FeaturedRagam

Menjadi Manusia dengan Sastra

SASTRA adalah tubuh, jalan panjang Ibu Kota, dan kakek tua yang membeli susu kaleng di supermarket. Sastra hadir di setiap pergerakan manusia. Begitulah semestinya kita memaknai sastra. Ruangnya tidak hanya sebatas teks fiksi, cerita pendek (cerpen), puisi, prosa, roman, dongeng, pantun, musik, novel, dan drama.

Kemarin, Minggu (11/02/2017) Sastra diperbincangkan dengan asyik di Grand Indonesia, Jakarta. Noura Publishing sebagai penyelenggara acara mengangkat tema “Menjadi Manusia dengan Sastra” . Konten acara dikemas sangat kekinian dan milenial. Para penikmat seni, sastra, atau setidaknya yang masih awam dengan keduanya selayaknya saya yang datang sore itu memenuhi salah satu ruangan pertunjukan di Grand Indonesia yang sangat dingin dan modern.

Orang-orang berdatangan, memenuhi meja registrasi, mengambil liflet kegiatan seni dan sastra oleh penyelenggara acara. Anak muda dan pelajar mengambil ruang paling besar di acara itu, kapan lagi acara seperti ini dengan tema seperti itu bisa membuat mereka tertarik untuk turut medengarkan. Tekad dari penyelenggara yang menjadikan acara sastra tidak dianggap eksklusif dan berjarak harus diapresiasi.

Petugas mengarahkan para peserta memasuki ruangan dengan menunjukan gelang yang diberikan saat registrasi sebagai tiket masuk ruangan. Di sana sudah hadir para pembicara dan tamu undangan. Seno Gumira Ajidarma dan Budi Barma yang sore itu didapuk sebagai pembicara. Acara dimulai dengan pementasan drama oleh Tim Indonesia Kaya. Pementasan mengambil cerita dari salah satu karya Budi Darma, Orang-Orang Boomington.

Pertanyaan-pertanyaan hadir seputar dunia kesusatraan, kepenulisan, dan keseharian. Tidak ada pertanyaan yang njelimet atau pertanyaan selayaknya sidang skripsi. Bahkan seorang anak usia enam tahun bertanya kepada Budi Darma seperti ini, “Nulis itu susah nggak sih?”

Budi Darma lalu menjawab, “Mozila itu ditemukaan oleh anak-anak. Kenapa, karena sekarang gizi sudah baik, ruang-ruang diskusi seperti ini sudah banyak. Lalu pertanyaannya, menulis itu susah atau tidak? Yah itu tergantung apa yang mau ditulis,” jawaban Guru Besar Universitas Negeri Surabaya itu disambut dengan gelak tawa para hadirin.

“Tetapi pada umumnya kalau kita banyak membaca buku dan mengamati kehidupan sehari-hari. Maka kesulitan itu akan diatasi. Silahkan menulis, jangan takut, lihatlah keadaan teman-teman, baca Koran lalu tulis. Maka kesulitan akan dihadapi. ”Sambungnya.

Karya lain yang dibahas dalam acara tersebut adalah karya Iwan Simatupang, dan Bondan Winarno. Violetta Simatupang (anak dari Iwan Simatupang) mengaku baru mengenal Iwan Simatupang setelah meninggal dunia. Violetta mengenal sosok sang Ayah melalui novel-novelnya. Melalui karya Ziarah misalnya. Kita bisa menziarahi sang tokoh sastra secara terus-menerus.

Di lapangan kesusastraan kita juga mengenal Bondan Winarno sebagai seorang cerpenis. Sosoknya selama ini dikenal sebagai penggiat kuliner dan pencetus kalimat “pokok e maknyuss” dalam salah satu tayangan kuliner di televisi. Tidak banyak yang tahu, Bondan adalah seorang penulis, jurnalis, bahkan seorang cerpenis. Buku antologi cepren yang sempat dibukukannya sebelum Bondan menutup usia November tahun lalu adalah, Petang Panjang di Central Park.

Seno Gumira Ajidarma mengatakan jika sastra sudah ada dalam diri setiap manusia sejak manusia itu mengenal kata. Sejak orang tuanya memberikan nama kepada anaknya. Pemberian nama itu adalah proses bersastra, sebab di dalam nama ada doa dan harapan yang diberikan oleh orangtua.

“Misalnya ada orang tua yang memberikan anaknya sebuah nama pada zaman Orde Baru yaitu “Gempur Soeharto” yah itu bentuk pemberontakan juga. Atau ada yang memberikan anaknya dengan “Presiden”, supaya tidak usah bermimpi jadi Presiden. Saya kira itu semua adalah proses bersastra.”

***

Menjadi manusia dengan sastra memantik kita untuk lekas menanggapi, apakah dengan tidak bersastra, kita tidak bisa disebut sebagai manusia. Bagaimana sastra bekerja dalam kehidupan kita bahkan menjadi pedoman untuk hidup, berproses sebagai manusia.

Budi Darma mengatakan kalau kita belum mengenal sastra kita masih bisa menjadi manusia. Tidak mungkin kita bukan manusia. Segala sesuatu yang termasuk manusia bisa mengembangkakan diri. Kalau seseorang itu mencintai sastra maka perkembangannya lebih cepat dan matang. Sebab berdasarkan penelitian dari dua tokoh besar, Rene Wellek dan Austin Warren. Setelah mereka mengamati dari sekian banyak karya sastra. Mereka menyimpulkan bahwa pengarang lebih pandai mengenali psikologi manusia dari pada psikolog itu sendiri.

Capaian manusia yang paling tinggi ada tiga. Pertama, saat Alexander Graham Bell menemukan pesawat telepon. Kedua, Discovery, Columbus menemukan pulau Amerika. Dan yang ketiga, kreativitas. Yaitu William Shakespeare mengarang cerita Romeo dan Juliet. Cerita yang sebetulnya bukan karangan William Shakespeare melainkan kisah diambil dari cerita rakyat. William Shakespeare berhasil menemukan itu dan meramunya, selayaknya Colombus yang menemukan benua Amerika.

“Berkaitan dengan harkat, martabat manusia. Penemu Mozila yang berusia sepuluh tahun, mereka memiliki kecenderungan membaca sastra, kalau kita yang lihat yang lain juga seperti Soekarno juga membaca sastra dan tokoh-tokoh lainnya juga membaca sastra,” ungkap Budi Darma.

Kita melihat sastra tidak lagi berjarak dan terkesan sulit dijangkau. Membaca buku saat ini menjadi kebiasaan, kebutuhan, bahkan life style. Anak-anak muda rajin bertemu, berdiskusi, dan membicarakan apa saja. Memiliki lebih banyak kecanggihan: Bergawai dan Berbuku.

“Sastra hari ini semakin bagus sebagai bagian yang wajar dari konstruksi budaya. Anak-anak muda ini sangat canggih-canggih. Saya sering sekali menjadi juri, saya biasa mengatakan jika karya-karya mereka membuat jurinya minder. Panjang dan banyak pengetahuannya, tidak lagi klise. Melihat hal itu, ini seharusnya sebuah perkembangan.” Seno Gumira Ajidarma.

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Previous post

Basri Sidehabi, Diplomat Bugis dari ‘Paman Sam’ ke Qatar

Next post

Wacana Islam di Indonesia yang Kurang Piknik