FeaturedNimbrung

Sehari Bersama Musdah Mulia, Tokoh Feminis dan Pembela Minoritas

SENGKANG adalah sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan yang diberi gelar kota santri. Di kota ini berdiri banyak sekolah Islam dan pesantren, lahir ribuan ulama dan pemimpin. As’adiyah salah satu pesantren terbesar, memiliki 500 cabang yang beridiri sejak 1930.

Dari ribuan santri dan alumni yang lulus, ada seorang perempuan atau kita sebut saja seorang tokoh nasional perempuan, pejuang feminis dan gender di Indonesia. Namanya Siti Musdah Mulia.

Coba telusuri informasi tentangnya di internet. Kelak yang bermunculan di internet sebagian besar adalah hinaan dan hujatan. Ketika saya mengetik nama “Musdah Mulia” berita-berita yang keluar seperti “Professor Doktor Musdah Mulia ‘Penghalal Homosex’ Kena Batunya”, “Inilah Argumen Ngaur ‘Ratu Sepilis’ Musdah Mulia Soal Jilbab.”

***

Pertemuan kami terjadi Sabtu lalu (9/12) di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Lebak Bulus, Jakarta Selatan,  menjadi tempat perjumpaan pertama saya dengan Musdah. Hari itu ia mengajar mahasiswa program doktoral di PTIQ.

Rani seorang mahasiswi perempuan duduk paling ujung diantara jejeran kursi yang diatur melingkar. Siapa sangka perempuan bercadar ini menanyakan tentang perjuangan perempuan dalam menyuarakan kesetaraan dan keadilan gender.

“Pemakalah belum memaparkan dalam presentasinya maupun dalam makalahnya bagaimana peran perempuan dalam membentuk peradaban. Bagaimana sejarah mengantarkan perempuan pada posisinya yang setara dengan laki-laki,” tuturnya.

Musdah Mulia (59) berkisah tentang masa kecilnya yang dimarahi kakeknya karena mengeluarkan suara yang keras di hadapan banyak orang. Dalam aturan kakeknya, suara adalah aurat.

“Beliau adalah orang yang sangat konservatif, tapi beliau tidak pernah memaksakan keyakinannya kepada orang lain. Hal tersebut berlaku pada kami, cucu-cucunya,” tuturnya.

Musdah kecil adalah anak yang serba ingin tahu, sejak masuk pesantren ia belajar keras. Ia enggan menganggap prosesnya terhenti saat berada di hadapan Kiayinya. Musdah yang kini dikenal sebagai intelektual perempuan telah melalui perjalanan panjang. Menurutnya, itu tidak sekedar perjalanan fisik, tapi juga batin dan rohani.

“Saya tidak melupakan ajaran-ajaran saya di pesantrean. Bagi saya semua orang memiliki pijakannya masing-masing. Yang salah, adalah ketika kita mengatakan diri kitalah yang paling suci,” jelasnya, ketika salah seorang mahasiswa menanyakan apakah ia telah melupakan ajaran-ajaran dalam pesantrennya.

“Ketika saya bertemu dengan teman lama saya di Sengkang. Saya melihat tidak banyak yang berubah dari pola pikir mereka yang masih konservatif. Tapi saya menerima dan tidak menyalahkan mereka. Karena saya sadar, mereka seperti itu karena mereka tidak melalui perjumpaan dengan orang banyak, berkeliling dari satu negara ke negara lain. Bertemu dengan beragam kepercayaan. Saya bersyukur, karena tidak semua orang bisa mendapatkan pengalaman seperti yang saya dapatkan,” sambungnya.

Siti Musdah Mulia saat mengajar (foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah)

Bagaimana Musdah menghadapi sengatan-sengatan dari luar? Bagaimana dia bertahan dari tuduhan dan fitnah orang-orang di sekelilingnya? Bagaimana menanggapi ribuan SMS dan surel berisi caci makian?

“Saya selalu mengingat, sikap arif dan bijaksana Rasulullah,” jawabnya sambil meyunggingkan senyuman tipis.

Pukul 10.00-12.00, Mengajar Mahasiswa Pascasarjana PTIQ

Gawai saya berdering, sebuah pesan WhatsApp masuk. Pesan dari Musdah Mulia. Masuk pintu belok kanan terus ketemu tangga. Lantai 3. Bilang saja sudah janji, tulisnya.

