Locita

Sang Profesor yang (Kelak) Hidup Seribu Tahun Lagi

Sumber foto: Dhihram Tenrisau

MENULIS adalah kerja-kerja monumental. Dengan menulis, seseorang bisa “memanjangkan” usianya, sebab hasil karyanya dapat bertahan dalam rentang waktu yang cukup lama dan dapat dibaca oleh lintas generasi.

Kutipan itu adalah salah satu kutipan kunci di dalam buku Mengalir Melintasi Zaman karya A. Arsunan Arsin, seorang guru besar, mantan aktivis, dan seorang intelektual di Kampus Merah. Saya sepakat terhadap kutipan tersebut, bahwa sebuah rilisan fisik (salah satunya buku) membuat sang penulis terekam dan tak pernah mati.

Dari membaca kutipan terebut, kita bisa melihat apa yang hendak disasar oleh Chunank. Seperti halnya apa yang hendak digapai oleh Chairil Anwar (salah satu penyair favoritnya), ingin hidup seribu tahun.

Namanya A. Arsunan Arsin, orang-orang biasa memanggilnya Chunank. Dia mengawali karir akademik sebagai dokter gigi. Selanjutnya dia diterima menjadi dosen dan memutuskan hijrah dari urusan gigi geligi dengan kesehatan yang lebih makro di epidemiologi.  Hijrah itu dilakukan secara total, hingga mencapai salah satu gelar tertinggi di dunia akademik: professor.

Di buku ini, kita seperti hendak berkenalan dengan sosok A. Arsunan Arsin. Saya membaginya dalam 3 babak perjalanan hidup. Babak pertama adalah masa kecil, babak kedua adalah masa bermahasiswa, dan babak terakhir (termasuk bab tiga dan empat) adalah masa saat dia menjadi dosen di Universitas Hasanuddin.

Membaca buku ini dapat mengingatkan akan gaya menulis buku harian. Di tulis dengan menggunakan perspektif orang pertama, gaya menulis seperti ini yang paling lawas adalah Diary of Anne Frank. Di Indonesia sendiri, catatan harian Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib adalah nomor-nomor penting. Namun, berbeda halnya dengan nama-nama di atas yang menuliskan pergolakan pemikiran dan kegelisahan mereka, Chunank sepertinya tidak hendak menggapai itu.

Dia seperti ingin bercerita tanpa pretensi membawa sebuah sumbangan pemikiran baru bagi pembaca. Dia tidak ingin memberikan kita perspektif berbeda atau khazanah pemikiran baru. Buku ini adalah kenangan dia, yang mungkin dituliskan saat dia sudah berada di puncak karirnya. Hal itu terlihat dari beberapa intonasi-intonasi dan gaya menulisnya yang nyaris datar.

Dia bahkan rela menurunkan derajat keilmuwan dan rela bercerita lebih panjang terkait perihal teknis. Di sini saya bisa melihat kerendahan hati seorang professor yang rela menurunkan kapasitasnya demi tidak menyesatkan pembaca. Ironisnya, gaya menulis seperti ini jauh sekali dari sang idolanya, Goenawan Mohammad.

Saya membayangkan catatan-catatan ini ditulis di waktu senggangnya sembari menikmati secangkir kopi di sela-sela lawatan kerjanya ke luar negeri, mengerjakan jurnal, atau menunggu kelas dan mahasiswanya untuk diskusi tesis atau disertasi.

Buku ini dimulai dari catatannya saat masa kecil dahulu di Soppeng (sekitar 2 jaman dari kota Makassar). Lahir dari bapak ibu yang merupakan guru dan bukan dari golongan kelas menengah atas, Chunank mengupas masa kecilnya dengan segala keasyikannya, selayak bagaimana Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi.

Beberapa ornamen permainan dan kebiasaan lokal seperti permainan Mallogo (permainan tradisional menggunakan tempurung kelapa) dan mandi-mandi (berenang). Peran kedua orangtuanya nyatanya memberi efek yang cukup besar hingga membentuk dirinya hari ini terjelaskan di bagian sini.

