Sanggah

KESALEHAN DAN ANTI KORUPSI BERHUBUNGAN ERAT TANGGAPAN TULISAN "TIDAK ADA KORELASI ANTARA KESALEHAN DAN PERILAKU KORUPSI" OLEH REDAKSI MOJOK.CO

REDAKSI Mojok.co menerbitkan sebuah artikel dengan judul Tidak Ada Korelasi Antara Kesalehan dan Perilaku Korupsi. Sebuah judul yang cukup provokatif dan menyengat para ikhwan dan akhwat fillah yang rajin membaca Al Ma’surat pada pagi dan petang.

Termasuk Muslim ahli thariqah yang menunggu kesempatan bersuluk karena akan menghabiskan waktu tiga sampai empat puluh hari. Juga menyentrum para pembaca setia ratib, doa kumail dan ziarah untuk para aulia.

Setelah dibaca dengan rinci, tulisan itu diawali dengan sebuah asumsi bahwa penguatan nilai agama efektif untuk mengurangi tingkat korupsi. Asumsi ini berkonsekuensi memilih orang agamis dalam percaturan politik supaya korupsi menurun.

Anggapan ini kemudian diadu dengan temuan hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) bahwa kesalehan masyarakat bukanlah faktor yang menentukan perilaku korupsi.

Inti temuan itu, religiusitas hanya berpengaruh terhadap sikap anti korupsi bukan pada perilakunya. Redaksi kemudian mengkonfirmasi hasil survei LSI tersebut dengan data International Transparency.

Sebuah Lembaga yang mengeluarkan temuan bahwa negara yang bagus indeks persepsi korupsinya adalah negara yang tidak mengusung agama sebagai mainstream kehidupan bernegaranya.

Redaksi Mojok.co menyayangkan bagaimana Indonesia yang penduduknya saleh pernah menjadi salah satu negara terkorup. Situasi ini dijustifikasi lagi dengan fakta kasus korupsi Al Qur’an dan kasus proyek Tugu Anti Korupsi.

Pertama saya mendapatkan kesan bahwa ada tendensi Mojok.co menerima begitu saja hasil riset LSI ini. Sebab tidak ada diskusi yang menampilkan pendapat yang berseberangan dengan temuan itu. Malahan diperkuat dengan temuan lembaga internasional. Padahal MUI dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) melalui pimpinannya telah membantah hal ini.

Sebagaimana dimuat di Indopos, Wakil Ketua Umum MUI mengkritik hasil survei itu dengan menyatakan bahwa situasi lemahnya keilmuan seseorang lah yang menyebabkan paradoks tersebut dapat terjadi.

Di pihak lain ICMI juga menyanggah bahwa hal ini jangan dikaitkan dengan agama mayoritas di Indonesia tapi di negara lain yang mayoritasnya bukan Muslim juga banyak.

Terkait hal ini Mojok.co tidak menerangkan responden dalam surveinya itu siapa. Sebab isu ini sensitif sekali. Katadata mengungkapkan bahwa respondennya sepenuhnya Muslim sebanyak 1.371 orang.

Di sini mestinya muncul diskusi, apa alasan LSI tidak memasukkan responden beragama lain? Tujuannya apa?

Kalau responden beragama lain dimasukkan, setidaknya bisa dilihat sejauh mana kesalehan individu seorang Muslim berbanding lurus dengan kesalehan sosialnya dikomparasikan dengan hal yang sama pada pemeluk agama di luar Islam.

Alasannya cukup mendasar, korupsi di Indonesia tidak hanya dilakukan oleh orang yang beragama Islam. Lalu, sekali lagi, mengapa hanya umat Islam yang dijadikan responden?

Kalau ditelusuri dengan lebih subtantif mestinya harus mendapatkan publikasi dari LSI sendiri. Namun, hingga saya menuliskan artikel ini tidak ada data yang dimaksud di website LSI. Poin utama yang mesti dicari adalah konsep religiusitas seperti apa yang digunakan dalam survei itu.

Kalau orang yang menggemari studi agama dan ilmu sosial, akan familiar dengan konsep religiusitas yang disusun oleh Glock dan Stark. Diterangkan oleh Barbara Holdcroft dalam tulisannya What is Religiosity? dalam jurnal Catholic Education, ada lima komponen religiusitas yang diajukan oleh Glock dan Stark. Kelima aspek itu adalah experiential, ritualistic, ideological, intellectual dan consequential.

Pertama berarti pengalaman personal keagamaan seseorang. Bagaimana dia bisa merasakan Tuhan dalam hidupnya.

Kedua, bermakna ibadah yang dilakukan sehari-hari baik sendiri maupun dalam jamaah.

Pada aspek ketiga, ada doktrin keagamaan. Di sinilah wilayah Aqidah dan Syariah dalam konteks Islam.

Keempat ada dimensi intelektual, berupa sejauh apa seseorang mempunyai pengetahuan dalam agamanya.

Kelima, ada aspek konsekuensi akibat keempat poin yang telah disebutkan tadi. Bahwa seseorang akan bahagia apabila dia religius dan juga sehat secara rohani.

Kalau kesalehan yang dimaksud itu adalah religius dalam teori di atas, maka tentu saja tidak bisa dipukul rata bahwa kesalehan tidak berhubungan dengan korupsi. Kecuali kesalehan yang diukur dalam survei tersebut hanya dalam ruang lingkup syahadat (yaitu doktrin dasar) saja. Tidak sampai menyentuh wilayah yang lain dari kelima aspek di atas.

Dalam pandangan Islam kesalehan seseorang  tidak bisa hanya dipandang ketika dia bersyahadat saja. Karena Islam telah mengatur dengan jelas bagaimana seorang Muslim mesti menjalankan kehidupannya. Di sini seorang Muslim yang belajar dia akan mengetahui bahwa korupsi atau maling itu tidak boleh dikerjakan. Ini diatur dalam disiplin yang disebut dengan ilmu fiqh.

Artinya, temuan LSI yang menyatakan bahwa kesalehan itu tidak berhubungan dengan perilaku korupsi, persoalannya bukan pada kesalehannya. Namun terletak pada belum sempurnanya kesalehan individu itu sendiri.

Dalam kacamata religiusitas, setidaknya ada dua penyebab mendasar pengetahuannya mengenai aspek hukum korupsi dalam Islam yang belum mumpuni, atau dia tidak menjalankan apa yang dia ketahui.

Jelasnya, Muslim yang saleh tidak akan korupsi. Ada postulat umum yang dipahami Muslim yakni iman, ilmu dan amal. Mengimani Allah dan Rasul-Nya, Mengilmui apa yang diimani, dan mengamalkan apa yang diilmui.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

M Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Previous post

Bom Mesir, Masjid Sufi Diserang: Radikal?

Next post

Jangan Mengejek SN