Locita

Karena Aku Tak Sendiri

Rutinitas pulang kampung ku kali ini terasa berbeda. Weekend yang selama ini ku isi dengan tidur seharian, tiba-tiba menjadi rusak saat Ibu menyuruhku ikut arisan keluarga. Aku benci acara ini, bagaimana tidak, aku harus duduk berjam-jam demi medengarkan ocehan para tetua dengan segala nasehat panjang yang bahkan tak ku pahami maksudnya.

Sebenarnya aku tak terlalu rugi, selain bisa menemukan banyak pilihan makanan, aku juga bisa bertemu dengan sepupu-sepupuku yang lain yang tentu saja sama tak sukanya dengan acara ini.

“Kamu harus ikut.” Perintah ibu.

Akhirnya dengan sedikit malas aku mengikuti langkah ibu keluar rumah menuju rumah neenek tertua dikeluargaku. Rumah nenek ini selalu dijadikan tempat berkumpulnya keluarga besarku karena beliau adalah orang yang bertindak sebagai pemimpin acara.

Aku sangat mengagumi Nenek Uwo, begitu aku biasa memanggilnya. Beliau adalah orang yang sedikit bicara, namun sangat bijaksana. Aku sedikit heran kenapa aku tak melihat sepupuku satupun.

“Tan, Ivo mana?” Tanyaku pada Tante Nita.

“Lha? Ngapain Ivo kesini? Kan kita mau ngomongin pertunangan kamu.”

What?” Sepertinya Aku salah dengar.

Aku mencari Ibu yang ternyata sudah berada di ruang tengah bersama keluarga yang lain. Aku nyaris tidak bisa berpikir jernih lagi.

“Ada apa? Kenapa hanya Aku yang tak tahu apa-apa?”

“Duduk sini!” Panggil Ibu. Aku hanya menurut tanpa berkata apa-apa.

“Nenek sudah dengar dari om Zalmi bahwa ada orang yang ingin meminang kamu. Dan kami sudah berdiskusi tentang hal ini. Nenek harap kamu menerimanya.”

Aku mulai celingak celinguk mencari orang yang dimaksud Nenek, antara penasaran dan berharap orang itu bukan Aku. Tapi sia-sia. Semua pandangan mengarah padaku. Aku tercekat. Tenggorokan ku tiba-tiba saja kering.

“Kenapa?” Hanya itu kalimat itu yang mampu Aku ucapkan. Kepalaku sudah mulai pusing. Bertumpuk-tumpuk pertanyaan yang ingin Ku tanyakan justru tersangkut di tenggorokanku.

“Nenek dengar dia orang baik, orang yang sholeh dan mempunyai pekerjaan tetap dengan gaji yang lumayan.”

“Dia calon menantu idaman orang kampung kita, lho.” Sambung Om Jo.

Aku tak butuh definisi tentang dia, yang aku tanyakan adalah “Kenapa Aku?Kenpa harus aku?”

Aku diam. Tapi mataku sama sekali tak bersahabat. Tes. Tes. Air mataku jatuh begitu saja.

Dengan suara terbata aku menjawab, “kenapa tidak ada yang bertanya pendapatku?”

“Kami tidak memaksa. Hanya saja kami berharap kamu menerimanya. Kamu tidak harus menikah terburu-buru. Kalian bisa kenalan dulu dan kalian akan gampang dekat karena dia orang yang sangat baik.” Aku tahu ucapan Nenek barusan bukanlah memberikan ku hak untuk memilih, tapi merupakan keputusan yang tak bisa diganggu gugat.

***

Hari yang ku takutkan datang juga. Bertemu dengan orang asing yang sama sekali tak pernah kulihat wajahnya. Aku hanya mendengar banyak cerita tentangnya dari orang-orang di sekelilingku, tetanga-tetanggaku, bahkan ibu-ibu yang belanja di warung depan rumahku. Aku berharap semoga saja dia orang baik seperti yang mereka ceritakan.

