Ragam

Indonesia Jauh Lebih Baik dari Korea Catatan Perjalanan di Seoul, Korea Selatan

MELIHAT gemerlapnya kota Seoul, Korea Selatan mengingatkan kita banyak hal tentang kemegahan kota modern. Kota Seoul yang terbelah oleh Sungai Han dihubungkan satu sama lain oleh 13 jembatan dengan konstruksi bangunan yang kokoh dan kuat dan jika malam hari disinari temaram lampu yang terang benderang.

Bangunan, rumah dan toko tertata apik dengan warna yang tidak terlalu mencolok, di sepanjang jalan saat pagi hari hingga malam, orang-orang berlalu dengan gesit, orang-orang Korea yang konon suka cepat-cepat sepertinya begitu membekas dan membentuk karakter disiplin.

Seorang gadis bisa saja berlari sepanjang trotoar untuk tiba tepat waktu di kantor, jika terlambat 5 menit saja itu sudah memberikan efek rasa malu yang luar biasa. Orang Korea suka cepat-cepat, negeri bekas jajahan Jepang tersebut sedikit banyak mempengaruhi generasi masyarakat Korea, Konon di Masa penjajahan Jepang, orang-orang Korea kerap diberi waktu 5 detik untuk berlari mencapai batas tujuan tertentu, dan jika gagal maka peluru dapat saja merenggut nyawanya.

Korea adalah tanah yang juga diuji oleh pilihan dua paham ideologi yang bertolak belakang. Korea selatan dengan trend ideologi negara dunia pada umumnya, dan Korea Utara dengan komunisme. Korea Selatan dengan kemajuan teknologi, dan Korea Utara dengan anti teknologi.

Di tanah yang dihuni kurang lebih 45 juta Jiwa, Korea Selatan bergerak melampui kemajuan banyak negara di dunia, termasuk Indonesia. Korea Selatan merdeka dari penjajahan Jepang tanggal 15 Agustus 1945 dan Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945.

Pembangunan infrastruktur pelayanan publik yang menghubungkan kota dan desa-desa sepertinya dibangun berdasarkan itikad kesetaraan, sebagaiamana konsep cita-cita luhur negara demokrasi di mana pun. Korea yang 40 persen pegunungan tidak membuat surut pemerintah untuk membuat akses transportasi cepat dan aman. Jalan-jalan Tol dengan desain terowongan modern membentang sepanjang bukit dan pengunungan yang menghubungkan banyak tempat.

Terowongan dengan konstruksi beton yang tebal, bersih dan dipenuhi temaram lampu yang membuncah memberikan kesan mewah sekaligus penunjuk arah dalam gelap gulita. Tol yang yang menjulang tinggi, sesekali masuk terowongan di bawah gunung, di atas sungai serta menyilang diaantara beberapa flyover mempertegas bahwa korea selatan tidak setengah hati membangung kota dan desa-desanya.

Kota dan desa di negeri ginseng itu memberikan kesan keindahan yang berpadu secara harmonis. Kita dapat menyaksikan keindahan sawah-sawah yang dipenuhi bulir-bulir padi yang menguning, juga sungai-sungai yang dialiri air jernih dari ceruk dan lembah-lembah diantara dua gunung.

Sementara pada beberapa titik kita melihat perkebunan tanaman ginseng yang ditutup dengan penutup semacam terpal berwarna hitam. Desa-desa dengan segala potensi pertanian, perkebunan dan pertanian dikelolah secara modern.

***

SORE itu, tepatnya di Kota Seoul. Ketika mendatangi pusat perbelanjaan dan kuliner. waktu berdetak dengan ayunan musik yang berasal dari toko-toko butik, hotel dan deru cakap pembicaraan para wisatawan dan penjual berbagai jenis kuliner traditional. Beberapa mobil mewah berjalan pelan menerobos kerumunan para pengunjung, pohon-pohon nan hijau yang tertata rapi di pinggiran trotoar sepertinya memberi peran penting dalam mereproduksi udara segar yang Dihirup oleh warga kota

Seperti kota yang haus akan modernitas, beberapa gadis berpapasan dengan pengunjung lain dengan wajah sebagian tertutup oleh masker penutup wajah nampak beberapa diantaranya keluar dari sebuah gedung dengan tulisan “Plastic Surgery”. Kota ini tetap saja terkenal dengan kemajuannya sekaligus kegilaan dan absurditas operasi plastik, sebagian diantara manusia ingin mengubah penampilan dirinya, dan kota ini siap menjemput impian mereka.

