Locita

Mudik dan Pulang Kampung

pexels-photo-3951602

Kita sedang dalam situasi darurat. Jangankan hanya membedakan istilah. Salat Jumat saja kita tinggalkan. Yang kita butuhkan sekarang,  bukan definisi mudik dan pulang kampung tetapi apakah kebijakan ini bisa mencegah penyebaran virus atau tidak?”

Mata Najwa adalah salah satu acara favorit Kyai Saleh. Najwa Shihab mewakili perempuan Indonesia modern yang menggunakan kemampuannya untuk berperan dan berkonstribusi bagi kebaikan negara. Kyai Saleh senang melihat Najwa seperti seorang ksatria yang punya banyak senjata kata-kata. Beberapa tokoh nasional kelabakan meladeni pertanyaan-pertanyaan jebakannya. Kali ini, tokoh yang ditampilkan adalah orang nomor 1 di Indonesia, Presiden Jokowi. Temanya cukup menarik, tentang pandemic covid-19. Najwa menggunakan saluran acara untuk mendengarkan tata kelola pandemik ini dari mulut sang presiden.

Sampara menemani Kyai Saleh menonton. Sedangkan istri Sampara sedang sibuk di dapur membuat pisang goreng kesukaan Kyai Saleh.

Tak lama berselang, Ale datang membawa satu ayam kampung untuk persiapan sahur pertama. Ayam kampung yang sudah dikuliti itu segera disimpan oleh istri Sampara di lemari pendingin.

“Iiiiiih…. Sambarangnya ini pak Presiden. Masa mudik dan pulang kampung na bedakan. Barusan saya dengar… kayaknya piti-piti ini.” Gumam Sampara. Kyai Saleh menyimak dengan serius perbincangan di salah satu TV nasional itu. Dia cukup serius melihat Najwa Shihab mencecar Presiden Jokowi dengan data orang pulang kampung di era Covid-19 yang cukup besar. Termasuk argumen Presiden Jokowi yang membedakan pulang kampung dan mudik. Najwa Shihab tampak kurang puas dengan pendefinisian Presiden Jokowi tentang mudik. Bagi Najwa Shihab, pulang kampung ya mudik. Sama saja. 

“Bagaimana menurut, Kyai?” Sampara bertanya selepas acara itu selesai.

“Apanya, Sampara?”

“Tentang itu Kyai. Kenapa presiden kita ini membedakan mudik dan pulang kampung. Barusanku dengar. Padahal, kalau kita mau mudik kan maksudnya pulang ke kampung. Jadi samaji to?”

“Tadi kan Presiden sudah menjelaskan maksudnya. Masa kamu tidak dengar?” Kyai Saleh berkilah.

“Ya tapi kayak berkelit ji kuliat pak Kyai. Beliau kesulitan menjawab data yang disodorkan oleh itu pembawa acara. Jadi, asal jawabmi.

Kyai Saleh tersenyum mendengar nada Sampara yang sedemikian semangat. Ale terlihat sibuk mengamati ponselnya. Dia tidak punya jawaban untuk menyela pertanyaan Sampara. Ale pun tampak kebingungan dengan permainan kata Presiden Jokowi tentang mudik dan pulang kampung.

“Wah, Kyai. Sudah banyak mi komentar dan sindiran di kolom facebook kuliat ini!”  seru Ale dengan mimik serius.  Sampara tersenyum melihat raut wajah Ale yang tampak kecut.

“Mauko bela apa lagi Presidenmu, Ale?” serang Sampara.

“Bukankah, presidenmu??” Ale balik menyerang.

“Eiits… jangan marah. Maksudku, ini kan orang yang kamu bela mati-matian di pilpres dulu. Ini kan pilihanmu.”

“Sudah-sudah!” Kyai Saleh menengahi. Kedua santri Kyai Saleh tidak jadi melanjutkan perdebatan.

Istri Sampara muncul dari balik dapur dan membawa sepiring pisang goreng.

“Daripada kalian berdebat, makan ini pisang goreng dan minum kopi. Biar otak kalian lebih segar.” Kata Kyai Saleh.

“Kita belum jawab pertanyaanku, Kyai?”  Sampara mengingatkan setelah melihat Sang Kyai malah asyik makan pisang goreng dan membaca buku.

“Begini Sampara.” Kyai Saleh meletakkan buku dan melepaskan kaca matanya. “Saya sudah pernah bilang, bahasa itu memiliki konteks. Makna bahasa bisa berubah-ubah tergantung konteksnya. Misalnya untuk urusan orang meninggal dunia. Kita punya banyak stok kata. Ada mati, wafat, tewas, gugur, meninggal dunia, limbang ri majeng. Perbedaan kata ini merujuk pada kejadian yang sama tetapi penggunaannya berbeda-beda. Begitulah bahasa. Dia ruang lentur yang berkembang sesuai konteks dan kegunaan. Intinya pada kesepakatan. Itu karakter bahasa. Jadi kalau nanti pernyataan Pak Presiden diributkan, itu karena belum sepakat konteksnya. Jadi ada unsur bahasa yang tidak terpenuhi.”

“Tapi kelihatannya cuma cari alasan ji tadi. Kayaknya pak Jokowi tidak siap menjawab pertanyaan Najwa Shihab?”

“Deeh itu menurut kamu. Saya liat tadi presiden kita santai dan cukup yakin dengan jawabannya.” Ale membela.

“Perhatikanmi mukanya Najwa Shihab? Dia kayak tidak terima jawaban Pak Presiden. Intinya, menurut Najwa sudah banyak orang yang pulang kampung. Sedangkan pak Jokowi melarang mudik. Ini artinya pak Jokowi mau bilang, dilarang mudik tapi boleh pulang kampung.” Sampara seperti menemukan momentum untuk menyerang Ale. Bias-bias pilpres tampak belum lenyap dari hati Sampara. Kali ini Ale hanya terdiam.