Bagian kedua, masa bermahasiswa Chunank seakan memantapkan karaktenya. Setiap proses bermahasiswa seakan tertancap dan seakan menjadi pondasi dari menara ingatannya. Di sini bisa dilihat bagaimana proses kematangan dia raih. Terlihat bahwa Chunank adalah seorang yang sangat haus akan pengalaman bermahasiswa.

Tak tanggung-tanggung, dia menjadi jurnalis kampus, atkivis HMI, pendemo, pencinta alam, hingga bagaimana sastra menjadi bagian hidupnya—agak susah membayangkan mengingat Chunank berkuliah di Fakultas Kedokteran Gigi, di mana kurikulum padat dan masa studi yang lebih lama.

Saya merasan iri dengan masa muda yang dia alami, apalagi saya juga lahir di rahim fakultas dan universitas yang sama dengannya. Chunank bermahasiswa menggabungkan sosok Dilan dan Rangga AADC. Saya yakin, dia adalah salah satu idola di masanya.

Di masa mahasiswa ini, kita bisa berkenalan dengan sisi lain Chunank. Dia adalah pribadi yang romantis. Dia mampu memperlakukan sastra dengan tepat. Seperti bagaimana menyisipkan puisi dan cerpen pada tulisan “Kisah Tak Biasa ‘Dua Orang Paduka’” dan “(Janganlah!) Hidup tanpa Menulis Puisi”.

Bab ketiga yang hampir mengisi sebagian besar buku ini berisi pengalamannya saat menjadi dosen. Di sini pergolakan idealisme dan realitas dalam diri Chunank lebih kental terasa. Ada nuansa kritik sekaligus harapan dalam bagian ini—yang sedikit menyerempet ke nyinyir. Mengingatkan saya pada beberapa catatan kebudayaan Mochtar Lubis, khususnya di tulisan “Etos Kerja Orang Jepang, Kapan Menular ke Bangsa Kita?”.

Di bagian ini, perubahan gaya menulis yang di bagian-bagian sebelumnya lebih sastrawi. Di sini, Chunank seperti lebih realitstis dan lebih saintifik. Mungkin hal itu disebabkan karena adanya transformasi dalam jejak langkah sang guru besar ini. Bisa dibaca pada tulisan “Menghilang dari Pusaran Gerakan Mahasiswa”.

Namun, bukan berarti roh  dan semangat mahasiswanya hilang begitu saja. Dalam “1998, Mengapa Ramai-Ramai Kita Turun ke Jalan?” terlukiskan bagaimana semangat bermahasiswa itu masih menyala-nyala namun lebih bisa digunakan secara arif oleh sang empunya.

Beberapa perjalanan riset di pelosok-pelosok dan lawatan ke luar negeri, terekam di dalam buku ini. Menunjukkan bahwa insting sang professor untuk menangkap momen-momen di tanah asing ini cukup tajam. Sekalipun harus disadari bahwa pengamatan sang profesor ini masih sangat parsial dan lapisan terluar saja.

Dan di epilog, semua terjelaskan bahwa buku ini memang tidak memiliki pretensi apapun. Semuanya hanyalah upaya untuk berbagi.

Begitu juga saya yang hanya berpikir dan bercita-cita menjadi biasa saja. Tetapi bisa menebar semangat, ide dan gagasan pada siapa saja, tanpa batas.

Dengan semangat itu, sayang sekali buku ini minim oleh testimoni-testimoni tokoh-tokoh yang lebih muda (sebut saja kelahiran 80-an ke atas). Padahal tokoh muda tersebut sebenarnya diharapkan lebih bisa mengartikulasikan niat “menebar gagasan”dan “melintasi zaman” itu.

Ah sudahlah. Bagi saya sang professor ini berhasil menebar ide dan gagasannya, juga inspirasi–mengalir melintasi zaman–setidaknya untuk saya.

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Add comment

Tentang Penulis

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.