Locita

Review Film yang Gagal Jadi Surat Cinta Review Film The Hand (2004)

NAURA yang baik,

Bagaimana kabarmu hari ini? Apakah di kota Bandung sedang hujan deras? Di Kota Solo, tempat saya tuliskan surat ini, hujan datang terus menerus seperti seseorang yang sedang mengetuk pintu berulang kali. Sementara, barangkali, yang berada di balik pintu sedang sibuk mengamati bayangan sendiri.

Naura,

Baru saja saya menonton ulang film-film Wong Kar-wai. Beberapa di antaranya saya tonton dari akhir cerita. Cara menonton seperti itu sangat membantu saya mengerti dan mengamati sebuah film.

Itulah mengapa saya mesti beberapa kali ke bioskop menonton ulang film sebelum menuliskannya. Dan setiap kali saya mengulang menonton, saya menemukan kemungkinan-kemungkinan baru.

Oh ya, saya baru menyadari bahwa hujan kerapkali disisipkan ke dalam film-film Wong Kar-wai. Seperti saat ini, ketika saya tulis surat ini untukmu. Apakah kau juga senang mengamati hujan berguguran?

Film Wong Kar-wai yang pertama kali saya tonton justru film yang berjudul My Blue Berry Nights (2007). Tidak berlatar kota dalam film yang sering ia buat. Setelah itu, saya mulai mencari dan mengoleksi film-filmnya yang lain; A Tears Go Bye (1988), Days of Being Wild (1990), Chungking Express (1994), Ashes of Time (1994), Fallen Angels (1995), Happy Togather (1997), In The Mood For Love (2000), 2046 (2004).

Tapi yang ingin saya ceritakan padamu dalam surat ini adalah film The Hand (2004). Sebetulnya film The Hand termasuk dalam sebuah film kompilasi berjudul Eros (2004). Dua film lain di dalamnya ialah Equilibrium (Steven Soderbergh, 2004) dan The Dangerous Thread of Things (Michelangelo Antonioni, 2004).

Saya selalu merasa dekat dengan film-film Wong Kar-wai, entah apakah ada hubungannya dengan saya yang berasal dari latar belakang Asia, ataukah memang karakter di dalam film-filmnya memiliki gaya ungkap dan perasaan yang hampir sama dengan saya.

Film The Hand diawali dengan suara hujan di luar rumah, sembari terbesit pertanyaan dari salah seorang tokoh wanita, “Apakah kau mengingat bagaimana kita bertemu pertama kali?” Adegan selanjutnya beralih di tempat dan gelombang waktu yang lain.

Melalui film ini, Wong Kar-wai mengisahkan tentang seorang penjahit bernama Xiao Zhang (Chang Chen) yang ditugaskan Bosnya (Master Jin), untuk mengantar pakaian ke rumah Miss Hua (Gong Li), seorang pelacur kelas atas. Hari itu, dari balik dinding, Xiao Zhang duduk menunggu sambil mendengar erangan Miss Hua dikerjai seorang klien di dalam kamar.

Pertemuan pertama antara Xiao Zhang dengan Miss Hua berkesan setelah Mis Hua memberikan perlakuan khusus pada Xiao Zhang. Xiao Zhang semakin jatuh hati dari setiap pakaian yang ia antarkan. Namun seiring berjalannya waktu, kecantikan dan kesehatan Miss Hua berkurang.

Setiap lelaki yang datang kepada Miss Hua melulu pergi meninggalknya dan satu-satunya yang tinggal dan menetap hanyalah seorang penjahit, Xiao Zhang. Apakah ini yang dimaksud kesetiaan?

Naura,

Barangkali memang cinta adalah penerimaan. Xiao Zhang menjahit dengan hati-hati pakaian untuk Miss Hua. Sampai di rumahnya, lagi-lagi ia kembali mendengar sebuah penderitaan dari balik dinding, juga dari balik dadanya. Nafas yang menggebu dan ranjang yang meronta-ronta.

Ketika Miss Hua minta diukur kembali tubuhnya sebab ia merasa berat badannya bertambah, Xiao Zhang lantas berkata, “Tidak usah. Saya hanya perlu menggunakan tangan saya.” Setelah itu, lagu “Slow Dance fo Lovers” mulai terdengar.

