Impresi

Chrisye, Rockstar Sederhana Asli Indonesia Review film Chrisye (2017)

CHRISYE adalah seorang keturunan Tionghoa yang menjadi legenda di dunia tarik suara dan industri pop Indonesia. Dengan suara tipis dan kesederhanaannya dia mampu menghipnotis para pendengarnya.

Lewat film besutan Rizal Mantovani, berjudul Chrisye, sosok Chrismansyah Rahadi diceritakan. Ada dua hal yang membuat saya wajib menonton Chrisye. Pertama, film ini adalah biopik musisi pertama Indonesia. Kedua, artis ini adalah idola saya.

Film ini dimulai saat sebuah pesta, saat Chrisye (Vino G Bastian) masih tergabung di Gipsy. Dari atas panggung sembari membetot bassnya, dia diperhatikan oleh Damayanti Noor (Velove Vexia).

Kisah ini kemudian berlanjut bagaimana seorang Chrisye harus berseberangan dengan keinginan ayahnya. Puncaknya, saat bandnya mendapat tawaran main di sebuah cafe di Amerika dan Chrisye mendapatkan penolakan oleh ayahnya untuk mengikuti panggilan jiwanya itu. Di bagian ini diperlihatkan bagaimana hubungannya juga dengan adiknya, Vicky.

Pada suatu malam ayahnya bermimpi, dan berubah pikiran. Chrisye akhirnya dapat mengikuti mimpinya untuk ke Amerika dan bermain musik. Hingga kematian Vicky karena tumor menjadikan duka dalam baginya.

Beberapa tahun berlalu dan dia kembali ke Indonesia, Di sini dia mendapatkan tawaran dari Sys NS (Arick Ardiansyah) dan Imran Amir (Fauzi Baadilah) untuk merekam salah satu lagu Juara Cipta Lagu Populer Prambors karya James F. Sundah, “Lilin-Lilin Kecil”.

Setelah itu, karir menjadi solois Chrisye terbuka. Selanjutnya film ini akan berkisar pada perjalanan spiritual, kisah cintanya, hingga karir bermusiknya. Ya, saya tidak akan melanjutkan ini karena nanti didemo karena menuliskan spoiler.

Positif

Sedari kecil penyanyi ini sudah menghiasi masa kecil. Sebut saja trek seperti “Kala Cinta Menggoda”, “Cintaku”, hingga dua trek yang sering diputar saat surya menjelang oleh orang rumah, “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” dan “Damai Bersama-Mu”.

Saat saya mulai melek akan sisi artistik dan diracuni oleh Rolling Stones dan blog Denny Sakrie, saya mulai menggali referensi lebih dalam tentang penyanyi ini, salah satunya adalah di album Guruh Gipsy (1977), proyek anyar bandnya bersama Guruh Soekarnoputra. Di sini saya sadar Chrisye adalah salah satu seniman Indonesia yang sudah mencapai titik avant garde dalam karirnya.

Sebagai musisi pertama yang dibuatkan film biopik, Chrisye menurut saya adalah sosok yang tepat. Dia adalah legenda dengan hits dan rekam jejak yang ciamik. Melalui film ini, seorang anak jaman now bisa mengenal awal, “Chrisye for dummies” atau “Chrisye untuk pemula”.

Chirsye adalah penggambaran sosok rockstar yang sangat Indonesia, yang di mana merujuk pada Taufiq Rahman, rock’n roll di Indonesia bukan soal sex, drugs, alkohol, dan pesta. Di sini kita bisa melihat dinstingsi dengan biopik-biopik musisi luar seperti Jimi Hendrix, Bob Dylan, Jim Morisson, atau Ray Charles.

Hal yang menarik ketika melihat perjalanan Chrisye tak ubahnya perjalanan anak band di Indonesia yang kebanyakan dari kelas pekerja. Tidak direstui untuk total terjun di dunia musik ataupun bermasalah di kampus karena absensi. Hal lain yang saya paling berkesan adalah kebersahajaan seorang Chrisye.

Bayangkan, seorang superstar pop ternyata masih makan sajian kaki lima. Bayangkan pula, seorang bintang yang masih menyikat kamar mandi dan mencuci mobil serta khawatir akan pembiyaan keluarga.

Melalui film ini saya melihat Chrisye bukan orang yang percaya diri dan kerap dihinggapi angst. Dia tidak ingin melihat karya atau menonton live-nya.

