Locita

Dear Pak Nadiem, Kemerdekaan Belajar (Kiri) Mahasiswa Kok Gak Dibahas?

ilustrasi (foto: phi radio)

Baru-baru ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim membuat suatu gebrakan besar terkait pendidikan di Indonesia dengan tagline “Merdeka Belajar”. Pada intinya, Pak Nadiem hendak mengubah sistem pendidikan yang dulunya lekat dengan sistem menghafal dan juga ‘campur tangan’ pemerintah atas standard penilaian siswa, menjadi sistem yang berbasis analisis dan kemerdekaan Siswa serta para Guru di masing-masing sekolah.

Tapi entah mengapa, Pak Nadiem kok tidak membahas sistem belajar mengajar yang terjadi kepada siswa yang punya gelar Maha? Gagasan Merdeka Belajar hanya sebatas untuk tingkat SD-SMA sederajat. Padahal Mahasiswa juga memiliki problem tak kalah banyak dari adik-adik yang belum menginjakan kaki di kampus. Pembaca yang budiman kalau tidak percaya, silakan search di google tentang gagasan Merdeka Belajar, fix tidak ada tuh dibahas mengenai kemerdekaan belajar bagi Mahasiswa, atau kalau ada silakan beritahu saya.

Gini, sebelum bicara lebih lanjut tentang Merdeka Belajar untuk mahasiswa dan kaitannya dengan judul tulisan ini, izinkan saya terlebih dahulu memberitahu secara harfiah dua kata itu, yakni “Merdeka” dan “Belajar”. “Merdeka” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V memiliki makna, pertama, bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya), kedua, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, ketiga, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa. Sementara “Belajar” memiliki makna, berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu.

Jika digabungkan, Merdeka Belajar bermakna bebas atau leluasa dan tidak memiliki ketergantungan dalam meraih ilmu. Jika sudah demikian, mahasiswa sejatinya bisa mencari ilmu dari manapun dan dengan cara apapun. Selain itu mahasiswa tentu harus bebas dari tekanan siapapun termasuk pemerintah itu sendiri dalam mencari ilmu, termasuk yang berbau Sosialisme atau yang sering disebut ‘Kiri’ oleh sebagian orang.

Sejatinya mahasiswa lebih membutuhkan kemerdekaan belajar, sebab ia lebih sering mencari ilmu dari forum-forum semacam Sarasehan, Symposium dan yang sejenis. Kemudian apakah mahasiswa hari ini belum merdeka? Sebagai mahasiswa, saya bisa mengatakan sangat tidak merdeka. Di tulisan ini saya tidak mau berbicara soal bagaimana sistem penilaian dosen-dosen terhadap mata kuliah yang terkadang sangat aneh. Karena kalau ditulis di sini semua, jadinya menjadi panjang kali lebar sama dengan luas.

Oke, kita kembali ke awal. Kenapa mahasiswa itu tidak merdeka dalam belajar, tentu saja pokok pangkalnya kembali ke Tap MPRS Nomor XXV Tahun 1966 tentang pelarangan ajaran, literasi yang berbau marxisme-leninisme, sosialisme dll itu, plus ditambah dengan aturan-aturan karet yang lain seperti UU ITE dan yang sejenis, sehingga mahasiswa harus sembunyi-sembunyi untuk mempelajari itu, apalagi mau mendiskusikan di ruang publik.

Pak Nadiem tidak percaya kalau kondisinya demikian? Untuk orang yang sukses membuat startup Gojek, silakan buka Google di Hp-nya, lalu ketik pembubaran diskusi Harry A. Poeze tentang sejarah Tan Malaka. Kalau masih kurang, silakan ketik lagi pembubaran Seminar 1965. Masih kurang? Coba cari penyitaan buku-buku kiri, dan masih banyak lagi.

Semua kejadian itu menggunakan dalih yang sederhana, membaca atau mendiskusikan materi atau tokoh yang dianggap kiri sama dengan PKI, dan PKI = Ateis bin kejam. Padahal seseorang khususnya mahasiswa, mempelajari itu semua tidak auto PKI, lho. Banyak hal sebenarnya yang dituju oleh mahasiswa mempelajari itu, bisa jadi ia sedang menggarap skripsi dengan judul “Perbandingan konsep uang antara Karl Marx dengan Adam Smith”, misalnya. Atau bisa jadi, mereka mahasiswa hendak mempelajari kelemahan-kelemahannya karena melihat banyaknya Negara-negara bermadzhab Sosialis tumbang, seperti Uni Soviet.

