Locita

Khilafahmu, Khilafahku, Khilafah Kita Semua

“Akhi… khilafah itu ajaran Islam.

Khilafah itu adalah sistem kepemimpinan untuk semua umat Islam di dunia ini!” Kata seorang teman kampus yang dikenal sebagai aktivis HTI kepada Ale. Sebelum dibubarkan oleh pemerintah, teman Ale ini sangat getol mengkampanyekan misi HTI untuk mendirikan khilafah.

Meski wadahnya sudah dibubarkan, namun semangat teman Ale untuk mendiskusikan khilafah ternyata belum surut. Termasuk kali ini. Teman Ale tetap ngotot dengan pendapatnya tentang khilafah sebagai ajaran utama Islam.

“Lalu, kenapa HTI yang mengusung wacana khilafah di dunia ini ditolak oleh negara-negara muslim. Bukan hanya di Indonesia?” Ale bertanya dengan nada agak tinggi.

“Ya, itulah yang menjadi tantangan kami. Tidak masalah kami ditolak, dakwah rasulullah dulu juga ditolak oleh kaum kafir Quraisy. Tidak masalah.”

“Jadi, kamu menganggap orang-orang yang menolak kalian ini, sebagai kafir Qurasiy, dan kalian sebagai nabi. Waahhh…. Hebat sekali kalian.” Ada sedikit amarah di nada suara Ale. Teman Ale sedikit terdiam. Dia tidak menduga Ale akan menangkap kalimatnya dengan cara berbeda.

Allahu Akbar… Allahu Akbar!

Suara adzan terdengar dari masjid kampus. Ale dan temannya saling berpandangan. Mereka akhirnya bersepakat mengakhiri perdebatan dan berangkat menuju masjid.

Ale masih penasaran dengan perdebatan tentang khilafah. Beberapa argumentasi temannya itu cukup masuk akal. Ale bertekad menanyakan hal ini kepada Kyai Saleh nanti di masjid.

*****

Situasi cukup tepat. Hari ini tidak ada pengajian. Biasanya Kyai Saleh hanya bercengkrama dengan santri-santrinya di sela waktu antara Magrib dan Isya. Ale segera mengajukan pertanyaan yang sejak tadi siang menggelayut di benaknya.
“Kyai. Tabe. Bagaimana pendapat Kyai tentang khilafah?”

Kyai Saleh sedikit tersenyum melihat Ale yang segera bertanya tanpa salaman dan cium tangan.

“Baiknya setelah selesai salat, salaman dulu. Itu tradisi kita.” Kata Kyai Saleh. Ale terkesiap dan buru-buru menyadari kesalahannya. Dengan senyum kecil, Ale meraih tangan Kyai Saleh dan menciuminya.

“Pasti habis berdebat lagi dengan temanmu yang eks HTI itu!” sela Tesa. Ale hanya melirik sembari tersenyum kecil ke arah Tesa. Dia tidak menanggapinya. Dia lebih memilih duduk bersila di hadapan Kyai Saleh. Begitupun beberapa santri yang tersisa di masjid.

“Apa tadi pertanyaanmu, Ale?”

“Bagaimana sebenarnya khilafah dalam ajaran Islam, Kyai?”

“Ooo.,,, khilafah itu sistem politik yang diwariskan oleh para sahabat atau yang kita kenal khulafaurrasyidin untuk melanjutkan misi kenabian.”

Ale mengangguk-angguk. Dia merasa jawaban Kyai Saleh mirip dengan jawaban temannya tadi.

“Kyai. Kenapa ada yang bilang Nabi Muhammad tidak mewariskan negara Islam?”

“Seperti yang selalu saya katakan, tergantung sudut pandangnya. Posisi kita memandang memengaruhi kesimpulan kita.”

“Bagaimana maksudnya, Kyai?”

“Begini. Islam ini diwariskan oleh Nabi Muhammad sebagai ajaran yang lengkap dan sempurna. Tidak ada satupun sudut kehidupan yang tersisa. Semuanya ada dalam ajaran Islam. Nabi mewariskan semuanya, termasuk politik. Bahaya kalau Nabi tidak mewariskan sistem politik kepada kita. Bisa-bisa kita tersesat semuanya.”

“Lalu kenapa negara-negara Islam sekarang berbeda-beda Kyai?”

“Dalam konteks hubungan kepada Allah, Nabi mewariskan nilai dan bentuknya. Seperti ibadah salat, puasa, zakat, haji, dan lain-lain. Oleh karena itu, di seluruh dunia ini, tata cara ibadah umat Islam sama saja. ada perbedaan kecil tetapi tidak memengaruhi pokoknya. Seperti ada yang qunut subuh ada tidak, ada yang bersedekap di tengah, ada di dada, ada juga yang meluruskan tangan. Tetapi, dalam konteks relasi kemanusiaan, Nabi hanya mewariskan nilai… tidak bentuknya.”

“Maksudnya Kyai?”

“Menghormati orang tua misalnya. Menghormati adalah nilai tertinggi dalam relasi antara anak dan orang tua dalam Islam. Lalu bagaimana cara menghormati orang tua? Silahkan, masing-masing cari cara sesuai dengan budaya, tradisi, dan kebiasaan. Tidak ada larangan. Misalnya kebiasaan cium tangan orang tua. Itu mungkin tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad, tetapi pondasi dari cium tangan adalah akhlak kepada orang tua, itu yang diajarkan oleh Islam melalui Nabi Muhammad.”

“Politik bagaimana Kyai?”

