Locita

Orientasi Seksual Tidak Menular Review Film "The Sun, The Moon & The Hurricane"

BERANDA media sosial saya layaknya ditaburi paku seperti di jalan-jalan. Jika saya salah atau keliru saja menekan tombol like atau share, pasti akan dimaki dikatakan penganut gay-lah, pendukung LGBT-lah dan seterusnya.

Tapi tentu saja kemuakan saya tidak membuat jari-jari saya ikut berkomentar. Bukan karena saya takut. Saya tidak mau orang-orang terdekat saya memutuskan tali silaturahmi mereka kepada saya.

Saya merasa teman saya saja masih kurang, tidaklah saya berpikir untuk m0enambah musuh. Namun barulah sekarang ini ingin rasanya saya bercerita kepada Anda mengenai suatu hal.

Dulu masa kuliah di Malaysia, saya pernah tinggal bersama seorang laki-laki di asrama kampus. Saya memilih menetap di asrama karena akses ke fakultas bisa dibilang tinggal “menggelinding saja” untuk sampai di kelas. Saya sekamar dengan laki-laki itu selama dua tahun, dan dia gay.

Stop di situ dulu.

Baru saja saya menonton ulang film The Sun, The Moon & The Hurricane ditulis dan disutradarai oleh Andri Chung. Film ini dibuka dengan layar hitam pekat dan sebuah narasi singkat.

“…tak berubah karena tak menemukan makna. Apakah makna ditakar oleh kebahagiaan? Adakah kebahagiaan ditakar oleh cinta? Adakah cinta ditakar oleh seseorang? Adakah cinta ditakar oleh cinta?”

Rain (William Tjokro) dan Kris (Natalius Chendana) sebetulnya saling mencintai sejak SMA. Mereka berdua lelaki. Meski begitu, Kris masih menjali hubungan dengan banyak perempuan di sekolahnya karena alasan tertentu.

Kris pergi meninggalkan Rain secara tiba-tiba. Menurut kabar, Kris pindah ke Amerika dan melanjutkan sekolahnya di sana. Rain tentu saja depresi dan menjalani kepedihannya dan kesepiannya sendiri akibat ditinggalkan seseorang yang ia cintai.

Waktu berlalu. Tahun-tahun berlalu. Rain selama tiga hari berlibur sekaligus bekerja sebagai fotografer di Bangkok, Thailand. Ia bertemu dengan Will (Cornelio Sunny), seorang pemuda dari Indonesia juga. Cinta datang begitu sigap. Mereka kemudian bercumbu seperti sepasang kekasih yang baru bertemu.

Rain akhirnya pulang kembali ke Indonesia. Di Bandara  Thailand, ia bertemu dengan Kris, seorang lelaki yang dulu meninggalkannya tiba-tiba. Tentu saja Rain meninggalkan Kris, meski sebelum itu, mereka berpelukan lirih dan sendu.

Waktu-waktu kembali berlalu. Rian bertemu kembali dengan Kris setelah diundang ke Bali untuk mengerjakan bisnis. Kris kini menetap di Bali dan telah menikah dengan Susan (Gesata Stella), teman SMA mereka. Susan ada urusan ke Singapura.

Hubungan Rain dan Kris seperti sebuah badai. Masa lalu dan kenangan datang mengunjungi mereka sebagai guncangan yang dahsyat. Cinta kembali mekar di antara mereka.

Sumber foto: shiraai. wordpress.com

Menonton film ini seperti berusaha keluar dari ribuan gulungan benang yang kusut. Saya menonton dengan dada sesak. Setelah menonton, saya masih sesak. Saya merasa ada gedung tinggi di dalam dada saya yang rubuh dan ambruk.

Saya berusaha menenangkan diri terlebih dahulu sebelum memulai menuliskan tulisan ini.

Sebagai sutradara, Andri Chung berhasil meletakkan tidak hanya visual-visualnya di dalam kepala penonton, tetapi juga perasaan dan kasih di dalamnya.

Tokoh-tokoh pria dalam film The Sun, The Moon & The Hurricane dengan sangat sadar memakai tubuh-tubuh biasa dan sederhana. Tidak dibuat-buat seperti banyak kita temukan dalam film-film Indonesia pada umumnya. Jika lelaki gay, pasti akan tampak girly.

Masyarakat Indonesia kemudian terjebak pada stereotip semacam itu. Dalam film ini tidak demikian. Kita menyaksikan film ini seperti layaknya sebuah percintaan yang biasa.Ya, memang biasa. Sebuah kisah sederhana antara sepasang manusia yang saling mencintai. Sepasang kekasih yang dulunya berpisah kemudian bertemu kembali.

