Locita

Dia Yang Tidak Tersandera Huruf

Ilustrasi: Luki Ahmadi Hari Wardoyo

Kyai Saleh tersenyum-senyum melihat adrenalin jamaah masjid berebut telur bunga male (telur maulid). Mereka berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan telur sebanyak mungkin. Telur yang sebenarnya murah, tetapi diperebutkan sedemikian rupa. Ini bukan soal mendapatkan telur tetapi soal kesemarakan, kegembiraan mengenang hari kelahiran seorang manusia mulia, Nabi Muhammad SAW.

Tak butuh waktu yang lama, lima batang pohon pisang berisi telur berwarna-warni ludes. Pohon yang dirias oleh para ibu warga Kalimana selama berjam-jam, ludes dalam waktu kurang dari lima menit saja. Wajah puas para jamaah terlihat. Mereka berhasil mendapatkan beberapa batang yang diujungnya ada telur. Namun, beberapa orang bocah tanggung memasang muka cemberut karena kehilangan kesempatan mendapatkan telur. Tubuh mereka terlalu kecil dalam persaingan ini. Kyai Saleh memanggil mereka dan membagi telur yang memang disiapkan untuk beliau. Anak-anak itu pun semringah. Mereka segera berlari meninggalkan Kyai Saleh.

Suasana masjid sudah mulai sepi. Ale, Tesa, Sampara, Ais, dan beberapa orang membersihkan masjid dari serakan sampah. Kyai Saleh duduk di sudut masjid sembari menikmati kaddo minya (makanan khas yang terbuat dari ketan) dan telur.
Seusai merapikan masjid, para santri mendekat ke Kyai Saleh dan ikut menikmati makanan.

“Beginilah salah satu cara mencintai Nabi Muhammad. Hari ini kelahiran Nabi Muhammad dan kita sepatutnya bergembira dengan kelahirannya. Dia yang jauh dari kita secara jarak dan waktu, tetapi kehadirannya terasa. Semua bergembira, tertawa, dan berbagi rasa cinta kepada Nabi Muhammad.”

Para santri serempak mengucapkan kalimat shalla Allahu alaihi wa sallam setiap kali Kyai Saleh menyebut nama Nabi Muhammad Saw.

“Kyai. Sekarang ini lagi ramai perdebatan tentang Nabi Muhammad ini buta huruf atau tidak?” Ais bertanya seusai minum dan selesai makan.

“Kenapa diperdebatkan?” Kyai Saleh balik bertanya.

“Ada pendapat yang mengatakan bahwa Nabi sebenarnya tidak buta huruf. Mereka tidak terima kalau Nabi buta huruf. Katanya dalam Alquran ada penjelasan, Sedangkan, kita ini diajarkan kalau Nabi Muhammad itu buta huruf. Bagaimana itu, Kyai?”

“Saya ikut pendapat yang mengatakan kalau Nabi Muhammad itu tidak bisa membaca.”

“Kenapa begitu, Kyai?”

“Ya, seperti Ais bilang tadi. Saya juga diajarkan oleh Kyai saya kalau Nabi Muhammad itu buta huruf. Yang keliru adalah cara kita menempatkan buta huruf itu. Seolah-olah, buta huruf identik dengan kebodohan.”

“Kan memang begitu saat ini, Kyai.”

“Buta huruf dalam sejarah Nabi disebut ummi. Bangsa Arab saat itu adalah bangsa yang tidak menggunakan huruf sebagai bagian dari kebudayaannya. Jadi, secara umum orang Arab disebut dalam Alquran sebagai bangsa ummi, bukan hanya Nabi Muammad SAW. Ada sebagian kecil, orang Arab yang bisa menulis tetapi justru dianggap kecacatan.”

“Kok bisa, Kyai?”

“Ya. Karena saat itu, bangsa Arab dikenal sebagai orang yang sangat kuat hafalannya. Mereka mengandalkan hafalan, baik untuk urusan dagang maupun urusan sastra. Sehingga orang yang menulis dianggap sebagai orang yang lemah hafalan dan itu justru cacat secara sosial.”

“Ooo.. jadi beda dengan kita saat ini, Kyai?” Sampara ikut menyela.

“Iya. Saat ini justru orang buta huruf yang dianggap cacat sosial karena kebudayaan kita adalah kebudayaan tulisan. Seluruh pengetahuan hanya bisa diakses melalui transaksi huruf. Orang hanya bisa pintar kalau kenal huruf. Otak kita dipenuhi huruf-huruf. Nafas kita adalah huruf. Akhirnya, kita semua butuh huruf untuk hidup dan tersandera oleh huruf. Celakanya, orang yang tidak mengenal huruf dianggap sebagai bodoh. Nah, dalam rangkaian seperti ini pendapat Nabi buta huruf bermakna lain.”

Para santri terdiam. Penjelasan Kyai Saleh membuat mereka terangguk-angguk. Kyai Saleh melanjutkan penjelasannya. “Selain soal huruf, istilah ummi juga punya makna politis yang sangat penting bagi kehadiran Nabi Muhammad.”

Para santri mendongakkan kepala. Kata-Kata Kyai Saleh membuat mereka terperangah.

“ Status sebagai ummi penting sebagai pembedaan terhadap umat yang dikenal sebagai ahlul kitab. Mereka mendasarkan pengetahuan pada huruf melalui kitab yang mereka punya.”

“Saya belum mengerti, Kyai!”

“Ahlul kitab adalah sebutan untuk umat Yahudi dan Nasrani. Mereka memiliki mewarisi ajaran Nabi Musa dan Nabi Isa. Mereka semua tahu akan datang Nabi akhir zaman yang tertera dalam kitab mereka. Sebagian dari para rahib dan pendeta, meyakini bahwa Nabi terakhir ini berasal dari kalangan Ahlulkitab. Mereka semua menanti. Tetapi ternyata, Allah memilih dari kalangan Ummi, bukan dari kalangan Ahlulkitab. Jadi, kata ummi memiliki konteks dengan ahlul kitab.
Sekali lagi, para santri mengangguk-angguk.

