Locita

Sehari Bersama Anggia Ermarini, Sang Nakhoda Fatayat NU

TERIK siang membakar Jakarta hari itu. Namun, tidak terasa ketika menghampiri Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Pohon-pohon rindang dan tumbuhan perdu, serta samar tiupan saksofon mengaliri kesejukan di taman tersebut. Di saat taman terlihat sepi ini, seorang ibu sedang asyik bercengkrama dengan anaknya.

“Hey, apa kabar,” sapanya ramah kepada saya.

Ya hari ini, Locita.co diwakili saya bersama Dhihram Tenrisau akan mengikuti agendanya selama sehari.

Pukul 10.00, Jalan-Jalan Di Taman Suropati

Perempuan itu ialah Anggia Ermarini (43), ketua Fatayat Nahdatul Umat (NU) bersama Adam Ali Akbar (10), anaknya. Siang itu dia memang melaksanakan agenda rutin tiap akhir pekan, berjalan-jalan bersama anaknya ke Taman Suropati.

Sabtu siang ini (16/9), dia mengenakan kemeja berbahan jeans, berbalut jilbab pink. Sekalipun bergaya anak muda, sifat keibuannya nampak terlihat saat memanjakan putra bungsunya itu. Pun juga dengan gaya kasual, kejatmikaannya sangat tercermin dari gaya bertuturnya.

Sebenarnya dia berniat melakukan aktivitas joging paginya. Namun, karena subuh tadi dia berangkat ke Tangerang menghadiri takziah salah satu eksponen organisasi perempuan NU tersebut. Perempuan yang menyukai makanan rengginang ini, baru datang di saat matahari mulai mendaki langit.

“Tidak apalah, itung-itung bisa dengar musik jazz,” imbuhnya.

Kami kemudian menyusur taman ke satu sudut tempat dua orang saksofonis berlatih. Ibu dan anak ini terlihat tertegun menikmati. Kepada saya, istri dari Sultonul Huda ini mengakui bahwa musik jazz memang senantiasa menemaninya.

“Saya koleksi CD Kenny G dan John Coltrane,” ujarnya pelan seakan takut merusak latihan dua orang yang tergabung di komunitas saksofonis Taman Suropati.

Anggia dan Adam menikmati alunan musik saxofon. (Foto: Dhihram Tenrisau).

Alih-alih menikmati nada-nada kebebasan jazz, justru komposisi mendayu “Asal Kau Bahagia” milik Armada yang terdengar. Tapi Anggia terlihat khusyuk. Selang waktu kurang lebih 3 menit, perempuan kelahiran Sragen, Jawa Tengah ini bergumam.

“Adam mau cari minum atau langsung cari bubur?” tanyanya pada sang anak.

Adam kemudian menyatakan keinginannya untuk makan bubur. Kami pun melenggang, sebuah mobil Fortuner hitam kemudian muncul di hadapan kami.

Di dalam mobil, perempuan lulusan IKIP Malang ini menceritakan bagaimana ketertarikannya akan dunia keorganisasian. Awalnya, dia tidak menyangka ingin memfokuskan diri ke dunia keperempuanan dan kesehatan.

Lulusan sastra Inggris ini memulai berorganisasi di PMII tahun 1993. Selepas mahasiswa, dia kemudian tertarik akan isu-isu kesehatan dan gender setelah mengikuti pelatihan keperempuanan dan reproduksi sekitar tahun 2001.

Setelah itu dia kemudian mengambil magister Kesehatan Masyarakat di Universitas Indonesia. Terpilih sebagai dosen UI dan pengurus di Departemen Kependudukan Lembaga Kesehatan NU periode 2005-2010, menjadi kawah candradimuka untuk mengaplikasikan ilmunya tersebut. Salah satunya adalah stunting, gizi buruk, yang menjadi salah satu proritasnya selama kepengurusan di Fatayat.

Stunting itu beda dengan HIV. Tidak nampak, sehingga orang terkadang tidak peduli,” ujarnya.

Dia banyak menceritakan mengenai pengalamannya di organisasi yang memiliki 8 juta anggota ini. Khususnya mengenai program dan prioritas kerjanya untuk anak dan perempuan. Setelah itu iseng saya bertanya mengenai tokoh NU favoritnya.

“Gus Dur, soalnya dia orangnya acuh aja meski dihujat-hujat.”

Pukul 11.00, Menyantap Bubur Cikini HR. Sulaiman

Kami kemudian sampai di warung bubur Cikini HR. Sulaiman. Di situ kami berkesempatan menyantap bubur ayam dan telur.

Sembari menunggu pesanan kami, dia menceritakan kesibukannya sebagai staf di Kementerian Pemuda dan Olahraga, ketua Fatayat NU, sekaligus ibu rumah tangga. Sekalipun dia merasa itu berat, tapi di situlah tantangan dia sebagai ketua organisasi keperempuanan.

Suaminya yang merupakan anggota di PBNU menurutnya sangat mendukung kegiatan-kegiatannya. Bagi Anggia kesuksesan seorang istri bergantung dari kepercayaan dan support  suami.

