Sanggah

Meluruskan Tasawuf Modern?

Ada-ada saja, itulah yang terbersit dalam fikiran penulis ketika membaca tulisan Jamal Ke Malud di Qureta.com yang berjudul Meluruskan Tasawuf Modern. Menurut dia tasawuf modern merupakan tandingan dari tasawuf klasik. Tasawuf klasik dinilai bagi sebagian pihak sebagai penyebab kemunduran umat Islam. Pihak yang tidak sepakat dengan hal ini, menamailah tasawuf “mereka” dengan tasawuf modern.

Jamal Ke Malud lalu membahas tiga spare part manusia yaitu tubuh, akal dan hati. Menurutnya itu klasifikasi para sufi tanpa menjelaskan sufi mana yang dia maksud. Orang sudah terbiasa dalam mengoptimalkan bagian tubuhnya. Itu mudah dilakukan karena bersifat lahir. Disisi lain, orang sudah makin kurang menggunakan akalnya, sebab menurut dia banyak orang bekerja keras tanpa berkerja cerdas.

Ketika membahas hati, Jamal memprotes common sense yang mengatakan sufi hanya mementingkan bagian batin ini saja.  Mereka lari dari dunia dan hanya mementingkan akhirat saja. Padahal, sufi merupakan orang yang mengejar dunia untuk panen di akhirat nantinya. Baginya hati itu yang dimaksud kaum sufi adalah semacam software yang dinstalasi di liver.

Pada titik inilah argumen inti dari Jamal, tasawuf modern hanya mementingkan topeng belaka. Kelompok pengusungnya menjual topeng ikhlas, sabar tawadhu dan seterusnya. Ini adalah jalan pintas, karena tasawuf asalnya mekanisme untuk menginstalasi software hati tersebut.

Tasawuf yang merupakan jalan spiritual dimulai dari taubat. Seseorang harus melaksanakannya sepenuh hati untuk memulainya. Ketika menjalaninya, seseorang perlahan-perlahan akan mengalami terbukanya tirai spiritual (kasyf) yang pada gilirannya akan mencapai keimanan yang utuh. Jalan ini ditempuh  dengan panduan seseorang pembimbing yang sudah terlebih dahulu “berjalan”.

Sekarang mari kita periksa argumennya. Jamal tidak menjelaskan tasawuf modern mana yang dia maksud. Sejauh pengetahuan penulis istilah tasawuf modern, khususnya di Indonesia, populer karena serial tulisan almarhum Buya Hamka di Pedoman Masjarakat . Konten tulisan Hamka sebenarnya mengenai kebahagiaan. Namun karena rubriknya berjudul tasawuf modern, maka tulisannya lebih dikenal dengan istilah itu. Pun, setelah dibukukan juga berjudul Tasawuf Modern, sebuah buku yang sudah dicetak berulang kali hingga sekarang.

Tulisan Hamka tersebut mendapatkan sambutan cukup luas. Hamka sendiri dalam pendahuluan cetakan pertama buku menerangkan bahwa para pembacanya meminta supaya tulisan itu diteruskan. Mereka mendapatkan pencerahan mengenai Iman dan jiwa ketika membacanya. Ada pula yang menyatakan, apa yang mereka dapatkan dalam buku Hamka itu harus dipelajari dalam disiplin teosofi saja.

Jadi tasawuf modern ini tidak ada urusannya dengan klaim bahwa Islam mundur karena tasawuf. Klaim ini lahir dan memuncak karena tuduhan para orientalis kepada Imam Al Ghazali yang banyak diikuti ummat Islam ketimbang Ibnu Rusyd yang kata mereka lebih rasional dan pembawa kemajuan.

Mengenai tiga spare spart manusia itu agak unik. Sebab ini jarang ditemukan dalam pembahasan ataupun diskursus tasawuf. Biasanya para Sufi menjelaskannya dalam pembagian jasad dan ruh. Dibagian ruh inilah terdapat fakultas-fakultas yang mempunyai fungsinya masing-masing. Misalnya Naquib Al Attas menjelaskan Ruh itu mempunyai bagian-bagian sesuai fungsinya. Bernama ruh ketika dia pada fungsi asalnya. Ketika dia berfungsi mengatur tubuh manusia namanya nafs. Apabila dia mengerjakan aktivitas intelektual bernama akal. Pada saat menerima iluminasi spiritual disebutlah qalbu.

Benar bahwa sufi lebih mementingkan kualitas hatinya dalam perjalanan menuju Allah. Akan tetapi mereka tidak melupakan dunianya. Harus disini Jamal mencontohkan sufi-sufi yang juga makmur kehidupan dunianya. Misalnya ada Syekh Abu Hasan Syadzili yang terkenal kaya. Ada juga Syeikhul Akbar Ibnu Arabi yang juga tidak miskin. Contoh konkrit ini penting bahwa memang ada para sufi yang juga mempunyai harta benda yang banyak dan tuduhan bahwa sufi meninggalkan dunia berkurang.

Argumen bahwa tasawuf modern hanya menjajakan topeng seperti sabar, ikhlas dan tawadhu merupakan sesuatu yang berlebihan. Sebab banyak kita temukan semenjak awal diskursus tasawuf dimulai, begitu juga dalam prakteknya, pelajaran-pelajaran tersebut memang ada. Abu Al Qasim Al Qushayri yang lahir pada tahun 986 M malah menempatkan ketiga poin tadi sebagai maqam-maqam yang dilalui seorang sufi dalam bukunya Risalah Al Qushayriyah.

Adapun mengenai tasawuf sebagai penginstalasi softaware hati penulis sepakat. Akan tetapi ketika software hati yang dimaksud itu adalah liver menurut penulis agak keliru. Sebab software itu ditanamkan oleh pembimbing yang dikenal sebagai mursyid bukanlah ke liver. Software itu ditanamkan ke jantung sebagaimana penuturan guru tasawuf penulis. Secara akademik ini diamini oleh Naquib Al Attas bahwa yang dimaksud qalb itu bukanlah hati dalam makna liver akan tetapi adalah jantung. Disitulah titik pertemuan antara ruh dan jasad. Apabila jantung berhenti maka ruh akan meninggalkan jasad dan jasadpun akan berhenti beraktivitas.

Tasawuf modern mesti diluruskan menurut Jamal tidaklah benar. Apalagi mengadunya dengan tasawuf klasik. Pada prakteknya sanad tasawuf (dalam bentuk tarekat) masih bersambung hingga hari ini. Bagi Hamka, istilah tasawuf modern itu dimaksudkan dalam tasawuf yang sudah dimodernisasi.

Kita dapat memahami, Hamka hidup pada zaman dimana masyarakat telah hidup secara dikotomis terutama pendidikannya. Mereka terkotak akibat warisan pendidikan Belanda yang memisahkan pendidikan agama dengan pendidikan umum. Supaya khalayak umum yang tidak mewarisi khazanah Islam dapat mencerap pelajaran tasawuf, bahasanya diperhalus dan dipermudah. Oleh karena itu Hamka juga mengutip pendapat-pendapat dari para filsuf seperti Aristotoles dan Leo Tolstoy mengenai kebahagiaan lalu membandingkannya dengan dengan pendapat ulama Islam seperti Al Ghazali.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Previous post

Nikmat Indonesia Mana Lagi yang Kau Dustakan!

Next post

Pesan Tersembunyi dalam Puisi Jusuf Kalla