Locita

Dari Corona Kita Belajar, Ketahanan Pangan Adanya di Pedesaan

ilustrasi (foto: breedie)

Ibu Kota, menjadi pusat segalanya, ekonomi, pendidikan dan pusaran bisnis dunia. Tapi bagaimana rasanya bagi teman-teman yang hidup di Kota pada saat krisis, atau saat wabah Corona menyerang Indonesia? Apakah kemajuan di segala lini lebih berarti dari ketersediaan pangan?

Hingga hari ini wabah corona masih menjadi ancaman besar bagi seluruh umat manusia. Semua pihak memutar otak untuk mengatasi Covid-19. Skema Lockdown, Karantina Wilayah, hingga Darurat Sipil sudah menjadi perdebatan sehari-hari. Ya, kita hari ini tidak sedang bicara Jokowi VS Prabowo, Cebong Vs Kampret dan lainnya, tapi semua mencari jalan terbaik menghadapi Covid-19.

Ketika itu, awal ditemukannya kasus Corona di Indonesia, atau pasien 01 Covid-19 dilaporkan, penulis sedang berada di DKI Jakarta. Dari awal penulis memilih bersikap biasa tapi tetap mawas diri dengan menjaga kesehatan, sebelum akhirnya Pemeritah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyampaikan jumlah dan potensi sebaran Covid-19 dan dilanjutkan dengan pembatasan-pembatasan ruang publik.

Setelah pembatasan-pembatasan mulai diberlakukan, seperti jam berangkat Bus TransJakarta per 30 menit waktu itu, dan di tempat-tempat umum mulai diberlakukan pengentasan, disitu penulis berpikir tentang bagaimana kelanjutan hidup. Bertahan di Jakarta, atau balik ke Desa hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Sekitar dua atau tiga hari, penulis memperhatikan seluruh informasi kebijakan yang berkaitan dengan Covid-19 ini.

Sejak saat itu yang dikhawatirkan oleh penulis bukan lagi soal Corona, tetapi penulis khawatir Indonesia, khususnya Jakarta akan dilanda krisis ekonomi karena Covid-19. Bukan tanpa alasan kenapa penulis lebih khawatir terhadap krisis, di antaranya, kebutuhan Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker, Vitamin C, dan yang lainnya mulai sulit dicari. Belum lagi bahan baku herbal yang katanya memperkuat imunitas seperti kunyit, juga mulai mahal sejak pembatasan-pembatasan itu.

Kondisi tersebut bisa dimaklumi, sebab masyarakat mulai khawatir dan mulai melakukan perlindungan diri. Sehingga, pembatasan atau Social Distancing mengakibatkan Supply & Demand APD dan bahan baku herbal mulai tidak berimbang. Berangkat dari sini, penulis mulai berpikir bahwa pulang adalah jalan terbaik untuk menghindari krisis di Ibu Kota.

Mungkin pada waktu kelangkaan hanya terjadi di APD, dan yang mahal di bahan baku herbal atau kesehatan. Tapi jika pembatasan terus diberlakukan, dan skalanya ditingkatkan, bukan tidak mungkin kebutuhan pangan juga mengalami kelangkaan, dan kalaupun ada harganya mahal. Sebab, Jakarta atau daerah perkotaan secara umum di Indonesia, tidak memiliki ladang sawah yang cukup kalau tidak mau disebut tidak ada.

Memang peneliti ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira, menyebutkan, 70 persen pergerakan uang nasional berada di Jakarta. Dan seluruh daerah perkotaan di Indonesia merupakan lambang kemajuan suatu wilayah Kabupaten/Kota, atau Provinsi. Karena sebelum akses pendidikan, kesehatan, teknologi masuk ke desa-desa, maka daerah perkotaan-lah yang menikmati lebih dulu. Wajar jika banyak desa yang masih belum ada listrik, atau infrastrukturnya terbelakang.

