Locita

Orang Kaya Yang Menyumbang Dengan Beras  Busuk

Orang yang bersedia menerima beras busuk adalah berarti orang yang benar-benar membutuhkan. Mungkin saja di rumahnya sudah tidak ada persediaan beras.

Kyai Saleh tersenyum gembira melihat semangat umat Islam untuk saling membantu di situasi wabah. Orang-orang kaya saling berlomba untuk menafkahkan dengan caranya masing-masing. Sebagian besar meng-uploaddi media sosial.

“Tidak riya-ji itu, Kyai?” Tanya Sampara

“Riya urusan hati. Di era seperti ini, pola juga bisa berubah. Ujiannya tentu lebih berat. Bagaimana menghilangkan unsur riya dalam hati. Lagian dasarnya juga ada dalam Alquran. Nikmat yang diberikan oleh Allah boleh diceritakan. Bukami surat Adduha, Sampara.”

Sampara mengangguk pelan.

Kyai Saleh tiba-tiba ingat peristiwa beberapa tahun silam.

Situasinya sama. Menjelang bulan ramadhan begitu banyak dermawan yang menyumbang. Berita tentang sumbangan menjadi buruan warga. Di kampung A seorang dermawan menyumbang beras lima kg per orang plus telur dan susu. Kantong plastik sumbangan itu segera ludes. Beberapa warga yang telat tidak mendapatkan jatah sumbangan karena tidak kuat berdesakan. Di kampung B, seorang dermawan di kampung itu menyumbangkan sembako lengkap, dengan jumlah bungkusan yang banyak. Warga berbondong-bondong menuju kampung itu untuk mendapatkan jatah sumbangan. Beberapa warga yang terlihat berpakaian bagus juga ikut berebutan mendapatkan jatah. Konon, beberapa warga kurang mampu tidak mendapatkan apa-apa karena sistem distribusi yang tidak bagus. Bahkan isu, sebagian sumbangan justru dinikmati oleh pihak tertentu yang tidak layak mendapatkan, juga berhembus.

Selepas salat Magrib, Kyai Saleh mengumumkan bahwa seorang dermawan akan menyumbang kepada warga.

“Besok, sampaikan kepada warga yang mau dapat berkumpul di halaman masjid untuk mendapatkan bantuan.” Kata Kyai Saleh.

“Banyakkah sumbangannya, Kyai?” Tanya salah seorang jamaah masjid. Kyai Saleh menggelengkan kepala.

Keesokan harinya. Warga datang memenuhi halaman masjid. Sebagian warga dari kampung tetangga juga ikut datang. Kyai Saleh dan beberapa muridnya sudah menunggu, selepas salat Ashar.

Tak lama berselang, satu mobil pick up datang dengan membawa bungkusan plastik hitam. Ukuran plastiknya kecil dan jumlahnya pun tidak banyak. Kyai Saleh mengernyitkan dahi. Lelaki tua itu terlihat bingung melihat jumlah bungkusan yang tidak sebanding dengan orang yang datang.

“Sedikit sekali, Kyai!” bisik Yusran.

“Iye, Kyai. Baru kecilnya kantongannya. Paling cuma beras satu kilo.” Kata Sampara dengan nada lemas.

Warga yang hadir pun tampak kecewa melihat jumlah bantuan yang sedikit. Beberapa warga sudah tampak beranjak pulang.

Sampara membuka salah satu kantong plastik. Wajahnya kaget dan segera berubah cemas demi melihat isinya.

“Kyai, beras busuk. Ada kutunya. Bagaimana ini?” Bisik Sampara kepada Kyai Saleh. Kyai Saleh terkejut. Dia segera mendekati tumpukan bantuan itu dan memeriksa isinya. Dahi Kyai Saleh mengkerut.

Kyai Saleh buru-buru menelpon ke muridnya yang menyumbang itu. Bagaimana pun juga, dia ikut bertanggung jawab karena telah bersedia menerima dan menyalurkan melalui masjid. Percakapan singkat itu membuat wajah Kyai Saleh kembali cerah. Dia tersenyum.

“Baik, warga yang telah berkumpul. Terima kasih atas kedatangannya. Ini ada sumbangan dari salah seorang murid saya. Isinya, 1 liter beras. Tapi maaf kualitas berasnya tidak bagus. Ini kayaknya beras sisa dari gudangnya. Ada juga kutunya. Saya terpaksa bilang begini, daripada nanti pulang baru saya dicalla-calla(diejek-ejek)” Kata Kyai Saleh dengan suara lantang.