Lengan-lengan Xiao Zhang mulai melingkari pinggang Miss Hua dari belakang dengan pelan, pasti dan erat. Tak lama berselang, ada air mata yang tumpah di antara mereka. Apakah cinta dan kerinduan bisa hadir sesederhana ini?

Namun ada adegan yang sebetulnya tidak ingin saya ceritakan padamu. Tapi di sinilah bagian yang paling saya senangi. Ketika Xiao Zhang merasa tidak akan pernah betul-betul memiliki Miss Hua, satu-satunya yang ia miliki saat itu hanyalah imajinasi.

Ia letakkan dan rentangkan pakaian Miss Hua di meja jahit. Ia pegang. Ia buka, lalu meraba pakaian itu seperti ada bulan yang terperangkap di dalamnya. Ah, kenapa pula cinta selalu datang dengan perasaan ingin memiliki?

Naura, jika kau pernah menonton film In The Mood For Love(2000) atau film 2046 (2004), kau akan menemukan nuansa yang sama dalam film The Hand ini. Film The Hand hanya berdurasi sekitar 40 menit. Meski disebut sebagai film pendek, saya kira film ini tetap bisa disejajarkan dengan film-film Wong Kar-wai yang terkenal lainnya.

Film The Hand berlatar belakang tahun 1960 di Hongkong. Tentang obsesi dan hasrat. Tentang perasaan cinta yang meluap dan meledak. Tentang sebuah cinta yang tak perlu diungkapkan.

Naura,

Kau sendiri tahu jika judul film ini berarti tangan. Kau juga pasti tahu betul bahwa tangan memiliki begitu banyak fungsi. Beberapa fungsi diantaranya digunakan untuk memegang, meraba, merangkul dan memeluk. Ketika hendak memindahkan sebuah benda dengan menggunakan tangan, objek tersebut mesti dipegang atau digenggam terlebih dahulu, setelah itu baru diletakkan di tempat yang lain.

Kata pegang dan kata genggam sendiri memiliki konteks yang lain. Seperti sebuah ungkapan, “Kata-katamu tak bisa dipegang.” Memang kata-kata ketika keluar dari mulut, tak bisa dipegang. Tetapi maksud dari ungkapan itu adalah janji atau perkataan yang seringkali tidak ditepati. Sehingga ungkapan itu kemudian muncul.

Namun, dalam kasus Xiao Zhang, kau malah bisa menemukan kemungkinan pengertian yang lain. Kata genggam atau kata pegang bisa diartikan dengan arti kepemilikan.

Hampir serupa rebutan makanan––meskipun perempuan bukan dan tidak bisa disamakan dengan makanan. Tapi dari analogi itu, bisa disederhanakan bahwa siapa yang lebih dulu menggenggam akan menjadi miliknya.

Namun Xiao Zhang bisa melihat suatu objek yang ada di depannya. Jelas dan terang. Objek itu bisa berupa pakaian dan merepresentasi tubuh Miss Hua sendiri. Tapi justru objek itu tidak bisa ia genggam, tidak bisa ia miliki. Satu-satunya yang dapat ia genggam hanyalah angan untuk memiliki.

Naura,

Saya, atau barangkali juga kau, tidak tahu betul berapa banyak kisah cinta yang getir dan bisa dibuat Wong Kar-wai dari sudut-sudut jalan kota Hongkong. Setiap saya selesai menonton film Wong Kar-wai, saya semakin percaya bahwa ia sering dirundung kesepian.

Saya bayangkan Wong Kar-wai di malam-malam ketika jam tidur datang, ia malah mengembara, menyusuri kota sendirian dan menghabiskan malam dengan pertanyaan-pertanyaan tentang masa depan.

Hujan masih bergetar di luar rumah. Menuliskanmu surat ini sebetulnya sebuah ajakan untukmenonton film The Hand berdua, itupun jika kesibukan tidak mendatangimu. Tapi saat ini kau berada di Bandung dan saya tengah berada di Solo.

Saya merasa sudah gagal sebelum saya mengajakmu. Sama halnya saya sendiri gagal mendefinisi, apakah tulisan ini adalah review film ataukah surat cinta.

Rachmat Hidayat Mustamin

Penyair dan film maker

Tentang Penulis

Rachmat Hidayat Mustamin

Penyair dan film maker

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.