah yang pada akhirnya dipilih. Tak mungkin aku membalas sikap keras Farida hanya karena Sabri mewarisi fisikku. Aku ingat perjuanganku di sini, saat susah hingga mendapat kemudahan. Farida tak mungkin marah jika ada hal yang dirasakannya tak menyimpang dari pikirannya.

Semua ini bukan permintaanku melihat anak yang terlahir mesti berkulit belang. Kiranya, tetap ada jejak warisan to balo yang bertahan, itu tidak sama sekali kuminta-minta.Di hadapan Kyai Tajuddin, semuanya seperti baik-baik saja.

Tak hanya di meja makanku berupaya baik-baik dengan memberi perhatian kepada Farida. Jika tak ada Kiai Tajuddinpun aku selalu membujuknya untuk bersikap tenang dan sabar.

Farida tetap menolak mentah-mentah apa yang kuucapkan dari hati. Sudah sering kujelaskan kepadanya segala hal tentang diriku sejak kecil dan memutuskan pergi dari Bulu Pao.

Hanya kabar dan biaya penghidupan yang kubutuhkan kerap kuminta disampaikan Pak Suardi. Meski, tak pernah kuperoleh balasan yang memuaskan dari keluargaku.

Namun, aku lega bencana yang mengancam keluargaku sebagai to balo tak terjadi, mungkin keputusanku pergi dari kampung sudah tepat. Jika Kyai Tajuddin bertanya tentang kondisi pesantren dan santri di ruang tamu, aku berusaha mengajak Farida, meski pada akhirnya ia memang benar-benar menolak.

Dua hari tak seranjang dengan Farida membuat hidupku terasa asing. Terlebih sudah seminggu lebih, aku sudah mengalah dengan tidur di lantai. Tak kubiarkan Farida memberontak jika aku tetap memaksa diri tidur di sampingnya.

Farida kubiarkan di atas ranjang, sebab badan-badannya kurasa akan sakit jika tak di kasur. Kami memang sekamar, hanya karena kami tak ingin masalah ini ketahuan.

Kekecewaan Farida padaku sudah di ambang batas. Farida akan mengajakku bicara jika Kyai Tajuddin memanggil kami. Sabri tetap kuasuh dengan penuh perhatian.

Kudidik menjadi anak yang kuat sejak dini, ketika mendapat tekanan dari seseorang, ia bisa berpikir mencari jalan keluarnya. Tak baik mungkin jika kukatakan, Farida sudah ingin lepas tangan mendidik Sabri.

Tak ada lagi perhatian yang dicurahkan Farida kepada anaknya sendiri. Ia berubah karena hasutan buruk menguasai kepalanya. Ia tak percaya dengan ucapan suaminya sendiri.

Ia seolah lebih percaya orang lain yang belum tentu kebenarannya. Farida mendengar kabar, bahwa jika ia melahirkan anak kedua dan selanjutnya dari diriku, pasti akan dikutuk berkulit belang lagi.

Karena itu, Farida meminta diceraikan, sedang aku tak siap menunaikan pintanya karena akumencintainya.

***

Kalian ingin kuberitahu, bahwa keluargaku percaya Dewa. Kini, abdiku kepada Tuhan akan kujaga sampai kematian menjemputku. Dewa yang membuat kulit belang itu dianggap karunia oleh keluargaku.

Sama sekali bukan kutukan seperti banyak cerita. Malah, kami sempat menjadi pelindung saat kerajaan Bugis masih jaya di masa lalu. Anggapan manusia belang memiliki kesaktian itu juga kurang dibenarkan.

Jiwa pemberani kami yang sungguh kuat. Hanya bisa sembilan anggota keluarga. Jika lebih, maka ia harus mati. Aku anak bungsu. Sejak diberitahu segalanya oleh Bapak.

Ketabahan itu tiba-tiba datang. Pilihannya, aku harus meninggalkan hutan jika ingin hidup. Aku berlari sendirian melewati pepohonan dan tak menghiraukan suara-suara alam.