“Saya lanjutkan,” Kyai Saleh memotong situasi. “Konteks perbincangan Presiden Jokowi dan Najwa Shihab adalah penanganan covid-19. Jadi untuk menafsirkan perbincangan pak Jokowi ini. Pahami dulu konteksnya. Perbincangan mereka bukan definisi mudik dan pulang kampung tetapi strategi penyelesaian covid.”

“Tidak pahamka, Kyai” Sampara berucap pelan. Sedangkan Ale memasang wajah serius menanti kalimat Kyai Saleh selanjutnya.

 “Yang dicegah dari mudik adalah kerumunan orang dalam jumlah yang sangat besar dalam durasi waktu dan tempat yang bersamaan. Dalam tradisi kita, mudik itu sangat identik dengan lebaran. Kita sudah bertahun-tahun mengenal istilah arus mudik dan arus balik. Situasi dimana jalanan dipenuhi oleh rombongan orang yang pulang ke kampung halaman. Kita biasa pula mendengar istilah H-7 hingga H-1. Begitu pula dengan arus balik. Jadi, mudik adalah peristiwa spesifik yang terkait dengan lebaran idul fitri. Tidak ada peristiwa pulang kampung dengan jumlah orang sangat besar dalam negeri kita kecuali pada saat mudik lebaran. Kebijakan melarang mudik pada dasarnya adalah kebijakan untuk mengurangi penumpukan orang. Ini sama saja dengan himbauan untuk tidak salat jumat dan salat tarawih.”

Ale manggut-manggut. Sampara terkesiap. Dia tidak menduga Kyai Saleh akan menjelaskan dengan cara itu.

“Sedangkan yang disebut Pak Jokowi dengan pulang kampung adalah peristiwa yang tidak punya waktu khusus. Jadi, bisa dikontrol melalui pengaturan yang ketat. Karena kita tidak menerapkan lock down artinya masih bisa bergerak dengan terbatas. Orang yang mau pulang ke kampung disebut pak Jokowi dengan kategori tertentu dibolehkan. Dalam konteks ini, cukup masuk akal. Pulang kampung dengan pengertian ini bisa dikontrol dibatasi dan diawasi. Karena jumlah orang dalam waktu bersamaan tidak sebesar jumlah orang mudik.”

“Lalu bagaimana dengan data yang ditampilkan oleh Najwa Shihab. Kan jumlahnya juga sangat besar.”

“Nah, kalau mau kritik pak Presiden. Kritik bagian ini. Apakah kebijakan mengizinkan pulang kampung ini efektif mencegah penyebaran covid-19. Apa kategori orang yang boleh pulang kampung? Bagaimana pengawasannya? Siapkah aparat kita? Bagaimana mekanisme pencegahan penyebaran dari orang yang pulang kampung itu? Saya dengar sudah cukup bagus. Misalnya ada isolasi mandiri. Saya dengar juga di berita, orang-orang Makassar yang pulang ke kampung harus diawasi dan diisolasi. Ini cukup bagus. Data yang ditampilkan Najwa itu adalah koreksi dan masukan kepada pemerintah untuk lebih tegas lagi.”

“Jadi cocokmi membedakan mudik dan pulang kampung, Kyai?”

“Kalau perbincangan ini di ruang kuliah Bahasa Indonesia, saya ikut mengkritik Presiden Jokowi. Tetapi karena konteksnya penanganan situasi darurat, maka konteksnya malah benar. Ketika presiden melarang mudik. Kita semua paham bahwa yang dimaksud adalah peristiwa tahunan itu. Tetapi untuk kasus orang yang ingin pulang kampung dengan alasan tertentu, itu juga harus dipenuhi.”

“Kenapa kayak kita membela Presiden, Kyai?” Tanya Sampara pelan.

“Saya membela akal sehat. Kita sedang dalam situasi darurat. Jangankan hanya membedakan istilah. Salat Jumat saja kita tinggalkan. Yang kita butuhkan sekarang,  bukan definisi mudik dan pulang kampung tetapi apakah kebijakan ini bisa mencegah penyebaran virus atau tidak?”

“Tapi kuliat banyak yang membahasnya di medos, Kyai?” Ale ikut bertanya.

“Ya, karena yang mengucapkan seorang presiden. Anomali pula. Kita belum terbiasa membedakan diksi ini, meski secara sosial kita sudah sangat terbiasa membedakannya. Ini juga ujian bagi ketahananan defenisi Pak Jokowi tentang mudik. Apakah setelah pandemik berlalu, pembedaan definisi mudik masih relevan atau tidak. Tetapi menurut saya sudah tidak relevan lagi karena konteksnya sudah hilang. Kata yang kehilangan konteks akan gugur dengan sendirinya. Begitu rumusnya. Karena itu diksi pak Jokowi ini tidak bisa langsung dibandingkan dengan kosa kata meninggal dunia, tewas, mati. Kosa kata ini selalu relevan karena konteksnya ada terus menerus.”

Malam sudah larut. Tidak ada lagi pertanyaan dari Sampara. Ale tampak cukup puas mendengar penjelasan sang Kyai.

Ale memohon pamit. Sang Kyai menganggukkan kepala sembari mengucapkan terima kasih atas pemberian ayam kampung dari keluarga Ale.

“Terima kasih ayamnya, ya?”

Ale segera berdiri dan buru-buru meraih tangan Kyai  Saleh. Tetapi Kyai Saleh lebih sigap bergerak menolak. “Jaga jarak!” katanya. Ale tersipu malu. 

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

4 comments

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.