Sanggah

Guntur Romli Harus Balik Kanan Tanggapan Atas Tulisan Mohamad Guntur Romli, "Mengapa Saya Masuk Politik, Mengapa PSI?" di Qureta

Terkejut! Itu reaksi saya ketika ngopi dengan salah seorang kawan yang memakai jaket ala anak muda berlogo PSI di kawasan Ciputat.

“Mas Guntur besok mau deklarasi gabung PSI, Bang,” katanya.

“Serius?” balasku

“Beneran, Bang.”

Dalam hati saya bertanya, mengapa intelektual sekelas Mohamad Guntur Romli mau masuk ke politik praktis. Pertanyaan saya itu, dan barangkali juga pertanyaan banyak orang, kemudian dijawab oleh yang bersangkutan sendiri di Qureta.com dalam artikel berjudul “Mengapa Saya Masuk Politik, Mengapa PSI?” Tulisannya itu nangkring sebagai artikel terpopuler selama beberapa hari di website komunitas besutan Luthfi Assyaukanie tersebut.

Dalam artikel itu Guntur mengurai beberapa alasannya. Tujuannya masuk politik adalah supaya lebih berguna bagi masyarakat luas. Untuk memperkuat pernyataannya ini Guntur lalu mengutip ucapan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) dalam makna yang relatif sama. Selanjutnya, pentolan Jaringan Islam Liberal ini juga mencari hujjah ke dalam kaidah fiqih Islam dan teori politik Aristoteles.

Guntur menegaskan bahwa dia ingin mengembalikan politik pada koridornya, yaitu berjuang untuk kemaslahatan umum. Dia menolak dengan tegas politik Machiavellian yang menghalalkan segala cara. Menurutnya, politik berkenaan dengan kebijakan untuk kepentingan rakyat.

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mejadi pilihan sebab sesuai dengan jiwanya. Partai itu mengusung anti korupsi dan meneguhkan toleransi. Pendefinisian politik sebagai kebajikan oleh PSI, dianggap cocok oleh Guntur dengan konsep politiknya.

Secara personal saya memang tidak mengenalnya. Tulisannya yang tempo hari banyak dipublikasikan di Islamlib.com adalah jalan bagi saya satu-satunya untuk mengenal pemikirannya. Kala Guntur aktif menulis disana, saya masih di Madrasah Aliyah. Tulisannya dan kawan-kawannya seperti Ulil Abshar Abdalla, Abdul Moqsith Ghazali jadi bahan diskusi supaya dianggap keren.

Sebagai pilihan pribadi tentu apa yang dilakukan Guntur harus dihormati. Namun apabila dibawa ke skala yang lebih luas, tidaklah tepat. Dalam dirinya tersemat banyak pertaruhan ide brilian sekaligus mencerahkan dan kontroversial.

Misalnya betapa menariknya Guntur mendudukkan masalah Jihad secara proporsional. Katanya, jihad itu dalam perang, apabila dalam konteks berpikir menjadi ijtihad, masuk ke tasawuf jadilah mujahadah. Uraian yang sebenarnya njelimet namun oleh Guntur menjadi mudah dipahami seperti diatas dibutuhkan oleh publik.

Saya bersetuju dengan segala hujjah yang ditulis oleh Guntur dalam tulisannya. Namun apabila terucap dipanggung politik hal itu akan menjadi klise. Tengok saja, politisi mana yang mengatakan tidak berbuat untuk kepentingan rakyat?. Semuanya malahan bersepakat, dari rakyat, oleh rakyat (dengan mereka sebagai representasi tentunya) dan untuk rakyat.

Diskursus ide-ide elitis seperti liberalisme dan hermeneutika yang senantiasa digaungkan oleh Guntur tidak akan bisa lagi dilakukannya apabila masuk ke dalam partai politik. Malahan yang akan terjadi terbatasnya langkah yang akan dilakukannya. Sebab publik akan melihat dia sebagai representasi dari kelompok politik tertentu. Bukan sebagai intelektual murni lagi seperti dahulu kala. Itupun kalau diberikan panggung dan idenya diterima oleh partainya.

Masalah lainnya adalah, Guntur berkaca pada mentornya Gus Dur. Di sini  dia seolah lupa bahwa perbandingannya tidak cukup setara. Gus Dur dengan segala kemampuannya adalah seorang Kyai kharismatik, dihormati masyarakat luas dan disegani oleh para elit politik. Plus, Gus Dur adalah seorang mantan ketua PBNU beberapa periode sebelum masuk kedalam panggung politik. Karena itu, dia mempunyai jejaring yang cukup luas di seluruh Indonesia.

Sementara Guntur belum begitu dirasakan kharismanya. Orang yang mengenal sejauh pengetahuan saya hanya kaum intelektual.  Apalagi bagi kelompok islamis, yang sering dipersoalkannya sendiri, tidak akan menyambutnya dengan baik. Mereka akan berkata, Guntur adalah penyemai gagasan sekularisme, pluralisme dan liberalisme. Lebih dari cukup untuk menjadi sasaran empuk apabila telah memulai manuver politik nantinya.

Pilihannya masuk PSI lebih tidak tepat lagi. Sebab sebagai partai baru, PSI belum berpengalaman secara praktis di kancah politik nasional. PSI memang begitu membahana. Namun itu terasa oleh orang-orang yang terus mengikuti perkembangan politik dan terkoneksi dengan sosial media, khususnya anak muda. Guntur pada titik ini lupa lagi, bahwa grass root itu adanya di kampung, di desa. Pemilih yang paling banyak berada wilayah pedesaan yang hampir dipastikan tidak tahu siapa itu Guntur. Cukup banyak biaya politik yang harus dikeluarkan untuk membangun citra.

Guntur mesti belajar kepada kawan-kawannya yang sudah terlebih dahulu masuk ke panggung politik. Ulil Abshar Abdalla misalnya. Arsitek JIL ini bergabung dengan partai Demokrat.  Alih-alih tenar, namanya semakin tenggelam, nyaris tidak terdengar lagi. Di kontestasi politik pun Ulil gagal menjadi anggota legislatif.

Berikutnya ada nama Zuhairi Misrawi. Analis Politik Timur Tengah berkacamata itu nyaleg lewat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Hasilnya sama, tidak tembus Senayan.

Sekali lagi, keputusan Guntur masuk gelanggang politik praktis tidaklah tepat. Saya berharap, kalau dibolehkan, Guntur tetap pada fokusnya sebagai aktivis intelektual. Dengan begitu dia akan tetap bebas berkarya dan mendiseminasikan ide-ide briliannya, meskipun saya tidak sepakat dalam beberapa hal.

Kalaupun ingin mempengaruhi kebijakan, mainkanlah di ranah high politics. Guntur potensial untuk menjadikan dirinya begawan layaknya Buya Syafii Maarif. Sebelum terlambat, tidak ada kata untuk Guntur selain, balik kanan.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

M Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Previous post

Dunia Sudah Tidak Unik Lagi

Next post

Hantu PKI, Perenggut Keceriaan September