FeaturedImpresi

Menulis Marlina dalam Empat Babak Review Film Marlina Si Pembunuh (2017)

BABAK 1

Saya datang ke bioskop sendirian. Sepekan sebelumnya, saya janjian dengan seorang kawan agar ia mau menemani saya menonton penayangan pertama film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak. Tapi kemudian niat tersebut urung sebab hujan terus menerus menggerus kota Solo pada hari Kamis, 16 November 2017. Saya merasa ada pipa dari langit yang bocor. Saya juga tidak tahu bagaimana membetulkannya–atau malah menikmatinya.

Meski pakaian saya lembab setelah sampai di bioskop, saya menonton pada penayangan pertama, pukul 12.30 di Solo Square. Ketika iklan-iklan ditayangkan, saya mengamati sekeliling saya, rupanya hanya ada sekitar 12-15 orang saja yang ikut mengisi tempat duduk secara acak dan turut menonton bersama saya.

Saya tidak tahu apakah jumlah ini sudah sesuai prediksi si pembuat film ataukah penonton akan lebih banyak pada jam-jam setelahnya, atau, lagi-lagi sebab pipa langit masih saja bocor di luar sana. Tentu saja saya berharap masyarakat Indonesia turut merayakan film ini. Oke, sebentar: Film dimulai.

BABAK 2

Marlina (Marsha Timothy) adalah seorang janda yang didatangi oleh tujuh orang perampok. Karena perkara utang sejak kematian Topan, anaknya, ia tak belum bisa melunasi biaya pemakamannya. Belum lagi, suaminya terbujur beku di sudut rumah sebagai mumi (Tumpal Tampubolon).

Beban yang ditanggung Marlina bertambah. Dua orang tersayang dari Marlina meninggal dan membawa persoalan baru baginya. Tetapi Ia tak dapat mengelak. Markus (Egy Fedly), ketua perampok itu yang datang lebih dulu ketika hari belum berganti baju. Saat hari mulai gelap, sebuah truk berisi enam kawanan perampok lain turun dari truk lalu mengangkut ternak yang dimiliki Marlina.

Markus menunggu di dalam kamar setelah menyuruh Marlina memasak sup ayam. Empat perampok Marlina menunggu di ruang tengah. Dua orang lainnya diminta pulang dan kembali esok hari setelah memastikan seluruh ternak sudah berada di atas truk.

Tak pikir panjang, dengan hati-hati, Marlina meracuni keempat perampok yang sedari tadi meluapkan kegembiraannya, sekalipun kegembiraan mereka terbuat dari perih seorang janda.

Marlina kemudian masuk ke kamar dimana Markus berada untuk menawarkan makanan yang telah diracuni. Tetapi nafsu yang menggebu dari tubuh Markus itu dengan sigap memperkosa Marlina. Dengan sedikit gerakan sederhana, Marlina akhirnya memenggal kepala Markus. Tapi justru dari situlah perjalanan Marlina dimulai.

Di seberang bingkai jendela, setelah Marlina mengutuk para bangkai, ia menatap lamat-lamat mata anjing. Tak ada yang menjawab dari kejauhan selepas ditelepon berulang. Malam hanya sunyi ketika dinding-dinding menggigil dan tungku di dapur terus saja menyalak.

Keesokan harinya, ia membawa kepala Markus. Ia hendak mengantarkannya ke kantor polisi. Ia ingin menyaksikan bagaimana keadilan bekerja.

BABAK 3

“Setiap ruang punya kelamin.” Begitu kira-kira ungkapan yang saya dengar dari salah seorang dosen saya ketika masih berkuliah di Malaysia. Ia berkata demikian ketika sesi diskusi berlangsung selepas menonton kompilasi film pendek yang setiap bulan kami adakan.

Saya justru melihat ruang-ruang kelamin itu dalam film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak.

Marlina justru menguasai dapur. Bukan. Ia dipaksa berada di dapur. Para lelaki hanya tampak duduk menunggu seorang perempuan menyediakan makanan. Perempuan kemudian dijadikan sebagai penambal nafsu birahi. Pintu yang menghubungkan antara ruang belakang dengan ruang tengah adalah batas. Simbol antara lelaki dan perempuan. Sebuah simbol patriarki yang jelas.

Namun justru dapur adalah representasi perasaan dari Marlina sendiri. Dapur yang terus menyalakan api. Marlina yang geram oleh tamu yang tidak diundang. Pilihan hanya ada satu: ternaknya dibawa paksa sekaligus dirinya diperkosa.

Tapi Marlina malah menciptakan pilihan lain. Marlina membunuh para perampok, yang pada kenyataannya, para lelaki hanya mengantarkan nyawanya untuk dicabut oleh Marlina.

Marlina meruntuhkan ruang-ruang kelamin itu. Langit yang tak beratap dan padang Sumba yang getir tahu betul bagaimana keperihan yang ditampung Marlina. Dada perempuan yang penuh dendam itu, menyusuri Sumba untuk bertemu dengan keadilan.