“Esensi politik adalah pengaturan hubungan antara manusia untuk mencapai tujuan bersama. Seluruh aktivitas sosial Nabi Muhammad dan para Nabi lainnya adalah aktivitas politik. Misi para nabi adalah misi politik. Nabi Muhammad mengkampanyekan relasi yang setara antara hamba dan tuan. Baginda Nabi mendorong lahirnya sistem sosial yang setara. Mendorong isu kesetaraan perempuan dengan bolehnya perempuan mendapat hak waris. Beliau membangun kesepakatan bersama dengan kaum Yahudi dan Nasrani di Madinah yang kita kenal dengan istilah piagam Madinah. Beliau menjadi hakim, beliau menjadi pemimpin agama dan politik sekaligus.”

“Saya masih belum mengerti, Kyai?”

“Nabi Muhammad mewariskan tujuan kemanusiaan dalam berpolitik yang bertumpu pada semangat pengabdian kepada Tuhan. Esensi politik dalam Islam adalah kesetaraan identitas dan penghargaan terhadap kemanusiaan, keadilan sosial dan ekonomi, keberpihakan terhadap yang lemah, dan keteladanan. Nabi mewariskan semua ini sebagai nilai sekaligus tujuan dalam politik Islam, tetapi Nabi tidak mewariskan bentuk negara.”

“Lalu, kenapa ada yang bilang khilafah ini-lah sistem Islam.”

“Khalifah artinya pengganti tetapi nabi tidak pernah mewariskan siapa dan bagaimana cara memilih penggantinya. Kenapa karena Nabi memang tidak bisa digantikan. Ketika Nabi wafat. Ada perdebatan kecil di sahabat tentang siapa pengganti Nabi. Pengganti Nabi maksudnya bukan sebagai Nabi baru, tetapi sebagai pemimpin umat Islam yang sudah dibentuk oleh Nabi. Lalu berdasarkan kesepakatan dipilihlah Abu Bakar r.a sebagai pengganti atau khalifah.

Sebutan khalifah adalah sebutan yang berarti melanjutkan kepemimpinan Nabi Muhammad. Setelah Abu Bakar wafat diangkatlah Umar atas dasar wasiat Abu Bakar. Ketika Umar diangkat, beliau menolak disebut khalifah tetapi amirul mukminin. Usman bin Affan diangkat melalui pemilihan di antara komite. Dan Ali bin Abu Thalib diangkat setelah terjadi pembunuhan terhadap Usman bin Affan. Setelah era ini, Muawiyah dinobatkan melalui peperangan yang menyedihkan dalam sejarah Islam. Di era ini khilafah lebih dekat dengan sistem kerajaan. Dimana kepemimpinan diwariskan melalui keturunan. Dinasti silih berganti hingga kemudian runtuhnya kekhilfaan Usmaniyah dan berganti dengan negara bangsa, seperti saat ini.”

“Apa artinya Kyai?”

“Bentuk pemerintahan adalah ijtihad, bukan ajaran dasar. Tetapi nilai-nilai yang saya sebutkan tadi adalah ajaran dasar Islam. Siapapun pemimpin, apapun namanya raja, presiden, khalifah, kepala suku kalau dia menerapkan nilai-nilai kemanusiaan yang saya sebutkan tadi, maka dia layak disebut sebagai pelanjut Nabi.

Dia layak digelari khalifah. Negara apapun bentuknya asal dia menerapkan nilai-nilai yang saya sebutkan, saya bisa sebut itu sebagai negara Islam. Tetapi meski dia bergelar khalifah tetapi tidak menerapkan nilai-nilai kemanusiaan itu, saya berani katakan dia tidak layak disebut sebagai pengganti Nabi. Atau ada satu negara yang menyebut diri sebagai negara Islam tetapi tidak menerapkan nilai-nilai kemanusiaan, tetap dia kehilangan hak untuk disebut sebagai negara Islam. Saya rasa begitulah tujuan dari para ulama yang berada di balik berdirinya negara ini.”

“Lalu kenapa yang mengkampanyekan khilafah dilarang Kyai?” Sampara ikut bertanya.

“Ini sudah perbincangan politik, baiknya tanyakan kepada pemimpin negara-negara yang menolak, pasti ada alasannya. Tetapi begini. Negara bangsa yang dipilih umat Islam hari ini adalah ijtihad masing-masing negara, termasuk bentuk NKRI ini. Indonesia yang kita cintai ini tidaklah mudah didirikan. Ada perdebatan panjang di antara para ulama dan tokoh Islam.

Sebagai mayoritas umat Islam, ada beberapa keinginan untuk menjadikan negara baru ini sebagai negara Islam. Tetapi ada pula sebagian ulama yang memandang lain. Pancasila adalah puncak dari kesepakatan itu. Ulama terlibat dalam pembentukan negara Indonesia. Sebagai anak bangsa, kita sepatutnya menghargai pilihan ini. Bisa saja, bagi sebagian orang ini tidak ideal, tetapi faktanya kita sudah disediakan perahu politik. Tugas kita sekarang mengisinya dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad lima belas abad yang lalu.”

Suara azan Isya sayup-sayup terdengar dari masjid kampung sebelah. Sampara segera bangkit untuk azan.

“Anakku semua. Belajarlah menghargai kesepakatan. Jangan sampai kita hanya bertikai pada bentuk. Sungguh banyak perang dan tragedi yang terjadi karena nafsu kekuasaan. Nabi tidak mewariskan nafsu berkuasa. Nabi mewariskan cinta kepada sesama manusia. Bahkan dalam perang pun Nabi tetap memperhitungkan nilai kemanusiaan. Perjuangkanlah itu!” Kata Kyai Saleh sembari menyilahkan Sampara untuk azan.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

1 comment

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.