Sanggah

Makna Belajar: Sebuah Laku Spiritual Tanggapan tulisan Khoiruddin Bashori, "Mencari Makna Bukan Data"di Harian Media Indonesia 28 Agustus 2017

Tulisan ini secara khusus ditujukan terhadap artikel Khoiruddin Bashori, seorang psikolog dari Yogyakarta. Judulnya “Mencari Makna Bukan Data”, dimuat di Harian Media Indonesia 28 Agustus 2017.

Tulisan tersebut dimulai dengan sebuah cerita mengenai perilaku prososial seorang anak kecil saat menawarkan air zamzam kepada jamaah haji. Perilaku anak kecil itu membuat si penulis bertanya, dimana sekolahnya? Apa latar belakang yang membuat dia bisa berperilaku sebaik itu?

Pada bagian selanjutnya, Khoiruddin mengkritisi pendidikan yang masih menitiktekankan pada aspek kuantitatif, angka. Menurutnya, orientasi ini mengutamakan hasil palsu dan tidak mengindahkan proses pendidikan itu sendiri. Hal ini akan berefek pada kegagalan generasi penerus bangsa.

Dia menawarkan suatu perspektif, yakni proses pembelajaran yang kritis dan reflektif (mendalam) untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Bagi Khoiruddin, pembelajaran bersifat permukaan (surface) akan menghasilkan peserta didik yang tidak otentik dan pengekor.

Mereka hanya akan berpikir mengenai data, tidak pada makna. Sementara pembelajaran yang berorientasi deep thinking akan membuat mereka inovatif dan mempunyai nalar kritis yang bagus. Mereka tidak hanya berhenti pada data dan analisa, akan tetapi mendapatkan makna dari apa yang mereka temukan.

Akibat orientasi data, kritik pamungkas Khoiruddin,  banyak akademisi cakap namun tidak mampu menunjukkan spiritualitas yang bagus. Baginya, para intelektual tidak bisa menahan ego mereka khususnya ketika tampil beradu argumen di layar kaca. Berbeda dengan anak kecil penolong jamaah haji seperti yang disinggung diawal tadi.

Makna Dimulai dari Konsep Tentang Ilmu

Ketika masih sekolah di salah satu Madrasah Aliyah kota Payakumbuh, suatu malam saya keluar makan mi ayam. Setelah duduk dan memesan, tiba-tiba seseorang berpakaian lusuh datang lalu duduk di samping. Usianya kira-kira relatif sama dengan penulis. Hanya saja dari gerak tubuh dan tutur bahasanya, menandakan dia seorang anak yang berkebutuhan khusus.

Saat mie ayam tengah dilahap kami berdua, datang seorang tante usia 40-an. Dia mengatakan pada penulis, bahwa mi ayam telah dibayarkan “untukmu dan temanmu”.

Layaknya cerita Khoiruddin diawal, tante dalam kisah saya juga menunjukkan perilaku prososial. Bedanya, tokoh utama adalah anak kecil di Tanah Suci sedangkan pada cerita kedua adalah orang dewasa di ranah Minang. Artinya, di sini perilaku prososial masih dapat ditemukan di mana saja dan pada siapa saja.

Urusannya tidak mesti pendidikan berorientasi data atau hasil dibandingkan pendidikan berdasarkan proses. Perilaku prososial merupakan hasil keteladanan orang tua dan masyarakat yang dihabituasi dalam setiap kultur yang baik.

Adapun mengenai kritik terhadap pendidikan, menurut penulis, sebelum masuk ke berbagai pendekatan yang ditawarkan. Seorang ahli pendidikan harus mendudukkan konsep ilmu terlebih dahulu. Konsep mengenai ilmu cukup serius, berkonsekuensi terhadap para pengajar yang pada gilirannya akan mempengaruhi orang yang menuntut ilmu padanya.

Al Jurjani, sebagaimana dicatat filsuf kontemporer Naquib Al Attas, menyatakan bahwa ilmu sesungguhnya ialah datangnya makna kepada jiwa dan datangnya jiwa kepada makna. Definisi itu bersifat epistemologis karena makna dan jiwa yang saling mendatangi sama-sama bersumber dari pencipta, Allah SWT.

Al Attas kemudian melanjutkan bahwa makna berarti pengenalan terhadap tempat bagi segala sesuatu dalam seuah sistem ketika hubungan sesuatu dengan yang lainnya dalam sistem itu menjadi dapat dipahami dan terjelaskan.

Filsuf kelahiran Bogor tersebut kemudian mereformulasikan konsep ilmu sebagai pengenalan tempat yang tepat bagi segala sesuatu dalam susunan penciptaan–menghasilkan pengenalan mengenai tempat–yang tepat bagi Tuhan dalam susunan ciptaan dan eksistensi.

Dalam kacamata definisi di atas, dalam setiap aktivitas, khususnya pembelajaran, dimensi spiritual dan transendental harus dihadirkan. Sebab apapun yang dipelajari termasuk pelajar dan pengajar sendiri ada sebab adanya Tuhan.

Ini merupakan hal dasar dalam pembelajaran kalau menghendaki para pelajar yang dikemudian hari menjadi intelektual tidak kehilangan spiritualitasnya.

Saat basis pemikiran dasar di atas telah duduk dengan rapi, baru diskusi mengenai orientasi pendidikan dihadirkan. Pendidikan yang berorientasikan data dan angka tidak mungkin serta merta dihilangkan. Hal ini mesti ditempatkan secara proporsional.

Para pelajar membutuhkannya untuk mengukur sejauh mana pemahaman mereka terhadap suatu topik pelajaran. Merekapun bisa membandingkannya dengan sejawat untuk memotivasi mereka supaya lebih giat. Demikian juga halnya, ilmuwan sosial dan politik misalnya, tidak akan mungkin meninggalkan aspek ini dalam survey dan eksperimen yang mereka lakukan.

Akan halnya kreativitas dan inovasi yang diharapkan bukanlah masalah orientasi data/hasil dan orientasi proses. Ini adalah masalah metodologi pembelajaran yang dilakukan selama di kelas. Seberapa besar ruang yang diberikan bagi pelajar untuk melakukan sesuatu yang positif di luar kebiasaan.

Ruang sedemikian rupa sekarang sudah sangat terbuka lebar. Berkembangnya metode student-centered learning dan makin banyaknya media pembelajaran seiring berkembangnya teknologi sangat memungkinkan perkembangan inovasi dan kreativitas yang lebih maju lagi.

Dengan melewati proses spiritual selama belajar dan terbukanya ruang  inovatif pelajar tidak akan menjadi intelektual yang egois dikemudian hari. Segala ilmu yang mereka miliki akan dimaknai secara penuh sebagai sesuatu yang diamanahkan terhadap mereka. Pun, mereka masih memiliki kesadaran bahwa tidak hanya mereka penggenggam amanah tersebut.

Mereka akan memahami bukankah Tuhan sendiri tidak memberikan ilmunya kecuali sedikit. Oleh sebab itulah mengapa kita temukan pada zaman klasik betapa ilmuwan agung layaknya Ibnu Sina (Avicenna) seperti dalam buku legendarisnya The Canon of Medicine tetap mengawali tulisannya dengan bentuk kesyukuran kepada Allah yang Maha Esa.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

M Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Previous post

Literasi Hebat untuk Desa

Next post

Pembelaan Diri Seorang Hakim Terhormat