FeaturedImpresi

Luka, Cinta, dan Penindasan Review Film Posesif (2017)

Is pain still pain if we are not awake to feel it?

Pertanyaan di atas itu saya temukan ketika menghadiri salah satu sesi diskusi di perhelatan sastra Ubud Writers and Readers Festival yang berlangsung 25-29 Oktober kemarin. Sesi panel itu diisi oleh Kate Cole-Adams, seorang penulis dan wartawan yang menjelaskan perihal Anaesthasia.

Anaesthasia semacam keajaiban modern yang sepertinya bisa dibuktikan melalui sains dan filsafat. Dalam mata kuliah “Analisis Karya” yang diasuh oleh Prof. Dwi Marianto di Institut Seni Indonesia Surakarta, juga pernah menyinggung tentang Anaesthasia ini.

Secara garis besar, Anaesthasia tidak hanya bicara tentang proses kreatif seorang seniman, tetapi juga hal-hal yang metafisik. Misal, jika Anda menyaksikan sebuah lukisan, Anda bisa membayangkan atau paling tidak, mendengar bunyi yang tersirat dari warna. Atau jika Anda menonton film, Anda bisa menghirup aroma set dan lokasi dalam suatu adegan dalam film itu. Setiap warna memiliki bunyi, atau setiap gambar memiliki aroma. Kira-kira seperti itu.

Tetapi Kate Cole-Adams juga mengaitkan Anaesthasia ini dengan luka. Apakah luka masih disebut luka jika kita tak mengingat kenapa dan bagaimana luka tersebut muncul? Bagaimana hubungan antara luka dan ingatan?

Film Posesif yang diproduksi Palari Films ini barangkali sebuah perumpamaan yang baik untuk, paling tidak, menawarkan jawaban untuk pertanyaan di atas. Melalui film ini, sutradara Edwin bertutur dengan sangat sederhana dan kompleks. Mulai dari potret kekerasan dalam suatu hubungan pacaran remaja sampai kekerasan orang tua kepada anak.

Lala yang diperankan dengan sangat baik oleh Putri Marino adalah seorang atlet loncat indah. Lala kemudian bertemu dengan Yudhis yang diperankan oleh Adipati Dolken. Mereka berdua kemudian jatuh cinta dan menjalin kasih. Dari film ini, tidak butuh waktu lama untuk membuat mereka menjadi sepasang kekasih yang saling menjaga dan mencintai.

Tak lama berselang, Yudhis kemudian memberi banyak peraturan atas dasar cinta. Di sini, Lala sebetulnya tidak menyadari bahwa dirinya adalah korban represi. Tapi, apakah masih bisa disebut ‘penindasan’ jika korban tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa dirinya sedang ditindas? Apakah masih bisa disebut sebagai penindasan jika rupanya ‘korban’ melakukannya dengan suka hati? Sebab belakangan ini, ada banyak hal yang dilakukan atas dasar cinta dan perhatian.

Pemerintah menggusur orang-orang dari tempat tinggalnya atas dasar cinta kepada pengusaha. Orang-orang di sosial media saling mengutuki atas dasar cinta kepada keyakinannya masing-masing. Atas dasar cinta, orang bisa melakukan hal-hal di luar batas–apapun yang kita sebut sebagai batas.

Sementara, bagi saya, jatuh cinta dan mencintai adalah seni mengendalikan diri. Menjadi atlet loncat indah atau atlet renang, mereka harus bisa mengendalikan diri dan emosinya terlebih dahulu sebelum beralih mengendalikan panggung. Penari, pelakon atau profesi apa saja saya kira harus punya kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri. Jika tidak, diri sendiri akan goyah dan tak memiliki tujuan yang menentu.

Bagi saya, justru ketika kita mengaku mencintai, hal yang paling penting dilakukan adalah merelakan dan melepaskan. Barangkali terdengar klise, tetapi begitulah sebaiknya. Semakin kita mencintai, semakin kuat alasan untuk memberi kebebasan memilih kepada pasangan. Sebab cinta selalu tau kapan di mana harus pulang.

Tentu saja dalam film, tidak semua harus dijelaskan secara detail. Seorang penonton yang duduk di samping saya bertanya kepada kedua temannya, “Emang Yudhis dan Lala kapan jadiannya?” dan “Lah, mereka berdua (Yudhis dan Lala) habis ngapain sih?”

Lagi-lagi, film adalah karya seni. Dan karya seni penuh dengan metafor. Saya percaya bahwa justru melalui metafor inilah bahasa sutradara sesungguhnya.

Sejak Kara, Anak Sebatang Pohon (2005), Blind Pig Who Wants to Fly (2008), Postcards From The Zoo (2012),  Someone’s Wife In The Boat Of Someone’s Husband (2013) atau film-filmnya yang lain, saya selalu percaya bahwa Edwin memiliki gaya ungkap kreatif. Edwin seakan menciptkan konsep baru dari penggabungan objek-objek yang biasosiatif.

Dalam film Posesif ini, objek-objek yang nampak secara jelas dan dilakukan secara berulang-ulang adalah air, kolam renang, sepatu, kalung atau taplak meja lalu memunculkan imaji dan visualisasi yang unik. Anda tentu saja boleh tidak setuju, tapi saya menafsir taplak meja sebagai rok. Jika Anda telah menonton film Posesif, Anda tahu maksud saya.

Saya kira tidak mengherankan jika Film Posesif mendapat 10 nominasi di Festival Film Indonesia (FFI) 2017 termasuk di antaranya nominasi Sutradara Terbaik dan Film Terbaik. Bagi saya, Posesif adalah cermin raksasa untuk melihat dan menyaksikan diri kita memperlakukan diri sendiri dan orang-orang di sekeliling kita, terutama seseorang yang kita cintai.

Rachmat Hidayat Mustamin

Rachmat Hidayat Mustamin

Penyair dan film maker

Previous post

Masih Adakah Masa Depan KAHMI?

Next post

Alexis Ditutup, Prostitusi? Ondeh Mandeh