Ragam

Basri Sidehabi, Diplomat Bugis dari ‘Paman Sam’ ke Qatar

“TERIMA kasih, Ndi’ mohon doa dan dukungannya.” Demikianlah suara Basri Sidehabi dari balik teleponnya. Ucapan itu sebagai jawaban atas ucapan selamat saya ketika dirinya dilantik sebagai Duta Besar RI untuk Qatar, 23 Desember 2015 silam oleh Presiden Jokowi di Istana Negara. Beberapa waktu lalu, ia mengabari 25 Januari 2018 ini dia akan menikahkan anak bungsunya di Jakarta dan tanggal 16 Februari 2018 di Makassar.

Orang mengenal jenderal (purn) bintang tiga TNI AU (Marsdya) ini sebagai sosok yang pernah aktif bergelut di dunia kedirgantaraan, bahkan menjadi orang Indonesia pertama yang menerbangkankan pesawat jet tempur F-16.

Tercatat, kurang lebih 30 tahun Basri bekerja di ruang kokpit dengan 5.000 jam terbang. Bagi seorang Basri, profesionalisme prajurit TNI AU dalam hal ini seorang pilot tempur tidak hanya ditunjukkan pada waktu bertempur, akan tetapi pada saat keadaan damai juga perlu ditampilkan.

Akhirnya, setelah memasuki masa pensiun pada Februari 2008 Basri memutuskan untuk melanjutkan pengabdian yang kedua kepada rakyat. Dan dunia politik menjadi pilihannya. Ia dilantik pada 2 April 2013 sebagai anggota DPR RI pengganti antar waktu (PAW) koleganya, Malkan Amin.

Basri kembali “mengangkasa” sebagai wakil rakyat melalui kursi Senayan dan bergelut dengan diplomasi politik. Tapi, urusan diplomasi bagi ayah tiga anak dari istrinya Andi Una sebenarnya bukan barang baru.

Pada tahun 1994, Basri Sidehabi bertugas sebagai Atase Pertahanan (Athan) Urusan Udara pada KBRI di Amerika Serikat, dengan Dubesnya Arifin Siregar. Hasil seleksi yang ditorehkan Basri menjadi dasar penempatan dirinya di negari ‘Paman Sam’ tersebut.

“Bas…selamat ya. Anda ibarat mata dan telinga kita di sana, jadi laksanakan tugas sebaik-baiknya dan jaga martabat bangsa kita sebagai negara yang berdaulat,” pesan Kasau Marsekal TNI Tubagus Sutria melepas Basri Sidehabi ketika itu.

“Siap…laksanakan tugas negara, Marsekal!” jawab Basri singkat.

Selama kurang lebih tiga tahun bertugas sebagai diplomat di KBRI Amerika Serikat (1994-1997). Basri sempat melayani kunjungan kenegaraan Presiden Soeharto sebanyak dua kali ke Amerika Serikat (AS) dan menyaksikan langsung perhelatan olahraga akbar sejagat ‘Olimpiade 1996’ di Atlanta.

Selain itu, Basri pun mengikuti event ‘Pesta Demokrasi’ Pemilihan Presiden AS pada tahun 1996 yang diikuti calon incumbent Presiden Bill Clinton (dari partai Demokrat) melawan Bob Dole (calon dari partai Republik).

“Setidaknya saya berkesempatan bisa belajar banyak tentang berpolitik secara universal ala AS dan menyaksikan langsung proses Pilpres AS,” tutur Basri mengenang masa tugasnya di negara adidaya tersebut.

Kini, di penghujung tahun 2015, putra Bugis kelahiran Wajo, Sulsel 1 Januari 1951 dari ayah La Side dan ibu Hj Habi ini dipercaya sebagai Dubes RI Qatar di Doha.

Agaknya, kemampuan diplomasi Basri mewarisi tokoh Amanna Gappa (Arung Matoa/Tetua Adat Wajo) pada abad ke-17 yang piawai dalam bidang pelayaran dan berunding. Sehingga melahirkan aturan dan tata tertib dalam pelayaran dan perdagangan yang ditulis dalam bahasa Bugis dengan bentuk huruf Lontara, dan dikenal dengan hukum laut.

Rusman Madjulekka

Rusman Madjulekka

Jurnalis dan pekerja media. Tinggal di Makassar

Previous post

Angin Segar LGBT Bernama RKUHP

Next post

Menjadi Manusia dengan Sastra