Ketakutannya akan masa depan untuk menghidupi anaknya adalah gambaran bagaimana industri musik di Indonesia memang tidak bisa menjanjikan apapun di masa mendatang. Hal itu diperjelas dengan nasib masa tua pencipta lagu legendaris“Bento”, Naniel C. Yakin.

Beberapa figur yang menarik di film ini adalah Guruh Soekarnoputra, Taufiq Ismail, dan Jay Subiakto. Mereka mampu membuat penonton tersenyum tipis.

Properti yang ditampilkan seperti koran ataupun poster cukup menggambarkan era itu (70-an,80-an, hingga 90-an). Lihat saja poster band The Pros di cafe ataupun koran saat konser Chrisye menjadi headline koran.

Sisi menarik lainnya adalah melihat Chrisye saat proses foto album Aku Cinta Dia, Resesi, atau Sendiri. Apalagi saat melihat kegagalan Chrisye menggenggam model perempuan, berjalan menghilang di jalanan, ataupun begoyang patah-patah di acara Aneka Ria Safari.

Negatif

Salah satu adegan yang paling saya impikan pula adalah bagaimana diskriminasinya sebagai Tionghoa yang tergambar dalam memoarnya karya Alberthiene Endah, Chrisye Sebuah Memoar Musikal. Selain itu,  Gambaran saya, biopik Chrisye akan sama dengan Ray atau Get on Up yang mengangkat perjalanan hidup dan korelasinya dengan kreativitas sang artis.

Ya, saya mengharapkan dapat melihat proses kreatif dibalik penciptaan dan pengerjaan Badai Pasti Berlalu, Guruh Gispy, atau Sabda Alam. Sayangnya, tidak.

Harus diakui film ini kehilangan fokusnya. Keinginan untuk menceritakan tiga hal sekaligus dalam sebuah plot cerita membuat film ini bercabang tanpa titik temu. Kegagalan dalam menangkap sisi artistik seorang Chrisye adalah ketidakhadiran para tokoh yang penting dalam karir Chrisye.

Sebut saja Eros Djarot dan Yockie Suryo Prayogo. Keduanya pernah bekerjasama dengan Chrisye dalam melahirkan album soundtrack monunental, Badai Pasti Berlalu.

Kehadiran Guruh Soekarnoputra kelihatannya tidak mengeksplorasi bagaimana peegolakan ide dan kreatifitas bisa hadir. Sebagai gambaran salah satu album kolaborasi Guruh dan Gipsy ini bernama Guruh Gipsy, yang dicap sebagai salah satu pencapaian terbaik musik Indonesia hingga hari ini.

Selain dari itu album-album awalnya: Jurang Pemisah (1977), Sabda Alam (1978), Percik Pesona (1979), Puspa Indah (1980), dan Pantulan Cinta (1981) tidak diulas. Padahal menurut saya, di album-album ini dari segi musikalitas dan kedalaman lirik adalah emas. Kalau tidak percaya, silakan Anda dengar sendiri.

Yang cukup mengganggu dari film ini adalah eksplorasi perjalanan spiritual sang penyanyi. Juga kehadiran Surya, sebagai sepupu dari istrinya. Terlepas memang benar atau tidaknya, di sini Surya seperti terlalu berkhotbah dan membuat saya ingin muntah. Kehadirannya dapat memberi label “Pembangun Jiwa” pada film ini.

Bagian konser “Sendiri”, ketika saya menonton di Youtube sangatlah berbeda. Gambaran konser di film yang menghadirkan ribuan orang ini rasanya kurang wah dan selayaknya set acara musik pagi yang kurang bergizi itu.

Beberapa part rekaman atau saat Chrisye menyanyi sepertinya itu-itu saja dan terkesan film ini malas mengeksplor. Seandainya saja, film ini lebih banyak mengeksplorasi rekaman-rekaman penampilan Chrisye di televisi—utamanya saat konser “Sendiri”.

Saat saya keluar dari studio, saya sadar bahwa gambaran Alberthiene Endah dan tulisan-tulisan Denny Sakrie lebih bagus dan imajinatif. Namun tetap bagi saya film ini penting. Agar menambah babak baru dalam pengarsipan para legenda musik di Indonesia.

Juga menjadi pijak agar musisi-musisi—nyatanya musisi sering disepelekan—yang berperan dalam menciptakan peradaban Indonesia ini dapat dikenang oleh generasi-generasi di bawahnya.

Dhihram Tenrisau

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Previous post

Di Atas Kursi Roda, Lelaki Itu Mengobarkan Intifada

Next post

Bajo: Kisah di Balik Foto