FeaturedNimbrung

Sehari Bersama Eka Sastra, Sang Pembelajar dan Penggila Buku

Eka Sastra (39) dikenal sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Komisi VI, Fraksi Golkar Periode 2014-2019. Selain itu dia juga banyak dikenal sebagai pengusaha sukses dan eksportir batu arang di Indonesia.

Namun tentu, tidak banyak yang tahu jika ditengah kesibukannya dia adalah sosok yang sederhana, sekaligus pembelajar setia.

Dia menaruh perhatian lebih, tidak hanya pada dunia politik dan bisnis. Tapi juga dunia akademis. Eka Sastra tidak melupakan untuk upgrade ilmunya dengan membaca dan berbelanja buku setiap hari.

Locita.co mendapatkan kesempatan emas mengikuti aktivitasnya di tengah kesibukannya bekerja sebagai wakil rakyat di Jakarta, Senin pagi (21/08).

Pukul 10.30, Diskusi Holding BUMN

Tidak susah menemukan Eka Sastra. Bahkan di kalangan security, pegawai, dan para penjual di Gedung Nusantara I mengenal sosok Bendahara HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) ini. Dia dikenal sebagai sosok yang humble dan ramah.

Mereka kemudian menunjukkan lift yang menuju ruangan pribadinya, Gedung Senayan, Nusantara I lantai 12, Jakarta Pusat. Namanya terpampang di depan pintu. Pun samar terdengar suara. Saat saya dibukakan pintu ruangannya, terlihat dia bersama beberapa staffnya.

Bibirnya menjepit rokok sembari berdiskusi tentang holding BUMN. Salah satu tamunya, Sujahri, mengutarakan bahwa Eka merupakan sosok yang senang berdiskusi dengan siapa saja.

Pukul 12.00, Menerima Konsituen

Saat Eka hendak beristirahat makan siang, beberapa konsituen dari Dapilnya di Jawa Barat tiba-tiba masuk. Eka menyambut mereka dengan senyum khasnya yang merekah.

Eka Sastra menerima aspirasi dari konsituennya (Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah)

Sembari menerima tamunya, saya tertarik untuk mengamati barang apa saja yang bersemayam di ruangannya. Selain karena menerima kedatangan tamu. Nampak sesak karena buku. Tidak hanya di rak tapi juga bertumpuk di lantai. Di raknya terbanjar buku sosial, ekonomi, dan politik.

Di samping meja kerjanya, tergantung foto Eka bersama keluarganya (isteri dan keempat anaknya). Dan satu foto berukuran besar yang menampakkan kebersehajaannya di dinding yang berhadapan dengan meja kerjanya. Tentu dengan senyumnya yang khas dan sederhana.

Sudut ruangan Eka Sastra dan foto bersama keluarga (Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah)

Sambil berbicang dibantu sekretarisnya, Eka memberikan buku hasil karyanya, Catatan di Parlemen, satu persatu kepada para tamunya. Di ruangannya Eka tidak hanya menjamu kopi tapi juga mempersilahkan untuk merokok. Suami Cut Emma Mutia Ratna Dewi, bahkan tak segan memantik korek api untuk rokok para tamunya.

“Silahkan, Kang. Merokok. Santai. Sudah didesain khusus untuk merokok,” katanya sambil tertawa.

Eka berbincang alot namun dengan situasi santai dengan para konsituennya. Mulai dari pembicaraan pemekaran wilayah, pertanian, jalanan yang rusak, hingga kelakar soal kenakalan anaknya.

Pukul 13.15, Eka Menemui Koleganya

Lebih kurang sejam saya “membuntuti” Eka bersama konsituennya di ruangannya. Pukul 13.06 Eka dengan gegas keluar dari ruangannya untuk menemui koleganya dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) di Hotel Mulia Senayan, Jakarta Pusat.

“Kita pergi dulu ke hotel, ketemu kolega saya. Sambil makan siang. Sekali-kali jadi rasakan orang kaya dulu,” candanya.

Kami sampai di Hotel sekitar pukul 13.15. Eka langsung bertemu dengan koleganya di restoran hotel, Bleu8.

“Silahkan pesan makanan, kalau mau merokok di luar juga bisa,” ucapnya.

Sembari bertemu lima koleganya yang merupakan para pengusaha muda. Saya pun berkesempatan untuk mencicipi Sirloin Steak berlatar kolam renang. Tampak pula beberapa ekspatriat menikmati terik matahari.

Diskusi ringan setelah makan siang bersama Pengurus HIPMI dan AMPI (Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah)

Pukul 15.00 kami keluar dari pintu Hotel Mulia menuju basement kantornya. Di mobil kami berbincang hangat, katanya menjadi pengusaha memiliki dua jalan.

“Pengusaha itu ada dua, Dek. Pengusaha by ‘nasab’, dan pengusaha by ‘nasib’. Kita ini pengusaha by ‘nasib’. Betu-betul berjuang dari nol. Beda kalau by ‘nasab’, karena orang tuanya sudah kaya memang. Atau bisa juga jalan lain, nikahi wanita yang kaya,” kelakarnya.

Pukul 15.10, Ngopi Bersama Petugas Keamanan

Sebelum melanjutkan agendanya, Eka memutuskan untuk ngopi bareng petugas keamanan Senayan. Sampai di basement Gedung Nusantara I, Eka langsung mengajak bersalaman dengan para petugas. salah satunya adalah petugas keamanan gedung ini, Herman.

