Locita

Tokoh Pencetus Pwissie-Esai Urubamba Paling Berpengaruh

MUNCUL satu sosok yang tiba-tiba mengaku sebagai tokoh sastra Urubamba, sekira lima tahun lalu. Ia mendaku sebagai penyair. Orang-orang Urubamba tidak percaya, sebab mereka tahu betul bahwa tokoh kita hanya seorang “pengoceh” bagi suku-suku nomaden di pedalaman hutan-hutan negeri itu.

Mereka juga tahu, sesekali tokoh kita pergi berburu biawak di rawa-rawa sepanjang tepi sungai Amazon. Saya mengenal tokoh kita.

Jarak desa kami cuma sepelemparan sempak di rimba utara Urubamba, tempat berdiamnya suku Machiguenga. Saya pun ikut jadi saksi ketika ia mendadak kaya karena mendapatkan timbunan emas kuno di satu lubang biawak, pada satu sore yang kelabu.

Sejak sore itulah nama tokoh kita mulai sohor sebagai dermawan. Kelihatannya, ia tak kenal pamrih. Ia senang menginisiasi dan mendanai proyek ini itu, yang mengangkat isu-isu sosial, terutama yang agaknya punya visi melambungkan namanya sebagai tokoh sastra.

Dua tahun setelah pengakuan mengagetkan itu, ia mensponsori penulisan buku “333 Tokoh Sastra Urubamba Paling Berpengaruh”. Karena tokoh kita masih terkesan dengan penampilan deklamasinya saat duduk di bangku esde, ia ingin namanya dicatat sebagai salah satu tokoh.

Begitulah riwayat singkat ia ditahbis—tepatnya. Menasbihkan diri sendiri—sebagai salah satu tokoh sastra paling berpengaruh di negeri Urubamba.

Tahun lalu seorang jendral membacakan satu pwissie tokoh kita—yang dengan lancang ia sebut bergenre pwissie-esai.

Jendral ini sudah dipecat. Media daring Timbunnews memberitakan alasan pemecatan beliau dari jabatannya sebagai panglima, salah satunya lantaran pembacaan pwissie-esai itu.

Karya itu dianggap memiliki muatan kritik terhadap pemerintahan Urubamba, di mana si jendral sendiri adalah petinggi di dalamnya. Berikut penggalan pwissie-esai tokoh kita yang dibacakan sang jendral, yang berjudul “Tapi Bukan Kami Punya”.

“…Dari ekor iguana, ia melihat kota. Dari kepala iguana, ia melihat Urubamba. Lihatlah hidup di desa. Sangat subur tanahnya. Sangat luas sawahnya. Tapi bukan kami punya. Lihat padi menguning. Menghiasi bumi sekeliling. Desa yang kaya raya. Tapi bukan kami punya. Lihatlah hidup di kota. Pasar swalayan tertata. Ramai pasarnya. Tapi bukan kami punya….”

Sudah. Sudah. Jangan diteruskan. Saya takut kau terhipnotis kata-kata bertenaga itu. Lalu kepalamu panas dingin, lalu hidungmu menyemburkan uap, seperti bison.

Kawan saya Warto Kemplung, seorang pembual terkenal dari pantai utara Jawa, (Indonesia yang agaknya masih sepupu jauh kritikus kenamaan Narudin Kemplung), turut mengomentari karya tokoh kita.

“Berikan secarik kertas dan bolpoin dan sebotol tuak kepada seekor monyet shimbillo, aku bertaruh ia akan sanggup menuliskan sesuatu yang lebih bermutu ketimbang pwissie-esai itu,” kata Warto malam tadi di satu lapo tuak, setelah tanpa henti menenggak satu jerigen penuh tuak masato.

Suara kawan itu terdengar yakin, seolah-olah sudah mencerna benar makna pwissie itu. “Gunduli rambut dan jembutku kalau tak terbukti,” semburnya, tanpa se-ons pun keraguan.

Soal genre baru pwissie ini, tokoh kita berkata bahwa ia-lah pelopornya. Ia sangat bangga akan hal itu. Pula tak sungkan ia menuang pundi-pundi emasnya bagi para sastrawan atau seniman lain yang sudi menuliskan perihal kepeloporannya, sebagai perintis genre sastra mutakhir.

Tokoh kita mengklaim, ia kini sudah sejajar dengan para resi sastra rayon Amazonia dan sekitarnya, macam García Márquez, Juan Rulfo, Roberto Bolaño, Pablo Neruda, Luis Borges dan Vargas Llosa.

Tokoh kita ini, sebagai raksasa sastra, rajin mengadakan lomba. Mulai dari lomba mencipta lagu, lomba melukis, lomba menulis, hingga lomba mengigau pwissie-esai. Ia juga bikin jurnal, bikin survei, bikin seminar, semuanya tentang pwissie-esai.

Pada tahun lalu ia menerbitkan 222 buku pwissie-esai, belum lagi yang terbit versi online. Maka dari itu, sudah sepantasnyalah tokoh kita dinominasikan meraih rekor nasional Urubamba.

Ternyata itu belum seberapa. Saat ini tokoh kita sedang menggagas kerja kebudayaan super kolosal, sebuah usaha pemberdayaan unsur lokal yang mencakup seluruh pelosok Urubamba. Melibatkan 1700 penulis, jurnalis, peneliti, pengarang, penyair, pengebir, penjilat, penipu. Hasil proyek ini akan melahirkan 340 buku baru pwissie-esai!

