Locita

Cerita Istana Wapres JK

Istana Wapres JK

MENYAKSIKAN Pak JK mengulang-ulang kalimat ingin beristirahat, dan menimang cucu pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, membuat hati saya ciut. Saya tersentuh, oleh perkataannya di setiap kesempatan, baik ketika dipancing oleh lawan politik, maupun ditanyai oleh wartawan. Hal itu membetot ingatan saya tentangnya.

Yah, saya selalu ingat bagaimana menjadi salah seorang pendukung Pak JK lebih dari sepuluh tahun lamanya. Saya pernah menjadi salah satu stafnya di Istana Wakil Presiden RI. Sehingga saya merasakan bagaimana gigihnya pak JK untuk membantu bangsa ini. Saya menjadi staf kala ia masih berpasangan dengan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden. Surat Keputusan (SK) saya sebagai staf ahli, untuk membantu Staf Khusus Wakil Presiden, Bapak Mohammad Alwi Hamu, sejak Oktober 2004 sampai akhir 2008.

Banyak kesan dan kisah indah saya selama berkantor di Istana Wapres, yang akan saya ceritakan pada tulisan ini. Tulisan sederhana ini mencoba mengenang kembali, sekaligus sebagai refleksi saya sendiri, tentang kepemimpinan dan inspirasi dari sosok seorang Wakil Presiden bernama Muhammad Jusuf Kalla, Saudagar dari tanah Bugis, negarawan sekaligus Juru Damai.

Saya diberi Surat Keputusan (SK) sebagai staf ahli, bukan tiba-tiba, tapi memiliki kisah, alasan, dan proses. Kisah itu bermula seperti ini.

Ketika itu awal tahun 2004 saya dan beberapa kawan memutuskan menulis sebuah buku tentang sosok inspirasi dari Makassar, Sulawesi-Selatan. Kami pun memilih menulis, dan menerbitkan buku tentang JK. Buku ini kami beri judul, “Jusuf Kalla Membangun Kesejahteraan,” diterbitkan oleh Blantika-Mizan.

Saya nekat menemui Pak JK di kediamannya pada pagi buta sebelum jam 06.00 di Jl. Brawijaya 6 Jakarta Selatan. Saya serahkan salah satu contoh buku ini sambil meminta ijin meluncurkannya, saya direstui dan dikasih memo, agar segera menemui dan konsultasi Bapak M. Alwi Hamu, Manajer Kampanye JK.

Saya bergerak cepat, menemui Bapak Alwi Hamu. Peluncurannya disepakati menjelang putaran kedua Pilpres bulan September 2004 di Gedung Dewan Pers Jl. Kebon Sirih Raya Jakarta Pusat. Peluncuran buku itu berjalan lancar dan sukses, ada sekitar 500-an tokoh-tokoh dan politisi pro SBY-JK, undangan dan aktivis hadir, Pak JK dan ibu Mufidah Jusuf Kalla juga turut serta.

Beliau dengan senyum, menjawab singkat, “apa sih artinya seorang menteri itu, saleh? Saya ini siap bantu kapan dan di mana pun pak JK.” Sejarah mencatat pak Alwi Hamu adalah salah satu staf khusus terbaik Pak JK tahun 2004-2009, saya sebagai staf ahlinya.

Kami berhasil mengatur peluncuran dan bedah buku itu, cukup meriah. Bapak M. Alwi Hamu bertindak selaku moderator, pembicaranya yakni Hidayat Nur Wahid, Hafid Abbas, dan Andi Alifian Mallarangeng. Acara ini menjadi tahap awal Pak Alwi Hamu mengenal saya sebagai salah seorang calon staf di Istana Wapres. Setelah peluncuran buku itu, hubungan saya dengan pak Alwi Hamu makin intens dan saya sering ikut acara-acara kampanye Pak JK.

Puncaknya setelah pelantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla, 20 Oktober 2004 di Gedung MPR/DPR RI, malam harinya, saya mendampingi Pak Alwi Hamu yang masuk nominasi kuat salah seorang calon menteri kabinet SBY-JK. Tapi akhirnya, namanya hilang, pak JK kemudian menelepon, meminta pak Alwi Hamu sabar, dan akan dijadikan staf khusus di Istana Wakil Presiden. Saya ikut memberi semangat dengan ucapan, “Insya Allah ada hikmanya semua itu Pak,” kata saya pelan ke Pak Alwi Hamu.

