FeaturedRagam

Saut-Sautan Pro-Kontra Puisi Esai

KITA mengenal Saut Situmorang dan Narudin Pituin sebagai dua tokoh penolak dan pembela angkatan puisi esai yang dinahkodai oleh Denny JA. Saling serang di sosial media utamanya di facebook berakhir pemblokiran yang dilakukan oleh Narudin.  Polemik puisi esai ini terus bergulir bahkan ke pihak berwajib, petisi penolakan bermunculan dan saut-sautan di jagat maya dan non-maya terus memanas.

Lalu, bagaimana jika kedua tokoh ini berada dalam meja yang sama?

***

Sekeren-kerennya diskusi sastra jelas pengunjungnya tidak akan seramai diskusi menjadi pelatih kucing atau konser musik. Sekiranya itulah yang bisa saya buktikan setelah setengah tahun tinggal di Ibu Kota dan wara-wiri di beberapa acara sastra. Ternyata hal itu tidak hanya berlaku di Jakarta, kota lainnya tidak kalah sepi loh.

Jum’at, 16 Februari 2018 akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti diskusi sastra lagi. “Aku nggak percaya deh Ais, Narudin akan datang. Bagaimana mungkin Narudin mau satu forum dengan Saut. Mereka kan musuhan banget,” kata teman sejurusan saya di kampus.

Bermodalkan pikiran positif, saya menembus kemalasan, berdesakan di gerbong Kereta Api Lewat (KRL), Jakarta, mengambil tujuan Stasiun Manggarai. Saut Situmorang, Naruddin Pituin, Kamerad Kanjeng, dan Eka Tunas akan menjadi pemantik dalam diskusi sastra “Angkatan Puisi Esai, Pro vs Kontra”.

Anggap saja ini sebagai usaha menyelesaikan kekesalan saya, Ya Tuhan seperti apakah wujud dari puisi esai itu. Mengapa perihalnya terus-menerus diperdebatkan hingga sekarang ini. Sebelum pukul 16.00, saya telah sampai di tempat kegiatan. Berlokasi di Jalan Guntur, sekitar daerah Manggarai tepatnya di Yayasan Budaya Guntur, Jakarta Selatan.

Keempat kursi pemantik masih kosong, tapi meja registrasi sudah mendapatkan antrian panjang. “Wah! Keren acara sastra bisa seramai ini, bahkan sebelum diskusinya berlangsung,” batinku. Setelah registrasi, saya mengambil tempat di baris kedua. Sengaja mengambil kursi di depan agar bisa fokus mendengarkan. Meskipun saya juga pengen khawatir, “gimana yah, kalau Narudin dan Saut lempar-lemparan kursi nanti.”

Beberapa menit kemudian, Saut telah datang dengan gaya khasnya (baju kaos berwarna putih dan celana pendek). Moderator membuka acara, pemantik dipersilahkan bergabung. Saut Situmorang, Eko Tunas, dan Kamerad Kanjeng maju ke kursi panel. Sayangnya, Narudin belum terlihat saat acara telah dimulai.

Kamerad Kanjeng dipersilahkan menjadi pemantik pertama. Dirinya adalah salah satu orang yang terlibat dalam “34 buku puisi esai di 34 provinsi”. Meski demukian, ia menolak jika puisi esai di Indonesia dicetuskan oleh Denny JA. Penyair Simon HT pada tahun 1983 telah membuat puisi esai sementara Denny JA baru saja memperkenalkan puisi esai pada Januari 2014. Sehingga klaim pencetus puisi esai yang diberikan kepada Denny JA adalah sebuah kesalahan.

“Puisi esai itukan sebenarnya gabungan dari puisi dan esai. Puisi ada unsur estetika dan esai itu menggambarkan realitas sosial. Puisi yang seperti itu telah lama ditulis,” kata Kamerad Kanjeng.

Saat kegiatan berlangsung, Simon HT juga hadir di tempat kegiatan. Menurut Kamerad Kanjeng setelah Simon HT menulis puisi esai, beberapa penyair juga ikut menulis bahkan berguru langsung kepada Simon HT, salah satunya Emha Ainun Nadjib.

Pemantik selanjutnya diberikan kepada Eko Tunas. Dia berdiri dengan gaya seolah ingin berorasi. Suaranya lantang dan menggema. Narudin datang dan maju ke kursi panel. Semua peserta tersenyum dan bertepuk tangan menyaksikan Saut Situmorang dan Narudin Pituin berada dalam satu panggung mendebatkan puisi esai.

Eko Tunas menjelaskan proyek buku puisi esai yang dinahkodai oleh Denny JA adalah pengadaan buku puisi yang cacat dan gagal. Menulis puisi memiliki perjalanan panjang, perlu menggauli pengalaman sosial dan alam. “Mana mungkin para penulis puisi esai Denny JA yang belum selesai dengan kebahasaannya, seni, dan filsafat ujuk-ujuknya mengklaim diri menjadi penyair atau tokoh puisi esai,” kata Eko Tunas.

