Impresi

Hantu-Hantu Komunis yang Menculik Habib Rizieq Review Film "Insidious: The Last Key"

BEBERAPA hari yang lalu, saya bersama enam orang kawan menonton film Insidious: The Last Key yang disutradarai oleh Adam Robitel. Waktu itu bertepatan juga dengan premier film India-Makassar di MTos, Makassar. Jika saja saya tidak mengantri tiket sejak siang, barangkali saya tidak akan kedapatan tiket Insidious.

Bioskop sesak dipenuhi penonton film Datu’ Museng. Masuklah kami ke ruang gelap bioskop. Duduk berderet dan memesan minum, hanya sebagai persiapan kecil jika saja salah satu dari kami ingin berteriak dan ia membutuhkan air untuk menetralkan tenggorokannya.

Selama film dimulai, penonton tentu saja berteriak meski tidak pada adegan yang seram dan menyeramkan. Di beberapa kursi, tampak duduk anak-anak yang saya kira tidak lebih dari dua tahun. Mereka ikut berteriak karena mereka merasa teriak akan menghibur penonton yang lain.

Petugas bioskop yang lalai, meloloskan anak kecil yang belum cukup umur, masuk ke gedung bioskop. Sebetulnya filmnya tidak begitu menyeramkan. Tidak mampu menciptakan ledakan-ledakan dahsyat dari dalam mulut saya.

Namun saya kira komposisi dalam film ini seimbang. Presentasi drama dan horornya seimbang, 50:50. Namun yang menarik justru di beberapa adegan ketika Ayah Elise menonton tayangan di televisi. Seringkali kata “komunis” disebutkan di dalamnya. Saya malah menyaksikan film ini dengan membayangkan hantu-hantu komunis gentayangan.

Hantu-hantu yang datang dari kehidupan masa lalu dan mengganggu kehidupan masa kini. Beberapa minggu setelah saya pindah ke Surakarta, Ibu saya menelpon. Katanya, “Jangan sembarang bergaul. Jangan sembarang memasuki kelompok mahasiswa atau perkumpulan. Jangan sampai yang kamu masuki adalah perkumpulan PKI.”

Ia hanya menyampaikan pesan yang disebutkan oleh ayah saya sesungguhnya. Ayah saya jarang menelpon. Jika ia ingin mengatakan sesuatu kepada saya, ia menitipkan pesan itu kepada Ibu.

Waktu saya tarik kebelakang. Di saat saya dan keluarga makan malam di rumah, ayah saya bercerita jika di Bone, Sulawesi Selatan, orang-orang komunis banyak dibunuh karena mereka ateis. Mereka membunuh para ulama. Saya membatin dalam hati sambil melihat mangkuk nasi, “Cie, Orde Baru hadir dalam makan malam kami.” Dan ia telah hadir mengikuti saya sampai hari ini.

Banyak dari anak muda sekarang ini mungkin tidak akan ambil peduli terhadap apa yang telah berlaku berpuluh-puluh tahun yang silam. Ketika pembantaian terbesar di Indonesia merajalela di tahun 1965-1966, sekaligus juga menjadi pintu besar lahirnya rezim Orde Baru.

Generasi muda dewasa ini sedang memasuki era baru. Sebuah zaman tentang desas-desus sejarah yang tiba-tiba datang kembali sebagai sebuah tanda tanya besar. Pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka sesak sendiri, cemas, gelisah dan kadangkala juga bingung terhadap apa yang telah mereka percayai, nyatanya hanyalah sebuah sejarah yang rabun.

Selama menyaksikan film Insidious ini, saya tertawa. Saya mengingat pertanyaan-pertanyaan Ryan, adik bungsu saya mengenai Tan Malaka, Amir Syarifuddin, Musso, DN Aidit serta perannya di Indonesia untuk tugas sejarahnya.

Saya tertawa ketika mengingat dimarahi oleh Ibu saya sebab Ryan saya biarkan membaca buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia Untuk Pemula yang diterbitkan oleh Ultimus, Bandung.

