Ragam

Melihat Bajo Lasalimu dari Dekat

DI penghujung bulan Januari, saya melakukan perjalanan sejauh 100 km dengan mengendarai sepeda motor. Daerah yang dituju yaitu Desa Balimu yang terletak di Kecamatan Lasalimu Selatan, Kabupaten Buton. Desa ini adalah pemekaran dari Desa Lasalimu tahun 2011. Nama Desa Balimu berasal dari singkatan Bajo Lasalimu.

Desa Balimu merupakan pemukiman orang-orang Bajo yang mulai bermigrasi ke desa ini pada tahun 1971 dari Bajo Kanawa dan Bajo Bahari Makmur yang berada di kecamatan tetangga yaitu Siotapina.

Sebagai desa yang dijadikan pemukiman oleh Suku Bajo, desa ini dipenuhi dengan tumbuhan bakau di sisi kiri dan kanan jembatan batu. Di bagian kanan jembatan batu, rumah-rumah Bajo berjajar di dekat bakau. Berjalan menyusuri pemukiman Bajo Balimu, terdapat dua jembatan kayu selebar 2 meter yang menggunakan tiang beton.

Jembatan kayu didirikan sekitar satu setengah tahun lalu sebagai jalanan utama untuk mengelilingi pemukiman di bagian utara dan selatan. Agar terhubung dengan jembatan kayu utama itu, setiap rumah telah lebih dulu membuat jembatan-jembatan kayu kecil sederhana.

Jembatan di sisi utara pemukiman (foto: Rustam Awat)

Saat berkeliling di pemukiman Bajo di pagi hari, anak-anak dan ibunya duduk bersantai di depan dan belakang rumah. Anak-anak dengan lembaran uang dua ribuan di tangan, bersiap untuk membeli jajanan. Sementara sang ibu duduk bercerita dengan ibu lain sambil mengunyah pinang. Di desa ini pinang dijual seharga 5 ribu per 5 buah, sedangkan daun sirih 5 ribu per ikat.

Mengunyah pinang menjadi pelengkap aktivitas orang Bajo. Sepagi itu, kebanyakan ibu-ibu Bajo yang saya temui telah menyisipkan pinang di mulutnya. Pinang menjadi bagian penting sebagai pelengkap aktivitas, baik saat bekerja maupun ketika bersantai.

Bersantai di pagi hari dengan pinang di mulut (foto: Rustam Awat)

Anak-anak Bajo telah menjadi tangguh sejak kecil. Melihat anak usia 3-5 tahun berjalan di jembatan-jembatan kecil dengan santainya, seolah menyaksikan pemain sirkus melakukan gerakan akrobatik. Jembatan yang sempit dan bergoyang saat dilewati, lantai dari kayu atau irisan batang kelapa yang masih menempel dengan kulitnya, tak membuat mereka ciut untuk berpindah dari satu jembatan ke jembatan lain. Perlu keseimbangan yang baik agar tak oleng dan terpeleset jatuh.

Seorang anak menyusuri jembatan kayu (foto: Rustam Awat)

Di dekat kami, anak-anak usia sekolah mulai sibuk mengambil pakaian seragam yang dijemur di pegangan jembatan kecil untuk bersiap berangkat ke sekolah. Anak-anak perempuan itu disisir dan diikat rambutnya oleh ibunya dengan pinang yang masih menempel di mulutnya.

Di antara anak-anak perempuan yang akan berangkat sekolah itu, ada seorang teman sebayanya yang tak berpakaian seragam. Ia tengah menggendong adik perempuannya yang masih bayi. Iseng-iseng saya bertanya padanya, dan ia menjawab bahwa ia tak bisa ke sekolah karena menjaga adiknya, sebab ibunya ke ibukota kabupaten mengurus KTP.

***

Bila memasuki desa ini, yang pertama dijumpai adalah dua bangunan sekolah dasar karena letaknya di samping jembatan batu menuju pelabuhan. Bangunan pertama yaitu sekolah yang didirikan di laut 3 tahun lalu dengan tiang dari kayu bakau, dinding papan dan anyaman bambu yang telah koyak sehingga terlihat bolong.