Beliau dengan senyum, menjawab singkat, “apa sih artinya seorang menteri itu, saleh? Saya ini siap bantu kapan dan di mana pun pak JK.” Sejarah mencatat pak Alwi Hamu adalah salah satu staf khusus terbaik Pak JK tahun 2004-2009, saya sebagai staf ahlinya.

***

Selama 2004-2008, saya mendampingi Pak Alwi Hamu dan menyaksikan dari dekat hubungan Pak Alwi Hamu dengan Pak JK, termasuk tamu-tamu dari berbagai kalangan, terutama bekas tim sukses SBY-JK dan beberapa kebiasan baik Pak JK sebagai seorang Wakil Presiden yang punya gaya tersendiri, beda dengan peran wapres-wapres sebelumnya, yang hanya terkesan sebagai ban serep.

Dalam beberapa kesempatan, saya mendengar pak JK membuka salah satu poin kontrak politiknya dengan Pak SBY adalah berbagi peran. Pak SBY fokus ke bidang politik, keamanan, dan luar negeri. Sementara Pak JK mendapat tugas di bidang ekonomi dan kesejateraan rakyat (kesra).

Setidaknya dua tema pekerjaan utama yang menghampiri Pak JK dan berhasil dijalankan dengan baik, di awal pemerintahannya sebagai Wakil Presiden: Tsunami Aceh, 26 Desember 2004 dan setahun kemudian, penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) perdamaian antara tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Indonesia.

Peristiwa bersejarah itu terjadi di kota Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005. GAM diwakili oleh Malik Mahmud, sementara Pemerintah Indonesia, diwakili oleh Hamid Awaluddin, dan disaksikan oleh mediator dan juru damai Marti Ahtissari.

Sejarah membuktikan pula pemerintahan SBY-JK berhasil membangun kembali provinsi Aceh dari puing-puing Tsunami dan gempa bumi terdahsyat, 9.1-9,3 skala Richter menggoncang dasar laut barat daya pulau Sumatera itu.

Program-program lain Pak JK, yang saya lihat dan sekarang menjadi tonggak kemajuan anak-anak bangsanya adalah pembangunan infrastruktur seperti bandara. Dimulai dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, sebagai percontohan, renovasi dan pelebaran tanpa harus memakai jasa konsultan dan pinjaman dana asing, luar negeri yang mahal. Bagi JK, bangsa ini bisa membangun dirinya, dananya dari kantorng sendiri dan tenaga-tenaga terampilnya sendiri.

Ada kisah menarik yang saya lihat dan catat, ketika terjadi gelombang buruh besar-besaran, 1 Mei 2006 atau 2007? Ribuan atau jutaan buruh dari berbagai organisasi atau serikat berkumpul di depan Istana Wakil Presiden Jl. Merdeka Selatan. Mereka berteriak yel-yel, dan mengajak Pak JK berdialog. Saya menyaksikan keberanian diri seorang JK, Wakil Presiden yang merasa gerah ditantang dan diajak oleh buruh berdialog.

Pak JK pun keluar dari ruangan kantornya mendekati buruh yang sudah merengsek rapat di pagar kantornya. Tapi pihak ajudan dan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) lebih sigap, mencegat karena faktor keamanan seorang Wakil Presiden. Ketika itu, saya melaporkan melalui telepon ke pak Alwi Hamu yang sedang di luar negeri, dia hanya berkata Pak JK adalah seorang pemberani, laki-laki yang punya nyali, mantan orang pergerakan.”

Pertemuan pun pagi itu pun digagas, Pak JK menyatakan siap berdialog dengan perwakilan buruh. Ia meminta utusan buruh, 10 orang masuk ke dalam Istananya yang sudah disiapkan oleh tim protokol. Pemimpin perwakilan buruh hari itu bernama M. Syukur, diajak masuk dan duduk melingkar di ruangan yang disediakan.

Mereka bergantian berbicara bebas mengemukakan tuntutannya, dengan gaya meledak-ledak dan disertai ancaman. Pak JK ketika itu didamping oleh menteri tenaga kerja, Fahmi Idris dan Sofyan Wanandi, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dengan saksama mencatat dan menjawab semua tuntutan perwakilan buruh. “Kalian ini bebas bicara, saya ini adalah pengusaha dan paham nasib buruh atau karyawan. Jika perusahaan maju, maka buruh juga harus sejahtera. Tapi jika tuntutan kalian berlebihan, itu sulit dipenuhi. Jika kalian paksakan, tidak bisa karena itu bisa bikin banyak perusahaan gulung tikar, kata Pak JK tegas.

