Locita

Bersedekah Pada Laut

Ilustrasi: Luki Ahmadi Hari Wardoyo

Seusai salat Subuh, Ale, Dani, dan Tesa bergegas menuju rumah Kyai Saleh. Kyai Saleh mengajak mereka ke kampung nelayan. Jaraknya lumayan jauh. Kyai Saleh ingin membeli ikan segar. Sejak kematian isterinya, Kyai Saleh tak pernah lagi menikmati ikan segar langsung dari nelayan. Biasanya, para nelayan berlabuh di pagi hari, setelah semalaman mencari ikan.
Jam 06.30. Mereka sudah tiba di kampung nelayan.

Suasana sedikit berbeda. Aktivitas warga yang biasanya ramai terlihat lengang. Perahu-perahu nelayan terparkir rapi. Pasar ikan yang biasanya penuh dengan penjual dan pembeli juga terlihat lebih sepi. Hanya ada beberapa gelintir penjual yang menggelar dagangan ikan yang sudah tidak segar.

“Kenapa sepi, daeng?” Tanya Kyai Saleh kepada salah seorang penjual ikan.

“Sejak kemarin memang nelayan tidak ada yang melaut, pak.

“Kenapa?”

“Kayaknya mau bikin acara maccera tasi, pak.”Kyai Saleh mengerutkan dahi.

“Kenapa bapak tidak ikut?” Tanya Kyai Saleh“Saya bukan orang sini. Saya cuma berdagang. Lagipula saya tidak setuju acara begitu-begitu. Bukankah itu musyrik?”

Kyai Saleh tersenyum mendengar jawaban lelaki berperawakan sedang itu.

“Dimana tempat acaranya?”

“Di sana pak. Sekitar 300 meter dari sini.” Jawab si lelaki sembari menunjukkan jemari telunjuk ke arah utara. Kyai Saleh segera mengajak para santrinya kembali ke mobil.

“Kemana kita ini, Kyai?” Tanya Tesa sembari menjalankan mobil.

“Ke tempat acara maccera tasi.”

“Untuk apaki kesana, Kyai?”

“Jangan mi banyak cerita. Ikutmi saja.”

Tesa terdiam. Meski masih ada pertanyaan yang ingin diajukan tetapi dia urung melakukannya.Tak lama kemudian, mereka tiba di tempat yang dimaksud. Warga tampak sedang sibuk mempersiapkan persiapan acara. Baki makanan dibawa dan diletakkan di tikar yang tergeletak di bibir pantai. Aneka makanan terjejer rapi di atas tikar itu. Satu per satu warga datang. Para lelaki kebanyakan memakai sarung, pakaian panjang, dan kopiah. Sedangkan perempuan memakai kebaya dan kerudung yang dililitkan begitu saja di kepala. Mereka berkerumun mengitari makanan.

Sejam berlalu. Matahari semakin tinggi. Tidak ada pergerakan apa-apa. Warga mulai gelisah. Tampaknya mereka menunggu seseorang. Kyai Saleh mendekat. Seseorang mengenalinya.

“Eh, Kyai Saleh. Apa kita bikin disini?” Tanya orang itu dengan sedikit kikuk. Dia segera mendekat dan menciumi tangan Kyai Saleh. Rupanya, dia salah seorang jamaah masjid Nurul Autar yang berasal dari kampung nelayan ini. Dia kembali ke sini untuk mengikuti acara tahunan di kampung nelayan ini.

“Kenapa belum dimulai?” Tanya Kyai Saleh.

“Anu, Kyai. Pinati belum datang. Sudah dihubungi tapi tidak aktif hapenya.” Kyai Saleh mengangguk pelan.

“Saya juga mau ikut, boleh?” Kyai Saleh bertanya lebih lanjut. Orang itu terperangah. Dia sama sekali tidak menduga kalau Kyai Saleh mau ikut acara.

“Tidak apa-apaji, Kyai?”

“Kenapa memang?”

“Ada yang bilang acara begini musyrik.”

“Terus kenapa kamu ikut?”

Orang itu terdiam mendengar kata-kata Kyai Saleh. Suasana tiba-tiba riuh. Seseorang mengabarkan kalau pinati (pemimpin spiritual) tidak bisa datang. Warga terlihat kebingungan. Kyai Saleh berbisik kepada lelaki tadi. Sesaat orang itu tertegun lalu mengangguk-angguk. Dia segera beranjak dari tempatnya. Tak lama berselang, orang tersebut datang bersama orang lain.

“Kyai, ini Daeng Taba. Kepala kampung di sini.” Kata lelaki tersebut memperkenalkan orang yang bersamanya. Setelah itu, si lelaki memperkenalkan Kyai Saleh kepada kepala kampung. Keduanya bersalaman.

“Wah, Kyai Saleh. Saya sering mendengar nama-ta. Saya tidak menyangka akan bertemu kita di sini.”Kyai Saleh hanya tersenyum kecil.

“Ini acara apa sebenarnya?”

“Tradisi kami, Kyai. Maccera tasi.”

“Apa tujuannya?”

“Ungkapan rasa syukur atas berkah yang kami dapatkan dari laut. Kami ini nelayan. Hidup kami tergantung pada laut. Jadi, setiap tahun kami menggelar upacara ini sebagai perwujudan rasa terima kasih kepada laut.”Kyai Saleh mengangguk-angguk.

