Locita

Me-Reformasi Pasar, Mungkinkah? SEBUAH RESENSI "REFORMASI PASAR UNTUK KESEJAHTERAAN RAKYAT" KARYA EKA SASTRA

Didalam sistem perekonomian terdapat setidaknya empat sektor sebagai pelaku ekonomi. Rumah tangga (individu), Perusahaan (swasta), Pemerintah dan Masyarakat luar negeri. Masing – masing empat sektor tersebut bisa memainkan dua peran yakni sebagai produsen dan konsumen.

Sektor – sektor  bekerja dan dipertemukan dalam satu mekanisme yang kita kenal sebagai pasar. Semakin banyak interaksi diantara keempatnya maka dampaknya terhadap terhadap suatu bangsa semakin baik. Rumah tangga akan mendapatkan imbalan dari faktor produksi yang dimiliki seperti tanah,tenaga kerja,modal, kewirausahaan, dll.

Sebaliknya perusahaan (swasta) akan mendapatkan pendapatan dari hasil penjualan barang atau jasa yang diproduksi. Pemerintah juga demikian akan mengkonsumsi produk atau jasa baik dihasilkan dari sektor rumah tangga maupun dari perusahaan. Selain itu, Pemerintah juga memperoleh tambahan pemasukan dari barang atau jasa yang dihasilkan melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Masyarakat luar negeri tentu juga akan seperti itu, ada interaksi yang saling membutuhkan satu sama lain sehingga terjadilah ekpor dan impor. Begitulah sistem pasar bekerja.

Aktivitas ekonomi yang diselenggarakan di dalam pasar mestinya tidak hanya sebatas aktivitas persediaan kebutuhan manusia perseorangan maupun kelompok dalam jangka pendek saja. Pasar secara lebih jauh harus mampu mendorong terciptanya kesejahteraan bagi masayrakat di suatu negara dalam jangka panjang. Karena itu, pasar yang efisien dan bekeadilan merupakan sarana untuk menciptakan kesejahteraan yang lebih luas dan merata. (Pengantar dari Sri Mulyani,Menteri Keuangan RI).

Struktur Pasar

Dalam teori ekonomi dasar terdapat empat jenis struktur pasar (1) Pasar persaingan sempurna, (perfect competition), (2) Pasar persaingan monopolistik (monopolistic competition), (3) Pasar oligopoli (oligopoly) dan (4) Pasar monopoli (monopoly).

Persaingan sempurna terjadi ketika ada banyak perusahaan yang menjual produk yang homogen. Pasar persaingan monopolistik ialah pasar dimana ada banyak perusahaan yang menjual produk yang berbeda-beda, sedangkan pasar oligopoli adalah pasar dimana jumlah perusahaan sedikit dan produknya terbedakan, dan pasar monopoli ialah pasar yang hanya ada satu perusahaan menjual produk yang terbedakan.

Dari berbagai struktur pasar tersebut yang mana ideal? Jika merujuk pada definisinya, maka yang ideal adalah persaingan sempurna. Pasar persaingan sempurna, jumlah perusahaan sangat banyak dan kemampuan setiap perusahaan dianggap demikian kecilnya sehingga tidak mampu mempengaruhi pasar. Tetapi hal itu belum lengkap, masih diperlukan beberapa karakterisitik agar sebuah pasar dapat dikatakan pasar persaingan sempurna, seperti banyaknya penjual dan pembeli, produknya homogen, bebas masuk dan keluar pasar dan terjadi informasi sempurna.

Pada persaingan sempurna, penetapan jumlah output maupun harga akan bergantung pada struktur biaya masing-masing perusahaan, alhasil karena setiap perusahaan akan merasa tergantung pada semua pesaingnya, maka tidak ada satupun dari mereka yang mampu bertindak sendiri. Konsekuensi logis dari tidak adanya satu perusahaan yang bisa menetapkan harga kemudian menciptakan setiap perusahaan hanya akan menerima harga yang ditentukan pasar (price taker). Artinya perusahaan menjual produknya dengan berpatokan pada harga yang ditetapkan pasar. Sehingga yang dapat dilakukan perusahaan adalah menyesuaikan jumlah output untuk mencapai laba maksimum.

Bagaimana faktanya?         

Penulis menggambarkan betapa mudah untuk menemukan banyaknya distorsi perdagangan di Indonesia, yang dampaknya tidak hanya merusak tatanan perekonomian nasional, tetapi juga menghambat upaya pemenuhan kesejahteraan masyarakat. Dengan membandingkan harga komoditas dan jasa di pasar domestik dan pasar luar negeri, maka dengan cepat kita akan menemukan selisih harga yang cukup jauh. Harga komoditas di dalam negeri jauh lebih tinggi daripada harga internasional, terutama untuk komoditas pangan yang sangat dibutuhkan masyarakat termasuk harga energi. Realitas ini bahkan cenderung merata pada hampir semua komoditas yang diperdagangkan di Indonesia, ini fakta yang mengerikan.

Sebagai contoh, harga beras, gula, daging sapi di Indonesia dua kali lebih tinggi daripada harga internasional, termasuk pada sektor energi. Akibatnya konsumen di Indonesia harus membayar lebih mahal untuk barang yang sebenarnya dapat dikonsumsi dengan harga yang lebih rendah. Ini pertanda bahwa perekonomian domestik tidak efisien, serta adanya distorsi perdagangan di tengah iklim kompetisi global yang semakin intens, yang berdampak pada menurunnya tingkat kesejahteraan masayarakat.