Pertemuan hari ini ditutup dengan kesepakatan, bahwa semua tuntutan yang realitstis dicatat dan akan dibawa ke Sidang Kabinet. Pemerintah akan perhatikan tuntutan tersebut.

Bisa dibilang, pertemuan bubar dengan happy ending. Perwakilan kembali ke massanya. Mereka bubar dengan damai. Kepemimpinan Pak Jk hari itu, amat saya kagumi, sebagai mantan aktivis yang punya pengalaman berorganisasi. Ia berani mengajak perwakilan buruh bertemu, berdialog hingga berakhir damai.

 

Menikmati Pekerjaan

Sebagai staf yang bertanggung jawab ke Staf Khusus, saya menikmati pekerjaan sehari-hari saya. Saya pernah suatu hari diberi tugas membuat analisa dan beberapa laporan oleh pak Alwi Hamu. Tugas itu saya selesaikan dengan baik, dan semuanya dinilai bagus, dan dibumbuhi tanda tangan oleh Pak Alwi Hamu, kemudian diteruskan ke meja Pak JK.

Saya juga beberapa kali membuat surat dalam bahasa Inggris, perihal permohonan bantuan sosial ke pemerintah salah satu negara maju, seperti: Mobil Ambulance merek Land Cruiser warna putih dan Tempat tidur Rumah Sakit (Hospital Bed). Permohonan bantuan itu berhasil. Ratusan Mobil Ambulance dan Ribuan Hospital Bed berkualitas menengah, dibagikan ke rumah sakit-rumah sakit seluruh Indonesia, terutama ke provinsi Aceh.

Saya melihat hampir setiap hari, tamu-tamu Pak Alwi Hamu dari kalangan mantan Anggota Tim Sukses SBY-JK. Mereka datang silih berganti, terutama di hari Jumat, mengalir. Mereka membawa proposal, perihal permohonan berbagai bantuan. Sebagian besar dipenuhi. Saya melihat tamu-tamu mantan Tim Sukses itu merasa puas setelah diterima oleh Pak Alwi Hamu. Mereka tidak ngotot harus diterima oleh Pak JK, yang memang super sibuk. Jika pun harus bertemu Pak JK, mereka diminta menyiapkan diri, usai shalat jumat di Masjid Baitul Rahman, Istana Wapres.

Tradisi kumpul dan berdialog dengan pak JK di masjid setelah jumatan ini, berlangsung hampir tiap hari jumat. Mereka bertatap muka Wapres JK tanpa harus melewati prosedur yang harus antri dan ketat. Di akhir dialog jumatan itu, sebagian kolega dekat dari berbagai daerah diajak masuk ke ruangan Pak JK, makan siang bersama. Kisah ini pernah ditulis dan oleh Bapak Prof. Dr. Halide, seorang guru besar ekonomi di Universitas Hasanuddin, dimuat oleh media lokal di Makassar.

Di luar jam kantor, di malam hari, saya beberapa kali ditugaskan ikut menemani Pak Alwi Hamu makan malam bersama Pak JK dan beberapa pimpinan media massa dan wartawan, atau bertemu beberapa orang yang memang telah dijadwalkan oleh Sekretaris Pak Alwi Hamu, Andi Ety Surya di beberapa hotel. Saya sering pulang larut malam, padahal esoknya, masuk pagi karena saya absen telepon oleh Pak Alwi Hamu sebelum jam 9 pagi. Saya menikmati tugas-tugas seperti itu.

“Tapi, ini undangan yang beredar ditandatangani Alwi. Kamu pakai tanda tangan scanning?” ‘Iya pak’ jawab saya jujur. Saya memandang wajah Pak JK sedikit kecewa, saya membayangkan diri saya dimarahi.

Ada kisah menarik dan terpahat dalam hati saya. Suatu hari Pak Alwi Hamu sudah terlanjur menjadwalkan bertemu dan makan malam antara kalangan waratawan dengan Pak JK, pertemuan sekali sebulan di rumah dinas Wapres, Jl. Diponegoro, Menteng Jakarta Pusat, Jam 20.00-23.00, tetapi Pak Alwi Hamu sedang di luar negeri. Saya pun mendapat tugas untuk menghubungi staf ajudan Wapres. Karena sudah ada agenda lain dan Wapres merasa belum mendapat konfirmasi dari pak Alwi Hamu, saya dipanggil ke ruangan Pak JK dan ditanya, “Mana Alwi” kata Pak JK.

