Locita

Halalkan Komputer: GNU/Linux Bukan Sistem Operasi Alternatif

Foto: Doni Alvarezy Ramdhani

SAAT ini sistem operasi yang bisa dijalankan pada sebuah mesin komputasi terhitung  ada empat macam. Yakni Microsoft Windows, GNU/Linux, MacOS, dan FreeBSD (Berkeley Software Distribution). Dari keempat sistem besar ini, hanya keluarga Linux dan BSD saja yang bisa digunakan secara bebas dan gratis tanpa harus merogoh kocek besar untuk sekedar membeli license yang harganya bisa sampai jutaan rupiah.

Pada awalnya, sistem operasi gratis ini adalah proyek besar Richard Stallman saat mendirikan Free Software Foundation (FSF). Tujuannya untuk mengedepankan penggunaan perangkat lunak yang bisa digunakan dengan bebas, dimodifikasi dan didistribusikan secara global maupun lokal.

Sampai hari ini beberapa Operating System (OS) gratis berbasis Linux dibawah lisensi GNU General Public License (GPL) dan  GNU Lesser General Public License (LGPL), telah muncul ribuan dan beberapa yang sangat populer seperti Debian, Fedora, Ubuntu, Linux Mint, Archlinux, OpenSUSE, OpenMandriva, Mageia, Slackware dan termasuk juga distribusi Linux asli Indonesia seperti Grombyang OS dan juga BlankOn.

Banyaknya varian dari Linux ini didasari beberapa kebutuhan. Ada yang fokus pada bidang Network Server, Desktop, Multimedia, dan ada juga yang memenuhi kebutuhan programming. Walaupun semua kebutuhan tersebut bisa ditampung oleh satu distribusi Linux saja, namun konsep Linux itu dikenal dengan Do it Yourself (DIY). Karena sebuah sistem bisa dimodifikasi seperti apapun.

Hal itu telah menjadi bagian dari tanggung jawab pengguna secara pribadi. Meskipun demikian terdapat forum bantuan yang telah siaga untuk membantu para pengguna apabila memiliki masalah pada sistem mereka. Contohnya di forum sosial media Facebook ada grup Ayo Belajar Linux (ABL) dengan ratusan master yang setiap harinya menangani berbagai macam persoalan seputar Linux.

Sebelumnya, di Indonesia pernah memiliki beberapa OS GNU/Linux buatan dalam negeri. Misalnya Zencafe yang didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan internet cafe (Warnet), namun sangat disayangkan proyek pengembangannya dihentikan. Selain itu juga ada Garuda OS (Fedora Linux Derivative) yang mengalami hal serupa dan tidak diketahui keberadaannya saat ini.

Situasi ditas membuat beberapa programmer dalam negeri terus mengembangkan distribusi Linux lainnya. Mereka yang peduli terhadap penggunaan sistem terbuka untuk masyarakat tetap bertahan dan beberapa OS pendatang baru seperti Grombyang OS dan DracOS menyusul untuk memberikan pengalaman berpetualang dalam meningkatkan experience dibanding saat menggunakan OS berbayar Windows dan MacOS.

Pada mulanya penggunaan Linux sangat sulit karena beberapa aplikasi yang biasa terdapat di OS berbayar kurang dipahami. Contohnya saja dalam hal kebutuhan pengetikan dokumen yang biasa di Microsoft Office. Pada Linux harus terbiasa dengan Libre Office dan Open Office yang secara tampilannya saja sangat jauh berbeda.  Saat ini juga banyak alternatif lain seperti Kingsoft Office WPS atau Free Office secara user experience (UX), user interface (UI)-nya sangat mudah digunakan..

Kelebihan dari Linux yang ada semenjak awalnya adalah software center yang bisa digunakan dengan mudah. Tinggal click & install untuk memasang aplikasi secara online. Tentu saja hal ini sangat memudahkan pengguna untuk bisa memilih aplikasi mana yang sesuai dengan kebutuhan dan menghapus beberapa yang tidak diperlukan.

Pada akhirnya semua tergantung dari kebutuhan dan keinginan para pengguna untuk memilah sistem operasi mana untuk komputernya. Tetapi beberapa hal penting perlu saya sampaikan bahwa saat ini GNU/Linux tidak lagi dianggap sebagai OS alternatif dari sistem berbayar lainnya. Linux sudah bisa digunakan secara default dengan berbagai macam kemudahan dan variasi tampilannya, sekaligus bisa dipilih secara bebas.

Saat ini ada tiga jenis tampilan lingkup desktop (Desktop Environment) yang banyak di gunakan yaitu, Gnome Desktop, KDE, dan XFCE4. Saya sendiri memakai Linux Fedora 27 Workstation dengan tampilan desktop Gnome yang telah dimodifikasi seperti pada gambar dibawah ini:

Foto: Doni Alvarezy Ramdhani

Dengan tidak menggunakan OS dan aplikasi berbayar (proprietary) saya telah berhemat. Karena jika mesti membayar lisensi maka silahkan saja dihitung dari mulai sistem operasi, aplikasi desain, pemutar musik, serta aplikasi perkantoran yang keseluruhan harganya bisa untuk menyicil rumah atau membeli motor keren untuk bergaya.

Saat ini menggunakan GNU/Linux sangat bermanfaat sekali. Please, jangan lagi berpikir untuk menggunakan crack-patch hanya untuk menggunakan sistem dan aplikasi berbayar. Bukan saja itu melanggar hukum, pasal 72 pada undang-undang hak cipta, namun juga crack-patch yang dibajak menyebabkan perlindungan sistem sudah tidak lagi terjamin keamanan dan daya tahannya.

Karena unsur dari patch itu sendiri bisa saja berisikan baris kode backdoor semisal virus, worm atau malware. Seseorang bisa melihat bagaimana virus menggerogoti data, mulai dari yang tidak penting sampai menghancurkan sistem operasi itu sendiri. Diperlukan tindakan scanning dari antivirus yang kompeten untuk menyingkirkan hama dari dalam sistem, mencegah yang lainnya masuk dan berjangkit.

Pertanyaannya, seberapa kuat antivirus gratisan untuk melenyapkan virus? Dan berapa harga sebuah lisensi antivirus? Karena itu pertimbangkan kembali untuk menggunakan software dan OS bajakan, karena akan lebih merepotkan jika hasil kerja lenyap dimakan virus.

Tentu saja Linux juga tidak luput dari penyerangan virus, worm dan malware, walaupun kemungkinannya kecil. Salah satu alasannya karena tidak ada ruang database besar semacam registry di Windows serta memiliki pengelolaan hak akses yang ketat, Kalaupun ada, biasanya karena beberapa faktor seperti kernel sistem yang tidak ter-update dan hak akses root (izin pengguna penuh) yang dengan ceroboh dibuka untuk penggunaan yang tidak terlalu krusial. Karena hak akses root adalah ujung tombak pertahanan sistem di Linux yang ketika dibuka dengan sembrono untuk data yang berisi virus, akan merusak ke dalam sistem.

Doni Alvarezy Ramdhani

Penggiat piranti lunak sumber terbuka (Opensource Program) GNU/LINUX

Add comment

Tentang Penulis

Doni Alvarezy Ramdhani

Penggiat piranti lunak sumber terbuka (Opensource Program) GNU/LINUX

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.