***

DI KURSI 14 A Singapura Airlines, saya menatap langit maha luas dari jendela pesawat, membayangkan banyak hal terutama tentang kontradiksi apa lagi yang akan menjadi polemik ketika tiba di tanah air. Tujuh hari berada di Korea Selatan sepertinya hanya semakin mempertegas, bahwa setiap manusia hanya akan berada dan berpijak pada satu titik yang teramat kecil.

Tuhan selalu memberikan banyak tanda dan ujian yang tak pernah usai. Korea dengan segala kemewahanya tak cukup juga menjadi jaminan menemukan hakikat hidup. Bagaiaman cahaya kilau dunia dan persaiangan hidup di korea melahirkan 5O persen dari jumlah penduduk yang tidak menganut agama (atheis).

Entah apa yang terjadi di sana? Apakah tarikan godaan materi sedemikian kuat hingga membuat sebagian diantara mereka sangat sulit kembali kepada hakikat penciptaan? Ataukah ini hanya fase proses sekaligus tanda-tanda bagi yang lain?

Sementara itu tak juga kita menemukan jawaban ditengah hingar bingar pembangunan di Indonesia. Ketika menatap jauh ke bawah dari jendela peswat sebelum tiba di Makassar, menyaksikan banyak gugusan pulau dan pegunungan yang indah sungguh tak ada bedanya dengan Nami island di korea selatan. Potensi wisata yang maha kaya itu tentu hanya sebagian kecil yang ada di sana jika dikelolah dengan Baik.

Rentang sejarah panjang pasca kemerdekaan Indonesia justru memberikan kesan tidak memberikan kekuatan perekat Nasionalisme yang lebih Baik. Kekuasaan dan politik sepertinya merupakan palu godam yang setiap saat hanya saling menghabisi satu sama lain.

Lebih dari 20 Triliun Rupiah hanya untuk proses Pilpres 2018 hanya bagian dari kecil pos anggaran yang menggambarkan betapa mahalnya demokrasi yang ingin kita capai. Kalimantan dengan batu bara yang melimpah tapi masyarakat di sana menderita dengan infrastrukrur jalanan yang berdebu dan mudah koyak. Papua yang kaya emas tapi infrastruktur dan pembangunan pendidikan dan kesehatan yang masih miris.

Renungan saya tentang Indonesia dan juga Korea selatan yang telah menjadi kota dunia mungkin hanya sebuah harapan yang akan jauh. Berapa banyak uang negara yang dikorupsi oleh para koruptor, yang mungkin saja jika anggaran tersebut dikelolah dengan baik dapat menjelma menjadi Tol laut, Terowongan yang menghubungkan provinsi yang satu dengan yang lain, jembatan gantung, kereta api, sekolah, perguruan tinggi dan fasilitas-fasilitas publik yang megah.

***

KETIKA menginjakkan kaki di Makassar, menunggu bagasi dengan membuka belukar informasi media sosial, kita kembali disambut dengan berbagai macam pro kontra. Pro kontra pemutaran Film G30SPKI, pro kontra taksi konvensional dan transportasi online di Makassar, pro Kontra tentang seorang petinggi partai yang sakti bin ajaib dalam proses hukum sebagai tersangka KPK.

Sungguh tidak boleh lelah mencintai Indonesia. Kita memiliki kesabaran yang tinggi berada pada suatu zaman “kegilaan” demokratisasi, zaman apatisme berpotensi untuk mencabut akar-akar nasionalisme anak bangsa, zaman kegilaan kekuasaan yang saling meniadakan satu sama lain, zaman negeri ini belum berani berdiri kokoh dengan kaki sendiri, pikiran sendiri, dan cita-cita meraih kemerdekaan sejati. Sungguh tidak boleh lelah mencintai Indonesia. Negeri yang konon anti korupsi dan anti penjajahan.

Rustan Ambo Asse

Rustan Ambo Asse

Penulis, dokter gigi, dan seorang ayah yang baik

Previous post

Anak Band dan Obsesi Pacar Berjilbab

Next post

Kambing Hitam Bernama PLN