Situasi semakin ramai, pengunjung terus berdatangan dari semua penjuru usia. Anak-anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Peserta yang tidak mendapatkan tempat di dalam, rela berdiri selama berjam-jam di luar pagar.

Sorak-sorai semakin bergemuruh saat Narudin dipersilahkan memaparkan makalah yang telah dipersiapkannya untuk berlaga bersama Saut Situmorang. Pemuda yang di akun facebooknya diberi profil “Sastrawan, Penerjemah, dan Kritikus Sastra” ini mengajak audiens membaca bukunya untuk mengetahui apa itu puisi esai.

Kegiatan diskusi (foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah)

Karena saya tak kunjung mengerti apa inti dari pemaparan Narudin Pituin saat itu, ditulisan ini saya akan mengutip saja statusnya di facebook hal-ihwal puisi esai yang memiliki kesamaan dengan pemaparannya sore itu. Saya sungguh sulit menangkap kata-kata Narudin, entah karena standar intelektual saya yang kerendahan atau bahasanya yang terlampau tinggi.

“Dari diskusi sebelumnya, ada 2 hal yang perlu saya sorot dari komentar-komentar. Pertama, soal “puisi esai”. “Puisi esai” ingin mengandaikan dirinya “puisi gendre baru” padahal istilah “puisi esai” itu “contradicto in terminis” (istilah rancu, karena puisi dan esai punya wilayah masing-masing). Kalau “kecanggihannya” terletak pada catatan kaki yang panjang lalu dengan mengabaikan nilai-nilai puitik (aestetis) ucapannya, tentu ini problem lebih berat karena abad ke-15 atau abad ke-16 pun di Inggris, karya-karya sastra Shakespeare menggunakan catatan kaki, dan tak membuat pembacanya lantas “lebih terpikat dengan catatan kakinya” Pengamatan saya, puisi esai selain bernilai popular, cenderung lebih bagus catatannya adalah semacam “kebaruan yang mundur” dalam perpuisian tanah air. Kalau hendak menulis artikel sosio-politik, ya menulis saja yang baik. Tapi dengan menutup mata, kita berusaha keras menghormati “puisi esai” atas sama “semoga ada nilai didaktis” (meskipun keterlanjuran ini sungguh terlanjur secara sosiologis). Masalah kedua, tetap harus dibedakan karya sastra pop (dangkal) dengan karya sastra murni (dalam) agar kita terdidik dan tambah mawas diri terhadap karya-karya yang penghayatan hidupnya dangkal dan rendah, dan tak mengindahkan fungsi estetik dan linguistic, demi kemajuan, demi kebaikan manusia (dalam arti luas) seutuhnya.”

Ada dua tulisan atau sebutlah makalah yang dibacakan Saut Situmorang sore itu. Tulisan pertama ditujukan kepada Denny Ja yang diberi judul “Angkatan Puisi Esai Pra-Bayar Denny JA”. Bagi Saut, Denny JA mengalami keawaman yang parah tentang sastra sebab menyatakan puisi esai sebagai historical fiction.

“Bagi mereka yang mengerti sastra maka secara umum sastra biasanya dibagi atas 3 genre yaitu puisi, prosa, dan drama. Fiksi (novel dan cerpen) dan esei biasanya dimasukkan dalam kategori prosa, walau tetu saja selalu ada tumpah-tindih atau gabungan dari genre di antara tersebut mulai ditulis. Saya usulkan nama yang tepat untuk angkatan baru ini adalah angkatan Puisi Esai Pra-Bayar Denny JA.”

Sementara itu, tulisan kedua yang dibacakan Saut ditujukan kepada Narudin Pituin. Tulisan itu diberi judul “Kritikus-Status-Facebook Narudin Pituin”. Baginya Narudin sekedar kritikus sastra facebook yang sangat gencar membela keberadaan puisi esai di media sosial. Keberpihakannya kepada Denny JA tidak lain memiliki maksud yang tersirat. Dugaan pemberian dana besar kepada Naruddin sebentuk kenyinyiran Saut yang tak berkesudahan sore itu.

“Seharusnya Denny JA datang sore ini,” celetuk Saut.

“Mana berani,” teriak seorang dari luar pagar dengan suara keras.

Acara terus berlangsung, semakin ramai. Padahal dalam rundown, kegiatan akan selesai sebelum maghrib. Saya akhirnya memutuskan pulang ke Depok setelah menunaikan shalat maghrib di mushollah, disaat yang sama saya bertemu Narudin yang juga sedang menggelar sajadah.

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Previous post

Mengenang Sang Guru di Hari Valentine

Next post

Hikmah Anies Dicegat Paspampres