Locita

Mau Menjadi Ketua HMI? Begini Caranya

BAGI saya menjadi pucuk pimpinan organisasi pemuda, dalam hal ini (bolehlah) PB HMI adalah sebuah perjalanan spiritual. Tentu banyak hikmah yang didapatkan, yang tak akan terbagi cuma dalam satu tulisan ini.

Tulisan sebelum-sebelumnya, mungkin juga tulisan setelah ini sebenarnya telah menggambarkan banyak hikmah yang saya peroleh itu. Buku telah kami gelar, juga opini di media cetak, pun media online.

Penting juga saya sampaikan. Ketika dimintai pertimbangan akan kandidat yang muncul, saya akan memberikan gambaran secara subjektif. Mungkin juga objektif karena mengambil kesimpulan dari diskusi-diskusi dengan kader yang baru tumbuh. Maupun para senior yang telah berada di puncak pengabdiannya sebagai kader umat dan bangsa.

Harapan kita tentu figur yang hadir adalah figur yang mempersatukan. Figur yang mampu bertindak seperti pemecah kebuntuan jika ada masalah. Figur yang mampu memberikan pandangan-pandangan secara original lagi menyejukkan.

Seperti pesan Ki Hajar Dewantara, di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat dan karya, dari belakang memberi daya dorong.

Tiap orang tentu beda tips, tapi jika tips ini Anda coba lakukan, niscaya bertarung di tiga tempat dalam waktu sebulanpun akan Anda menangkan. Hehehe. Tips ini sudah saya buktikan empat tahun lalu.

Pertama, luruskan niatmu semata-mata untuk jalan pengabdian terhadap umat dan bangsa. Sudah tentu juga sebagai khalifatun fil ardh atau wakil Tuhan di muka bumi. Jika energi ini sudah terpancar, saya pastikan para kandidat akan menikmati proses ini tanpa terbebani terhadap hal-hal lain.

Kedua, buat visi dan misi yang berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya. Buatlah dengan kata-kata yang mudah dicerna dan diaktualisasikan. Tak perlu dengan bahasa-bahasa yang rumit seperti yang sering kita jumpai di berbagai forum-forum HMI.

Ketiga, buat tim yang komplit, kuat, dan merepresentasi semua kawasan. Soal tim yang komplit dan kuat ini kurang lebih bisa tergambar dari orang-orangnya yang pekerja keras, kurang “skill olah-olah”, tak butuh biaya yang besar, dan semua anggaran berdasar kebutuhan bukan berdasarkan keinginan para tim ini.

Keempat, silaturrahim dengan sebanyak-banyaknya orang, khususnya keluarga besar HMI. Ini sangat penting bukan hanya jika Anda masih sebagai kandidat, pun juga ketika telah terpilih maupun mengakhiri masa jabatan. Rajin-rajinlah silaturahim.

Kelima, mohon doa restu orang tua, khususnya Ibu. Kedua orang tua saya dulu juga ikut datang menyaksikan bahkan berkumpul dengan delegasi pendukung. Ini juga yang dilakukan oleh Bahlil Lahdalia dalam pemilihan Ketum BPP HIPMI.

Keenam, jangan baper. Kalah menang itu biasa. Toh, pun kalau kalah, tidak berarti dunia berakhir. Masih banyak momen menanti di depan. Lagi-lagi organisasi adalah wadah, bukanlah tujuan.

Terpilih sebagai Ketua Umum PB HMI tentu bukan akhir dari perjuangan. Tetapi justru menjadi lembaran awal lagi. Di sanalah peluang untuk melakukan sebanyak-banyaknya manfaat.

Awal hingga akhir dari perjalanan sebagai Ketua Umum PB HMI bagi saya juga sebagai proses menyeleksi teman-teman yang selamanya akan bersama kita, maupun juga teman-teman yang hanya sewaktu-waktu. Ada yang bisa diajak dalam urusan yang lebih strategis, juga hanya dalam urusan yang sangat taktis.

Kesimpulan ini juga ditemukan oleh teman saya, Bung Twedy Ginting (Ketua Presidium GMNI periode saya). Kalau tak salah mengutip, katanya “untung kita ini diperlihatkan karakter asli dari teman-teman kita hingga akhir yah, coba seandainya kita telah dipuncak karir kemudian kita baru sadar”. Mendengar itu seketika ledakan tawa hadir, seperti mewakili perasaan dan pikiran yang sama.

Penting juga, saya lampirkan tulisan di beberapa sosial media seperti Facebook (Muhammad Arief Rosyid Hasan), Instagram (@muhammad_ers), dan Path (M Arief Rosyid Hasan). Tulisan ini peroleh banyak respon dari kader-kader.

Jelang Kongres HMI di Ambon Maluku, Konferensi Cabang, Rapat Anggota Komisariat, atau forum musyawarah lain dalam mencari Pemimpin. Mungkin ini berguna bagi siapapun yang ingin melanjutkan sejarah perjalanan panjang HMI atau sebagai modal calon pemimpin organisasi kepemudaan di masa depan.

Waktu “mengumpulkan niat” untuk maju sebagai Ketum PB HMI, saya berkali-kali ditanya soal apa visi misi atau harapan untuk organisasi sebesar HMI. Tidak sedikit keraguan yang dialamatkan kepada saya waktu itu.

Satu yang tidak mungkin saya lupakan di sebuah warung kopi seputaran Makassar, saya ditanya oleh senior apa satu kata kunci yang ingin Anda benahi pada HMI? Secara spontan saya menjawab, “Teladan!”

Saya sendiri tidak menyangka kenapa “teladan” ini yang keluar, padahal masih ada jutaan koleksi kata. Saya baru menyadari, namanya pemimpin yah harus jadi contoh. Kata-kata juga menjadi standar buat yang dipimpin. Jika keduanya tidak terjaga, akan jadi alasan buat yang lain untuk membenarkan semua kekeliruannya.

Leiden is Lijden, memimpin adalah menderita, begitu pesan KH Agus Salim. Mereka yang mau jadi pemimpin, harus siap dengan konsekuensi penderitaan. Hak sebagai manusia terkuras untuk hak manusia yang lain, berikut kewajiban yang melimpah-ruah.

Akhirnya, mengutip pepatah “satu teladan lebih baik dari seribu nasehat”. Anggap saja ini satu nasehat, yang akan tenggelam dengan sembilan ratus sembilan puluh sembilan nasehat dan satu teladan yang lain.

Selamat tahun baru, selamat berburu rekomendasi.

Arief Rosyid

Seorang ayah dan suami, dokter gigi, Ketua Umum PB HMI 2013-2015

Add comment

Tentang Penulis

Arief Rosyid

Seorang ayah dan suami, dokter gigi, Ketua Umum PB HMI 2013-2015

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.