Impresi

Film-Film yang Sebaiknya Tidak Ditonton di Malam Pergantian Tahun

TAHUN BARU 2018 akan segera datang. Biasanya pada masa-masa menjelang pergantian tahun seperti ini, akan banyak film yang ditawarkan televisi. Jika Anda tidak ingin menghadap ke televisi atau belum punya rencana untuk melakukan aktivitas apapun pada malam pergantian tahun. Berikut saya rekomendasikan beberapa film yang sebaiknya tidak Anda tonton karena film-film ini memiliki kekuatan magis yang mungkin akan mengintai kehidupan Anda di tahun 2018.

1. Life After People (David de Vries, Douglas J. Cohen, Louis C. Tarantino, 2009-2010).

Sebetulnya film ini ditayangkan secara series dan dimulai tahun 2009 sampai pada episode terkahir bulan maret 2010. Life After People yang ditulis dan dikerjakan oleh para saintis ini menceritakan tentang bumi selepas ketiadaan manusia. Bagaimana jika manusia tiba-tiba hilang dari peradaban ?

Kota-kota yang sepi. Gedung-gedung yang kosong. Ternak-ternak yang diabaikan. Apa yang akan terjadi?

Film ini dimulai dengan suara alarm jam 7 pagi dan tidak ada yang menghentikannya. Anjing kemudian mencari majikannya. Kemudian ada suara yang mempersilakan kita masuk ke dalam dunia,”Welcome to Earth, population zero..”

Life After People bercerita sejam setelah ketiadaan manusia. Sehari setelah ketiadaan manusia, sebulan, setahun, seabad setelah manusia menghilang dari bumi. Apa saja yang akan bertahan di bumi dan bagaimana bumi selanjutnya bekerja ?

Pada tahun-tahun tertentu, akar-akar pohon mulai merubuhkan bangunan. Lapangan akan lahir kembali sebagai hutan. Hewan-hewan di kebun binatang mulai keluar dari kandang. Laut-laut mulai membiru kembali. Bumi semakin hijau. Populasi ikan semakin beragam. Sungai kembali menemukan dirinya mengalir. Dan peradaban yang baru, pelan-pelan mulai terlihat.

2. This is Not a Film (Jafar Panahi, 2011)

Di tahun 2010 oleh pemerintah Iran, Jafar Panahi dihukum 6 tahun penjara dan 20 tahun tidak boleh melakukan aktifitas pembuatan film, menulis skenario, serta menerima tawaran wawancara dalam bentuk apapun. Hal itu tentu saja mendapat banyak kecaman oleh sineas dari dalam dan luar negeri.

Jafar Panahi malah membuat film dengan judul, This is Not A Film. Film ini menampakkan sosok Jafar Panahi sendiri sebagai pribadi. Kamera merekam keseharian Panahi. Bunyi-bunyi kesunyian dari dalam dan luar rumahnya. Kemacetan di jalan raya. Serta malam nanti, tahun baru persia akan datang.

Ketika film berlangsung, Jafar Panahi mengajak temannya untuk berkolaborasi. Seorang kameramen bernama Mirtahmahsb. Panahi menceritakan sebuah cerita yang ia siapkan dan akan ia buat. Ia menjelaskan tata letak ruangan filmnya dan bagaimana film tersebut dibuka.

Detail padat dan penonton juga bisa membayangkan bagaimana film tersebut diceritakan. Setelah kepergian Mirtahmasb, Panahi membawa kamera tersebut dan melakukan adegan percakapan dengan seorang lelaki pengumpul sampah. Percakapan tersebut berlangsung di lift yang sempit dan sesak. Ia bertanya tentang tujuan hidup dan rencana masa depannya.

Lelaki tersebut keluar-masuk lift untuk mengambil sampah kemudian melanjutkan dialog kembali. Film ini diakhiri dengan manis. Lelaki tersebut membawa tong sampah keluar sementara beberapa anak sedang bermain api di sana. Ledakan-ledakan tahun baru mulai terdengar. Dan keriuhan malam semakin memanjang. Panahi tentu saja bicara dengan metafor yang padat tetapi tidak kemudian menggurui dan kita dipaksa harus mengerti.