“Keummian Nabi Muhammad justru menjadikannya orisinil. Dia –dengan ketidaktahuannya membaca dan menulis- membuatnya terputus secara teks dengan dua kitab sebelumnya, tetapi tersambung secara subtansi. Nabi menerimanya langsung dari Allah melalui Jibril, bukan melalui penelaahan dan pembacaan kitab-kitab sebelumnya. Melalui wahyu yang diterimanya secara langsung, Nabi Muhammad bisa menceritakan banyak hal yang juga ada dalam kitab taurat dan Injil. Dan, orang bisa percaya bahwa pengetahuan Nabi Muhammad itu adalah wahyu dari Tuhan, bukan pengetahuan biasa. Juga, ketika Alquran turun dengan bahasa yang terlampau canggih untuk orang Arab kala itu, orang Arab saat itu juga bisa percaya karena mereka tahu Nabi Muhammad bukan orang yang pandai membaca. Jadi, Nabi Muhammad bukan tidak tahu baca tulis tetapi Nabi Muhammad tidak butuh baca tulis untuk menemukan kebenaran.”

“Itulah kenapa ada yang menyebut keummian Nabi adalah bagian dari mukjizat.” Ale bergumam.

“Benar. Keummian Nabi adalah bagian penting bagi orisinilitas wahyu yang turun melalui diri beliau. Beliau terhindar dari tuduhan membuat-buat Alquran sebagaimana yang dilancarkan oleh para pembencinya. Musailamah Al-Kazzab meyakini bahwa Alquran adalah buatan Muhammad. Karena itu, dia coba-coba membuat ayat yang meniru Alquran, tetapi ternyata tidak hebat sebagaimana ayat yang dilantunkan oleh Nabi Muhammad.”

“Lalu, kenapa ada yang berpendapat bahwa Nabi itu bisa membaca dan menulis?”

“Tanyakan sama dia-lah. Dugaan saya ada dua. Pertama, menyandarkan pada surah Al-Bayyinah ayat ke-2, yang menyebutkan bahwa Nabi membaca suhuf-suhuf yang bersih. Dalam ayat ini menggunakan kata yatlu yang diterjemahkan membaca. Karena kata yatlu dikaitkan dengan suhuf maka ada yang menganggap bahwa Nabi bisa membaca, tidak buta huruf. Itu pendapat yang patut dihargai.

Sayangnya, tidak banyak dukungan hadis yang menyebutkan nabi membacakan teks, sebagaimana layaknya orang membaca kitab. Yang sering saya jumpai adalah nabi menyampaikan wahyu yang diterimanya kepada para sahabat. Ketika Nabi mendapatkan wahyu, beliau berhenti sejenak. Lalu membacakan ayat yang didapatkannya kepada para sahabat. Tidak ada huruf di antara mereka.”

Kyai Saleh berhenti beberapa jenak. Dia segera menyeruput air mineral yang ada di depannya.

“Ale, panggil Rahman ke sini!” Kata Kyai Saleh tiba-tiba.
Meski tidak mengerti maksudnya, Ale segera bangkit tanpa bertanya. Rahman yang disebut oleh Kyai Saleh adalah bocah hafidz berusia 11 tahun yang tuna netra. Tidak lama berselang, Rahman datang sembari dituntun oleh Ale.

“Rahman dan Ais. Tolong bacakan kepadaku, Surah Al-Kahfi.”

Tanpa pikir panjang, Rahman segera melantunkan ayat yang diminta oleh Kyai Saleh. Begitu pula Ais, setelah beberapa saat membuka lembaran Alquran. Kyai Saleh meminta keduanya berhenti, ketika sudah membaca 5 ayat.

“Yang dilakukan Rahman ini, bisa kita sebut sebagai aktivitas membaca juga. Apa yang dibaca oleh Rahman? Ayat Alquran. Tetapi apakah Rahman mereproduksi huruf-huruf Arab seperti cara Ais. Belum tentu. Rahman mendengarkan ayat dan menyimpannya dalam file otaknya.

Ais yang melek huruf, tidak menyimpan di otak tetapi menyimpan di kitab. Kamu membaca Al-Kahfi melalui lembaran dan Rahman membaca Al-Kahfi melalui ingatan. Dua-duanya membaca teks yang sama, dengan cara yang berbeda. Jadi, aktivitas membaca tidak melulu terkait dengan huruf. Seperti peristiwa yang dialami oleh Nabi Muhammad ketika pertama kali menerima wahyu dari Jibril.”

Para santri mengangguk-angguk.

“Tadi Kyai bilang ada dua hal kenapa orang berpendapat Nabi bisa membaca. Apa yang lainnya, Kyai?” Kata Tesa mengingatkan. Kyai Saleh memandang Tesa sejenak.

“Oh, iya. Yang kedua, bagian dari kecintaan kepada Nabi. Dia memosisikan Nabi dari masa depan, dari dunia tulis menulis. Dari dunia yang menganggap buta huruf identik dengan kebodohan. Sehingga dia tidak rela, jika Nabi itu dianggap begitu. Anggap saja dia sayang sama Nabi. Biar kamu tidak punya prasangka kepada orang yang berbeda pendapat.”

Waktu dhuhur masuk. Diskusi dihentikan. Ais segera membersihkan sisa makanan. Kyai Saleh dan yang lainnya ke tempat wudhu. Sedangkan, Sampara menuju ke dekat mimbar dan melantunkan azan.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Add comment

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.