FeaturedNimbrung

Semalam Di GBK Baru Demi Menyanyi Indonesia Raya Pengalaman menonton pertandingan Islandia vs Indonesia

ALIS saya menyatu ketika membaca pesan pedek dari salah satu sahabat mengajak nonton pertandingan bola di Gelora Bung Karno.

Ini stadion udah direnovasi sampai 700 miliar lho! Sekarang keren banget, bunyi pesan teman saya di gawai.

Dasar kompor meledug. Saya yang skeptis ini langsung merasa fakta barusan harus dikonfirmasi ke Mbah Gugel. Dan benar saja. Gelora Bung Karno jaman bahalul yang dibangun pada tahun 1960 itu direhabilitasi total oleh Presiden Jokowi. Pakdhe ingin GBK tampil cantik dan mempesona saat menjadi tuan rumah Asian Games bulan Agustus mendatang.

Lalu karena tambah penasaran, tidak sengaja saya melihat liputan salah satu televisi swasta. Di dalam liputan tersebut, tampak orang-orang bule sedang berlatih. Mata saya agak melotot untuk memastikan lokasi yang mereka gunakan itu adalah GBK. Ya, Gelora Bung Karno! Dan yang sedang berlatih itu adalah timnas Islandia.

Jelas kelihatan kok di running text-nya. Tapi rumputnya. Walah, kok bisa sehijau dengan rumput lapangan bola di eropa sana ya? Tempat duduk pemainnya juga keren banget. Wah, Ini sih memang harus langsung cek lokasi.

Okelah, “I’m in!”.

Pukul 15.30,  Mengantre di depan GBK

Sore, 14 Januari 2017, langit mendung dan disusul hujan deras tak menyurutkan langkah para penggemar bola untuk menjadi saksi pembukaan GBK. Pertandingan persahabatan tim nasional Indonesia-Islandia digelar sebagai selebrasi. Saya bersama suami dan rekanan menggunakan Kopaja turun di depan GBK.

Teman saya Sari dan Bowo bersama anaknya Tetuko tampak antusias.

“Gue mau ke GBK untuk menyanyi ‘Indonesia Raya’ bareng Tetuko,” tuturnya kepada saya.

Syal Timnas Indonesia yang berhasil saya dapatkan (foto: Gita Anggraini)

Suara trompet menyambut dan derap drum, orang-orang berkaus merah, bendera merah-putih, yel-yel dari semua sudut luar GBK membuat riuh suasana. Saya yang awalnya tidak terlalu excited malah jadi ikutan beli syal “Indonesia” dan tentu saja, kaus timnas! Saya merogoh kocek demi nasionalisme dadakan ini.

Antrian panjang mengular di tempat penukaran tiket online. Saya yang tidak kebagian tiket online karena kelamaan mikir, harus membeli tiket on-the-spot. Kocek 100.000 rupiah saya keluarkan untuk bisa duduk di kelas tribun atas. Banyak yang berkomentar mengenai harga tiket yang membengkak dua kali lipat daripada biasanya.

Menurut info dari PSSI, tentunya ada harga yang harus dibayar untuk memelihara stadion yang telah dibangun dengan susah payah itu. “Harus ada andil dari masyarakat,” demikian penjelasan dari Ratu Tisha Destria, sekretaris jenderal PSSI.

Tapi selain harga, ada lagi yang berbeda dari tiket pasca renovasi ini. Menurut si mbak penjaga tiket, saya tidak bisa duduk bareng rekan-rekan saya yang sudah duluan beli tiket online. “Sekarang ada nomer bangku, jadi nggak bisa pindah sembarangan,” jelasnya.

Dengan agak manyun saya cek nomer bangku yang tertera di tiket, Tribun 57, row 20, seat 12. Letaknya di bagian timur stadion ini. Menariknya masuk ke dalam stadion, serupa dengan masuk ke dalam stasiun, konon tuturan penonton-penonton bahwa ini lebih teratur.

Setelah melewati penjagaan dan pemeriksaan ketat, saya meniti tangga menuju Tribun 57. Dalam hati saya masih meragukan pernyataan dari si mbak penjual tiket tadi.

Saya menghitung-hitung peluang terjadinya kecurangan oleh penonton. Dari total 75.000 bangku yang tersedia, bisa saja di antara kami berdelapan yang duduknya tersebar di beberapa tribun, tiba-tiba tidak kedapatan bangku. Yah, kan ada saja toh manusia iseng pindah geser sana-geser sini tanpa permisi.

Tapi ternyata, hal itu tidak terjadi sama sekali. Bangku saya masih kosong, begitu juga bangku teman-teman saya di tribun lain.

