Sanggah

Kasus Yaman Tidak Populer Karena Geopolitik Tanggapan atas Tulisan Denny Siregar "Kenapa Rohingya Lebih Menarik Dari Pada Yaman" di Geotimes

Denny Siregar dalam tulisannya berujudul “Kenapa Rohingya Lebih Menarik Dari Pada Yaman” di geotimes.co.id mencoba mengurai alasan ketidakpopuleran kasus Yaman. Dia menilai, kasus Yaman tidak populer sebab tidak ada sesuatu yang menarik selain perang. Sementara kasus Rohingya dikatakan mempunyai sesuatu didalamnya.

Lebih lanjut Denny menyampaikan, media internasional berpengaruh, tidak massif memberitakan aksi militer Saudi di Yaman. Tidak mungkin media yang notabene dibawah pengaruh Amerika Serikat, Inggris dan aliansi Saudi lain akan memberitakannya. Sebab Arab Saudi, negara yang melancarkan aksi militer di Yaman, adalah sekutu mereka sendiri.

Kasus Rohingya dalam pandangan Denny mempunyai kemiripan dengan kasus Suriah. Ada urusan ekonomi dan sumber daya alam yang diperebutkan. Perebutan penguasaan ekonomi ini menurutnya lantas dibungkus dengan urusan agama. Masalah Syiah yang menguasai Suriah dan umat Islam yang tertindas di Rohingya.

Ditinjau secara lebih luas, ketidak populeran urusan Yaman bukan karena tidak ada masalah ekonomi didalamnya, melainkan adanya pertarungan geopolitik yang tengah berlangsung. Dalam pertarungan ini Saudi dan aliansinya kalah dalam merebut pengaruh di kawasan Timur Tengah tersebut. Apabila situasi ini diungkap ke publik internasional, tidak hanya akan membuat malu Arab Saudi, namun juga Amerika Serikat dan aliansinya. Amerika Serikat dikenal sebagai negara super power yang memiliki pangkalan militer di berbagai negara, termasuk Arab Saudi.

Pertanyaannya sederhana, mengapa tidak bisa menundukkan Syiah Houti yang minoritas di Yaman? Padahal Arab Saudi, Amerika beserta sekutunya memiliki kekuatan ekonomi dan militer dan mumpuni.

Pada titik inilah menariknya peranan Iran sebagai sebuah kekuatan yang tengah naik daun di kawasan timur tengah. Iran merupakan salah satu negara yang mempunyai tambang minyak di Selat Hormuz, menghebohkan dunia internasional pada bulan Maret awal tahun ini. Negara para Mullah itu sukses menggertak kapal perang canggih Amerika Serikat USS George HW Bush CVN 77 ketika mereka memasuki selat Hormuz.

Seperti dicatat oleh http://www.uscarriers.net kapal tercanggih Amerika tersebut melakukan perjalanan mengitari kawasan konflik di timur dengah. Tanggal 10 Maret 2017 kapal itu melintasi terusan Suez. Empat hari berikutnya masuk ke kawasan Babul Mandab lalu melanjutkan perjalanan ke Hormuz. Setelah bersitegang dengan Iran, USS George Bush pada April dan Mei berturut-turut berlabuh di Bahrain dan Uni Emirat Arab.

Situs yang sama juga mencatat peran kapal itu dalam menyuplai persenjataan untuk misi militer di Aghanistan dan Suriah. Namun menariknya mengapa kapal itu tidak menyuplai bantuan untuk meremukkan kelompok Syiah Houti di Yaman. Padahal armada perang mutakhir tersebut telah melintasi Babul Mandab, ceruk kecil yang berada diantara Yaman, Djibouti dan Eritrea.

Naiknya pengaruh Iran tidak lepas dari  berubahnya situasi politik dalam negeri Irak akibat invasi Amerika Serikat. Irak yang dulunya dikuasai oleh Saddam Hussein, seorang sosialis Sunni, sekarang dikuasai oleh politisi Syiah. Ketika zaman Saddam Hussein Irak dan Iran pernah terlibat perang, saat ini kedua negara tersebut memiliki hubungan yang baik. Artinya, invasi Amerika Serikat ke Irak merupakan blunder yang meruntuhkan dominasi negara adidaya itu sendiri.