Saya yakin proyek ini akan menjadi rekor paling akbar dalam dunia literasi yang pernah dilakukan manusia. Dan, seluruh “ijtihad budaya” ini, telah dibayar tuntas oleh tokoh kita, sendiri.

Kau hendak ikut serta dalam proyek ini, tapi belum mengerti caranya? “Tak usah terlalu dipusingkan bagaimana cara menulis puisi,” kata penyair jalanan Saut Sitompul. Apalagi cuma sekedar pwissie-esai.

Tepat sekali, tak perlu jongkok di taman. Cukup tuliskan kata-kata di laptop, di gajet, atau di mana pun, yang kebetulan kau ingat saja. Barangkali kau pernah baca corat-coret di dinding toilet umum; kurang-lebih, seperti itu. Tambahkan sedikit diksi puitis, misalnya hujan, angin, bulan, comberan. Pastikan ada sedikit kritik, sedikit cengeng, dan jangan lupa perbanyak moral! Lalu cantumkan satu dua catatan kaki agar terkesan intelektuil dan meyakinkan. Nah! Jadilah itu barang pwissie-esai. Jadilah kau penyair. Sila kirimkan ke agen-agen tokoh kita di kota terdekat.

Emas batangan 10 gram, sekitar 5 jutaan dalam rupiah akan segera diantarkan kurir ke tempatmu. Rupanya mega proyek pwissie-esai ini tidak semata-mata diperuntukkan bagi manusia. Seorang narasumber yang layak disengat belut listrik mengatakan: “Bagi siapa saja, yang sanggup melatih mahluk apa saja (kecuali manusia) mengucap ‘pwissie-esai’, tokoh kita juga akan menawarkan hadiah setimpal.” Timbunnews kembali mengabarkan.

Sudah ratusan orang Urubamba masuk rumah sakit, sebagian besar kehilangan bibir dan cuping hidung lantaran digigit biawak dan iguana. Saking bersemangatnya mengajari kawanan hewan berbicara, puluhan dinyatakan tewas digulung anaconda, dipiting kalajengking, dan ditempeleng ekor buaya hitam. Konon satu anak muda, yang baru ditumbuhi bulu aneh di selangkangannya, tidak bisa disembuhkan dan terpaksa dikirim ke rumah sakit jiwa lantaran kerasukan roh seekor beo; setiap pertanyaan cuma ia jawab: “pwissie-esai, pwissie-esai, pwissie-esai.” Kasihan sekali.

Masyarakat Urubamba, yang sebagian besar miskin harta dan miskin dalam tingkat keterbacaan itu, telah dieksploitasi habis-habisan oleh tokoh kita, persis kelakuan para pembabat hutan-hutan Amazonia maupun Indonesia. Padahal dahulu ia seringkali mengkritik manusia-manusia rakus itu saat masih jadi “pengoceh”: seorang yang dihormati di Urubamba, yang menjalani laku hidup sederhana sebagai “pembual orisinal”, dengan visi kecil di sekitarnya, yakni merawat kearifan leluhur sekaligus merekatkan hubungan antar individu dan antar komunitas suku asli pedalaman.

Kini ia telah berubah total. Apa pun ia lakukan demi makin melegitimasi statusnya sebagai tokoh paling berpengaruh. Tentu, dengan gelontoran hartanya. Saya belum pernah mendengar ada manusia seambisius tokoh kita ini di Urubamba maupun di negeri-negeri tetangga.

Saya yakin, ia bahkan akan rela menyembah rombongan piranha jika hal itu memang mampu mendatangkan ketenaran. Demikianlah kiranya yang sudah saya tahu tentang tokoh kita, tentang manipulator maha besar dengan ambisi maha keji di kepala dan sekitarnya. Ia membawa debar syahwat yang asing, ganjil, dan mengerikan pada batang tubuhnya, demi dan untuk menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah kesusastraan Urubamba.

Sebetulnya saya ingin menuliskan catatan kaki di sini dengan mencantumkan nama, salah satunya, Mario Vargas Llosa dan bukunya “Sang Pengoceh” (terbitan Oak 2016, terjemahan Ronny Agustinus) pada tulisan ini, agar terkesan intelektuil dan memiliki sedikit visi. Tapi niat itu saya urungkan. Saya tak rela tulisan ini cuma dianggap sekadar pwissie-esai yang penuh tipu cedera dan banyak moral.

John Ferry Sihotang

Geolog partikelir, Penikmat Sastra, dan Pemburu Biawak.

1 comment

  • Kritikan halus tapi memberikan wawasan luas atas persoalan sastra Indonesia yang akan (Untuk mengatakan kepastian) hancur di tahun-tahun yang akan datang. Ketika sastra dibangun di atas semangat kapitalisme (menggelontorkan modal material dalam jumlah besar), saat itu juga dia kehilangan ruhnya…

    Seorang sastrawan lahir dari pengalaman-pengalaman terpinggirkan dalam jalan-jalan sepinya, bukan dari arogansi berdasarkan kekayaan material dengan menghasut banyak orang demi sebuah pengakuan..

    membiarkan “Tokoh kita” melanggengkan rencana berarti membiarkan Sastra Indonesia menuju Kehancuran.

    Maafkan kami, Opa Pram.

Tentang Penulis

John Ferry Sihotang

Geolog partikelir, Penikmat Sastra, dan Pemburu Biawak.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.