Bangunannya terdiri dari dua kelas yang digunakan oleh siswa kelas 1 dan 2, dimana masing-masing kelas berjumlah 20-an siswa. Kedua ruang kelas hanya dipisahkan dinding tripleks.

Saya tak bisa membayangkan bila siswa di kedua kelas ini bermain, lalu secara tak sengaja mendorong atau mengejar temannya di bagian dinding anyaman bambu yang bolong, itu berarti tubuhnya akan langsung tercebur ke laut. Bangunan yang tiang bakaunya sudah tak tegak lagi ini sesungguhnya sangat tak layak untuk dijadikan ruang belajar.

Ruang belajar kelas dua (foto: Rustam Awat)

Untuk menuju ke bangunan “darurat’ ini, setiap siswa kelas 1 dan 2 melewati jembatan kayu. Dan untuk ke ruangannya, siswa-siswa kelas 1 harus masuk melalui ruangan kelas 2, karena pintu masuknya berada di samping papan tulis kelas 2.

Sebenarnya kelas 1 memiliki pintu tersendiri, namun tidak ada akses jalan untuk menuju ke pintu itu karena tidak ada jembatan penghubung. Sekarang pintu itu digembok, untuk menghindari siswa tercebur ke laut saat membuka pintu ketika hendak keluar.

Entah apa alasan pintu kelas 1 itu dibuat tapi tak disediakan jembatan kayu untuk menghubungkannya dengan daratan. Mungkin jembatan kayu yang kini terhubung dengan ruang kelas 2, dulunya merupakan jembatan yang ada di kelas 1, tinggal dipindahkan saja.

Ah, rasanya terlalu naif kemungkinan itu. Untuk mengantisipasi permasalahan ini sebenarnya bisa digunakan dua jembatan kecil untuk menghubungkan setiap kelas, atau membuat satu jembatan lebar agar kedua kelas ini dapat terhubung pada pintu kelas masing-masing.

Akibat satu pintu diakses dua kelas, maka guru magang yang mengajar di kelas 2 di hari itu, harus membagi fokus membimbing siswanya berhitung sambil “mengamankan” siswa-siswa kelas 1 yang mondar mandir di depan ruang kelas 2 dan mengembalikan mereka ke kelasnya. Siswa-siswa kelas 1 yang berhamburan ke ruangan sebelah dan ribut sebab gurunya tak berada di kelas.

Guru honorer membimbing siswa berhitung (foto: Rustam Awat)

Bangunan kedua didirikan dua tahun lalu berupa bangunan permanen yang digunakan sebagai kantor dan ruang belajar kelas 3 yang berjumlah 50-an siswa. Sekolah dasar yang baru sampai pada kelas 3 ini hanya memiliki satu PNS yang menjabat sebagai kepala sekolah, dan 5 guru yang seluruhnya merupakan tenaga honorer/magang.

Sebagai daerah yang mekar 7 tahun yang lalu, masih banyak fasilitas yang kurang, terutama sarana dan prasarana pendidikan.

Meskipun minim akan fasilitas ruangan dan jumlah guru, sekolah ini juga menampung siswa kelas 1 SMP yang berjumlah 12 orang. Siswa SMP belajar di bangunan lama yang hampir roboh, sepulang siswa kelas 1 sekolah dasar.

Boleh jadi ini merupakan persiapan untuk menjadikannya sebagai SMP satu atap, dimana sekolah SMP nantinya akan bernaung dalam satu gedung dengan sekolah dasar. Untuk saat ini di papan nama sekolah masih tertulis “SDN 1 Balimu” saja.

Siswa berpose di depan papan nama sekolah (foto: Rustam Awat)

Lain sekolah, lain pula pasarnya. Di desa ini pasar beroperasi setiap hari, dimulai pukul 06.00-07.30. Yang unik adalah lokasi pasarnya hanya menggunakan halaman rumah penduduk -atau lebih tepatnya lorong-, dengan deretan penjual roti dan nasi kuning yang jumlah hanya beberapa orang saja.