Memang sih ajaran Sosialisme itu bisa dijadikan pisau analisa bagaimana praktik kapitalisme itu menghisap kaum buruh, macam buruh Gojek yang diberi label mitra, eh. Lagian Pak Nadiem yang menjabat Mendikbud dan lulusan Negeri Om Sam, harusnya sudah tahu kalau melarang sesuatu pada seseorang tapi orang itu tidak tahu isinya apa justru menjadikannya fobia, ya mirip-mirip orang diceritakan soal hantu. Tapi sebaliknya jika orang tersebut ngerti kalau suatu ajaran macam PKI atau sosialis itu berhahaya, pasti dengan sendirinya tidak mau mengikuti pada ajaran tersebut.

Dan Pak Nadiem tahu dong, mencari kelemahan dari apapun perlu lebih dulu mempelajarinya. Lagi-lagi saya beri analogi Gojek-lah, jika ingin mengerti kelemahan (dan kelebihan) dari Startup Gojek, seseorang atau kelompok juga musti mempelajari dari cara kerjanya. Caranya, ya tergantung bagaimana metode yang mau digunakan oleh orang yang mau kepo itu. Jadi apapun alasannya, membatasi ruang belajar dari mahasiswa termasuk yang disebut di atas sejatinya berlawanan dengan gagasan Merdeka Belajar.

Untuk menganalisis sesuatu pasti dibutuhkan yang namanya Tesa, Antitesa yang kemudian ketemulah dengan Sintesa atau tesa baru. Kita gak usah muluk-muluk ngomong Materialisme History, atau membawa-bawa metode ala Hegel, orang mau menggarap Skripsi saja pakai metode itu. Kalau Sosialisme atau bahkan kalau perlu Komunisme diletakan sebagai antitesa dari Kapitalisme, gimana cara menganalisis jika semua yang berkaitan dengan ajaran itu sendiri dilarang to the keras? Kalau hanya sebatas ngomong bahwa Sosialisme, Komunisme jahat tanpa penjelasan, itu namanya bukan analisis, pak.

Meminjam bahasa Pramoedya Ananta Toer, seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran. Cara-cara klasik dengan penggambaran-penggambaran bahwa Sosialis, Komunis itu kejam, tak punya hati, jelas tidak mencerminkan sikap dari seorang yang terpelajar. Kita yang konon hidup di era milenial ini tidak mengalami kejadian-kejadian yang sebenarnya pada waktu Tap MPRS lahir.

Untuk menganalisis benar dan salah dari ajaran Sosialisme, Komunisme, ya dengan mempelajari dan mendiskusikan. Dan ketika sudah sampai pada tahap kesimpulan, disitulah kita bisa bersikap menolak (atau menerima) sebagian bahkan keseluruhan dari ideologi itu. Dan sebenarnya ini berlaku untuk semua Ideologi, gerakan termasuk Ideologi para pengasong Khilafah.

Jadi saran saya untuk Pak Nadiem mending bapak mengusulkan untuk mencabut Tap MPR itu. Tapi memang dibutuhkan nyali yang kuat seperti Driver Gojek yang dilecehkan Iis Dahlia, karena risikonya minimalnya di Reshufle, dan paling pahitnya dianggap anak cucu PKI dan Gojek diusir dari Indonesia. Namun meski begitu, saya (dan mungkin teman-teman yang lain) angkat topi dan bangga, bahwa Pak Nadiem adalah menteri yang Merdeka dan hendak memerdekakan spirit belajar bangsa Indonesia.

Addarori Ibnu Wardi

Addarori Ibnu Wardi

Orang biasa yang lahir dari orang tua petani dengan mimpi yang mengalir. Untuk melihat kesehariannya, bisa dicek di Facebook Addarori Ibnu Wardi, twitter @ibnu_wardi, Instagram @ibnuwardi, Youtube Channel Addarori Ibnu Wardi. :)

Tentang Penulis

Addarori Ibnu Wardi

Addarori Ibnu Wardi

Orang biasa yang lahir dari orang tua petani dengan mimpi yang mengalir. Untuk melihat kesehariannya, bisa dicek di Facebook Addarori Ibnu Wardi, twitter @ibnu_wardi, Instagram @ibnuwardi, Youtube Channel Addarori Ibnu Wardi. :)

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.