“Saya sebenarnya orang rumahan,” lanjutnya, “Di rumah ada pembantu. Tapi kalau saya di rumah, anak-anak, saya yang pegang,” ujarnya.

Pesanan kami datang, Anggia tidak langsung makan, dia mencampurkan kecap ke mangkuk bubur anaknya. Dia menyuap Adam, sebelum menyerahkan kembali sendok itu ke anaknya. Sembari makan dia bercerita tentang impresinya terhadap Alyssa Wahid, anak Gus Dur. Tiba-tiba Adam menyela.

Menyantap hidangan bubur ayam. (Foto: Dhihram Tenrisau).

“Ma, masih ingat nggak Adam salaman sama presiden Afrika Selatan dan Pak Jokowi?”

“Wah, hebat dong. Saya saja tidak pernah,” kelakarku saat mendengar Jacob Zuma (presiden Afrika Selatan) disebut oleh anak tersebut.

Selain itu Adam dengan penuh semangat menuturkan cita-citanya untuk membuka restoran. Hal itu diikuti tawa oleh kami berdua. Saya kemudian bertanya mengenai buku favoritnya. Alih-alih dijawab oleh Anggia, Anak yang berkacamata ini yang kemudian menjawab pertanyaan saya.

“Si Pitung.”

Kami menyelesaikan sendok terakhir namun tidak langsung beranjak, dia bercerita banyak mengenai kisahnya saat pertama kali menginjakkan kaki di Ibukota, khususnya saat menjual perhiasannya kala tidak punya uang di awal pernikahan.

Dia mengakui bahwa awalnya sudah siap berangkat untuk melanjutkan studi ke Amerika. Namun, karena kehamilan anak pertamanya, sehingga rencana studi itu dia urungkan.

Pukul 11.40 Mencari Bunga Sedap Malam

Dari warung bubur, kami menuju ke tempat jualan bunga yang letaknya berdekatan. Di masa pengharum ruangan dan aroma therapy yang sangat mudah didapatkan ini, ternyata Anggia tidak mampu move on dari kebiasan yang rutin dilakukannya semenjak mahasiswa itu.

“Saya senang simpan bunga sedap malam di ruangan, bahkan dulu saya tiap minggu beli,” ucapnya.

Anggia sedang berbelanja bunga sedap malam. (Foto: Dhihram Tenrisau).

Kami berjalan di beberapa lapakan bunga. Di salah satu lapakan, dia mencoba membaui  bunga sedap malam yang dipajang. Selain itu, mantan dosen ini melakukan proses tawar menawar pada harga segenggam bunga yang dipilihnya.

Setelah mendapatkan bunga tersebut, dia berencana untuk ke Pasaraya Manggarai, Jakarta Selatan.

“Rencananya mau beliin baju koko buat Adam. Punyanya kemarin sudah rusak kancingnya,” katanya sembari menyeka rambut Adam.

Dalam perjalanan, saya sempat bertanya mengenai pandangannya terhadap problematika gender kekinian, khususnya LGBT dan kekerasan seksual.

“Sebenarnya, kalau secara agama saya tidak bersepakat dengan LGBT, tapi bukan berarti kita harus melakukan diskriminasi dan stigma kan? Merekalah yang sebenarnya paling dapat memerangi jumlah kasus HIV-AIDS,” tutur pegiat di  Multi-Faith Working Group on Strengthening Religious Leadership in the Response to HIV.

Pukul 12.30, Mencari Baju Koko di Pasaraya Manggarai

Hari ini Pasaraya Manggarai terlihat ramai. Parkiran padat disertai kerumunan orang-orang memasuki perbelanjaan tersebut. Ya, wajar sebuah gerai perbelanjaan membuka diskon besar untuk semua produknya.

“Saya sebenarnya orang yang tidak suka ke mal. Pas ke mal, gini deh jadinya,” keluhnya.

Kami kemudian meninggalkan mobil. Selanjutnya berdesakan memasuki salah satu gerai perbelanjaan. Terlihat banyak perempuan yang tergoda akan diskon. Mereka sibuk memilih-milih pakaian ataupun produk-produk lainnya. Lain halnya dengan Anggia, perempuan lulusan SMAN I Sragen ini tidak tergoda.

“Saya biasanya kalau ke tempat perbelanjaan begini, langsung saja ke tempat yang dituju. Tidak coba ini-itu,” kilahnya.

Dia juga menuturkan bahwa sekalipun dirinya tidak suka ke mal, berkebalikan dengan anak sulungnya. Sehingga kadangkala dia harus mengalah pada anaknya yang sudah ABG itu kalau sedang jalan-jalan keluarga.

Anggia kemudian mencocokkan baju koko pilihannya kepada Adam. Setelah itu ia beranjak ke kasir yang antriannya cukup membuat kita harus bernafas panjang terlebih dahulu.

Anggia membantu Adam mencocokan baju kokonya. Sumber Foto: Dhihram Tenrisau.

