FeaturedImpresi

Orang Miskin Dilarang Menikah Review Film Love and Shukla (2017)

SHUKLA (Saharsh Kumar Shukla) seorang pria dari keluarga Brahmin baru saja menikah dengan seorang perempuan bernama Lakshmi (Taneea Rajawat); seorang wanita pemalu pilihan Ibunya. Situasi dalam film ini sungguh sangat sederhana, Shukla hanya ingin melakukan hubungan intim dengan isterinya.

Malam-malam sebelum ia menikah, Shukla diberi tahu tentang kebahagiaan malam pertama oleh teman-temannya. Kenikmatan-kenikmatan selepas menikah. Kejadian-kejadian manis antara sepasang suami-isteri.

Suara-suara masuk ke dalam kepalanya dan tumbuh menjadi batu-batu. Ia ingin membuktikan bahwa ia siap menjadi suami. Di antara mabuk dan kesadarannya dan di dalam malam yang gigil itu, ia berdiri, memurkai nasihat kawan-kawannya; ia percaya diri bagaimana menjadi seorang suami yang bisa diandalkan.

Shukla sehari-hari bekerja sebagai seorang penarik bajai. Di rumahnya tinggal Ayah dan Ibunya yang tiap hari hanya menyaksikan serial televisi. Kemiskinan menindih keluarganya. Rumahnya sempit belaka. Jika malam tiba, mereka hanya tidur seperti ikan teri yang berbaris-baris. Apalagi kini Lakshmi sudah diboyong ke rumah. Sebagai isteri, ia akan tinggal dan mengikut di mana suaminya menetap.

Semua tubuh-tubuh berkumpul di satu ruangan. Ruangan yang dijadikan sebagai ruang tamu sekaligus tempat menonton sekaligus tempat tidur. Tak ada kamar khusus di rumahnya. Tak ada kamar pembeda antara Shukla dengan kedua orang tuanya. Dan yang paling penting tentu saja bahwa tak akan ada kamar pengantin.

Bagaimana malam pertama? Tak ada malam pertama. Malam hanya berlalu seperti waktu.

Situasi diperparah ketika saudari perempuan Shukla datang ke rumah selepas bertengkar dengan suaminya. Ia minggat. Sementara Ibunya, sebagai pemegang tertinggi kekuasaan di rumah, tentu saja tak bisa menolak jika ia ingin tinggal dan menetap di rumahnya kembali. Hasilnya: ruang tidur akan semakin sempit. Lalu apakah akan ada malam pertama? Itulah yang ingin diketahui penonton sepanjang film ini.

Shukla berinisiatif membawa Lakshmi ke hotel meski hanya dua jam Singkat dan padat. Uangnya tak mampu menyewa hotel seharian. Sebelum menjemput isterinya, ia pergi ke pasar membeli parfum dan peralatan gambar, semata-mata hanya ingin membahagiakan isterinya.

Ketika berada di dalam kamar, mereka duduk berdua. Kesunyian lebih hingar terdengar ketimbang percakapan mereka. Dinding-dinding membeku. Kamera membingkai sepasang suami-isteri ini dalam dunia minimal yang harus dijaga. Penonton ikut menunggu, mengamati dan mengantisipasi jika saja ada gerakan tambahan yang terjadi.

Akhirnya Shukla mengawali percakapan dengan berkata, “Apakah kamu baik-baik saja?” Kemudian jeda. Ia melanjutkan, “Maksud saya, kau tidak takut, kan?” Lakshmi menggeleng. Shukla kembali menunduk. Kesunyian kembali membising. Barangkali ada denyut yang meletup-letup di antara mereka ketika sedang saling menunggu kalimat siapa yang harus dikeluarkan lebih dulu.

Nafas-nafas yang ditahan lebih lama. Kata-kata yang tak sanggup mengalir seperti ada tikus besar yang menyumbat. Sebagai penoton, saya bertanya pada diri sendiri, apakah saya sedang menyaksikan cinta yang tak terucap?
Di siang bolong seperti ini, apakah ada malam pertama?

Shukla menyerahkan Lakshmi hadiah. Pemberian yang barangkali merepresentasi perasannya pada isterinya itu. Sebuah parfum dan gelang. Ia menyemprotkan parfum ke tubuh Lakshmi. Ia memasukkan gelang ke pergelangan tangan Lakshmi. Setelah itu ia menyalakan televisi dan mendengarkan hening kembali.

Apakah ada kejadian malam pertama?