Para warga yang berkumpul saling berpandangan. Mereka memperlihatkan wajah kecewa. Harapan mereka untuk mendapatkan paket sembako atau sumbangan yang bagus sirna. Mereka tadinya menyangka akan mendapatkan bantuan yang istimewa karena yang menyalurkan adalah seorang Kyai ternama di kota ini. Nyatanya, justru mengecewakan.

“Kyai. Itu muridta sengaja kasih maluki” teriak salah seorang warga.

“Iye, Kyai. Masak sumbangannya beras busuk.” Warga lainnya ikut bersuara.

“Janganmi saya Kyai. Meskipun kami miskin tapi kalau beras busuk itu sama saja dengan menghina kami.” Salah seorang warga berteriak lebih kencang.

Sampara, Ale, Yusran dan para santri Kyai terlihat pucat. Mereka tidak menyangka situasi menjadi runyam.

Kyai Saleh hanya tersenyum.

“Sepanjang hidupku, baru kali ini saya menyalurkan bantuan istimewa begini.” Kata Kyai Saleh dengan tenang.

“Apanya, Kyai! Saya janganmi.Capek-capekki saja datang!”

Satu per satu warga bubar. Mereka pulang dengan raut wajah kecewa. Mereka merasa tertipu. Kekecewaan warga semakin membuncah ketika mereka berpapasan dengan salah seorang warga yang baru saja pulang dari kampung sebelah berburu sumbangan.

“Apa sumbangannya di sana?”

Orang itu memperlihatkan isi sumbangan. Para warga terlihat takjub. Isinya sembako lengkap plus satu kaleng biskuit berukuran sedang. Mereka menyesal tidak ikut kesana dan memilih menanti di masjid Kalimana.

Hanya sepuluh orang warga yang bertahan. Mereka adalah orang paling miskin di kampung Kalimana. Mereka-lah yang selalu kalah dalam setiap perlombaan berburu sumbangan. Mereka selalu tidak kebagian sumbangan. Entah karena kalah bersaing atau karena mereka telat datang.

“Apakah kalian bersedia menerima beras ini?” Tanya Kyai Saleh.

Sepuluh orang warga itu mengangguk, “biarmi jelek berasnya Kyai nanti kami cuci baik-baik.” Kata salah seorang warga yang bertahan.

“Berikan tiga kantong per orang!” Kata Kyai Saleh kepada Sampara.

Dengan wajah lesu, Sampara membagikan kantong plastik itu.

“Jangan buang kantongnya, periksa baik-baik” bisik Kyai Saleh kepada setiap penerima bantuan. Mereka pun mengangguk meski tidak paham maksudnya.

“Kyai. Siapa sebenarnya penyumbang ini?”

“Haji Dollah.”

“Haji Dollah!!!! Itu yang rumahnya mewah sekali dan punya banyak toko? Deh, bisanya sekke begini. Biar saya bisa ji juga menyumbang seperti ini, Kyai” celoteh Yusran dengan nada sedikit jengkel campur marah.

“Tidak mungkin kamu bisa, Yusran!” Ejek Kyai Saleh. Wajah Yusran memerah.

Tak lama berselang, tiba-tiba salah seorang warga yang tadi menerima bantuan datang dengan wajah berseri-seri.

“Terima kasih, Kyai!” diciuminya tangan Kyai Saleh berkali-kali. Para santri Kyai Saleh terheran-heran. Mengapa orang diberi beras busuk datang dengan kegembiraan begitu besar.

“Sebenarnya ada apa, Kyai?” tanya Yusran dengan penasaran.

“Ada isinya itu kantong, 1 juta dek!” kata warga tadi.

Para santri terkejut bukan kepalang.

“Kenapa memilih cara begini, Kyai?” Tanya Yusran setelah merapikan perasaannya.

“Haji Dollah tidak ingin sumbangannya salah sasaran. Orang yang bersedia menerima beras busuk adalah berarti orang yang benar-benar membutuhkan. Mungkin saja di rumahnya sudah tidak ada persediaan beras. Kalian tahu sendiri kan? Bagaimana sistem pengelolaan bantuan dan karakter orang-orang yang menerima bantuan. Kadang-kadang, fisik mereka masih kuat tetapi mental mereka lemah. Belum lagi, pihak yang lebih mendahulukan kerabatnya.”

Para santri mengangguk-anggukkan kepala.

Sampara tiba-tiba tersenyum lebar.

“Kenapako senyum-senyum Sampara?”

“Ada satu kusimpan. Begitu memang orang kalau percaya penuh dengan Kyai. Pasti dapat berkah” katanya pelan dengan nada menang. Santri lain melongo lalu tersenyum bersama.

Kyai Saleh pun ikut tersenyum.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

2 comments

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.