Saya jawab, “di luar negeri pak.” Tapi, ini undangan yang beredar ditandatangani Alwi. Kamu pakai tanda tangan scanning?” “Iya Pak” jawab saya jujur. Saya memandang wajah Pak JK sedikit kecewa, saya membayangkan diri saya dimarahi. Tapi tidak. Pak JK minta saya telepon kordinator medianya, Mukhlis Hasyim, tersambung. “Pak Mukhlis ini pak Wapres mau bicara.” Pak JK bicara kepada Mukhlis menyatakan agenda malam itu OK. Saya pun bergegas ke rumah dinas Wapres setelah shalat magrib dan acara itu berjalan lancar dan sukses. Pak Alwi Hamu pun bergabung sebelum bubaran.

Selama bekerja sebagai staf ahli di Istana Wapres, saya bekerja bersama tim, khususnya di lingkaran pak Alwi Hamu, ada Yusuf (pangilan akrabnya Ucu) merupakan sopir setia kami; Hamsir selaku ajudan, Andi Ety Surya merupakan sekretaris dan saya sebagai staf ahlinya. Selain itu, beberapa anggota tim pak Alwi Hamu aktif ikut seperti Pak Fiam Mustamin, Basri Cakko dan Bobby Patompo. Mereka ini aktif membantu pak Alwi Hamu, terutama di lembaga kajian, Institut Lembang Sembilan (IL-9), bekas nama tim sukses JK.

Amat Berkesan

Kesan lain yang cukup berkesan dalam benak saya adalah peristiwa di suatu malam di rumah dinas Wapres. Beberapa tokoh seperti pak Alwi Hamu, Rosihan Anwar, Wiranto dan istri, anak-mantu pak JK dan beberapa wartawan berkumpul, menonton hasil quick count (hitungan cepat) hasil pilpres di tahun 2009. Sejarah mencatat SBY-Boediono menang versi beberapa lembaga survei, 61%. Tiba-tiba pak JK tersambung telepon dengan pak SBY. Pak JK mengucapkan selamat, wartawan pun sigap merekam peristiwa itu. Bagi pak JK, kemenangan lawan harus diakui dan kekalahan dirinya diakui dengan sportif.

Pemandangan malam itu memang diwarnai suasana hening dan duka cita, kalah. Sambil makan malam bersama, Pak JK sempat meminta sekretaris pribadinya, Mba Rina mengambil dua bundelan tebal dokumen negara, laporan hasil-hasil kinerja lima tahun kebersamaan pak SBY-JK. Pak JK menunjukkan dan menjelaskan beberapa laporan kinerjanya.

Saya, di tahun 2009 sudah tidak menjadi staf ahli, staf khusus Wapres lagi. Saya sudah berdinas di PT Pupuk Kalimantan Timur, tapi masih aktif terlibat di tim sukses JK-Wiranto. Saya berhasil menerbitkan dan meluncurkan lima buku bertema: JK Membangun Bangsa, dan satu buku profil dan program kerja Pasangan Nusantara: JK-Wiranto di hotel Sahid Jakarta berkat bantuan Bapak Almarhum Mohammad Taha dkk.

Sejarah pun mencatat Pak JK setelah tidak lagi menjadi Wakil Presiden, 2009-2014, tetap aktif mengabdi di tengah padat jadwalnya, di Palang Merah Indonesia (PMI) dan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Kedua lembaga ini masih dipegang hingga hari ini. Banyak kegiatan yang telah dikerjakan oleh pak JK dan banyak manfaat yang telah dirasakan anak-anak bangsanya melalui lembaga tersebut.

Menjelang pilpres di tahun 2014, saya kembali ikut sebagai pendukung tim sukses pak JK. Saya bersama kawan mendeklarasikan nama tim sukses, Solidaritas untuk Indonesia (Solid). Beberapa saat setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan dan menetapkan kemenangan pasangan Jokowi-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2014-2019. Kami ikut berkumpul, bersyukur dengan suka cita di markas utama Tim Sukses Jokowi-JK di Jenggala Center, Kebayoran baru. Saya beruntung dapat menyaksikan pelantikan kedua Pak JK sebagai Wakil Presiden, 20 Oktober 2014 di Gedung MPR/DPR RI.