Pengaruh Iran semakin kentara apabila dilihat kondisi Suriah. Iran berdiri disisi pemerintah Bashar Assad bersama dengan Rusia dan Cina. Hadirnya Amerika Serikat disana untuk mengintervensi konflik, dengan bungkus menghentikan gerakan ISIS, belum cukup efektif dalam menjalankan misinya sejauh ini.

Disisi lain pengaruh Iran membuat juga dilema Amerika Serikat. Israel, salah satu sekutu penting Amerika Serikat, sudah lama terlibat konflik dengan Suriah dalam memperebutkan Dataran Tinggi Golan yang belum selesai hingga saat ini. Asher Susser, seorang professor Middle East Studies asal Israel, mengakui situasi tersebut. Dia mengatakan dalam sebuah kuliahnya, akan sangat mudah meluluh lantakkan Israel ketika diserang dari kawasan tersebut.

Peta geopolitik ini akan semakin menarik ketika dimasukkan Hizbullah dalam perhitungan. Salah satu kelompok milisi kuat dan rapi asal Lebanon ini sudah dimasukkan kedalam daftar organisasi teroris oleh Amerika dan beberapa negara lain.

Hizbullah dikenal vokal dan serius dalam urusan Palestina. Dibawah pimpinan Syed Hasan Nasrallah, milisi ini juga gencar mempropagandakan agenda-agenda Amerika dan sekutunya yang menurut mereka mengancam umat Islam. Hizbullah, sebagai milisi Syiah, diketahui mempunyai hubungan yang kuat dengan Iran.

Dibelahan lain kawasan timur tengah, kita akan mendapati Qatar. Salah satu negara kaya ini  membuat kaget negara anggota Gulf Association Council (GCC) ketika petinggi negara itu mengajak negara GCC untuk menjalin hubungan baik dengan Iran. Akibatnya Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan tuduhan kamuflase bahwa Qatar mendukung aksi terorisme seperti ISIS. Bahrain juga mencurigai negara itu sebagai pendukung milisi Syiah yang tengah melancarkan perlawanan terhadap pemerintah dalam negerinya.

Gambaran kondisi diatas menjelaskan mengapa situasi konflik di Yaman tidak diberitakan secara luas. Pertama, kemungkinan hubungan antara kelompok Syiah Houti dengan Iran cukup kuat. Selain itu kekuatan pengaruh Amerika Serikat semakin tergerus seiring meningkatnya pengaruh Iran. Situasi ini akan semakin jelas tampak saat Saudi yang notabene sekutu Amerika Serikat, tidak mampu mengalahkan kelompok Syiah Houti.

Jika dicermati lebih jauh, potensi pengaruh Iran akan semakin meningkat dengan pemberitaan Yaman. Ketika Amerika diketahui publik mendukung Saudi dalam konflik Yaman, sementara Amerika juga sekutu Israel yang berkonflik panjang dengan Palestina, mereka akan semakin kehilangan wibawa khususnya di negara-negara mayoritas Muslim.

Hal yang sama berlaku juga untuk Saudi. Mereka akan mendapatkan citra buruk sebab berkonflik dengan sesama Muslim. Sebuah kondisi yang akan semakin teruk jika ditambah lagi dengan isu persatuan umat Islam yang juga menjadi agenda Iran ketika berdialog dengan negara Muslim.

Kalau Amerika Serikat ikut campur masalah Yaman terlalu banyak, Iran tidak akan tinggal diam. Hal ini berbahaya bagi Amerika Serikat yang sangat berkepentingan secara ekonomi di timur tengah. Teluk Persia yang pintu masuknya adalah selat Hormuz di jaga oleh armada militer Iran. Kawasan itu menjadi jalur ekspor lebih kurang 30% dari total minyak dunia.

Padahal, menurut sebuah monograf dari Rand Corporation masalah minyak menjadi prioritas tinggi Amerika Serikat untuk kestabilan ekonominya. Dan faktanya, hubungan Amerika Serikat dan Iran belum pernah membaik semenjak keberhasilan revolusi yang dipimpin Ayatullah Khomeini tahun 1979.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Previous post

Sekelompok Orang yang Amnesia

Next post

Eksotisme Pulau Muna dalam Film Jembatan Pensil