Apakah keadilan betul-betul ada. Dan itulah yang coba dijawab oleh Marlina, meskipun sebetulnya ia juga ragu apakah keadilan bisa betul-betul hadir di depannya.

Di kantor polisi, Marlina kembali dipaksa menemukan kelaminnya atau justru keadilan yang kabur. Entahlah. Barangkali ada keadilan pada bunyi ping-pong yang dimainkan polisi. Marlina semakin geram.

Keadilan masih belum hadir. Ia keluar dari kantor polisi dan terus menangis. Penonton hanya melihat punggung Marlina sembari mendengar isak tangisnya yang pilu. Hanya ada Topan, seorang anak penjual sate yang mencoba menghiburnya. Topan memeluk Marlina. Barangkali juga sebuah pelukan yang sudah lama tak ia rasakan.

Sekali lagi, hanya ada punggung yang dilihat penonton ketika Marlina menangis. Kau tahu, seberapa berat beban yang dipikul oleh Marlina, atau oleh semua perempuan yang sedang mencari keadilan di negeri ini? Masihkah kita memberikan kamar-kamar pada kelamin kita masing-masing?

Selepas itu, Ia mandi untuk membersihkan luka dan amarah yang terpaku dalam dadanya, meskipun tidak akan pernah betul-betul hilang.

Marlina tampak sudah sedikit lengang. Ia sudah mulai memaafkan dirinya, meskipun sama sekali ia tak merasa berdosa. Ia membungkus kepala Markus, seperti menutup perasaannya sendiri. Ia dingin kali ini. Kelaminnya sudah tak penting. Selebihnya, ia hanya ingin hidup dengan wajar kembali.

Ia lalu memutuskan pulang ke rumahnya sebab hendak mengembalikan kepala Markus, sekaligus menolong Novi (Dea Panendra), seorang perempuan hamil yang disandera oleh Franz (Yoga Pratama), salah satu kawanan perampok yang masih hidup.

Sampai ia di rumahnya, ia dipaksa lagi bertemu dengan kelaminnya yang telah ia tanggalkan. Novi yang hamil besar itu, disuruh memasak makan malam, sementara Marlina, dianiaya di dalam kamar.

Lagi-lagi kemarahan memang berawal dari ruang tengah, tetapi kemarahan itu ingin meledak ketika ia sudah memasuki dapur. Dengan tegas, Novi keluar dari dapur membawa parang kemudian memenggal kepala Franz setelah dibantu oleh Marlina.

Tak lama berselang, bayi yang sedari tadi berada dalam kandungan Novi, keluar dari Rahim untuk menghirup bau kehidupan. Dan tentu saja kamera tidak perlu menunjukkan apa kelamin bayinya. Tidak perlu ada identitas kelamin pada bayi.

Ia hanya manusia yang baru lahir dan tidak perlu ada sekat-sekat yang memisahkan. Penonton hanya dibiarkan menghirup aroma kematian berdampingan dengan aroma kehidupan. Ada bayi yang lahir di antara mayat-mayat yang berserakan di di rumah. Kontras dan puitik.

BABAK 4

Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak ini tayang perdana di ajang Directors Fortnight Festival Film Cannes 2017. Harus diakui bahwa film ini telah memahat dan memoles wajah baru bagi film Indonesia.

Film Marlina membawa film Indonesia di sebuah level baru. Saya rasakan ada gesekan positif, dan terjadi lagi dalam perfilman Indonesia. Melalui film ini, imej film Indonesia semakin lebih berwarna. Seperti ada sinar lain dari matahari yang mencerahkan hari-hari untuk film Indonesia kedepannya.

Itupun jika para pembuat film menjadikan film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak sebagai standar dalam mengeksplor kembali gagasan bercerita. Tidak hanya dari segi bentuk filmnya, tetapi juga pengalaman estetik yang ditawarkan.

Film yang disutradarai Mouly Surya ini menyajikan bentuk, cara bertutur dan visual yang puitik. Setiap shot yang ada dalam film ini saling menyusun seperti sebuah larik-larik dalam puisi. Musik yang membekas di dalam benak penonton. Juga lanskap-lanskap yang direkam dengan sangat manis kemudian disiram cahaya matahari Sumba yang tajam.

Kita melihat bagian dari Indonesia yang lain. Kita menyaksikan wajah Sumba yang sayu. Bagi saya, tidak berlebihan jika film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak disebut sebagai film terbaik tahun 2017.

Rachmat Hidayat Mustamin

Rachmat Hidayat Mustamin

Penyair dan film maker

Previous post

Tere Liye yang Anti Dosa Minta Dimengerti Oleh Netizen yang Maha Waras

Next post

Setelah Umi Pipik, Kini Jennifer Dunn