Ada kebiasan baru Pak JK setelah dilantik bersama Presiden Jokowi, yakni memilih berkantor bersebelahan pak Jokowi di Jl. Merdeka Utara, atau Jl. Veteran. Alasannya, pak JK ingin mudah berkomunikasi dan bertemu pak Jokowi. Dulu di era pak SBY, pak JK berkantor di Jl. Merdeka Selatan atau Jl. Kebon Sirih.

Bagi saya, Pak JK adalah pemimpin yang memiliki visi dan tegas pada prinsip-prinsip yang diyakini benar, tidak ada rasa takut pada kebenaran. Saya bersyukur pernah melihat dari dekat, hubungan baik pak JK dengan kolega-koleganya seperti pak Alwi Hamu. Saya selalu mengenang baik dan menilai mahal kenangan itu.

Saya merasa beruntung dapat berkenalan dengan berbagai ragam latar belakang tokoh dan kolega pak JK dan Pak Alwi Hamu, terutama tokoh-tokoh dari Sulawesi Selatan. Di beberapa kesempatan, kami dapat reuni dan berbagi kabar baik, ketika ada acara bersama, misalnya Syukuran Ulang Tahun pak JK atau pak Alwi Hamu, atau di menghadiri “open house” sepulang dari shalat Idul Fitri atau Idul Qurban.

Bagi saya, pak JK memiliki kelebihan istimewa dibanding beberapa mantan pejabat tinggi di Republik ini. Pak JK memang rela menghabiskan banyak waktu dan pikiran untuk membangun berbagai infrastruktur dari Sabang sampai Marauke, dengan tetap memasukkan daftar pembangunan kampung halamannya, Sulawesi Selatan.

Sejarah telah mencatat pembangunan kembali dan pelebaran Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, terjadi di era SBY-JK. Kini, proyek pembangunan di Sulawesi Selatan seperti Rute Kereta Api dari Makassar ke Luwu, sudah hampir selesai dan beroperasi. Jalan layang (fly over) di simpang lima Makassar, depan pintu keluar Bandara Hasanuddin telah beroperasi, pembangunan Pelabuhan Peti Kemas terbesar di Indonesia, juga sedang digalakkan. Saya kira semua proyek mega-besar ini membutuhkan perjuangan, perhatian dan kepedulian Pak JK pada bangsa dan kampung halamannya.

Selama mendamping Pak Jokowi, Pak JK tampak irit bicara di media, tapi tetap banyak kerja. Pak JK juga sudah beberapa kali menjawab pertanyaan wartawan, “apa agenda Bapak setelah 2019?” Dijawab, “mau istirahat dan menemani anakcucu,” kata Pak JK. Bagi saya, Pak JK masih akan menjadi salah satu tokoh penentu, siapa calon Wakil Presiden pendamping pak Jokowi di 2019. Siapa putra mahkota Pak JK? masih tersimpan rapat di kantong saku pak JK.

Saya memang tidak menjadi staf ahli lagi di kantor Wapres, tapi saya tetap merasa dekat dan kenalan baik sebagian orang-orang di sekitar Pak JK. Saya bahkan berhasil membuat dua acara nasional yang dihadiri oleh pak JK: Peluncuran Buku dan Syukuran 60 Tahun Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, di hotel Bidakara, Pancoran, 6 Februari 2016 dan Syukuran 73 Tahun Pak M. Alwi Hamu, 19 Agustus 2017 di hotel Putri Duyung Ancol.

Saya juga telah mendapat puluhan buku “Tentang Pak JK” koleksi Sekretaris Pribadi pak JK, Mba Rina. Semua buku itu telah saya scanning dan edit ulang, siap diterbit-ulangkan. Saya berharap dapat orang dermawan atau sponsor untuk menerbit-ulangkan buku-buku tentang Pak JK ini.

Saya berharap meluncurkan dalam bentuk acara nasional, sejenis festival yang melibatkan banyak anak bangsa yang menaruh simpati pada sosok, gaya dan pemikiran jenius dan taktis seorang putra Bugis, Saudagar Kaya dan Juru Damai bernama Jusuf Kalla. Kegiatan ini insya Allah bertema:“Sehari Bersama JK.”

 

Kebon Kacang, Kamis, 7.12.2017.

Saleh Mude

Tentang Penulis

Saleh Mude

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.