“Kalau acara ini tidak dilakukan?”

“Wah… bahaya Kyai. Bisa-bisa kami celaka dan hasil tangkapan bisa berkurang. Kami akan mengalami kesulitan hidup.”
Kyai Saleh menatap lelaki itu sejenak. Lalu, kembali mengangguk-angguk.

“Pinatimu tidak datang. Cahaya matahari semakin panas. Bolehkah saya yang memimpin doa?”

Kepala kampung terlihat kaget. Dia tidak menyangka Kyai Saleh ingin melibatkan diri dalam acara ini. Setelah melihat sekeliling, sang kepala kampung memberi isyarat persetujuan kepada Kyai Saleh. Kyai Saleh segera melangkah ke tengah didampingi kepala kampung. Ale, Dani, dan Tesa mengernyitkan dahi. Dia tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh Kyai Saleh.

Kyai Saleh duduk menghadap ke laut. Di depannya terhampar makanan yang lezat. Dupa dinyalakan. Lalu, Kyai Saleh memanjatkan doa syukur kepada Allah dalam bahasa Arab dan dilanjutkan dengan bahasa Makassar. Warga mengikuti dengan seksama dan mengaminkan.

Setelah selesai berdoa. Kyai Saleh berdiri dan hendak beranjak pulang.

“Tabe, Kyai. Makanan ini harus dilarung ke laut.” Kata Kepala Kampung

“Apakah kalian sudah tidak butuh?”

“Kami sudah meniatkan untuk diberikan kepada penghuni laut.”

“Siapa penghuni laut yang kalian maksud?”

“Siapa saja Kyai. Kami hanya mengungkapkan rasa syukur.”

“Jika yang kalian maksud penghuni laut adalah ikan, udang, cumi, dan sejenisnya memang sudah sepatutnya kalian memberi makanan kepada mereka. Kalian bersedekah kepada mereka. Jika mereka sehat, maka rezeki mu dari laut akan semakin banyak. Tetapi jika makanan ini kalian berikan kepada jin…kalian salah alamat karena ini bukan makanan jin. Ini makanan manusia dan makhluk fisik.”

“Apa makanan jin, Kyai?”

“Dalam hadis sahih bukhari, diriwayatkan dari Abu Huraira Nabi Muhammad memberi petunjuk bahwa makanan jin adalah kotoran dan tulang.”

“Bolehkah kita menghormati jin dengan cara memberi makanan, Kyai?”

“Begini. Agama Islam menganjurkan kita memberi penghormatan kepada semua mahkluk ciptaan Tuhan. Dalam hadis tadi, nabi menceritakan pernah didatangi rombongan jin dari Nashibin. Mereka adalah jin baik. Mereka meminta bekal kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu beliau berdoa kepada Allah agar dimudahkan bagi mereka mendapatkan tulang dan kotoran sebagai makanan. Jadi, nabi pun menghormati dan mendoakan jin agar mendapatkan makanan.”

“Tabe, Kyai. Ada yang pernah bilang, bahwa kegiatan seperti ini musyrik. Benarkah Kyai?” Tanya salah seorang di antara mereka.

“Musyrik itu artinya percaya Tuhan, percaya juga yang lain. Menyembah Tuhan, menyembah juga yang lain. Beda dengan ateis. Memang tidak mempercayai Tuhan. Nah, ini terpulang dari kalian semua. Apakah dalam hati kalian kegiatan ini dimaksudkan untuk menyembah kekuatan lain, selain dari pada Tuhan. Atau sekedar kegiatan biasa sebagai wujud rasa syukur atas rezeki yang diberikan Allah kepada kita. Musyrik itu pekerjaan hati, tidak ada yang bisa melihatnya.”

“Apa tanda-tanda yang bisa dirasakan?”

“Sederhana. Jika kamu menganggap ada kekuatan di laut, tetapi bukan Tuhan yang bisa memberi celaka, mudharat, kebaikan, manfaat maka itu bisa masuk ke dalam kemusyrikan. Tetapi jika hatimu jernih mengatakan bahwa hanya Tuhan kekuatan satu-satunya dan ini hanya cara mengekspresikan rasa syukur kepada Tuhan. Bukan kemusyrikan!”
Semuanya terdiam.

“Jalan yang kalian tempuh ini beresiko dan berliku. Butuh fondasi iman yang sangat kuat. Tetapi kalau kalian bisa menjernihkan niat. Ini asyik, ini baik. Penghormatan kepada alam saat ini sudah jarang dilakukan. Yang banyak justeru merusak dan mengeskploitasinya. Seolah-olah alam ini milik manusia sendiri. Seolah-olah, makhluk hidup lainnya tidak membutuhkan penghargaan. Ketidakseimbangan terjadi. Bencana mudah datang. Yang kalian lakukan ini bisa dianggap sebagai bentuk kasih sayang kepada alam. Tetapi sekali lagi, jernihkan niat!”

Matahari semakin tinggi. Kyai Saleh segera pamit pulang.

“Kyai! Tabe…. Ini makanan sebagai hadiah dari kami.” Salah seorang warga menyerahkan bungkusan makanan.
Kyai Saleh menerimanya dan beranjak menuju mobil. Ale, Dani, Tesa mengikuti dari belakang.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Add comment

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.