Dua lapak yang ada digunakan penjual sirih pinang dan penjual buah. Tak ketinggalan seorang tua penjual aksesoris, dan dua pemuda penjual pakaian yang menggantung dagangannya di mobil pickup. Para penjual umumnya berasal dari desa tetangga.

Sebagian besar desa yang ada di daratan Buton, biasanya hari pasar diberlakukan dua-tiga kali dalam seminggu, namun di Bajo Balimu, hari pasar setiap hari dengan kesederhanaan dan kesunyian yang sama. Sebagai pasar Bajo, orang Bajo lebih banyak berbelanja dibanding berjualan. Saat mengunjungi pasar ini, saya hanya melihat seorang perempuan Bajo yang menjual cumi-cumi, dan itulah satu-satunya hasil laut yang dijual di pagi itu.

Suasana Pasar Bajo Balima (foto: Rustam Awat)

Sepertinya pasar ini memang tak dimaksudkan untuk menjual hasil laut orang Bajo, tetapi memenuhi kebutuhan orang Bajo untuk membeli keperluannya yang berhubungan dengan hasil darat. Inilah pasar paling sederhana, paling kecil, paling sunyi, dan paling singkat waktunya yang pernah saya kunjungi selama ini dengan status pasar desa.

Sewaktu hendak melangkah pulang, di kejauhan terlihat empat buah sampan hampir sama rendahnya dengan permukaan air laut karena sarat muatan. Masing-masing sampan memuat batu karang untuk dijadikan pondasi rumah. Ibu-ibu perkasa ini memalu, membetel, dan mencungkil batu karang menggunakan linggis yang hanya dilakukan saat air laut surut.

Batu-batu tersebut dimuat di sampan, lalu menunggu air pasang untuk mendayung atau mendorong perahu yang sarat muatan itu ke darat. Bila warga ingin membeli, batu-batu karang dihargai 70 ribu/sampan.

Perahu sarat muatan batu karang (foto: Rustam Awat)

Ketika bertanya pada seorang lelaki Bajo saya mendapat jawaban bahwa yang diambil adalah batu karang yang telah mati atau batu karang dasar. Terumbu karang hidup tidak baik kualitasnya bila dijadikan pondasi rumah karena gampang retak. Ditambah, mengambil terumbu karang hidup akan dikenakan denda oleh pemerintah.

Masyarakat Bajo juga menyadari bila mengambil terumbu karang hidup akan merusak ekosistem laut yang merupakan bagian dari nafas hidup mereka untuk jangka panjang.

Kini banyak orang-orang Bajo yang menggunakan batu karang sebagai pondasi rumah, baik rumah kayu maupun batu. Dan semakin sedikit yang menggunakan kayu bakau sebagai tiang-tiang penyanggah rumah panggung. Kayu bakau lebih banyak digunakan untuk mendirikan tiang-tiang jembatan kecil yang menghubungkan setiap rumah.

Di sudut lain desa ini, seorang lelaki Bajo bercerita pada saya tentang para nelayan yang kini banyak berprofesi sebagai pemancing ikan tuna. Menurutnya memancing ikan tuna, seperti berjudi dalam kehidupan. Ini disebabkan karena wilayah tangkapan ikan tuna cukup jauh hingga ke pulau Wanci, Wakatobi yang menghabiskan dua jerigen solar seharga 220 ribu dalam sekali melaut.

Bila pulang tak membawa hasil, rugi yang didapat. Namun bila mendapat hasil tangkapan ikan tuna, maka dagingnya akan ditimbang seharga 65 ribu/kilo. Harga ini mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 80 ribu/kilo.

Begitulah saya melihat Bajo Lasalimu dari dekat di pagi itu. Apa yang saya saksikan dalam waktu singkat, memberi sedikit pemahaman tentang suku laut yang sampai kapan pun akan selalu terhubung dengan laut dalam segala hal, mulai dari pemukiman, mata pencaharian, pasar, hingga sekolah.

Rustam Awat

Rustam Awat

akademisi, pejalan, pemotret

Previous post

Mewujudkan Islam Ramah Bukan Marah-marah

Next post

Membela Dilan yang “Terciduk” Syiah