Sahabat yang saya ceritakan di atas juga adalah lelaki biasa. Ia tidak tampak girly atau mencoba menjadi tubuh perempuan secara eksternal. Ia hanya mencintai lelaki dan ia seorang manusia. Tapi ia seringkali merasa minder sebab merasa tidak percaya diri dengan dirinya.

Hampir setiap malam kami saling bertanya, “Bagaimana harimu hari ini?” Ia kemudian bercerita tentang kisahnya. Mulai dari keluarga, cita-cita, mimpi, apalagi perihal seseorang yang ia cintai.

Kami bicara dengan bahasa Melayu, kadang kala juga bahasa Indonesia. Ia lancar meniru dialog-dialog sinetron Indonesia yang ditayangkan di televisi Malaysia.

Sama sekali saya tidak merasa jijik sekamar apalagi ketika bercerita dengannya. Dia saya anggap sebagai sahabat dan sebagai seorang manusia.

Saya memperlakukannya sebagai seseorang yang ingin didengarkan. Sesederhana itu. Karena kami sudah sangat dekat, tidak jarang saya bertanya kepadanya dengan nada bercanda, “Kamu kan suka lelaki ya, kok kamu tidak tertarik dengan saya?”

Ia tertawa. Katanya, “Saya memang suka lelaki. Tapi tidak asal suka. Saya punya tipe sendiri. Dan kamu bukan tipe saya.”

Kami tertawa.

Malaysia dan Indonesia memang sedang marak membicarakan tentang isu LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender). Mereka yang memiliki kecendrungan orientasi seksual berbeda dengan orang kebanyakan selalu dipandang sinis, seolah-olah kata “normal” hanya milik mayoritas belaka.

Belakangan ini kerap kali dikenal istilah SOGIE (Sex Orientation Gender Identity Expression). Orientasi seksual secara umum adalah sama. Sebagian besar masyarakat kita di Indonesia, bisa dibilang terperangkap pada sebuah stigma, “penis untuk lelaki dan vagina untuk perempuan.”

Lalu bagaimana jika alat kelaminnya adalah penis sementara kepribadiannya perempuan?

Saya kira setiap orang memiliki kebebasan dan berhak untuk menentukan orientasi seksualnya sendiri. Masyarakat kita sebaiknya tahu memosisikan dirinya dalam menyikapi orang-orang yang memiliki orientasi seksual tertentu.

Apakah kemudian jika kita mengetahui orang terdekat kita berorientasi seksual katakanlah gay atau lesbian, lantas membunuh mereka? Bukankah yang mereka rasakan kepada lelaki ataupun perempuan adalah cinta? Sementara, bukankah cinta tak dapat ditentukan hendak jatuh kepada siapa?

Maka pendidikan tentang SOGIE dianggap penting tidak hanya bagi generasi muda, tetapi juga kepada para orang tua agar kedepannya tidak melihat dan memandang sesuatu dari satu perspektif belaka.

Sejak lahir, setiap orang sudah dimasukkan ke dalam sebuah kotak dan tanpa ia sadari, ia telah tumbuh bersama kotak itu.

Sahabat saya itu masih berhubungan baik dengan saya sampai sekarang. Apakah saya telah berubah orientasi seksual? Tidak. Apakah sekarang saya mencintai seorang lelaki dan ingin menikahi lelaki? Tidak. Kenapa demikian? Karena orientasi seksual itu tidak menular. Jadi keep calm sajalah.

Banyak yang bilang tahun 2018 ini adalah tahun politik di Indonesia.Tapi saya kira setiap hari adalah politik. Saya sengaja menceritakan hal ini kepada Anda di awal tahun ini agar memulai tahun 2018 dengan dada yang lapang.

Agar isu dan permasalahan LGBT ini tidak dijadikan sebagai alat dagang untuk kepentingan kelompok tertentu. Kosongkan apa yang perlu dikosongkan. Isi apa yang perlu diisi dengan hal-hal yang bergizi. Selamat ber-Januari! Semoga tahun ini lebih menantang.

Film ini ditutup dengan sebuah narasi,

“..saat usia bertambah, kita diharapkan untuk lebih dewasa. Diharapkan untuk lebih bijak, diharapkan untuk lebih kuat. And there’s a point in our life where we realize that as it turns out, we are. Dan perjalanan terus berlanjut.”

Rachmat Hidayat Mustamin

Penyair dan film maker

Add comment

Tentang Penulis

Rachmat Hidayat Mustamin

Penyair dan film maker

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.