“Ayo, ayo ngopi dulu. Mana Pak Herman, ke belakang kita ngopi dulu,” kata Eka.

Ngopi santai di basement sebelum kembali ke ruangannya untuk menerima tamu (Foto: Dhihram Tenrisau)

Di sudut basement, disinari cahaya temaram. Eka Sastra menyeruput kopi instan bersama para petugas yang begitu hangat menemaninya berbincang dan bercanda.

“Pak Ekaaaaaa,” teriak seorang perempuan sambil memberikannya undangan pernikahan. Satu persatu petugas datang, menyalaminya, mengambil sebatang rokok, hingga memeluknya ramah.

“Disini memang tempat saya kalau mau ngopi-ngopi, Dek,” jelasnya. Pisang goreng turut pula dia jejali ke dalam mulutnya.

Setelah beberapa menit, Eka memutuskan untuk bertemu tamunya. Sambil menenteng gelas plastik berisi kopi, Eka kembali ke ruangannya di lantai 12.

Eka Sastra memanggil petugas keamanan yang lain untuk ngopi bersama. (Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah)

Pukul 15.43, Menemui Tamu dari KAHMI

Di ruangannya Eka telah ditunggu empat tamunya dari KAHMI (Korps Alumni HMI). Kedatangan mereka rupanya untuk mengajak Eka menjadi pembicara dalam RAKORNAS KAHMI.

“Wah, tapi saya mau ke tanah suci ini, tanggal 24 bulan ini. Sudah janjian duluan sama Kabah. Tidak mungkin dibatalkan,” kata Eka.

Eka lalu memberikannya beberapa nama untuk dijadikan opsi lain. “Saya sudah WA (WhatsApp), beliau di Komisi VI juga. Semoga bisa jadi. Karena tiba-tiba kemarin sudah diambilkan visa juga. Lucu juga karena mendadak, Kang. Jadi kita berangkat saja sambil menemani isteri. Tahun lalu kan sebenarnya saya sudah, Kang,” ucapnya sambil terkekeh.

Eka Sastra membuka database KAHMI untuk mencari opsi menggantikan dirinya sebagai pemateri. (Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah)

Sebuah proposal kegiatan mendarat di tangannya. “Nanti saya sampaikan ke yang lain juga untuk bantu pendanaan, sekalian saya kirim saja,” tukas lelaki yang hiperaktif ini.

Eka meminta izin untuk shalat Ashar terlebih dahulu. Bersamaan dengan itu tamunya meminta izin untuk pulang.

Pukul 17.30, Belanja Buku dan Makan Malam

Eka kembali akan menemui para pengurus HIPMI di fX Sudirman. “Kemarin itu selesai acara, Ndi, jadi mau laporan pertanggung jawaban dulu,” ungkapnya.

Kami pun tiba di fX Sudirman, Senayan. Sebelum naik ke lantai tiga, Eka memutuskan untuk berbelanja buku terlebih dahulu. Setelah memilih beberapa buku, kami naik ke salah satu restoran Jepang.

Mencari buku referensi bisnis. (Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah)

“Kita makan malam dulu, sembari menunggu tamu saya,” ucapnya.

Sambil menunggu Ramen siap dihidangkan saya berbincang tentang dunia buku dengannya.

“Di rumah saya ada sekitar 5.000 lebih buku, Dek. Ada buku sastra, bisnis, macam-macamlah,” jelasnya.

Iseng-iseng saya bertanya soal penulis favoritnya. Dia menjawab, “Wah ada banyak, kalau ekonomi aku suka Amartya Sen. Sastra, aku suka sastra Rusia seperti Leo Tolstoy. Rumi juga aku suka.”

Lelaki lulusan Universitas Hasanuddin ini juga bercerita bahwa saat ini dia masih bestatus mahasiswa S3 semester kedua di Insitut Pertanian Bogor (IPB) Jurusan Bisnis. “Jadi Jumat, Sabtu, dan Minggu itu saya sudah di Bogor untuk kuliah,” terangnya.

Anggota Dewan Komisi VI yang sejak SD menjual es lilin hingga sukses menjadi eksportir ini kemudian menempuh S2 di Universitas Indonesia (UI).

“Dulu waktu saya kuliah sering kita adakan bedah pemikiran, seperti diskusi-diskusi dengan teman-teman. Misalnya bedah pemikiran Murtadha Muthahhari,” jelas Eka.

Hidangan pesanan kami pun siap, saya menanyakan apa makanan favoritnya. “Tentu saya suka sekali dengan Coto Makassar, Dek,” katanya sambil terkekeh.

Eka menyantap Ramen level 3 favoritnya. (Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah)

Setelah selesai menyantap makanannya, Eka mendapatkan panggilan untuk segera ke rumah Ketua Umum Golkar, Setya Novanto. “Tiba-tiba dipanggil Ketum,” ucapnya.

Dan panggilan itu kemudian mengakhiri perjumpaan saya dengan Eka Sastra. Sembari berkelakar dia melenggang ke dalam mobil Fortunernya.

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Previous post

Saracen: Antara Hoax, Game dan Sejarah

Next post

Mixtape 8 Lagu untuk Mengenang Agustus