Perempuan yang merupakan Ketua Umum ICRP (organisasi lintas iman) ini menyambut saya di balik pintu. Hari itu, ia mengajar sekira 15 mahasiswa yang sibuk mendalami dan mengkaji Al-Quran.

Saya dipersilahkan masuk ke dalam dan mengikuti rangkaian perdebatan para mahasiswa selama dua jam lebih. Musdah mengutarakan kebahagiaannya sekaligus kesedihannya ketika berhadapan dengan mahasiswa yang kritis.

“Kenapa ruang-ruang majelis ta’lim kita hanya diisi oleh penceramah yang tidak membuat jamaahnya berpikir. Umat ini terlalu sering dininabobokan oleh shalawatan,´ajak mereka berpikir, mengkaji Al-Quran lebih dalam. Setelah ini, kalian harus mengis ceramah-ceramah di masjid atau majelis ta’lim,” ungkap perempuan pertama peraih doktor dalam bidang pemikiran politik Islam di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini kepada mahasiswa-mahasiswanya.

Musdah adalah seorang pengajar yang tenang, setidaknya itu yang saya dapatkan setelah mengikuti kuliahnya selama tiga jam. Ia mempersilahkan mahasiswanya berargumen “seliar” mungkin. Ia terlihat sungguh-sungguh mendengarkan perdebatan antar mahasiswa pengkaji ilmu Al-Quran itu.

“Orang yang mempelajari benar-benar Al-Quran akan tahu siapa yang disebut kafir itu. Kafir artinya menutup. Menutup diri dari nikmat Tuhan, menutup rezeki orang lain itu kafir. Para koruptor itulah yang sebenar-benarnya kafir,” katanya dengan suara yang agak lantang.

Seorang mahasiswa memberikan argumennya, ia berpendapat jika Islam sudah sangat lama menjawab konflik-konflik kesektean. Islam adalah agama yang telah selesai membahas toleransi. Umat ini telah diajarkan toleransi sejak Rasulullah diberikan wahyu.

Peraih penghargaan internasional Women of Courage dari pemerintah Amerika Serikat (2007) karena kegigihannya memperjuangkan demokrasi dan HAM ini mengaku setuju terhadap argument tersebut. Tapi dalam tataran empiris, umat Islam belum selesai.

“Setelah Rasulullah wafat, perbedaan atas nama kasta dan sikap intoleransi kembali muncul dan tetap ada hingga hari ini. Pemerintahan Usmani, Abbasiyah masih melanggengkan diskriminasi atas dasar kasta. Perbedaan karena budaya, dan sekte membuat ummat muslim saling menghancurkan,” lanjutnya.

Perempuan penyuka segala macam sup ini sadar betul bahwa perubahan bangsa Indonesia terlebih dahulu harus dibenahi pada sektor pendidikan. Ia melihat sikap radikal dan reaktif masyarakat Indonesia akibat dari rendahnya mutu SDM dan konsep pendidikan yang disusun secara serampangan.

Pukul 12.00-00-13.00, Istirahat dan Melayani Mahasiswa yang Ingin Konsultasi

Usai mengajar ia turun melalui sebuah tangga kecil yang terhimpit antara ruang kelas dan kamar mandi. Satu jam lagi, ia harus kembali mengajar. Teman dekat dari tokoh feminis dunia, Amina Wadud ini mengajar dua perguruan tinggi Islam di Jakarta. UIN Syariif Hidayatullah Jakarta dan PTIQ.

“Itupun sudah sangat padat Ais, kalau di UI saya tidak ngajar tapi biasa dipanggil sebagai penguji.” Kami memasuki sebuah ruangan kecil berisi jejeran rak tafsir Al-Quran, perempuan asli Bugis ini mengajak saya berbincang di sana. Iseng saya bertanya, apa musik favoritnya.

Bersantap siang sekaligus berkonsultasi dengan mahasiswa (foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah)

“Oh saya sangat suka musik Mozart, kalau mendengarnya tuh menenangkan sekali. Eh, harusnya suka kasidahan yah. Ini malah musik klasik,” kelakarnya.