“Aku tak pernah menyetujui perjodohan ini.” Ucapku begitu Dia menyapaku dan memperkenalkan dirinya.

Dia tersenyum. “Duduklah,” sahutnya tenang.

“Untunglah,” pikirku. Sepertinya dia orang yang cukup sopan. Itu penilaian pertamaku.

Dia memulai percakapan dengan menceritakan siapa dirinya. Aku berusaha bersikap sopan. Bagaimana pun juga, Aku tak ingin keluargaku terlihat buruk di hadapan orang asing ini.

“Aku tidak mau memaksamu untuk menerima perjodohan ini. Tapi, ku rasa kita memiliki banyak kesamaan.” Ucapnya setelah mengantar ku pulang ke indekos. Aku hanya tersenyum sedikit untuk menghargainya.

***

Setelah pertemuan hari ini dia semakin sering mengunjungiku. Sejuta usaha kulakukan untuk menghindar, tapi seringkali gagal. Sebagian besar karena aku tidak pandai berbohong dan sebagian lagi karena aku kasihan melihat dia menungguku berjam-jam.

Seperti hari ini, dia mengajakku makan siang. Namun aku pura-pura sibuk di kampus seharian. Dan, akhirnya mau tidak mau ketika keluar kampus aku menerima ajakan makan malamnya.

Ketika sedang makan. Handphone-nya bergetar. Namun dia tidak menggubris dan mengaturnya ke dalam mode silent. Aku curiga.

“Kenapa tak diangkat?” Tanyaku penasaran.

“Tidak ada yang penting,” ucapnya datar.

Aku tersenyum dalam hati, tunggu saja Aku akan menemukan cela orang ini.

Tuhan sepertinya sangat mengerti aku. Tiba-tiba layar Handphone-nya kembali menyala. SMS masuk.

Kenapa tak menjawab telponku, aku merindukanmu

Aku bisa membaca SMS itu dengan sangat jelas.

Wajah tenang itu tiba-tiba saja berubah. Aku melirik, namun tak bersuara. Aku harus menang kali ini.

“Itu calon istriku. Tapi orang tuanya tidak menyukaiku.”

“oh..” Ucapku. Terima kasih, Tuhan. Doaku terkabul secepat ini.

“Aku mencintainya.”

“Dan kau datang merusak segalanya. Keluargamu memaksaku untuk menikah denganmu, seorang gadis sombong yang selalu merasa dirinya ratu yang bisa memiliki segalanya.” Sambungnya lagi.

“Selesaikan saja urusanmu. Jangan bawa-bawa keluargaku,” tandasku.

“Seandainya saja kau tidak datang. Dia tidak perlu terluka dan Aku tidak perlu menyakitinya seperti ini.” Dia menatapku dingin, tatapan yang sama sekali tak pernah ku lihat.

“Aku pulang dulu,” aku mengambil tas dan melangkah pergi. Dia marah? Aku lebih marah lagi. Dia sakit? Dia bahkan tak tahu penderitaanku. Dia seenaknya menghinaku yang bahkan tidak tahu apa-apa. Tapi aku tak akan menghabiskan energiku pada orang gila ini.

***

“Ibunya yang ingin kau jadi menantunya. Dia terus mendesak Ibu untuk segera menerima putranya jadi menantu di keluarga kita.” Ucap Ibu ketika ku tanya kenapa aku dijodohkan dengan orang yang sama sekali tidak ku kenal.

Lalu mengalir lah ceritaku pada ibu, juga semua kata kasarnya. Ibu terdiam, lalu.

“Jangan berprasangka. Mungkin dia sedang banyak pikiran.” Nasehat ibu padaku.

Aku terperangah. Bisa-bisanya Ibu berpikiran seperti itu. Aku mengamuk dan marah. Kenapa Ibu membelanya. Kenapa Ibu memihak orang munafik sepertinya? Aku kan anak Ibu!