Film ini mengingatkan saya tentang ketakutan-ketakutan orang-orang terdekat saya mengenai sesuatu yang tidak “ada”. Hantu-hantu komunis yang diada-adakan di jalan, di beranda-beranda media sosial, di percakapan-percakapan warung kopi dan tentu saja di dalam ruang-ruang keluarga yang hangat. Saya selalu percaya bahwa salah satu fungsi film adalah menyaksikan diri kita di dalamnya. Bagaimanapun bentuk “kita” di sana.

Film Insidious seakan menutup dirinya dengan poin-poin penting. Sejarah itu soal sudut pandang. Apa yang kita percaya saat ini belum tentu benar di kemudian hari. Mana tahu kebenaran itu ditutup-tutupi oleh sesuatu energi jahat yang ingin berkuasa, apapun yang ingin mereka kuasai.

Tentu ketika bicara tentang peristiwa 1965-1966, selalu ada luka yang terkupas kembali. Tetapi begitulah sejarah. Kita sebagai bangsa harus siap kecewa meski di dalamnya ada begitu banyak yang tersakiti. Sebab kelak, kalau dibiarkan, ketidakadilan akan semakin sejahtera dan parahnya akan dianggap sebagai kewajaran hidup.

Goenawan Mohammad dalam esainya bertajuk “Memihak” yang diterbitkan di majalah Tempo, Juni 2009, menulis, “Pengalaman sejarah menunjukkan, di tengah ketidakadilan yang akut, yang kita derita, manusia selalu menghendaki keadilan — yang entah di mana, yang entah kapan datang.” Saya dan teman-teman-yang-muda kini tentu tengah dijadikan harapan besar yang akan mendatangkan, seperti yang diretorikakan Alain Badiou, “Kebenaran yang Baru”.

Perubahan-perubahan yang terjadi selama Indonesia berdiri sebagai sebuah bangsa memang penuh dengan kekecewaan. Kendatipun begitu, harapan-harapan haruslah tetap hadir disertai sikap ketulusan dan keberanian. Cepat atau lambat, kebenaran sejarah akan mencuat seperti sebuah bom atau pesta kembang api.

Generasi-generasi mendatang akan merayakannya dengan tawa lepas tanpa ancaman “penghilangan” bahkan kematian. Mungkin mereka tidak menjadi saksi atas transisi kekuasaan yang telah terjadi, namun mereka akan menjadi generasi penerus yang melihat kebenaran, keterbukaan dan toleransi sebagai sebuah kepastian.

Menjadi generasi muda sekarang, semoga tidak lagi mudah lupa seperti orang-orang tua yang menjadi pencetus pecahnya 1998 di gedung DPR itu. Saya percaya bahwa sebetulnya menjadi muda adalah mengingat selalu atau selalu mengingat.

Jika larik terakhir Sapardi di “Ayat-Ayat Api” (1998), mungkin satu-satunya basa-basi yang tersisa adalah menguburmu sementara dalam ingatan kami, semoga soal ini tak akan ada lagi pengabaian, tak akan ada lagi sejarah yang dibungkam, tak akan ada pelanggaran hak asasi manusia, tak akan ada lagi peristiwa yang, dengan meminjam kalimat Nirwan Dewanto, “sepi, iseng dan sendiri.”

Sekali lagi tahun ini tahun politik, hantu-hantu (atau isu-isu) komunis akan lebih banyak gentayangan dan menakuti. Jika saya boleh memberikan saran, peluklah mereka yang mengabarkan hantu-hantu tadi. Setelah itu, bisiki
“Sayang, opo koe krungu.. jerite atiku ….”Jika dalam film Insidious: The Last Key, peluit bisa mendatangkan pertolongan, saya percaya, di Indonesia, dangdutlah yang bisa menolong dan mendamaikan kita semua, bukan Rizieq Shihab.

Rizieq Shihab pergi entah kemana. Jangan sampai dan jangan biarkan ia diculik dan disekap oleh hantu-hantu komunis.

Rachmat Hidayat Mustamin

Rachmat Hidayat Mustamin

Penyair dan film maker

Previous post

Kartu Kuning dari Mahasiswa UI, UNHAS Kapan Kartu Merahnya?

Next post

Lonceng Bahaya di Balik Tewasnya Seorang Guru di Sampang