Beberapa menit kemudian setelah menyantap hidangan nasi padang. Seorang mahasiswi berpenampilan sederhana, berkerudung hitam menutupi dada masuk ke ruangan. Tidak banyak yang saya tangkap dari perbincangan mereka. Nampaknya perempuan ini sedang memperbincangkan draf tesis yang harus segera dirampunginya.
Musdah pamit untuk ke kamar mandi sekaligus menunaikan salat zhuhur.

Ia datang sambil memperbaiki posisi kerudungnya yang tak beraturan. “Apakah cacia makian itu juga pernah datang dari kalangan Nahdatul Ulama (NU)?” Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut saya.

“Secara organisasi gak ada, secara individual beberapa pengurus NU dan Fatayat juga sangat konservatif. Mereka juga menyerang tapi yang membela adalah kalangan Fatayat dan NU yang sudah tercerahkan,” jelasnya.

Pukul 13.00-15.00, Mengajar Mahasiswa Doktoral (Pendidikan Berbasis Al-Qur’an)

Kami kembali ke ruangan yang sama namun dengan mahasiswa yang berbeda. Di kelas inilah saya bertemu dengan Rani. Mahasiswi doktoral yang saya sebut di awal tulisan. Dia sangat cerdas menanggapi isu-isu gender dan perempuan.

Saya bergegas mengambil tempat di samping papan tulis, dari arah itu saya bisa melihat dengan jelas isi ruangan dan memperhatikan pemaparan Musdah.

Setelah pemakalah mepresentasikan makalahnya, adu argumen kembali berlangsung. Saya membayangkan bagaimana jika ceramah-ceramah yang diisi oleh ribuan jamaah bisa membedah Al-Qur’an sedalam ini. Akankah bangsa kita bisa menambah tingkat kewarasannya?

Para mahasiswa Musdah Mulia (foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah)

Seorang mahasiswa berkacamata mengacungkan tangan, pertanyaan ini justruk diberikan khusus untuk Musdah Mulia, “Prof saya banyak mendengar orang-orang mengatakan jika Prof menyetujui LGBT. Saya ingin mendapat jawaban langsung dari Prof.”

“Saya tidak menyetujui hal tersebut tapi bukan berarti kita membenci mereka, menjauhi mereka. Kita menghargai mereka karena kita adalah ciptaan Tuhan yang sama. Saya memimpin sebuah organisasi lintas agama, di dalamnya bahkan ada yang tidak beragama. Yah silahkan saja saya bilang, itu hak mereka. Tapi apakah saya setuju, tentu tidak. Tapi saya tidak bisa memaksakan kehendak mereka. Kecuali kalau mereka melakukan tindakan kriminal, saya adalah orang pertama yang akan melaporkan mereka,” terangnnya sambil menunjukkan buku Mengupas Seksualitas yang ditulisnya 2015 lalu.

Dia kemudian melanjutkan beberapa curhatannya, “Saya difitnah sebagai agen Barat dan mata-mata Yahudi, padahal statement saya yang sebenarnya adalah “Saya mengabdi sepenuhnya untuk kemanusiaan yang saya yakin merupakan esensi agama. Saya difitnah menghalalkan perkawinan sejenis, padahal statemen saya sebenarnya adalah “Saya memperjuangkan hak asasi bagi semua manusia, termasuk kaum homo.”

Tiga jam berlalu, perkuliahan tersebut akhirnya diakhiri dengan foto dan swafoto bersama. Musdah pamit dan melenggang turun menuju pintu muka gedung PTIQ.

***

Setelah menempuh kemacetan selama dua jam, saya meminta pamit dan diturunkan di dekat stasiun Manggarai. Saya masih mengingat bagaimana teman-teman saya saat di kampus UIN dulu begitu cepatnya berhijrah setelah beberapa bulan mengikuti kajian. Saya memikirkan kenapa perkara kerudung sangat mampu dijadikan komoditi untuk praktek beragama hari ini.

Kaki saya terus melangkah sambil mengingat kata-kata Musdah Mulia di ruang kelas tadi. Mungkin karena kerudung tidak memutuhkan cost yang besar, cukup lima menit untuk memasangnya. Tapi jika suatu bangsa berani menyusun konsep pendidikan, butuh kerja keras, waktu, dan pengabdian.

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Previous post

Orang Miskin Dilarang Menikah

Next post

Di Balik Buku AM Fatwa dan Rahasia Supersemar