Kami semua bisa duduk sesuai dengan nomer yang tertera pada tiket. Wuih! Tertibnya leh uga.

Tepat pukul 18.30 WIB, Pak Presiden Jokowi meresmikan pembukaan GBK dan disambut dengan gegap gempita di seantero stadion.

Terdengar teriakan “Hidup Jokowi!”, “Indonesia! Indonesia!” Saya juga termasuk yang ikut bersorak girang demi melihat hasil kerja nyata Pak De yang memang nggak diragukan lagi.

Suara sorakan makin menggema ketika lampu-lampu dinyalakan serentak dan memperjelas cantiknya rumput hijau di bawah sana, rumput yang sama yang digunakan di Allianz Arena, markas klub Bayern Munchen.

Pukul 18.45, Pertandingan Dimulai

Saatnya pertandingan dimulai, gebukan drum dan yel-yel yang dipandu dari Tribun 62 makin heboh. Apalagi ketika nama pemain timnas disebutkan satu persatu. Puncaknya, bagi saya, adalah ketika lagu “Indonesia Raya” dikumandangkan.

Malam itu, lagu wajib yang selalu dinyanyikan tiap Senin pagi semasa duduk di bangku sekolah, terasa lebih menggetarkan jiwa. Rasa nasionalisme tiba-tiba naik beberapa derajat.

Pertandingan persahabatan berlangsung dua babak dan dimenangkan dengan skor 1-4 untuk tim Islandia.Sebagai seorang yang amatir akan sepakbola, sepanjang pertandingan saya sama sekali tidak merasa bosan. Walaupun saya bukan maniak bola, saya cukup terhibur dengan teriakan dan tingkah lucu para suporter.

Tatuko dan sang ayah (foto: Gita Anggraini)

Apalagi penonton di sebelah saya yang asli Tegal sesekali ngedumel dengan logat ngapaknya. Malah sewaktu Indonesia berhasil menghasilkan gol di menit ke 29, dia maju ke depan dan berjoget ala India. Ternyata nonton bola emang bisa bikin orang lupa daratan.

Sebetulnya ketika pertandingan berlangsung, ada yang saya khawatirkan. Anarkisme. Saya sempat agak merinding ketika beberapa orang di belakang saya terdengar emosi. Mungkin gemas atau kesal saat gawang timnas kebobolan. Beberapa diantaranya duduk di atas kursi dan duduk di sandaran.

Di benak saya, penonton Indonesia mungkin belum siap dan masih kaget akan stadion kelas internasional. Untung tidak ada aksi ngamuk diiringi melempar botol-botol minuman kemasan, seperti yang biasa saya lihat di televisi. Saya pun kembali menikmati jalannya pertandingan.

Pukul 20.30, Menuju Pulang

Baru saja babak kedua berjalan setengahnya, Tetuko terlihat menguap, matanya terlihat sayup. Kedua orangtuanya kemudian melirik saya dan suami. Memberi kode akan pulang. Ya sudahlah, setidaknya misi saya dan mereka tercapai: menyanyikan “Indonesia Raya” dalam koor stadion baru ini.

Saya kemudian berjalan menuju pintu keluar GBK. Namun sistem baru membuat kita tidak dapat keluar sebelum pertandingan selesai. Beberapa orang yang juga ingin keluar terpaksa menunggu.

Selang beberapa waktu sekitar jam 9-nan, pertandingan selesai dan kami menghambur keluar stadion. Kami kemudian menikmati siomay. Setelah itu karena kebelet, kami mencoba fasilitas toilet. Kondisinya bagus dan bersih, barang baru.

Tetuko berpose di atas motor polisi (foto: Gita Anggraini)

Ketika hendak keluar dari kawasan ini, di depan fX, Tetuko melihat sebuah motor dan meminta kepada kedua orangtuanya untuk dapat naik ke atas motor tersebut dan hendak bersalaman dengan polisi.

“Jadi anak yang baik ya,” tutur polisi tersebut. Tetuko kemudian mencoba motor polisi. Sembari hormat, saya memotretnya.

Kami lalu pulang dengan Kopaja dan membawa kenangan berkesan: mengunjungi stadion kebanggaan Indonesia dan menyanyikan “Indonesia Raya” bersama-sama.

Gita Anggraini

Gita Anggraini

Seorang pekerja keuangan yang hobi mengeksplor hal-hal baru

Previous post

Papua Tidak Boleh Sakit, Kita Bergerak Itu Sakti

Next post

Silariang: Napas Panjang Film Makassar