Namun kemajuan itu tidak menjamin ketahanan pangan masyarakat perkotaan, jangankan kebutuhan pangan, air bersih saja masih bergantung. Pemasok kebutuhan pangan masyarakat perkotaan, ya masyarakat desa. Bagaimana urusannya kalau semua dibatasi? Pastinya pasokan pangan juga tersendat. Dan daerah-daerah penghasil kebutuhan pangan pastinya mengutamakan kebutuhan mereka sebelum menyuplai daerah lain.

 

Kembali ke Desa

Penulis akhirnya pulang ke Desa sebelum skala pembatasan ditingkatkan, sebelum aturan di tiap perbatasan diperiksa, sebelum perantau menjadi otomatis ODP. Memang di Desa tidak ada Gojek, atau Startup yang bisa menopang kebutuhan sehari-hari layaknya masyarakat perkotaan. Kalaupun itu ada, tapi barang-barang yang dibutuhkan sulit, kita bisa apa? Mereka hanya penyedia jasa layanan, tidak bisa memproduksi beras dan kebutuhan pangan lainnya.

Sebelum kembali ke Desa, penulis sudah mengkalkulasi jika kembali ke desa, dari mana sumber pangan bisa di dapat, mulai dari beras, hingga urusan lauk-pauk yang menjadi alternatif mengantisipasi kelangkaan. Di desa, uang memang tidak berputar secepat di Perkotaan, Vitamin C dan E yang katanya memperkuat Imunitas, jelas lebih sulit lagi.

Tapi di desa, tidak semua harus menggunakan Uang. Dan yang namanya Vitamin, memang yang berbentuk obat langka, tapi bukankah itu cukup dengan mengkonsumsi sayur? Daun kelor, misalnya.

Sepanjang mata memandang, ada banyak dedaunan yang bisa dijadikan sayur, dan banyak buah-buahan menjadi pelengkap gizi. Belum lagi jika berbicara rempah-rempah dan bahan herbal seperti kunyit, temulawak, dan sebagainya. Dan hidup di pedesaan, penulis yakin lebih sehat, polusi tidak separah di perkotaan. Berbicara asap, paling ‘hanya’ ada asap kendaraan penggilingan gabah, selebihnya kita menghirup udara dari pohon-pohon yang masih asri.

Dari situ, penulis paham kenapa banyak orang memilih mempercepat mudik ke desa-desa dari pada bertahan di perkotaan. Rasanya berlebihan jika menganggap hidup di desa pasti selamat dari Covid-19. Tetapi penulis optimis, bahwa masyarakat desa lebih aman dari ancaman krisis. Karena bertahan dari krisis, punyak banyak uang saja tidak cukup, lalu apa yang dicari masyarakat yang berbondong-bondong ke perkotaan? Kemajuan semu yang tidak tahan akan krisis itu? Yang kalau di lockdown, ekonomi perkotaan yang dihantam lebih dulu itu?.

Akhirnya penulis mengamini perkataan orang tua dulu, bahwa sekaya-kayanya orang perkotaan, rata-rata mereka Pekerja (Proletar), dan semiskin-miskinnya orang desa, kebanyakan dari mereka Petani (Memiliki alat produksi). Pekerja jika ingin makan, ia harus membeli dengan uangnya, dan petani/nelayan yang ingin uang, ia harus menjual hasil pertanian atau tangkapannya. Dan kita hari ini sedang di posisi yang mana? Silakan dijawab dalam hati.

Addarori Ibnu Wardi

Addarori Ibnu Wardi

Orang biasa yang lahir dari orang tua petani dengan mimpi yang mengalir. Untuk melihat kesehariannya, bisa dicek di Facebook Addarori Ibnu Wardi, twitter @ibnu_wardi, Instagram @ibnuwardi, Youtube Channel Addarori Ibnu Wardi. :)

Tentang Penulis

Addarori Ibnu Wardi

Addarori Ibnu Wardi

Orang biasa yang lahir dari orang tua petani dengan mimpi yang mengalir. Untuk melihat kesehariannya, bisa dicek di Facebook Addarori Ibnu Wardi, twitter @ibnu_wardi, Instagram @ibnuwardi, Youtube Channel Addarori Ibnu Wardi. :)

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.