Dalam sistem ekonomi terbuka seharusnya harga ditentukan secara bersama-sama oleh konsumen dan produsen (price taker) mengikuti hukum permintaan dan penawaran. Tidak ada satu pihak yang berhak untuk menentukan harga sendiri (price maker). Di sinilah letak masalah bermula, ada kekuatan segelintir pelaku pasar yang demikian besar sehingga mampu membentuk harga di pasar. Kekuatan ini dimiliki oleh sekelompok pihak tertentu yang dimungkinkan akibat penguasaan pasarnya yang sangat dominan sehingga mampu mengatur harga, abai terhadap kualitas, pelayanan dan mampu mengatur pasokan yang ujungnya adalah merugikan konsumen. Merekalah yang mendistorsi melalui penguasaan pasar yang dominan sehingga mereka mampu membetuk harga dan mengatur pasokan secara bebas. Bukankah ini sebuah kejahatan sistematis ?

Kekuatan pasar yang dominan menyebabkan struktur pasar yang tercipta adalah pasar monopoli dan oligopoli. Pihak tertentu bahkan bisa menguasai hampir 90 persen pada satu sektor usaha.  Tingkat penguasaan pasar yang tinggi menunjukkan kemampuan produsen dalam mengatur harga dan menjadi pintu masuk untuk melahirkan persekongkolan kartel di tiap komoditas. Kondisi ini makin merugikan konsumen, menghilangkan efisiensi dan mematikan pelaku usaha lain. Dalam jangka panjang kondisi ini akan semakin melemahkan perekonomian domestik dengan hilangnya efisiensi ,inovasi, dan yang lebih parah adalah semakin terjerambabnya konsumen dalam hal ini rakyat Indonesia dalam penguasaan perilaku monopolistik dan kartel.

Baca Juga: Sehari Bersama Eka Sastra, Sang Pembelajar dan Penggila Buku

Bagaimana jalan keluarnya ?   

Jalan keluar dari konsentrasi bisnis serta penguasaan pasar yang dominan tersebut adalah melakukan reformasi pasar dengan mendorong persaingan usaha yang sehat diantara pelaku usaha. Ada tiga hal yang perlu direformasi terkait dengan agenda tersebut 1) reformasi dari sisi kebijakan yang mendistorsi pasar, 2) reformasi struktur industri yang sebagian besar oligopoli agar lebih kompetitif dan 3) reformasi perilaku usaha agar dapat menerapkan prinsip persaingan usaha dalam perilaku bisnisnya.

Tujuan dari reformasi pasar ini adalah terwujudnya persaingan usaha yang sehat di Indonesia.hanya dengan persaingan usaha yang sehat akan lahir banyak pelaku usaha baru sehingga akan tercipta persaingan yang membuat semua pelaku usaha berlomba dalam memperbaiki kinerja usahanya. Para produsen akan meningkatkan kualitas barangnya, menghasilkan produk yang lebih baik, memperbaiki layanannya dan yang lebih utama, membuat harga bersaing. Dunia usaha akan semakin efisien dan inovatif dengan banyaknya pesaing yang pada akhirnya akan memperkuat struktur usaha domestik.

Konsumen tentu saja akan mendapat banyak keuntungan dengan semakin banyaknya pilihan barang dan jasa yang tersedia dengan kualitas beragam dan harga yang tejangkau.penurunan harga menjadi salah satu sisi positif sehingga kebutuhan konsumen terjangkau, daya beli meningkat dan akan ada sisa pendapatan yang dapat digunakan untuk kebutuhan lain bahkan dapat ditabung untuk mengerakkan perekonomian Indonesia. Reformasi pasar ke arah yang lebih kompetitif akan mampu mendorong kesejahteraan rakyat pada tingkat yang optimal.

Kenapa buku ini menarik ?

Oleh penulis, buku ini lahir sebagai bentuk kegelisahan dan kecemasan terhadap realitas yang ada. Sebagai anggota komisi VI DPR RI yang membidangi Perdagangan, Perindustrian , Investasi, Koperasi, UKM, BUMN dan Standarisasi Nasional sudah barang tentu realitas yang disajikan tentang tata kelola perdagangan Indonesia adalah valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Demikian juga dengan jalan keluar yang ditawarkan dalam buku ini, sebagai pelaku pembuat regulasi penulis telah mempertimbangkan berbagai aspek termasuk aspek politik sehingga gagasan gagasannya adalah gagasan yang membumi. Bukan gagasan angan-angan belaka. Buku ini mestinya menjadi referensi baik pada tingkat eksekutif maupun legislatif. Bagi kalangan akademisi buku ini dapat menjadi bahan komparasi atas teori-teori yang ada, sehingga teori dan realitas dipadukan melahirkan rekomendasi kebijakan yang berbasis akademik.

Penulis buku ini memegang prinsip “lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan” lebih baik melakukan kerja kerja kecil untuk mengubah situasi yang ada ketimbang mengutuknya terus menerus. Sebatang lilin tidak mampu menerangi kegelapan yang begitu pekat tapi setidaknya ia akan mampu memberikan pembeda antara yang gelap dan yang terang. Semoga semakin banyak lilin yang dinyalakan oleh anak negeri yang peduli untuk membangun bangsanya dan meningkatkan kesejahteraan warganya. Better Indonesia is Possible. Pesan yang dalam dari penulis.

SURIADI HARUN

Add comment

Tentang Penulis

SURIADI HARUN

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.