“Itu pasti kerjaan orang yang ingin merusak kebahagian kalian. Semua orang tahu kalian pasangan yang sempurna. Dan tentu saja semua orang akan iri dan berusaha memisahkan kalian.” Ucap Nenek tenang ketika kuceritakan perlakuannya padaku Kepada Nenek.

Aku menangis. Tak lagi tersedu. Aku menangis seperti anak lima tahun saat ditinggal sendirian oleh orang tuanya atau dikurung di kamar karena tidak boleh bermain bersama teman-temannya.

Enyahlah kau dari hidupku. Perusak!!

Ku kirim juga SMS itu. Aku marah, Aku sakit. Tapi tak seorang pun mendengarkanku. Aku mengurung diri seharian di kamar. Aku akhirnya tertidur karena kelelahan menangis dari kemarin.

Aku terbangun jam 3.30 sore. Aku ingin sholat. Aku ingin mengadu ketika tak seorang pun mendengarkan ku, aku yakin Tuhan akan berpihak padaku. Aku meraihHandphone-ku dan mendapati lima belas pesan masuk. Dia. Aku sepertinya sudah bisa menebak isinya.

Aku berlari keluar kamar. Ku cari ibu, nenek dan siapapun yang bisa melihat dan membaca isi SMS ini. Nihil.

Aku berlari kerumah Nenek. Tak ku hirau kan lagi kaki telanjangku menginjak aspal yang hangat karena matahari sore.

“Lihat ini,” ucapku setengah berteriak ketika kulihat Nenek dan Om Jo sedang duduk-duduk di kursi di depan rumah Nenekku.

Om Jo membuka dan mulai membaca SMS itu.

“Jangan mau di adu domba. Seseorang bisa saja membajak Handphone-nya.” Ucap Om Jo setelah selesai membaca SMS itu.” Orang sebaik dia tidak akan pernah mengatakan hal-hal kasar seperti ini. Iya kan, Bu?” Sambungnya, Nenek mengangguk.

“Sudahlah, kau tidak perlu berpikir macam-macam. Pihak mempelai laki-laki sudah meminta Nenek untuk menentukan tanggal pernikahanmu.” Nenek begitu tenang mengatakan itu. Dia tidak tahu kalau aku seperti nyaris mati mendengar kalimatnya.

Mati? Harus kah aku mati saja?

Sepertinya itu ide bagus. Aku hanya perlu menggantung diriku, atau minum racun nyamuk. Aku juga tak perlu lagi memikirkan tentang pernikahan. Aku juga bisa menanyakan kepada Tuhan kenapa semua begitu tidak adil padaku.

Baiklah. Itu jalannya.

Aku pulang ke rumah. Rumahku masih begitu sepi. Aku melihat novel yang dipinjamkan oleh temanku tergeletak di lantai kamar. Ah, sebelum mati, aku harus mengembalikan novel ini dulu, pikirku.

Aku membuka sampulnya. Pada lembar pertama buku itu ada tulisan temanku

“Yang dihadapanmu tak akan pernah lari. Karenanya kamu hanya perlu menyonsongnya.”

Aku terkesiap. Apa yang baru saja ku pikir kan? Mati? Lalu setelah mati orang-orang akan memakamkanku, mendoakanku, dan mungkin sebagian akan mengutukku dan kemudian melupakanku

TIDAK. Aku tidak akan lari sebagai pecundang seperti itu. Aku bersumpah akan berjuang dan memenangkan pertarungan ini. Aku akan melihat akhir cerita ini, karena Aku tidak sendiri.

 

 

Weni Mayendri

Namaku standar saja, yang bikin beda cuma nama Weni dengan wajah seperti ini, hanya satu di dunia ini.
Masih cukup muda jika kita tidak membahas angka.

Tentang Penulis

Weni Mayendri

Namaku standar saja, yang bikin beda cuma nama Weni dengan wajah seperti ini, hanya satu di dunia ini.
Masih cukup muda jika kita tidak membahas angka.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.