Locita

Sosial Distancing: Bagi-Bagi Buku Pdf Hidupkan Cara Beramal yang Mudah

Ilustrasi (foto: tagar.id)

Maaf, bukan merasa paling bener. Saya melihat gerakan bagi-bagi buku pdf merupakan bagian dari shaleh sosial. Seperti dalam buku Gus Mus–Shaleh Ritual, Shaleh Sosial–aktivitas masyarakat yang bagi-bagi buku pdf mendapat legitimasinya salah satunya lewat buku Gus Mus itu.

Prasangka saya ini bisa saja salah dan boleh didebatkan. Hanya perlu dimengerti bahwa perwujudan dari shaleh sosial itu “ya kebaikan sesama manusia.” Dalam situasi seperti sekarang yang tak bisa banyak beraktivitas akibat psikologi/sosial distancing jelas memperjelas gerakan bagi-bagi buku pdf sebagai upaya lain yang solutif.

Hanya saja persoalan keihklasan menjadi penentu dalam konteks bagi-bagi buku pdf ini. Ikhlas saja sebenarnya tidak cukup. Ia harus menuju puncaknya, yaitu ridho. Urusan ridho memang tidak mudah dilakukan.

Dalam banyak Sinau Bareng, Cak Nun selalu mengulang-ulang kata ridho. Dalam hal ini, Cak Nun memberikan konsep dasar soal ridho. Bahwa ridho itu melebihi apapun dari yang lain, misalnya ikhlas, sabar, tawakal. Ridho berada di puncak dari sub-sub kecil agama itu.

Artinya, dapat disimpulkan bahwa ridho adalah agama itu sendiri–dalam terminologi yang lain. Agama berarti berserah diri, ia hanya menghamba kepada Tuhan semesta alam.

Lalu apa yang terjadi jika dalam bagi-bagi buku pdf itu ada yang tidak ridho. Masalahnya adalah para penulis–mungkin penerbit buku–merasa dirugikan. Banyak sekali komentar-komentar yang mencibir gerakan bagi-bagi buku pdf di sosial media. Akhir-akhir ini menjadi meningkat setelah ada Penulis yang mengunggah video ketidakterimaan atas karyanya yang dibagi-bagikan gratis ke orang-orang.

Lalu benarkah bahwa mereka yang bagi-bagi buku pdf adalah orang yang salah? Atau justru sebaliknya. Benarkah Penulis yang tidak terima adalah orang yang tak pernah belajar agama? Yang artinya juga salah.

Benang merah dalam kasus ini memang perlu diperlihatkan. Jika tidak akan menjadi runyam dan cenderung kontraproduktif. Sebab orang yang bagi-bagi buku pdf berpikir yang dilakukan adalah bagian dari kesalehan sosial, sementara Penulis yang merasa kecewa punya pikiran mereka (orang yang bagi-bagi buku pdf) tak menghargai dirinya–dan mungkin penerbit buku.

Buku memang menjadi satu hal yang penting di dunia ini. Bahkan bagi peradaban manusia secara umum. Dalam banyak contoh sejarah bisa dilihat bagaimana majunya peradaban karena banyaknya konsumsi masyarakat terhadap buku-buku. Contohnya tak perlu saya sebutkan.

Sementara itu, pernahkah berpikir bahwa jika dulu para pemikir juga menggunakan buku bajakan? Karya Aristoteles tak akan bisa sampai ke dunia Timur jika tak dibajak terlebih dahulu. Atau sebaliknya, karya Ibnu Rusyd atau Ibnu Sina tak akan sampai ke dunia Barat jika tak diajak terlebih dahulu. Ini menjadi poin yang perlu diperhatikan. Kemampuan akal kita tak akan berkembang jika tak ada dialektika antara pengetahuan yang sudah ada. Kita bisa saja akan mengulang kembali pemikiran yang sudah pernah dipikirkan sebelumnya. Ini jelas kontraproduktif.

Sekarang mari kita bayangkan, misalkan Aristoteles masih hidup, akankah merasa marah karena bukunya telah menyebabkan perubahan peradaban menjadi lebih maju? Atau mungkin jika Ibnu Sina masih hidup, bukunya bisa menyebabkan gerakan renaisans akan marah melihatnya? Tentu saja tidak. Perlu keikhlasan di sini. Andaikan saja peradaban yang mencuat itu terjadi pasca psikologi/sosial distancing apakah masih akan marah dan merasa dirugikan?

Wallahu’alam bi Murodi. Manusia sebagai mahluk sekaligus hamba yang harus tunduk dan berserah diri kepada Tuhan semesta alam memang terkadang lali. Ia merasa bahwa apa yang dilakukan adalah apa yang dia perbuat sendiri. Ia lupa ada campur tangan Tuhan.

Lalu menjadi benar jika kita menanyakan kepada para Penulis yang kecewa itu, apakah kalian tak pernah sadar bahwa pengetahuan yang diklaim milik kalian itu adalah sebenarnya milik Tuhan? Bisa saja dengan Kun faya Kun-Nya, pengetahuan itu akan sirep dari tempurung kepalanya.

Maka ikhlaskanlah setiap butiran-butiran pengetahuan yang mampir sebentar di tempurung kepala kalian untuk segera mengalir ke tempurung kepala yang lain. Dan, bukankah ikhlas, ridho dan sabar adalah bagian dari agama itu sendiri?

Ridho penulis terhadap buku-buku pdf yang dibagikan pada masyarakat luas tentu akan menambah kualitas dari ilmu yang didapatkan nantinya. Bahkan lebih dari itu, ilmu itu akan menjelma menjadi anak yang suci di peradaban manusia yang kotor ini. Ia akan menjadi nyawa yang mengisi raga manusia untuk menuntun pada perbaikan-perbaikan. Hingga pada akhirnya akan mengenal siapa Tuhannya.

Afala ta’qilun. Afala tatafakkarun!

Avatar

Muhammad Khasbi M.

Mahasiwa IAINU Kebumen. Suka membaca, menulis dan diskusi. Penyuka wacana kritis yang progresif-revolusioner. Aktif di organisasi PMII dan penggagas Institut Literasi Indonesia (ILI).

Tentang Penulis

Avatar

Muhammad Khasbi M.

Mahasiwa IAINU Kebumen. Suka membaca, menulis dan diskusi. Penyuka wacana kritis yang progresif-revolusioner. Aktif di organisasi PMII dan penggagas Institut Literasi Indonesia (ILI).

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.