Mencari pelanggan Bapak yang bernama Pak Suardi sampai akhirnya aku bertemu dengannya. Kuceritakan mengenai alasanku meninggalkan Bulu Pao.

Aku ingin hidup. Lalu, kuutarakan segala yang menimpaku dan niatku untuk sekolah. Aku selalu teringat dengan seorang anak yang mengenakan seragam sekolah, setiap melihatku mengataiku seperti setan.

Ya, aku tak menyangka Pak Suardi akan membawaku ke Pondok Pesantren Mangkoso ini. Dulu, banyak santri iri padaku, karena aku menimba ilmu tanpa mengeluarkan biaya.

Aku sadar, maka dari itu aku selalu berusaha menunjukkan gagasanku, bahwa aku layak dipertahankan berada di tempat ini. Meski, nasib dikatai miskin kerap kuperoleh dari teman-temanku.

Kupikir, di Pondok Pesantren Mangkoso ini belajar nilai moral, perilaku berperikemanusiaan itu akan semakin baik. Aku salah. Malah, ungkapan seperti anak setan, juga bertubi-tubi menghunjamku.

Telingaku tak bisa pekak, malah ingin bengkak karena dihujat. Hingga pelajaran berakhir tak satu pun santri memberi pandangan mengenai kisahku.

Aku tak bisa memaksa para santri untuk berpendapat. Mungkin saja mereka masih ingin menyimpan rapat-rapat pertanyaannya.

Atau adakah yang salah dari kisahku yang mungkin dianggap mengumbar-umbar? Sungguh, aku hanya berniat berbagi kisah, melihat diriku hari ini yang terpaksa menjauh dari keluarga.

***

Kyai Tajuddin tampaknya sudah mengetahui segalanya. Tak pernah kulihat beliau sebegitu sedihnya. Pada akhirnya, sesuatu yang dikira sudah rapat ditutupi, juga bisa terbuka sedikit demi sedikit.

Beliau mendapatkan celah masalah kebersamaanku dengan Farida. Beliau meneteskan air mata di hadapanku.

Aku berkhianat. Sudah membuat beliau kecewa. Aku tak bisa menjaga amanah menjadi pelindung yang baik bagi Farida. Belasan menit duduk di ruangan tamu ini, belum ada ungkapan yang keluar dari bibir beliau.

Hanya suara dari isaknya terdengar pecah. Dadaku seolah terbelah dua merasakan beliau sedih yang mungkin sudah jadi sesal. Aku berhadapan dengan beliau.

Farida duduk di sampingnya. Tak kuat aku menatapnya lama. Hanya sesekali mencuri pandangan yang terasa berat kuangkat wajahku. Kyai Tajuddin benar-benar larut melebur dalam masalah rumah tanggaku.

Jantungku berdebar. Aliran darahku mengalir deras. Kurasa sudah tiga puluh menit berlalu dan kini aku menahansakit di kepalaku yang tiba-tiba pening. Hening pembicaraan di ruang tamu.

Aku terkejut sejadi-jadinya ketika Kyai Tajuddin yang kuhormati ini bersuara. Serak. “Mengapa kau hendak menceraikan Farida Nak?” suasana benar-benar kacau.

Semakin kacau dengan pertanyaan Kyai Tajuddin yang membuat lidahku seolah patah tak bisamenjawab.

Catatan: Suku To Balo (Manusia Belang) terdapat pada pegunungan Bulu Pao yang terbentang luasmelintasi wilayah Kabupaten Barru dan Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Alfian Dippahatang

Penulis adalah penyuka wortel dan coto Makassar. Telah menerbitkan buku tunggal berjudul: Semangkuk Lidah, 2016 dan Dapur Ajaib, 2017. Twitter: @dippahatang.

Tentang Penulis

Alfian Dippahatang

Penulis adalah penyuka wortel dan coto Makassar. Telah menerbitkan buku tunggal berjudul: Semangkuk Lidah, 2016 dan Dapur Ajaib, 2017. Twitter: @dippahatang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.