FeaturedNimbrung

Sehari Bersama Din Syamsuddin, Sang Religius, Moderat, dan Modernis

NAMA lengkapnya Muhammad Sirajuddin Syamsuddin atau yang akrab kita kenal dengan Din Syamsuddin adalah laki-laki kelahiran Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) 59 tahun lalu.

Berbagai capaian telah diraihnya sebagai tokoh nasional. Di antaranya ia pernah menjabat Wakil Sekretaris Jendral DPP Golkar (1998-2000), dan Wakil Ketua Fraksi Karya Pembangunan MPR-RI (1998).

Tidak hanya itu, ia juga banyak mengambil peran dalam beberapa lembaga dan organisasi ke-Islaman. Din Syamsuddin pernah menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2010 dan kembali menjabat pada periode berikutnya (2010-2015). Ia pernah diangkat sebagai Wakil Ketua Dewan Penasihat ICMI Pusat (2005-2010) dan sederet karier dan jabatan lainnya.

Suami dari Novalinda Jonafrianty ini juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ke-enam, masa jabatannya 2014-2015.

Di bulan Oktober 2017, Din Syamsuddin dipanggil oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Istana Kepresidenan. Ia diamanahkan sebagai utusan khusus presiden untuk dialog dan kerja sama antar agama dan peradaban.

Laki-laki berkulit  sawo matang ini menganggap ada banyak hal yang bisa ditawarkan Indonesia kepada dunia. Di antaranya adalah Islam yang damai dan sangat dirindukan dunia. Di tingkat internasional, dia adalah anggota Leadership Council of the United Nations Sustainable Development Solution Network (UNSDSN).

Baginya, Islam di Indonesia bertumpu pada ‘wasatiyyah’, pada jalan tengah, Islam yang rahmatan lil alamin. Indonesia punya peran dalam membawa pesan perdamaian dan demokrasi ke mata dunia.

Locita.co berkesempatan mengikuti aktivitas Din Syamsuddin untuk Nimbrung edisi Jum’at (16/11/2017).

Pukul 12.30-14.00 Menjadi Pembicara di Gedung MUI

Saya bertemu dengannya di gedung MUI, Jalan Proklamasi, No. 51, Menteng, Jakarta Pusat. Dengan menggunakan lift ia menuju lantai empat, tempat dimana kegiatan berlangsung. Peci hitam dipadukan dengan baju batik bercorak flora, berwarna kuning-hitam memberikan kewibawaan tersendiri saat ia maju ke stage pembicara.

Din Syamsuddin (kanan) saat menjadi pemateri dalam Halaqah dan Diskusi Internasional, Indonesia dan Kepemimpinan dalam Dunia Islam. (Sumber Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah)

Penikmat tayangan Dangdut Academy (D’Academy) di Indosiar ini didapuk menjadi keynote speaker dalam “Halaqah dan Diskusi Internasional, Indonesia dan Kepemimpinan dalam Dunia Islam”.

Turut pula hadir dalam kegiatan tersebut, Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Lestari Priansari Marsuadi dan beberapa perwakilan dari kedutaan besar negara mayoritas Islam. Seperti Arab Saudi, Palestina, dan Brunei Darussalam.

Beberapa wakil negara hadir dalam dialog yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) (Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah)

Dalam sambutannya, alumni beasiswa Fulbright dan University of California, Amerika Serikat, ini memaparkan peran Indonesia dalam penduduk dunia Islam. Ia menyampaikan jika hal ini tidak dimaksudkan sebagai pretensi Indonesia dalam memimpin dunia Islam.

“Tapi lebih meningkatkan peran global. Karena Indonesia memiliki tanggung jawab sebagai negara mayoritas Islam.”

Di depan beberapa perwakilan negara, ia kembali memperkenalkan Indonesia, negara dengan umat Islamnya yang ‘wasatiyah’. Di tengah carut marut konflik antar agama, bahkan pertentangan antar mazhab. Indonesia telah mengambil peran yang besar.

Menurutnya ada harapan besar dunia Islam terhadap Indonesia. Jika dilihat secara normatif, Indonesia dipandang memiliki modal nilai, Pancasila dan kebinekaan Bhineka Tunggal Ika.

“Hal ini terus terang dilirik oleh dunia, karena peradaban global yang mengalami kerusakan dan perseteruan antar bangsa memerlukan ideologi yang tengahan. Nah, model Pancasila dilirik.”

Yang kedua kerena corak muslim Indonesia yang ‘wasatiyah’  atau yang lebih umumnya disebut moderat. Menurutnya dunia sangat membutuhkan itu. Dan keinginan lain yang bersifat ekonomi, dan budaya. Utamanya corak budaya Indonesia yang beragam dan sangat plural.

Sebelum kegiatan usai, Din Syamsuddin pamit karena harus mempersiapkan kegiatan Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC). Ia melenggang ke luar ruangan. Sebelum memasuki lift, beberapa wartawan telah menodongnya dengan beberapa pertanyaan.

Pukul 13.00-14.30, Mempersiapkan Acara CDCC

Mobil melaju menuju Jalan Brawijaya VII No. 11, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kami berbincang banyak hal, mulai dari isu agama, budaya, hobi, keluarga hingga tayangan favoritnya.

“Hobinya apa Prof?”

“Apa yah, macam-macam sih. Dulu saya suka olahraga, tapi sekarang sudah jarang. Membaca buku sudah pasti. Tapi berbeda baca buku sewaktu masih muda dengan yang sekarang. Kalau sekarang baca bukunya di skimming aja. Baca cepat kan. Kalau dulu prosesnya lama, baca mendetail,” tuturnya dengan tenang.