Melalui film ini, Panahi mengajak para penonton menyaksikan dirinya, juga banyak dari para pembuat film Iran terkungkung oleh aturan pemerintah. Tapi ajakan tersebut tidak hanya kemudian berhenti di situ. Ia tetap mengingatkan kita tentang tujuan hidup dan kenapa kita harus memperjuangkan apa yang kita percaya.

This is Not a Film diputar secara khusus dan pertama kalinya di Prancis pada ajang Cannes Film Festival 2011 melalui flasdisk yang diselundupkan di dalam kue ulang tahun. Saya ulang, melalui flasdisk yang diselundupkan di dalam kue ulang tahun.

Film ini mengingatkan kita tentang menyadari apa yang benar-benar ingin dan sementara kita kerjakan. Jika Anda sudah punya, kenapa harus takut ?

3. Balada Bala Sinema (Yuda Kurniawan, 2017)

Film ini dibuka dengan catatan awal setelah berakhirnya pemerintahan Soeharto. Lalu tampak eksterior sekolah dengan siswa-siswi yang tengah melakukan kegiatan ekstarakurikuler.

Bowo Leksono, adalah penggagas CLC yang dulunya bekerja sebagai wartawan; menulis kegiatan penayangan film dan eksebisi di jalur independen. Ia kemudian tertarik dan aktif bergelut di komunitas. Hal itu kemudian yang membuatnya melahirkan CLC, sebuah komunitas produksi, eksebisi dan apresiasi film di Purbalingga. Sepanjang film ini, Yuda menarasikan bagaimana geliat komunitas film di Indonesia, khususnya di Purbalingga.

Bowo Leksono sebagai tokoh yang membawa cerita ini sampai berakhir secara detail bagaimana masyarakat diciptakan untuk menonton. Para pegiat film di CLC mengajarkan proses produksi dengan anak-anak SMP dan SMA di sekolah. Tidak jarang juga para siswa menginap dan mengerjakan film mereka sampai selesai di CLC. Energi yang tersalurkan dan kesenangan membuat film itulah yang membuat para pembuat film dari sekolah Purbalingga kerapkali meraih penghargaan dari berbagai festival nasional.

Film ini menarik justru karena penonton diajak menyusuri hutan kegelisahan sekumpulan anak muda yang mencintai film. Mereka memproduksi dan menayangkan film di tempat-tempat terbatas. Apalagi setelah kejadian, Bioskop Kita Lagi Sedih (Bowo Leksono, 2006) yang menceritakan tentang pelarangan pemutaran film-film alternatif di Bioskop Kita. Akhirnya para pegiat film kemudian memutuskan agar bekerjasama dengan desa-desa untuk melakukan pemutaran layar tancap. Hal itu lalu disambut baik oleh warga setempat. Masyarakat dan anak-anak melihat fenomena itu sebagai hiburan.

Para pegiat film tersebut belakangan membuat Festival Film Purbalingga sampai 10 tahun secara berturut-turut. Penonton tidak serta merta ada. Tetapi penonton itu dibangun. Penonton itu diciptakan. Mereka percaya hal itu.

Energi itulah yang terus memompa mereka agar aktif selain percaya pada kekuatan sinema, kekuatan film sebagai literasi. Meskipun di tahun 2016 lalu, mereka dikecam oleh beberapa ormas karena sempat ingin memutar film “Pulau Buru: Tanah Air Beta” (Rahung Nasution, 2016) dalam rangkaian Festival Film Purbalingga yang ke-10.

Ada begitu banyak film yang Anda dapat saksikan bersama keluarga, anak ataupun kekasih. Tetapi jika Anda masih sendiri dan tidak punya rencana apapun di malam pergantian tahun, sebaiknya tidur sajalah. Jika tidak ingin, duduklah di beranda rumah setelah menyeduh kopi dan menyaksikan botol pewarna meledak-ledak di permukaan langit.

Selamat Tahun Baru.

Rachmat Hidayat Mustamin

Rachmat Hidayat Mustamin

Penyair dan film maker

Putri Handayani
Previous post

Putri Handayani: Gunung Tertinggi, Balas Budi Hingga Pedalaman Papua yang Menyedihkan

Next post

Kyai Saleh dan Toleransi Ucapan Selamat Natal