FeaturedKiat

Tips Menghindari Wabah Difteri di Terompet Tahun Baru

SEBAGAI seorang yang cukup terganggu dengan polusi suara yang kerap terjadi di malam pergantian tahun. Sebenarnya, penjual dan pengguna terompet adalah musuh saya.

Terompet tahun baru tidak mengeluarkan suara yang indah mengalun seperti tiupan seorang John Coltrane, Miles Davis, Louis Amstrong atau Chet Baker. Piranti ini tidak memiliki pentantonik ataupun diatonik. Satu nada. Sumbang. Memekakkan telinga.

Bahkan para pemain instrumen ini tidak bisa dikategorikan di genre musik apapun. Para peniupnya tak sungkan-sungkan meniupnya berlama-lama, berkali-kali, hingga hanya berjarak beberapa senti dari telinga.

Lainnya, Kini terompet itu menarik perhatian saya. Pemicunya adalah dengan pernyataan Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek yang menyebutkan bahwa percikan ludah dapat menularkan bakteri penyebab difteri.

Perlu diketahui bahwa penyakit difteri yang kini sedang hits, adalah salah satu penyakit yang ditakutkan—selain ketakutan akan LGBT—yang sekarang sedang merebak. Bakteri Corynebacterium diphteria nyatanya memang paling banyak bersarang di tenggorokan dan hidung.

Mereka membentuk selaput putih yang menutup saluran pernapasan. Sekali kena HAP! Kita akan kesulitan mengambil napas dan leher menjadi tercekik.

Oh iya, selain dari itu harus diketahui kalau terompet itu merupakan budaya Yahudi. Dalam penelusuran sejarah, di tahun baru Yahudi dikenal Rosh Hashanah. Di hari itu, para Yahudi berintropeksi diri dengan tradisi meniup shofar, sebuah alat musik sejenis terompet.

Terompet dipakai oleh bangsa Yahudi dalam mengumpulkan manusia saat mereka ingin beribadah dalam sinagoge mereka. Terompet merupakan seru agama dan simbol keagamaan mereka saat merayakan tahun baru.

Bangsa mereka menyambut tahun baru yang bertepatan pada sistem penanggalan mereka yaitu bulan Tisyri yang jatuh pada bulan ke tujuh (dalam penanggalan masehi). Naum, sejak berkuasanya bangsa Romawi atas mereka pada tahun 63 SM, pergantian tahun kemudian dirayakan di bulan Januari.

Kalau merujuk pada fakta di atas, penggabungan dua konspirasi besar dalam sebuah terompet harusnya sudah direspon oleh umat Islam. Tapi yah, saya sangat salut dengan MUI yang sangat berkepala dingin dan tidak reaktif—sama seperti dalam konflik Natal.

Bisa saja lembaga ini mengeluarkan fatwa “haram” yang kemudian akan menghebohkan jagat netizen. Bisa jadi MUI sangat paham bahwa persoalan terompet adalah persoalan kemanusiaan yang melibatkan wong cilik.

Wong Cilik? Iyalah, karena nyatanya para penjual terompet ini pada dasarnya adalah orang-orang yang mencari peruntungan dengan momen ini di kota-kota besar atau pusat keramaian. Beberapa  penjual terompet yang menggelar lapakannya di belakang tempat tinggal saya adalah kerabat sekampung asal Cianjur, Jawa Barat. Mereka adalah petani musiman, yang di Desember ini tidak mengolah tanah milik tuan tanah mereka di kampung.

Lagi-lagi memang harus bijak dan baji’ (baik) dalam melihat permasalahan. Mengahalangi rejeki orang memang tidak semestinya. Terlebih dengan pernyataan Menteri Kesehatan.

Sudahlah, daripada kita menghentikan rejeki orang, mungkin ada baiknya kita mengakali sehingga penggunaan terompet itu tidak merusak akhlak, fisik, dan telinga kita. Kali ini beberapa tips akan saya uraikan sehingga kita terhindar dari bahaya terompet itu.

Pertama, ada baiknya melakukan salat istikharah dan mengikuti zikir akhir tahun. Itu perlu kita lakukan agar kita terhindar dari hal-hal yang tidak baik semenjak dari dalam niat. Kalau perlu, ada baiknya meminta pada ustadz kita atau menelusuri via gawai, doa sebelum meniup terompet.

Kalau tidak ada, mungkin doa malaikat Israfil atau Rafael sebelum meniup sangkakala. Tujuannya? Tentu agar ridho senantiasa tercuarahkan untuk kita dan terhindar dari wabah difteri. Menghindari azab Allah lewat wabah penyakit. Ada baiknya mengucapkan “bismillah” setiap kali tiupan.

Kedua, melakukan tiupan dengan lembut dan sopan. Kata ustadz saya, melakukan sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik. Apalagi dalam meniup terompet terlebih akhwat—jangan ikuti kelakuan Ais Nurbiyah Al-Jum’ah, sang ukhti liberal itu.

Selain itu, secara medis juga meniup terompet secara emosional dapat menyebabkan saliva (liur) terburai dari lidah dan kelenjar penghasil air liur di dalam mulut. Semakin banyak liur tentu risiko bakteri difteri menempel akan semakin besar.

Ketiga, kalau Anda masih ragu, beralihlah ke mercon, petasan, atau baraccung. Piranti ini adalah piranti yang lebih jelas mengakar dan menjadi budaya di Indonesia. Nyatanya, barang ini digunakan di perayaan-perayaan juga di hari-hari besar keagamaan. Gubernur Jakarta, Ali Sadikin pernah membuat pesta mercon jelang Tahun Baru 1971.

Selain itu, perangkat ini jauh lebih bising dan ribut dari terompet tanpa harus menggunakan sumber penularan difteri (baca: liur). Jadi para penghamba kebisingan dan keributan tidak perlu lagi takut. Palingan siap-siap saja mengorbankan kehilangan anggota badan yang meledak karena bubuk mesiu.

Keempat, jangan lupa vaksin-vaksin-dan vaksin difteri atau DT (Difteri-Tetanus). Sampai hari ini tidak ada cara yang lebih pasti dalam mengelak wabah difteri ini selain vaksin. Sebelum malam tahun baru melenyapkan mentari akhir Desember 2017, luangkanlah waktu untuk penyuntikan.

Jangan takut, tusukannya hanya IM (intra muscular), satu senti dibawah kulit, tidak sakit kok. Lebih sakit, kejombloan Muhammad Salman Faris RM. Kalau Anda takut, perhatikan sertifikasi halal. Kalau takut vaksin palsu, minta petugas kesehatannya unboxing di depan mata Anda.

Semoga kita semua terhindar dari bahaya difteri dari terompet tahun baru dan ajakan kesesatan pesta esek-esek Yusran Darmawan. Ciao 2017!

Dhihram Tenrisau

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Previous post

SYL dan Proyek-proyek yang Belum Tuntas di Tahun 2017

Next post

Ricardo Kaka yang Melampaui Ronaldo dan Messi