Pertanyaan saya berlanjut ke keluarga. Saya penasaran bagaimana ia menghabiskan waktunya bersama keluarga, isteri dan anak. Baginya tidak ada hari khusus, jika ada kesempatan dan kemauan saja.

“Tidak ada hari yang khusus digunakan untuk jalan bersama keluarga. Karena anak-anak juga sudah besar dan dewasa. Jadi mereka punya masing-masing juga. Kalau lagi mau makan di luar atau jalan-jalan di mall, yah pergi. Biasanya juga hanya di rumah.”

Menikmati jalan Ibu Kota yang macet. (Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah).

“Hari ini isteri saya ulang tahun, jadi Pengajian Orbitnya dimajukan sekalian bisa makan malam di rumah dulu,” lanjutnya sambil melirik ke arah Arief Rosyid Hasan.

“Berkeluarga itu memang indah sekali, Bang,” tutur mantan Ketua PB HMI ini sambil tersenyum ke arah saya.

Adapun Pengajian Orbit adalah salah satu agenda yang digagas Din Syamsuddin dengan menghimpun beberapa artis dan seniman. Sekali seminggu di kediamannya, beberapa artis dari penyanyi, musisi, pemain film datang dan duduk bersama mempelajari Islam. Salah satu nama yang menjadi anggota pengajian itu; Cici Tegal dan Hanung Bramantyo.

“Dulu sih masih sering kumpul atau makan di luar dengan mereka tapi sekarang sudah jarang. Bagian ini juga penting, jadi kita itu tidak hanya mengambil peran pada isu agama dan perdamaian, tapi juga seni dan budaya. Kita sering bikin dialog tentang peran budaya dalam masyarakat, mengajak para seniman dan sastrawan,” jelasnya.

Pukul 14.30-17.00, Menyiapkan Acara CDCC

Spanduk telah terlentang, meja–kursi telah disusun dan dirapikan, sound system telah tersaji di balik mimbar. Camilan dan kopi telah dihidangkan. Namun belum ada tanda-tanda kegiatan akan dimulai. Peserta belum ada satupun yang hadir di lokasi.

Acara CDCC kali ini mengambil tema “Kepahlawanan: Back to The Future”. Din syamsuddin mengundang beberapa pemateri yang berada dalam lintas generasi berbeda. Mulai dari angkatan 1966, angkatan 1978, angkatan 1998, dan angkatan milenial.

Briefing sebelum kegiatan dimulai. (Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah).

Beberapa tim terlihat sibuk mempersiapkan. Batalnya satu pemateri karena berhalangan sakit membuat ia harus mengganti nama pemateri dalam spanduk. Din Syamsuddin turut serta mengambil selotip dan spidol, hingga rela memperbaiki microphone yang sedang eror.

Ia memanggil para pelajar, mengikuti kegiatan diskusi hingga mengajak berdialog. Baginya anak muda adalah emas yang potensinya harus digali. Apalagi di era milenial saat ini.

CDDC adalah salah satu dari banyak lembaga yang digagas oleh Din Syamsuddin. Lembaga yang berdiri pada Juni 2017 ini concern terhadap dialog kebangsaan, ekonomi, politik,  dan peradaban. Beberapa program yang  digagasnya sepanjang tahun 2017-2018. Di antaranya: public education, publication,  networking, research and fellowship.   

Acara baru dimulai sekira pukul tiga, puluhan pelajar berseragam telah berada dalam ruangan. Din Syamsuddin kembali memberi sambutan. Kali ini, tidak di depan para wakil negara dari kedutaan besar. Melainkan di depan para siswa yang dalam jiwanya penuh semangat dan berapi-api.

Arief Rosyid Hasan bercerita tentang sosok Din Syamsuddin. Sebagai sesama keturunan Gowa,  dan bergerak bersama di pergerakan Indonesia Maju, Arief mengaku dekat dan menyerap keteladanan pria yang dipanggilnya “Abang” ini.

“Beliau selalu bersemangat dan punya integritas yang sangat baik, di Indonesia maupun di Internasional. Saya kagum dengan semangatnya yang selalu memberi kesempatan buat generasi muda untuk berkiprah.”

Dua jam lebih kegiatan berlangsung, Din Syamsuddin hikmat mendengarkan. Saya tidak melihatnya berdiri, kecuali ia degan sigap mengecek mic yang tiba-tiba tidak berfungsi. Tidak ada agenda khas setelah acara selain berfoto-foto.

Beberapa orang terlihat datang menyalami dan memperkenalkan diri. Ada yang datang jauh dari Sumatera untuk bertemu Din Syamsuddin, sembali memberi bingkisan mereka berfoto penuh suka cita bisa bertemu dengan sang idola.

Adamas Belva Syah Devara (Belva) yang merupakan CEO and Co-Founder Ruangguru juga menuturkan kesannya bertemu dengan Din Syamsuddin.

“Beliau baru sampai dari Solo, terus jadi pembicara. Setelah itu menyiapkan acara CDCC. Beliau punya semangat yang luar biasa, sebagai anak muda kita patut berguru dan menjadikan beliau sebagai teladan,” ungkap laki-laki penyandang dua gelar sarjana di bidang Bisnis dan Ilmu Komputer, Nanyang Technological University ini.

 

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Previous post

Jurus Terakhir Setya Novanto

Next post

Golkar Pasca Setya Novanto