Shukla digerus kembali oleh masalah yan tak pernah berhenti. Shukla seperti ditimbun berkali-kali oleh batu-batu yang menumbuhi di kepalanya. Tidak ada ruang yang tumbuh dari waktu ke waktu. Kepala Shukla hendak meletup saja seperti bom berisi tomat.

Tak satupun yang menasehatinya perihal masalah apa yang akan ia hadapi selepas menikah. Ia hanya didengungkan tentang kenikmatan-kenikmatan selepas pernikahan. Kini, dengan cintanya kepada Isterinya, ia kembali berusaha menyelesaikan persoalan yang terus mendidih di depannya.

Selain kisah cinta yang manis dan getir, film Love and Shukla juga bicara tentang kemiskinan. Dan barangkali memang itulah pernyataan utama yang melatar belakangi film ini. Kekerasan dan perampokan yang sering dialami oleh supir, penarik bajai atau profesi-profesi di jalan-jalan kota. Penipuan yang merajalela serta gedung-gedung dan apartemen-apartemen menjulang menakut-nakuti perumahan kumuh.

Wacana-wacana itu kemudian dibawa oleh Shukla sepanjang film ini. Jatla Sidharta sebagai sutradara, membiarkan Shukla menopang metafora-metafora dan meledakkannya satu persatu pada adegan-adegan yang tepat. Metafora-metafora dalam bajai yang ia kendalikan juga persoalan di dalam rumah yang tak pernah berhenti.

Tentu saja kita tak dapat melupakan bagaimana dialog para pemain yang saling menyusun dan menggulung dan meletakkan pikiran penonton jadi gusar tetapi tetap fokus mengikuti peristiwa di dalam frame.

Sebetulnya kedatangan saudari perempuan Shukla ke rumah selepas minggat adalah mimpi buruk, tidak hanya bagi Shukla pribadi, tetapi juga bagi isterinya, Lakshmi. Air mata yang mengucur terus menerus dalam kesaksiannya ketika menjelaskan hubungannya dengan suaminya, bagaimana relasi dan kedekatannya dengan mertuanya yang tidak harmoni.

Ia menikah tetapi merasa seperti dijadikan sebagai pembantu baru di rumah tersebut. Hal itu tentu saja menghantui pikiran Lakshmi. Ia kini menjadi seorang menantu dan hidup di sebuah keluarga baru. Beberapa saat selepas pernikahan, ia disuruh mengambil ini dan itu; membuat dan menyiapkan teh.

Apakah ia bisa menolak? Tentu saja tidak. Ada keharusan dan kepastian yang mesti ia lakoni. Ia sudah menjadi anak dan harus menaati perintah mertuanya, sekaligus ‘orang tua’ barunya. Kebanggan sebagai seorang dalam kasta brahmana kukuh di rumah mertuanya itu.

Kekuatan utama film Love and Shukla barangkali terletak pada keintiman ruang yang ada di dalamnya. Emosi-emosi yang terpendam dan tersiar oleh para karakter dalam film ini perlahan-lahan memuncak tetapi dapat dikuti oleh penonton. Kamera menangkap semua pergolakan batin itu. Terhadap posisi ruang di dalam rumah.

Posisi dan arsitektur rumah keluarga Shukla dan apartemen-apartemen berkilau sebagai pembanding. Dan yang paling penting bahwa konteks dan masalah pernikahan ini dekat dengan masyarakat Asia, termasuk di dalamnya masyarakat Indonesia.

Sehingga pernikahan tidak hanya sekadar persoalan ijab kabul belaka. Ada tembok besar yang mesti diteliti di dalamnya. Ada kerikil-kerikil yang menyebar di dalam tenda pernikahan. Ada peti yang menganga di tiap sudut rumah selepas pernikahan dan selalu siap melahap mangsanya.

Memang tidak hanya diri sendiri yang akan menjalani itu, tetapi jika belum siap menjalani kehidupan selepas pernikahan. Tenang dan bersabarlah. Siapkan mental sebelum menyusuri kehidupan sunyi yang datang kemudian.
Tunggu, apakah ada kejadian malam pertama?

Saksikanlah sendiri. Tapi ingatlah, pernikahan tidak hanya sekadar soal malam pertama. Pernikahan itu soal… soal apa ya? Entahlah. Saya sendiri belum menikah. Ups.

Rachmat Hidayat Mustamin

Rachmat Hidayat Mustamin

Penyair dan film maker

Previous post

Sepercik Inspirasi Dari Perjalanan Sufi Kota

Next post

Sehari Bersama Musdah Mulia, Tokoh Feminis dan Pembela Minoritas