Pukul 13.30, Tiba di Rumah, Makan Siang, dan Packing Barang

Mobil melaju dari jalan besar menuju jalan gang sempit di Jalan Matraman Dalam 2 Gang 3, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat. Selama perjalanan, di dalam mobil, kami bercerita tentang cita-cita Fatayat NU khususnya pada periode dia memimpin.

“Fatayat itu di seluruh Indonesia sebenarnya punya potensi untuk pengembangan ekonominya. Selain mereka punya produk-produk yang khas. Seperti  jilbab, sepatu, kue, makanan, tas. Secara pasar mereka punya. Fatayat dengan 8 juta anggota kenapa tidak kita bikin inovasi baru. Saya berinisiasi untuk produksi shampo. Karena setiap perempuan pasti perlu shampo kan,” tuturnya.

Fatayat yang lahir dari organisasi induk NU dan dirintis awal oleh tiga serangkai (Murthasiyah, Khuzaimah Mansur, dan Aminah) ini telah lama mengembangkan  produksi usaha kecil-menengah.  “Di zaman Pak SBY dulu, produksi Fatayat sering dipakai untuk  souvenir istana kalau lebaran. Itu jilbab sulam, cuma tantangannya tidak konsisten. Kita belum punya manajemen pasar dan bisnis yang bagus,” ungkap Anggia.

Kami tiba di jalan Matraman dalam, di gang sempit itu anak-anak riuh bermain di jalan. Mobil melaju pelan, kami turun di depan lorong yang hanya bisa di lalui sepeda motor. “Ayo Ais kita turun, rumah saya di dalam, di lorong situ. Mobil gak bisa masuk,” Anggia turun sambil menenteng tas dan kresek berisi baju koko dan saya membantu membawa bunga sedap malam melihat tangannya telah penuh oleh bawaan.

Di jalan, kami di sambut tawa bermain anak-anak yang sedang bermain bola, sebuah rumah mungil berlantai dua berwarna krem dan taman sempit.

Sebelum pindah kami dulu kontrak rumah. Saya dan suami bilang tidak apa-apa tinggal di lorong, asalkan di Jakarta Pusat. Kalau jauh dari kantor  banyak waktu yang terbuang,” Adam merengsek masuk ke dalam kamar saudara-saudaranya yang sedang asik bermain smartphone.

Jejeran foto memori dan keluarga terpampang mengkuti arah tangga hingga ke lantai dua. Sembari Anggia membereskan beberapa belanjaanya, saya penasaran menyusuri beberapa sudut rumah ini. Semerbak bunga sedap malam yang begitu liar mencumbui indera penciuman saya.

Jejeran foto keluarga Anggia Ermarini di kediamannya. Sumber Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

“kita makan siang dulu, setelah itu kita ngopi. Saya punya banyak kopi di rumah,” sela Anggia saat saya sedang asyik berbicara perihal tayangan TV favorit Adam.

Setelah makan siang, Anggia menyeduhkan secangkir kopi khas dengan aroma durian yang tidak begitu sempurna. Anggia memanggil anak keduanya yang lahir kembar, aak laki-laki yang mengalami puncak perkembangan masa remaja ini membantu Ibunya menuangkan galon ke dispenser.

“Setiap saya keluar kota, saya selalu membeli kopi. Itu sudah pasti. Saya dan suami pecinta kopi,” kata Anggia sambil menunjukan satu persatu koleksi kopinya. Mulai dari kopi yang dibelinya di Sumatera hingga kopi yang dibawanya dari Turki.

“Hampir semua jenis kopi saya suka, yang ada aroma duriannya juga bagus,” jelasnya.

Entah berapa kali dalam sebulan perempuan yang menikah pada tahun 2000 ini pergi ke luar kota. Namun, ia mengaku tidak pernah ingin lama di luar kota. “Kalau acaranya siang, pasti saya berangkatnya pagi. Ini ke Surabaya besok karena acaranya subuh jadi saya berangkat malam,” ungkap Anggia sambil menggulung dan memasukkan baju dan beberapa peranti perempuan ke kopernya.

Adam juga hadir disitu, Anggia tak henti-hentinya memeluk dan mencium tubuh gemuk Anak bungsunya itu. Adam meminta untuk mencoba kembali baju koko yang dibelinya.

Pukul 18.30, Mengantar Anak ke Dokter Gigi dan Menuju Bandara Halim Perdana Kusuma

Sebelum berangkat ke Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta, Anggia menyempatkan untuk mengantar anak perempuannya ke dokter gigi. Dihantar oleh supir, Anggia tiba di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Tambak, di Jalan Tambak No.18 Menteng, Jakarta Pusat.

Anggia mengantar anaknya ke Dokter Gigi. (Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah).

Setelah mengantar anak pertamanya, Anggia kemudian berangkat menuju Bandara. Menyusul  anggota Fatayat yang telah berangkat siang tadi. Besok subuh, Ia akan membersemai para pengurus Fatayat Surabaya.

Malam itu Anggia berangkat ditemani impian dan cita-citanya sebagai perempuan sekaligus nakhoda utama yang mengemudikan Fatayat NU.

Anggia saat berada di Bandara Halim Perdana Kusuma. (Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah).

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.